HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 10 PANGGIL IBU SAJA


__ADS_3

Malam ini diputuskan yang berjaga di rumah sakit adalah Mbok Sari, dan Arief menemani hingga tengah malam saja, berjaga-jaga jika ada yang diperlukan.


Sedangkan Bu Fatma pulang karena belum beristirahat sejak tiba dari bandara tadi pagi. Dan Yuana diajak menginap di rumah Bu Fatma, mengingat Yuana membawa Nabila yang tidak diperkenankan untuk berlama-lama di rumah sakit.


Di dalam mobil luxury MPV yang dikemudikan oleh Pak Hadi, Bu Fatma dan Yuana duduk berdampingan di bangku belakang. Kabin yang terasa nyaman membuat Nabila cepat tertidur di pangkuan Yuana.


"Nak Yuana tinggal sendirian di rumah? Tidak ada keluarga atau asisten gitu?" tanya Bu Fatma mencoba mengenal lebih dekat dengan Yuana.


"Sejak tinggal di rumah kontrakan, saya tinggal bertiga dengan Mas Amar dan Nabila saja Bu," jawab Yuana.


"Maaf sebelumnya... saya dengar, pabriknya kebakaran ya?"


"Iya betul Bu, hampir tiga bulan yang lalu," jawab Yuana sambil menundukkan kepalanya.


Bu Fatma yang melihat reaksi Yuana seperti itu merasa tidak enak hati. Beliau merasa tidak tepat waktu mengungkit kesedihan di saat Yuana dalam keadaan sedih akibat musibah yang lain.


"Maaf ya Nak Yuana, semua pasti akan ada hikmahnya. Yang sabar ya Nak... "


"Tidak apa-apa Bu," sahut Yuana sambil tersenyum.


"Selama Amar masih dirawat, Nak Yuana ikut tinggal bersama ibu saja ya... Biar nanti kita bisa sama-sama pergi ke rumah sakitnya," ucap wanita paruh baya itu, ucapan yang lebih bermakna permintaan daripada sebuah penawaran.


"Maaf Bu... saya takut merepotkan nantinya," Yuana masih merasa sungkan untuk menerima permintaan tersebut.


"Merepotkan apanya? Kan Ilham dan Amar sama-sama dirawat di rumah sakit, satu ruangan juga. Saya juga merasa harus bertanggung jawab atas kondisi Amar saat ini, coba kalo Amar tidak mengantar Ilham ke rumah sakit waktu itu..."

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu disesali Bu... bukankah semua terjadi atas kehendak Allah. Semoga Mas Amar dan Mas Ilham segera sembuh ya," sahut Yuana.


"Aamiin Yaa Allah."


Tidak lama sampailah mereka di rumah yang selama ini ditinggali Ilham seorang diri. Setelah Pak Hadi menghentikan dengan sempurna mobil yang ia kendarai di carport, Bu Fatma dan Yuana turun bersamaan melalui pintu mobil di masing-masing sisi. Bu Fatma yang mencapai teras terlebih dahulu, berhenti sejenak setelah membuka kunci pintu, menunggu Yuana mendekat.


"Mari masuk," ucap Bu Fatma sambil menggamit lengan Yuana agar mengikutinya. "Tunggu di sini sebentar ya, saya siapkan kamarnya dulu," lanjutnya mempersilahkan Yuana duduk di ruang tamu.


Setelah memastikan sprei yang terpasang di kasur kamar tamu bersih dan siap digunakan, Bu Fatma mempersilahkan Yuana membaringkan Nabila terlebih dahulu. Kemudian beliau mengajak Yuana untuk makan malam, meskipun sudah lewat jam makan malam, tapi beliau yakin bahwa Yuana tadi pasti belum sempat makan malam seperti dirinya.


"Maaf ya... hanya ada soto... Sari tadi yang masak. Nak Yuana ambil sendiri ya, anggap saja rumah sendiri," ucap Bu Fatma sambil membawa piring berisi nasi yang sudah disiram kuah soto ke meja makan yang menyatu dalam dapur tersebut.


"Ini sudah lebih dari cukup Bu," sahut Yuana sambil mengambil nasi dari magicom.


"Tolong kalau sudah mendidih dimatikan sekalian kompornya."


Mereka berdua pun makan malam dengan tenang hingga nasi di piring masing-masing habis. Yuana dengan sigap, mengambil piringnya dan piring di hadapan Bu Fatma dan membawanya ke kitchen sink untuk mencucinya.


Bu Fatma yang masih duduk melihat Yuana dengan tersenyum. Sungguh beruntung Amar memiliki istri seperti Yuana. Dari awal ketemu, beliau sudah terpesona pada keanggunan Yuana, ditambah dengan Nabila yang lucu dan menggemaskan.


"Besok pagi, sebelum kita ke rumah sakit, mampir ke rumah Nak Yuana ya. Ambil beberapa baju ganti atau barang-barang yang Nak Yuana butuhkan. Selama Amar masih di rumah sakit, Nak Yuana temani ibu di sini ya. Ibu tidak betah tinggal sendirian... bawaannya kesepian dan singunen kalau orang dulu bilang," meskipun terkesan impulsif, tapi keputusan Bu Fatma sebenarnya sudah banyak dipertimbangkan oleh beliau. Kebiasaan beliau dalam memimpin perusahaan terbawa dalam kehidupan sehari-harinya.


Dan Yuana menyadari itu, sehingga ia pun tidak begitu keberatan untuk menyetujui keputusan Bu Fatma. Hanya saja rasa sungkan itu masih ada, meskipun rasa syukur bertemu dengan orang sebaik Bu Fatma lebih mendominasi. Melihat perlakuan Bu Fatma padanya, mengingatkan pada almarhumah ibundanya.


Setelah makan malam, keduanya kembali ke kamar masing-masing. Yuana yang baru saja menutup pintu kamar, kebingungan karena lupa tidak membawa mukena, sedangkan dirinya belum sholat Isya. Niat hati ingin meminjam mukena pada Bu Fatma. Begitu membuka pintu, ternyata Bu Fatma sudah berdiri di depan pintu sambil membawa mukena.

__ADS_1


"Nak Yuana pake mukena ini saja... kiblatnya ke arah sana. Itu kamar mandinya dan ada sikat gigi baru dalam kabinet," ucap Bu Fatma seraya jarinya menunjuk ke arah kiblat lalu menunjuk pintu kamar mandi.


"Iya Bu... terima kasih, maaf merepotkan," jawab Yuana sambil tersenyum dan menutup pintu kembali setelah melihat Bu Fatma tersenyum dan kembali ke kamarnya.


Sementara setelah memastikan semua pintu terkunci dengan aman, Pak Hadi menuju paviliun belakang untuk beristirahat.


Yuana yang telah menyelesaikan ibadah sholat Isya, berbaring di samping Nabila. Diselimuti buah hatinya tersebut, dipandanginya wajah imut yang mirip suaminya itu. Perlahan menetes air mata, rasanya tak sanggup ia memikul kesedihan ini sendiri.


Pelukan hangat nan kokoh dari Amar sangat dibutuhkan saat ini. Ia tak tahu harus bersandar di dada siapa jika Amar saja justru sedang berbaring penuh luka dan tak sadarkan diri.


"Allah... Allah... Allah... Astaghfirullahal´adziim... ," hanya menyebut asma Allah sajalah yang bisa menenangkan hati Yuana malam ini. Tak ingin ia berburuk sangka pada Sang Penciptanya. Ia harus meyakini bahwa segala sesuatu yang ia alami, yang harus ia hadapi adalah kehendak Tuhannya, Allah semata.


Sungguh sulit bagi Yuana memejamkan mata malam ini. Terbayang tentang kemanjaan Amar semalam hingga pagi tadi, imajinasi Nabila dalam lukisan finger print-nya, kegelisahannya seharian ini hingga kabar kecelakaan serta kondisi Amar yang belum sadar di ruang ICU.


Hal itu mengingatkan kembali pada ingatan tentang kematian orang tuanya akibat kecelakaan pesawat dan kebakaran pabrik yang dikelola suaminya. Sesaat Yuana merasa bahwa Allah tidak adil kepadanya, tapi sejurus kemudian ia beristighfar menyadari kekeliruannya itu.


"Astaghfirullahal´adziim... ampuni hamba Yaa allah..."


tok... tok... tok...


Tiba-tiba terdengar pintu kamar diketuk. "Boleh ibu masuk?" tanya Bu Fatma setelah Yuana membuka pintu.


"Ibu ndak bisa tidur... keinget Ilham sama Amar terus," lanjutnya sambil berjalan masuk ke dalam kamar. Yuana mengangguk dan mempersilahkan Bu Fatma masuk ke dalam kamar yang ia tempati saat ini.


"Silahkan Tante."

__ADS_1


"Panggil ibu saja ya... Nak Yuana juga sudah ibu anggap anak sendiri."


"Terima kasih Bu," ucap Yuana dengan haru dan Bu Fatma tersenyum mengelus pundak Yuana.


__ADS_2