
Dokter Sinta keluar ruangan sesaat setelah Bu Fatma meninggalkan ruang kerja dokter Yusuf. Sementara dokter Yusuf melanjutkan diskusi mengenai penanganan terbaik untuk Ilham. Hanya tinggal beberapa pemeriksaan saja untuk meyakinkan bahwa keputusan yang akan mereka ambil tepat atau tidak.
Bu Fatma berjalan gontai melalui koridor menuju ruang ICU. Setelah melewati pertigaan koridor sebelum ruang ICU, ia dikejutkan oleh seorang anak kecil yang tiba-tiba menabrak dan memeluk kakinya.
"BUTIII!!" seru anak kecil tersebut.
"Eh... Azyan kesayangannya buti. Sudah datang yaa... mana mami?" sambut Bu Fatma seraya mengangkat bocah tersebut dalam pelukan dan menggendongnya.
"Di situ... duduk sama bunda Bella," jawab Azyan sambil menunjuk ke arah ruang tunggu ICU.
Lalu Bu Fatma mempercepat langkah menuju putrinya. Annisa yang melihat kedatangan ibunya, beranjak dari duduknya dan berjalan menyambut.
"Assalamu´alaikum Ummah," Annisa mengulurkan tangan kanannya dan meraih tangan ibunya kemudian mencium punggung dan telapaknya.
"Sudah datang kamu, Ning? Sudah melihat masmu?" tanya Bu Fatma pada anak ketiganya itu.
"Baru saja Ummah, Pak Hadi turunin di pintu utama tadi soalnya langsung nganter Mbok Sari ke pasar. Mas Rahmat belum bisa ke sini Ummah, mungkin lusa. Mas Ilham memangnya kenapa lagi Ummah? Kenapa sampai harus masuk ICU? Koma lagi dia? Uda bosan hidup kayaknya."
"Hush! Kamu ini... jaga ucapan!" sergah Bu Fatma ketika Annisa mulai meluncurkan kekesalan pada kakaknya itu.
"Habiiis... Mas Ilham ini, segitunya sama perempuan itu. Diewangi ngrusak awak. Kayak uda gak ada gadis baik-baik aja," omel Annisa dengan geregetan.
"Apa maksudmu Ning? Perempuan siapa?" Bu Fatma mengerutkan dahi, bingung mendengar omelan Annisa.
"Siapa lagi Ummaaaah... Si Kucing Liar itu... Si Cathrine," segera Annisa menutup mulut, menyesali ucapannya. Duh... harusnya tidak kusinggung soal dia.
"Cathrine? Bukannya dia..." membenahi posisi duduknya, Bu Fatma menatap tajam pada
Annisa.
"Maaf Ummah... Ummah ingat waktu Mas Ilham ngantar Ummah ke Singapur? Yang Mas Ilham balik ke Indonesia tanpa pamit?"
Yuana yang merasa tidak enak berada di tengah pembicaraan intern keluarga Bu Fatma, memilih untuk menggandeng Nabila dan Azyan menuju taman di depannya.
__ADS_1
"Memangnya ada apa?" Bu Fatma mengelus dahi bayi dalam gendongan Annisa yang sedang menggeliat.
"Tapi janji, Ummah jangan marah yaa. Waktu itu kak Zein membawa mas Ilham dari club ke hotel. Mas Ilham mabuk parah. Kata kak Zein, mas Ilham baru ngelihat Cathrine sama Robert," jelas Annisa. "Ternyata Robert sebenarnya bukan manager Cathrine, tapi tunangannya. Mereka sudah menikah dan di Singapura itu lagi bulan madu. Jadi Cathrine dulu emang niat mau nipu Mas Ilham.
Bu Fatma yang mendengar penjelasan dari putrinya tersebut tampak sangat terkejut. Beliau memegangi dadanya yang naik turun akibat pernafasannya yang menjadi sedikit berat.
"Ummah... Ummah... tadi Ummah uda janji tidak marah kan. Ummah tenangin diri yaa. Ummah..." Annisa yang melihat reaksi ibunya berusaha untuk menenangkannya.
"Tidak... ummah tidak apa-apa," ucap Bu Fatma saat ia sudah bisa menenangkan dirinya. Kemudian beliau menghela nafas dan menepuk pundak Annisa. "Kau pulang saja dulu. Ajak bareng Yuana, kasian anak-anak kalau kelamaan di rumah sakit. Sementara ini Yuana tinggal bareng kita. Naik taksi saja, ndak usah nunggu Hadi."
"Baik Ummah. Tapi kalau ada apa-apa langsung kabarin ya, Ummah," sahut Annisa kemudian salim pada ibunya dan menghampiri Yuana.
Yuana yang tahu hendak diajak pulang bareng oleh kakak tingkatnya di SMK dulu itu, mendekat pada Bu Fatma untuk berpamitan.
"Bu Fatma, Yuana balik dulu. Titip mas Amar ya Bu... kalau ada apa-apa nanti tolong segera dikabari," pamit Yuana.
"Kamu bisa bawa mobil Nak?" dibalas anggukan oleh Yuana, "baguslah... Ning... nanti Pinkymu biar dibawa Yuana saja ya," seru Bu Fatma pada Annisa.
"Iya Ummah... kami balik dulu," pamit Annisa.
"Wa ´alaikum salam," jawab Bu fatma.
*
"Ummah baru kirim pesan, Na. Sore ini kau ndak usah ke rumah sakit dulu. Keadaan suamimu uda lebih baik, tapi masih belum sadar. Besok pagi aja bareng sama aku, biar besok anak-anak di rumah saja sama ummah," ucap Annisa menyampaikan pesan dari ibunya untuk Yuana.
Selepas sholat ashar dan menyuapi Nabila dan Azyan, mereka duduk santai sambil berselonjoran di atas karpet bersandar pada sofa di ruang keluarga.
Azyan dan Nabila bekerja sama menarik satu kontainer plastik berukuran sedang mendekat ke arah karpet. Kemudian menumpahkan isi kontainer tersebut ke atas karpet. Ratusan biji lego blok tumpah berhamburan di atas karpet.
"Memangnya tidak apa-apa ninggal anak-anak sama ibu aja, Kak?" tanya Yuana karena masih merasa sungkan pada keluarga yang baru dikenalnya ini.
"Ndak usah sungkan begitu, Na. Lagian ntar ummah juga ndak sendiri, ada Mbok Sari. Ntar biar Rima bantu juga deh, kalo kamu masih ndak yakin," tutur Annisa menjawab keraguan Yuana.
__ADS_1
"Rima?"
"Itu... asisten juga di paviliun belakang. Ndak pernah masuk rumah sih, soalnya tugasnya di belakang aja."
Mereka pun melanjutkan obrolan sambil mendampingi anak-anak mereka menyusun lego blok, membentuk sebuah benteng yang luas dengan sebuah kastil mungil di tengah-tengahnya. Azyan dan Nabila bersuka cita berada di dalam benteng warna-warni tersebut, berkejaran mengelilingi kastil sambil tertawa riang.
"Jadi sekarang kalian tinggal di kontrakan? Emang gak bisa ditebus lagi gitu?" tanya Annisa mendengar jalan hidup yang harus dilalui Yuana.
"Bisa sih... sebenarnya tunggakannya juga gak begitu banyak. Mas Amar uda minta kelonggaran waktu dan bebas bunga. Niatnya nanti kalau tabungan uda terkumpul, mau dilunasi ditambah dengan bayar pinalti aja."
"Trus rencana kamu ke depannya gimana?"
"Aku mau fokus ndesain lagi aja Kak. Royaltinya lumayan sih buat tambah tabungan," jawab Yuana sambil menerawang membayangkan masa depannya jika kondisi suaminya tidak segera membaik.
"Ndesain? Maksudnya gimana?" tanya Annisa sedikit bingung dengan istilah 'ndesain' yang dimaksud Yuana.
"Kak Nisa tau tas ibu yang katanya dibelikan sama suami Kak Nisa di butik Starla?"
"Ya inget donk... itu tas aku yang milih modelnya kok," seru Annisa.
"Itu hasil desain aku Kak. Uda lima desain aku yang dibeli mereka. Nilai kontraknya lumayan, kalau penjualan melebihi kontrak, aku tetep dapet royalti meskipun gak banyak," tutur Yuana kemudian.
"Waaah... keren abis kamu Na. Mimpi aku jadi terasa terbang lagi nih, kemarin uda aku kubur dalem-dalem. Kenal kamu jadi pingin wujudin mimpi aku lagi, Na," berbinar-binar Annisa menatap Yuana dengan kekagumannya.
"Eh... maksudnya gimana?" Yuana yang terkejut melihat reaksi Annisa menjadi mendadak bingung.
"Kita kerjasama aja!" ucap Annisa dengan tegas sambil mengulurkan tangannya meminta untuk segera dijabat.
Yuana yang melihat ada secercah harapan bagi masa depannya itu pun segera menyambut uluran tangan Annisa dengan erat. Pandangan mereka berdua seakan terikat, saling memandang dengan penuh optimis.
"Deal!" seru Yuana.
Tiba-tiba Azyan dan Nabila menirukan apa yang dilakukan mami dan bundanya.
__ADS_1
Mereka duduk berhadapan, saling pandang dan bersalaman lalu kompak berseru, "Deal!"
Kemudian mereka berempat pun saling berpelukan dan tertawa bersama-sama.