
Begitu masuk kamar karena menghindari Indra
Nina langsung merebahkan diri di kasur
Bingung kenapa Indra mengejarnya tadi
'Apalagi mau mu...
Apa masih kurang makian mu kemarin
Ada kesalahan apa lagi yang menurutmu aku lakukan
Tidak perlu kau tunjukkan rasa tidak sukamu padaku di depan keluargaku
Sudah cukup mas, aku menyadari posisiku sekarang
Meskipun aku masih sangat mencintaimu,aku sudah tidak akan lagi memperjuangkan cintaku'
Nina meneruskan lamunannya hingga malam
Panggilan Bu mar yang mengantarkan susu coklat hangatnya tidak di hiraukan
Ada setitik bening air di sudut mata yang mengiringi tidur lelapnya
Pagi hari dilalui seperti biasa
Sarapan pagi bersama penuh cerita
Nina tetap berusaha agar dirinya terlihat baik baik saja
Mencoba sesekali menimpali saat ada yang bercerita
Meskipun tampak sekali kalau Nina sekarang lebih pendiam
Hanya tersenyum kalau ada yang menggodanya
"Dek ,hari ini kamu jadi bawa mobil sendiri ?"
Bagas menoleh ke arah Nina
"Jadi mas...nanti pulang kuliah nin mau pergi sama Rara"
"Jangan terlalu capek ya nak
Kau baru sembuh dari sakit"
Papa menasehati Nina
"Ya papa..Nina cuma pergi sebentar"
"Nanti sepulangnya dari pergi, Rara biar sekalian kesini saja
Biar mas Bagas nanti yang antar dia pulang"
"Ya mas"
"Mau kemana sii sayang..."
__ADS_1
Mama bertanya
Bagas sudah hampir menjawab kalau Nina dan Rara mau ke kampung bang Miko
Semalam Rara cerita lewat telepon kalau sepulang kuliah nanti mau melihat perkembangan pembangunan TPA
Untung Nina segera memberi kode
Bagas urung menjawab
Baru ingat kalau masih menjadi rahasia
"Mau ke toko buku ma.."
Bohong Nina
"Oooow...hati hati ya nak
Kau harus makan bekal makan siang yang mama bawakan'
"Iya ma..."
Nina pamit berangkat saat sudah selesai sarapan
Semua juga berangkat melanjutkan aktifitas masing masing
Di kantor Indra
Alan dan Merry tengah berada di ruang kerja tuan mudanya
Mereka sedang membantu pekerjaan bossnya
Benar kata Bagas ,ada kewajiban yang harus dia tunaikan
Berusaha menyeimbangkan pikiran untuk menyelesaikan semua masalahnya
Tidak boleh terlena pada satu masalah saja
Indra tetap akan berjuang mendapatkan cinta Nina
Tapi pekerjaan yang menjadi tanggung jawab nya tetap harus di tunaikan
"Maaf tuan muda
Apa tidak sebaiknya beristirahat sebentar
Terlalu memforsir diri juga tidak baik untuk kesehatan tuan muda"
Alan mengingatkan bossnya
Merry menghampiri membawakan secangkir teh tanpa gula kesukaan bossnya
"Bang...bisakah kau bawakan irisan buah seperti yang tempo hari
Yang kata Abang yang jual orang yang punya cinta yang besar.."
Alan mengernyitkan kening mengingat ingat kemudian tersenyum
__ADS_1
"Tidak ada yang jual tuan muda, mohon maaf"
"Maksud nya bagaimana?"
Indra bingung
"Itu dari nona Nina tuan muda"
Mengalir dari mulut Alan tentang kejadian siang itu
Dimana Nina sebetulnya ingin menemui Indra tapi diurungkan karena melihat Indra bersama Rini
Indra terkejut sampai berdiri dari kursinya
Jadi Nina masih berusaha menemuinya saat itu
"Kenapa Abang baru cerita sekarang?"
"Nona Nina melarang saya menceritakan tuan muda
Nona pergi sambil menangis waktu itu"
Indra tergugu
Jadi semakin tau sedalam apa telah menyakiti hati Nina
"Sehari sebelumnya nona Nina juga berusaha menemui tuan muda
Bermaksud menghadang langkah tuan muda untuk memberi penjelasan
Tapi hari itu tuan muda juga keluar makan siang bersama Rini "
Ganti Merry yang bercerita
Indra sudah benar benar tidak tau lagi apa yang harus diperbuatnya
Pikirannya benar benar bingung
Penyesalannya yang dalam membuat tubuh Indra limbung
Indra jatuh terduduk di kursi
Badannya lemas
Alan segera memapah tubuh tuan mudanya ke sofa besar sudut ruangan
Memberi tempat yang lebih nyaman
Merry mengambilkan air putih dan menyodorkan kepada Alan yang segera mendekatkan ke mulut Indra
Indra meminum air putih itu
Merasa sudah tenang Indra mengambil ponselnya
Mendial nomer Bagas
"Halo ndra"
__ADS_1
"Gas tolong aku"