Hanya Kamu

Hanya Kamu
Pulang dari dokter


__ADS_3

"Alhamdulillah mbak Nina cuma kecapekan


Juga karena stress pikiran


Kata Tante Galuh kalau cukup istirahat ,mau makan dan pikiran tenang pasti segera sehat"


Mama menjawab kekhawatiran Dika


Mereka sudah berjalan keluar klinik setelah berpamitan dengan Tante galuh


"Tuuh nin...pikiran kamu harus santai dan mau makan...biar cepat sehat"


Rara juga menasehati sahabatnya


Nina berjalan sambil di peluk Dika dan di gandeng putri


Sementara mama berjalan mengikuti dengan digandeng Rara


"Mba Andita ya...?"Seseorang menyapa mama


Mama menoleh ke arah suara


Terlihat sekali mama sempat terkejut


Tapi segera menguasai diri


"Dik Wina ya...apa kabar"


Mama balik menyapa sambil menghentikan langkah dan menyalami wina


Semua ikut berhenti dan menoleh ke arah mama


Nina juga tampak terkejut


"Kenapa harus bertemu lagi dengan mereka"


Nina mendesah dalam hati


"Siapa yang sakit mbak..?


"Nina dik...."


Wina sempat tergugu sesaat mendengar Nina sakit


Menoleh ke arah Nina yang masih dipeluk Dika dan berdiri disamping mobil


Dihampirinya Nina ..


Diikuti oleh Rini


"Kau sakit apa nak"Wina bertanya


"Sakit panas Tante"Nina menjawab


Sebutan Tante yang diucapkan Nina membuat Wina memerah pipinya


dan mama Dita juga terlihat kaget


"ooww....mungkin terlalu kepikiran Indra ya....sudahlah nin....lupain saja..."


Rini mencibir ke arah Nina


Sikapnya sungguh menyebalkan

__ADS_1


"Mungkin Indra sudah punya pilihan lain.."


Wina sebetulnya merasa tidak enak,tapi tidak berani mengatakan apa apa


"Eehhmmm.....maaf ya dik Wina


Anak saya sedang sakit


jadi tidak bisa ngobrol lama lama"


Mama memotong obrolan


Mama jadi tau tipe seperti apa anak tiri Wina itu dari sikap dan ucapannya


Tidak perlu ditanggapi


"Baik mba dita...salam saya untuk keluarga"


Wina mengucap salam


"Insya Allah disampaikan...mari ya...kami duluan"


"Silahkan mbak..."


Wina menatap kepergian rombongan itu


Di sudut hati terdalam nya merasa senang karena ternyata Nina terlihat berbahagia bersama keluarga Tn Baskoro


Tidak kekurangan kasih sayang


Tampak dari sikap Dika yang langsung mengeratkan pelukannya ke tubuh Nina saat Rini bicara kasar tadi


Sekelebat rasa ,Wina juga sempat teringat Tn Wicaksono


"Ahhh....apa kabarnya laki laki pendiam itu...apa sudah menikah lagi ya"


"Iya Rin..."


Di dalam mobil rombongan Nina


Suasana jadi hening beberapa saat


Mama bingung mau ngomong apa


"Itu tadi bukannya Tante Wina ya ma?"


Dika bertanya sambil fokus mengemudikan mobil


Untuk situasi tertentu memang Dika sudah diijinkan membawa mobil


Dulu saat masih kecil Andika sempat mengenal wina


Mama bingung mau menjawab karena menjaga perasaan Nina


"Ehhh...itu....ehh"


"Dijawab gak apa apa ma....gak perlu disembunyikan...kita kan keluarga"


Nina menjawab keraguan mama


Nina menengok ke arah Dika


"Iyaa dek....itu tadi Tante Wina....mama kandungnya mba Nina"

__ADS_1


Rara yg duduk di belakang kursi Dika terlonjak kaget..


"Maakk ......maksudnya gimana ini Tante "


Rara menoleh ke arah mama meminta penjelasan....


"Mama cerita aja ...nin gak apa apa


Nin juga sudah bercerita sebagian ke Rara


hanya saja Rara belum tau siapa ibu kandung Nina"


Nina berucap sendu


Mama yang ada dibelakangnya meraih kedua pundak Nina dan mengelus elusnya


Hati Nina menghangat,


Rasa cinta yang diberikan mama Andita sudah menghilangkan rasa sakit karena kehilangan mama wina


Rasa cinta sejati seorang mama sudah Nina dapatkan dengan versi yang jauh lebih baik


Nina merebahkan kepala di jok kursi yang sudah diatur sehingga terasa nyaman setengah merebah


Matanya mengalir butir bening mengikuti cerita mama tentang masa lalu Nina


Mama menceritakan semuanya


sambil sesekali mengusap airmata


Tangannya masih mengelus elus pundak Nina dari belakang


Rara ikut menangis mendengar kisah pilu sahabatnya


Putri yang melihat semua menangis ,ikut menyembunyikan wajahnya dipangkuan Rara


"Tapi selalu ada hikmah dibalik bencana


Allah selalu memberi ganjaran dari setiap kesabaran kita


Kalau seandainya dulu tidak ada kisah ini,


mama pasti tidak akan mempunyai putri cantik dan baik sepertimu sayang"


Mama menepuk nepuk pundak Nina


"Dan Putri juga nggak jadi adiknya mba Nina dong ma...


Terima kasih Tante Wina karena sudah memberikan mba Nina untuk jadi kakaknya putri"


Dika tidak mengatakan apa apa


Tapi matanya berkaca kaca


Berkali kali dia usapkan mata di lengan bajunya


"Dika juga sayang mba nina"


Nina mengelus elus lengan Andika


Matanya mengalir butir bening


Tapi hatinya sungguh sungguh terasa menghangat

__ADS_1


"Maka nikmatMU yang mana lagi yaa Rabb...yang bisa hamba dustakan"


Nina mendesah mensyukuri karena memiliki keluarganya yang sekarang


__ADS_2