HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 30 ENJOY IT!


__ADS_3

Melepas niqob yang seharian ini ia pakai dan meletakkan kain tipis tersebut di meja rias di sudut kamar. Dipandangnya cermin di hadapannya itu dan disambut mata sembab wajah kuyu, kusam, tidak berseri.


"Dadaaa buyaa."


Dari bayangan cermin, tampak Nabila terduduk di atas kasur lalu telungkup diatas guling. Rupanya gadis kecil itu sedang bermimpi lalu mengigau.


Teringat bagaimana seharian tadi ia bersusah payah menjawab semua pertanyaan buah hatinya tersebut. Semua pertanyaan yang selalu berujung pada kalimat, "buya mana?"


Ia tidak pernah memiliki jawaban atas setiap tanya yang keluar dari mulut mungil gadis kecil itu. Sebuah tanya yang selalu menyisakan rasa iba dan terenyuh di hati setiap tamu yang ia temui di ruang tengah. Tamu pelayat yang justru banyak berdatangan silih berganti tepat di tujuh hari kepergian suaminya, Amar Nasiruddin.


Bagaimana ia harus memberi penjelasan kepada gadis kecil berusia dua tahun, sementara ia sendiri belum bisa menerima dengan sepenuhnya tentang kepergian the one and only man bagi keduanya tersebut. Jika ia sendiri masih merasa bahwa sebenarnya Amar hanya pergi bekerja dan akan pulang sebagaimana biasanya.


Masih terngiang jelas di telinga, bagaimana Amar menyapanya tiap pulang bekerja.


"Assalamu'alaikum Purnamaku... masak apa hari ini sayang?"


"Assalamu'alaikum Sayaaang... gimana, Nabila masih demam?"


"Yuana Amalia istriku... Mas kangen, Dik."


Lalu tampak dengan jelas dari bayangan di cermin, berdiri di belakangnya, Amar memakai gamis koko lengan sesiku warna putih dengan aksen garis-garis vertikal warna abu silver dan abu flint.


Tersenyum manis, menatap persis ke arah manik matanya, sehingga tatapan mereka terkunci untuk beberapa saat.


"Yuana juga kangen, Mas," sahutnya lirih. Namun Amar hanya tersenyum.


"Bunda... mimik," suara Nabila mengejutkannya, sesaat ia melirik Nabila yang sedang duduk memandangnya. Dan ketika ia melihat ke tempat Amar berdiri tadi, sudah tidak ada siapa-siapa lagi.


"Astaghfirullahal'adziim," Yuana pun segera mengambilkan segelas air minum untuk Nabila. Lalu ia berbaring di samping Nabila, untuk menidurkannya lagi.


'Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'aafihi wa'fu anhu, Yaa Allah... ampunilah suami hamba, kasihilah ia... Yaa Allah... berilah ia kekuatan dan maafkanlah ia Yaa Allah...'


Tak henti-henti bibir Yuana melantunkan doa untuk suaminya, lirih... dari hati yang paling dalam. Hingga tidak terasa ia sudah masuk dalam buaian mimpi, mimpi tentang kerinduan... kerinduan tak berujung.


*


"Nis... tolong berikan berkas ini pada Yuana ya, suruh ia tanda tangan di situ jika sudah mengerti. Kalau sudah bawa ke ruang kerjanya Ilham... ummah mau bahas kerjaan dengan Arief di sana."


Annisa yang baru saja masuk rumah dan hendak mengambil air minum terpaksa berhenti sejenak demi memenuhi panggilan ibu yang sangat disayanginya itu. Setelan training yang ia kenakan tampak lembab oleh keringat, begitupun jilbab instan yang ia pakai, karena ia baru saja selesai jogging mengelilingi lapangan golf depan rumah.


Pagi ini, Arief datang membawakan berkas perjanjian kerjasama yang diminta bu Fatma terkait pekerjaan yang akan diberikan kepada Yuana. Selain itu juga hendak memberikan laporan keuangan perusahaan yangseharusnya ditangani oleh Ilham.


"Garden keeper... penjaga taman? Ini maksudnya apa, Ummah? Ummah minta Yuana jadi penjaga taman gitu?"Annisa yang tidak sengaja membaca berkas yang hendak diberikan pada Yuana bertanya heran.


"Iiiih... Ummah tega banget sih. Udahlah Ummah... Yuana biarin tinggal di sini aja napa. Nisa seneng kok Yuana tinggal di sini, jadi Nisa ada temennya. Azyan dan Nabila juga bisa berteman. Lagian Annisa sama Yuana kan mau ngeproject bareng... kenapaaa juga mesti disuruh jadi penjaga taman," Annisa yang melihat bu Fatma hanya mengangkat kedua alisnya, ia pun akhirnya memprotes kebijakan ibunya yang tidak bijaksana menurutnya.


"Yuana ingin pergi dari sini... ia mau kembali ke rumah kontrakannya. Percaya sama ummah... ini satu-satunya jalan agar Yuana bisa tetap tinggal di sini," bisik bu Fatma.


"Tapi taman itu... mas Ilham?"


"Ilham urusan ummah... kamu tenang saja. Sudah... buruan kasih Yuana! Trus mandi... kuecuuut! Ntar Zein gak mau dekat-dekat lho," seloroh bu Fatma sengaja menggoda putrinya itu.


"Justru aroma keringetan gini Ummah... yang kak Zein cari."


"Kamu..." bu Fatma menggeleng-geleng kepala sambil memukul lengan Annisa dan berlalu menuju ruang kerja Ilham.

__ADS_1


Annisa pun bergegas ke kamar Yuana, mengetuk sebentar lalu membuka pintunya. Tak terlihat siapapun di dalam, tapi kemudian terdengar gemericik air dari kamar mandi yang berada di sudut kamar itu. Rupanya Yuana sedang memandikan Nabila.


"Yuana... ummah ngasih berkas buat kamu, pelajari dulu ya. Ntar abis mandi aku ke sini lagi," Annisa setengah berteriak setelah mengetuk pintu kamar mandi.


"Iya... Kak... taruh situ dulu."


Setelah mendengar jawaban Yuana, Annisa pun pergi menuju kamarnya sendiri di lantai dua. Menyapa sebentar pada Zein yang sedang berusaha membangunkan Azyan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Annisa keluar kamar mandi bersamaan dengan suara tangis Norish.


"Give suck my cute baby please, My Dear," ucap Zein sambil terus menggosokkan hidungnya di perut Azyan yang sedang tertawa kegelian. Rupanya Norish terbangun mendengar suara berisik ayah dan kakaknya.


"As your wish, My Lord," seloroh Annisa sambil menekuk satu lututnya dan menyilangkan kaki satunya ke belakang serta menjumput sisi kanan dan kiri bathrobe yang ia kenakan.


"Godain kak Zein, Dik?" pikiran mesum Zein sontak berkelana demi melihat bathrobe yang terbuka sebagian akibat sikap Annisa barusan.


"Ish... Kak Zein selaaalu saja... Zyan, mandi bareng papi ya... nanti kita main ke Smart Arena, Bella uda cantik tuh, dah siap dia," Annisa buru-buru merapikan bathrobenya dan segera berbaring untuk menyusui Norish yang sudah tidak menangis lagi itu.


"Okeh Mami... ayo, Pi... buruan mandi," Azyan yang sebelumnya malas untuk bangun berbalik menjadi semangat empat lima begitu mendengar akan pergi ke Smart Arena bareng Nabila, satu-satunya teman yang ia punya saat ini.


Annisa yang sudah selesai menyusui Norish memanggil Rima menggunakan interphone yang ada di kamarnya, meminta Rima untuk memandikan Norish. Ia sendiri sedang bersiap diri untuk menemui Yuana terlebih dahulu.


Setelah Norish dibawa oleh Rima, Annisa buru-buru berganti pakaian dan merias diri lalu bergegas menuju kamar Yuana untuk menanyakan perihal berkas yang ia berikan tadi. Bahkan tanpa menunggu suaminya yang sedang asyik mandi bersama dengan Azyan.


"Gimana Yu... uda kamu baca belum? Kamu setuju? Uda tanda tangan?" cecar Annisa begitu masuk ke dalam kamar Yuana.


Yuana yang sedang menyisir rambut Nabila, tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Ya belum lah, Kak... nih baru selesai," jawab Yuana tenang seraya menyelesaikan mengikat rambut Nabila membentuk ekor kuda yang lebih mirip dengan jambu mete dari pada ekor kuda karena mengeluntung di ujungnya.


Mendengar adik Norish lagi dimandiin, sontak Nabila bersorak dan melompat turun dari pangkuan Yuana dan berlari keluar kamar untuk melihat Norish yang dimandikan oleh Rima.


"Buruan baca... ditungguin sama mas Arief di ruang kerja mas Ilham," begitu melihat Nabila pergi, dengan tak sabar Annisa meminta Yuana segera membaca perjanjian kerjasama itu.


Mau tidak mau, akhirnya Yuana mengambil berkas kemudian membacanya di bawah tatapan penuh ingin tahu dari Annisa. Ia mengernyit membaca pasal demi pasal yang ia baca pada surat perjanjian kerjasama tersebut.


"Kenapa? Gimana?" ekspresi Yuana semakin membuat Annisa penasaran.


"Paviliun? Taman? Emmm... ini di mana? Milik siapa?"


"Di sebelah... punya mas Ilham... mau ya... mau yaa?"


"Tapi ini gajinya juga kemahalan, Kak... kayak orang kantoran aja. Aku juga ndak mau ada crash sama mas Ilham."


"Emm... kalau soal mas Ilham, aku tadi juga sempat kepikiran gitu. Soalnya paviliun itu istimewa banget, dulu aja tak ada satu orangpun yang diijinkan masuk sama mas Ilham. Tapi ummah bilang itu urusan ummah."


"Tapiii..." banyak hal berkecamuk dalam pikiran Yuana, apalagi ini ada hubungannya dengan keluarga yang bahkan baru saja dikenalnya, meskipun sepertinya keluarga ini sudah seperti sangat mengenalnya.


Mungkin karena ia istri dari Amar, teman satu sekolah salah satu anggota keluarga ini, yakni Ilham, juga teman satu pondok dengan Pak Rahmat, yang kebetulan mentornya dulu saat ia magang kerja.


Mengingat dirinya yang kenal dengan Annisa, itu pun hanya sekedar satu sekolah, beda tingkatan dan kurang begitu akrab, hanya saling tahu dan saling mengagumi.


Bukankah tidak ada alasan yang memantaskan dirinya untuk harus menerima segala keistimewaan ini?


"Udaaah... ambil aja yaa... you deserve it, Yuana. Intuisi ummah itu tajem banget lhoo, pasti ada banyak pertimbangan sebelum ummah memutuskan ini. Ya... yaa..."

__ADS_1


Annisa yang memang dari kecil tidak banyak memiliki teman merasa sangat senang sekali jika Yuana bersedia menerima keputusan ibunya, karena itu berarti dia akan memiliki tidak hanya teman, melainkan sahabat bahkan bisa dianggap sebagai adiknya sendiri. Maka dari itu ia sangat berharap Yuana bersedia.


"Daripada kamu balik ke kontrakan, sendirian dengan Nabila. Tinggal di paviliun jauh lebih baik kan?" lanjutnya masih berusaha meyakinkan Yuana.


"Tapi aku ngerasa gak enak, Kak... selama ini sudah sangat merepotkan keluarga Kak Annisa, terutama bu Fatma, beliau bahkan menganggap Yuana seperti anaknya sendiri. Aku... aku bahkan tidak tahu, bahkan mungkin memang tidak bisa... membalas kebaikan kalian semua. Aku... aku... tidak ingin semakin menambah beban keluarga Kak Nisa. Selain itu... statusku sekarang, takutnya akan menimbulkan fitnah, Kak," akhirnya Yuana menyampaikan kegelisahannya selama ini.


"Yuana... kamu dan Nabila tidak akan pernah menjadi beban buat kami. Aku dan ummah justru sangat senang sekali kalian berdua bisa menjadi bagian dari keluarga kami. Sudah... jangan terlalu banyak mikir. Yang jelas ummah dan aku... tidak boleh ada penolakan. Buruan gih... sign... right... here!"


Annisa yang sudah merasa gemas karena menunggu terlalu lama keputusan Yuana, akhirnya berpura-pura bersikap tegas meminta Yuana segera menandatangani surat perjanjian kerjasama itu. Dan setelah tanda tangan Yuana sudah berhasil ia dapatkan, dipeluknya Yuana erat-erat. Lalu dengan senyum lebar berlalu keluar kamar menuju ruang kerja kakaknya di mana Bu Fatma dan Arief sedang menunggunya.


**


"Silahkan masuk, Yuana..." ujar bu Fatma setelah membuka pintu, saat ini beliau mengantarkan Yuana untuk menempati paviliun sesuai dengan kesepakatan.


Terlongong-longong Yuana dan Annisa melihat isi rumah yang dari luar terlihat mungil namun terasa luas dan nyaman di dalamnya itu.


"Wow!"


"Incredible!"


"That's unbelievable."


"Yuana lihaaat! Duuuh dapurnya keren... ini baru beli apa dah lama, Ummah... kok kayak ndak pernah dipake?"


"Yaa emang ndak pernah dipake... ini kan rencananya mau ditempati sepulang bulan madu... semacam surprise gitu," jawab bu Fatma dengan datar.


"Bucin parah mas Ilham sama kucing garong itu..." keluh Annisa membayangkan sikap Ilham kepada calon istrinya itu sampai-sampai membuatkan paviliun dengan landscape taman yang sepertinya menguras tabungan itu.


Sementara Yuana sama sekali tidak terusik dengan sikap Annisa ataupun dengan arsitektur dan perabotan mewah yang ada dalam paviliun itu.


Namun pandangan dan jemarinya justru menyisir pada benda-benda yang ia tahu pasti bahwa itu adalah barang miliknya yang tertinggal di rumah kontrakan milik bu Martha yang ia sewa. Barang-barang yang bahkan masih tersimpan dalam kardus tebal yang ia susun di pojok ruang tengah. Tapi kini telah tertata apik melengkapi isi furniture di paviliun tersebut.


"Yuanaaa... sini deh!" Annisa yang kini berbaring dan mengepak-ngepakkan lengannya di super king size bed di satu-satunya kamar yang ada di situ berteriak memanggil Yuana yang sedari tadi tidak menghiraukannya sama sekali.


"Nyaman sekali tiduran di sini," lanjutnya sambil menggeliatkan tubuh ketika melihat bu Fatma dan Yuana masuk ke dalam kamar.


Bu Fatma hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan putrinya yang terkesan kekanak-kanakan dari tadi.


Sedangkan Yuana masuk ke dalam kamar tersebut dengan perasaan masygul dan tidak enak hati.


Ia merasa sedih, karena tiba-tiba teringat pada almarhum Amar, suaminya. Seandainya sekarang ada Amar di sampingnya, seandainya paviliun ini adalah pemberian suaminya... tentu ia akan sangat bahagia sekali.


Namun di sisi lain, ia juga merasa tidak enak hati, karena seharusnya Ilham dan istrinya yang menempati kamar itu... bukan dirinya. Sempat terbersit dalam pikirannya, apa saja yang telah dilakukan oleh mereka berdua di kamar ini.


"Astaghfirullahal´adziim" gumamnya dengan menggeleng-geleng cepat.


"Eh... ini kok kemresek... masih plastikan, Ummah," ujar Annisa yang menyingkap bed cover yang menutupi kasur dengan sempurna itu.


"Gimana sih Hadi itu... kok asal ditutup bedcover aja, ndak dibuka dulu plastiknya. Nis... bilangin pak Hadi suruh bongkar plastiknya. Ayo, Yuana... kita ke taman. Ibu mau jelasin tugas kamu apa aja."


Sesampainya di teras paviliun, landscape taman bunga yang desainnya sangat indah. Namun sayang sebagian tanaman bunga tampak kering dan mati, sebagian yang lain tambah bertahan hidup namun tumbuh berantakan. Pun rumput jepang yang menutupi sebagian besar tanah yang terbuka tumbuh tidak rata bercampur dengan rumput liar.


"Nah Yuana... ini tugasmu dalam satu tahun kontrak pertama. Tugas utama... dalam waktu enam bulan terhitung masa iddah selesai kau harus menghidupkan kembali taman ini. Apapun yang kau butuhkan, katakan saja pada Hadi... kalau perlu panggil arsitek untuk mendesain ulang."


"For now... enjoy it!"

__ADS_1


__ADS_2