
"Alhamdulillah mbak Nina cuma kecapekan
Juga karena stress pikiran
Kata Tante Galuh kalau cukup istirahat ,mau makan dan pikiran tenang pasti segera sehat"
Mama menjawab kekhawatiran Dika
Mereka sudah berjalan keluar klinik setelah berpamitan dengan Tante galuh
"Tuuh nin...pikiran kamu harus santai dan mau makan...biar cepat sehat"
Rara juga menasehati sahabatnya
Nina berjalan sambil di peluk Dika dan di gandeng putri
Sementara mama berjalan mengikuti dengan digandeng Rara
"Mba Andita ya...?"Seseorang menyapa mama
Mama menoleh ke arah suara
Terlihat sekali mama sempat terkejut
Tapi segera menguasai diri
"Dik Wina ya...apa kabar"
Mama balik menyapa sambil menghentikan langkah dan menyalami wina
Semua ikut berhenti dan menoleh ke arah mama
Nina juga tampak terkejut
"Kenapa harus bertemu lagi dengan mereka"
Nina mendesah dalam hati
"Siapa yang sakit mbak..?
"Nina dik...."
Wina sempat tergugu sesaat mendengar Nina sakit
Menoleh ke arah Nina yang masih dipeluk Dika dan berdiri disamping mobil
Dihampirinya Nina ..
Diikuti oleh Rini
"Kau sakit apa nak"Wina bertanya
"Sakit panas Tante"Nina menjawab
Sebutan Tante yang diucapkan Nina membuat Wina memerah pipinya
dan mama Dita juga terlihat kaget
"ooww....mungkin terlalu kepikiran Indra ya....sudahlah nin....lupain saja..."
Rini mencibir ke arah Nina
Sikapnya sungguh menyebalkan
__ADS_1
"Mungkin Indra sudah punya pilihan lain.."
Wina sebetulnya merasa tidak enak,tapi tidak berani mengatakan apa apa
"Eehhmmm.....maaf ya dik Wina
Anak saya sedang sakit
jadi tidak bisa ngobrol lama lama"
Mama memotong obrolan
Mama jadi tau tipe seperti apa anak tiri Wina itu dari sikap dan ucapannya
Tidak perlu ditanggapi
"Baik mba dita...salam saya untuk keluarga"
Wina mengucap salam
"Insya Allah disampaikan...mari ya...kami duluan"
"Silahkan mbak..."
Wina menatap kepergian rombongan itu
Di sudut hati terdalam nya merasa senang karena ternyata Nina terlihat berbahagia bersama keluarga Tn Baskoro
Tidak kekurangan kasih sayang
Tampak dari sikap Dika yang langsung mengeratkan pelukannya ke tubuh Nina saat Rini bicara kasar tadi
Sekelebat rasa ,Wina juga sempat teringat Tn Wicaksono
"Ahhh....apa kabarnya laki laki pendiam itu...apa sudah menikah lagi ya"
"Iya Rin..."
Di dalam mobil rombongan Nina
Suasana jadi hening beberapa saat
Mama bingung mau ngomong apa
"Itu tadi bukannya Tante Wina ya ma?"
Dika bertanya sambil fokus mengemudikan mobil
Untuk situasi tertentu memang Dika sudah diijinkan membawa mobil
Dulu saat masih kecil Andika sempat mengenal wina
Mama bingung mau menjawab karena menjaga perasaan Nina
"Ehhh...itu....ehh"
"Dijawab gak apa apa ma....gak perlu disembunyikan...kita kan keluarga"
Nina menjawab keraguan mama
Nina menengok ke arah Dika
"Iyaa dek....itu tadi Tante Wina....mama kandungnya mba Nina"
__ADS_1
Rara yg duduk di belakang kursi Dika terlonjak kaget..
"Maakk ......maksudnya gimana ini Tante "
Rara menoleh ke arah mama meminta penjelasan....
"Mama cerita aja ...nin gak apa apa
Nin juga sudah bercerita sebagian ke Rara
hanya saja Rara belum tau siapa ibu kandung Nina"
Nina berucap sendu
Mama yang ada dibelakangnya meraih kedua pundak Nina dan mengelus elusnya
Hati Nina menghangat,
Rasa cinta yang diberikan mama Andita sudah menghilangkan rasa sakit karena kehilangan mama wina
Rasa cinta sejati seorang mama sudah Nina dapatkan dengan versi yang jauh lebih baik
Nina merebahkan kepala di jok kursi yang sudah diatur sehingga terasa nyaman setengah merebah
Matanya mengalir butir bening mengikuti cerita mama tentang masa lalu Nina
Mama menceritakan semuanya
sambil sesekali mengusap airmata
Tangannya masih mengelus elus pundak Nina dari belakang
Rara ikut menangis mendengar kisah pilu sahabatnya
Putri yang melihat semua menangis ,ikut menyembunyikan wajahnya dipangkuan Rara
"Tapi selalu ada hikmah dibalik bencana
Allah selalu memberi ganjaran dari setiap kesabaran kita
Kalau seandainya dulu tidak ada kisah ini,
mama pasti tidak akan mempunyai putri cantik dan baik sepertimu sayang"
Mama menepuk nepuk pundak Nina
"Dan Putri juga nggak jadi adiknya mba Nina dong ma...
Terima kasih Tante Wina karena sudah memberikan mba Nina untuk jadi kakaknya putri"
Dika tidak mengatakan apa apa
Tapi matanya berkaca kaca
Berkali kali dia usapkan mata di lengan bajunya
"Dika juga sayang mba nina"
Nina mengelus elus lengan Andika
Matanya mengalir butir bening
Tapi hatinya sungguh sungguh terasa menghangat
__ADS_1
"Maka nikmatMU yang mana lagi yaa Rabb...yang bisa hamba dustakan"
Nina mendesah mensyukuri karena memiliki keluarganya yang sekarang