
Sinar mentari bersinar cukup terik dan meninggalkan bayangan memanjang ke arah timur. Pertanda hari sudah sore.
Beberapa buggy car tampak berseliweran, ada yang hendak kembali ke tempat parkir, ada pula yang baru datang mengantar orang-orang yang hendak bermain golf. Tampak pula beberapa orang sedang asyik melakukan jogging. Aktifitas di lapangan golf depan rumah di sore hari selalu lebih ramai dari pada di pagi hari.
Bu Fatma berdiri di teras rumah memandang mobil yang dikemudikan Nazriel keluar dari halaman rumahnya hingga mobil berbelok menyisir jalan raya di tepi area lapangan golf itu. Setelah menutup gerbang dengan sempurna, Mbok Sari menghampiri Bu Fatma yang termenung memandang hamparan lapangan golf.
"Sepertinya ada yang tidak beres antara Ilham dan Yuana. Apakah mungkin, Mbok, Ilham sengaja melakukan ini pada Yuana?"
"Saya ndak berani menyimpulkan, Bu."
"Jika keberadaan Yuana di sini adalah kesalahan, maka ini sepenuhnya adalah kesalahanku, Mbok. Seandainya aku lebih memilih menelpon ambulan dari pada meminta Amar mengantar ke rumah sakit, mungkin Amar masih hidup, Yuana menjalani hidupnya dengan normal selayaknya ibu-ibu muda lainnya. Seandainya aku tak membawa masuk dan menahan Yuana di paviliun, tak memaksanya menjadi asistennya Ilham, ia mungkin baik-baik saja..."
"Jangan berandai-andai, Bu. Tidak baik. Semua sudah garis takdir dari Allah, karena apa yang Bu Fatma lakukan dulu, pasti itu jalan terbaik yang Ibu pilih waktu itu. Iya kan?"
"Aku juga mengkhawatirkan Ilham, Mbok. Apakah ia harus mengalami depresi gara-gara seorang wanita lagi?"
"Doakan yang terbaik saja, Bu, kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi bukan?"
"Ya, kamu benar, Mbok. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Dan Bu Fatma pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, sementara Mbok Sari menuju ke paviliun belakang.
Empat puluh lima menit berlalu, lalu lintas yang lancar dengan sedikit kemacetan di beberapa area wisata, tidak dirasakan oleh Yuana. Karena sepanjang perjalanan ia dan Nabila tertidur cukup pulas dan baru terbangun ketika mendekati gapura desa.
Nazriel menurunkan mereka di depan rumah Bu Aminah sebelum melanjutkan ke kafe yang baru ia rintis untuk mengantarkan bahan baku yang tadi ia beli di kota.
Yuana buru-buru masuk ke dalam rumah ketika Bu Aminah membukakan pintu, sementara Nabila menjatuhkan dirinya di atas sofa ruang tamu, masih mengantuk.
"Bu, Yuana belum sholat ashar," ucap Yuana sambil menyeret kopernya ke depan kamar yang selalu mereka tempati ketika menginap.
"Ibu yo durung lho Nduk, wong adzan maeng awak e lagek ndek dalan ngunu."
"Oh, iya," jawab Yuana menyengir.
"Sholato disikan, Nduk. Ibuk tak adus-adus sek," Bu Aminah mempersilahkan Yuana untuk menjalankan sholat terlebih dahulu karena ia sendiri harus membersihkan badannya terlebih dahulu.
Akhirnya Yuana pun masuk ke dalam kamar. Yuana tersenyum melihat sekeliling kamar. Meskipun pandangannya masih terasa sedikit buram, ia tahu Bu Aminah benar-benar sangat merawat kamar ini. Kamar yang ditempati Amar sejak ia masih remaja hingga menikah. Tak ada yang berubah, perabotan yang sama dengan isi yang tidak begitu banyak. Semua masih terawat dan bersih.
Setelah meletakkan koper di samping lemari baju, Yuana mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Diusapnya kain sprei yang masih ia ingat betul belinya di mana.
Waktu masih pengantin baru, ada tetangga selisih tiga rumah yang berjualan sprei batik sistem kredit. Yuana mengambil tiga buah sprei, waktu mau dibayar lunas, penjualnya tidak mau menerima dengan alasan ia menjual dengan akad kredit dibayar tiga kali, jadi tidak menerima kontan.
Ah, apa kabar Mbak Sofi ya? Apa masih berjualan sistem kredit?
Kemudian Yuana berdiri membuka lemari pakaian, ia terkejut, semua pakaiannya dan pakaian milik Amar terbungkus plastik rapi tiap stelnya, terselip kertas kecil berstempel di dalamnya. Sepertinya Bu Aminah membawanya ke laundry, ia teringat ketika terbangun di ujung desa yang dilewati dalam perjalanan tadi, ada usaha laundry yang sepertinya baru dibuka. Karena terakhir ia pergi ke desa masih belum ada.
Segera ia mengambil sajadah dan mukena yang terbungkus plastik juga, membuka dan menggelarnya di depan lemari. Kemudian ia keluar untuk mengambil air wudlu di kamar mandi, melewati Bu Aminah yang sedang menjerang wedang jahe di dapur.
"Terima kasih ya, Bu. Masih menerima Yuana di rumah ini," ucap tulus Yuana pada ibu mertuanya itu.
"Ibuk sing bungah atine, Nduk. Yuana karo Nabila iku anak putune ibuk. Jane wingi-wingi ibuk kuatir, Yuana wis moh muleh mrene maneh, mergo wis ganok Amar sing ngajak," tutur Bu Aminah sambil menuangkan air jahe ke dalam tiga cangkir.
Setelah menunaikan sholat ashar, Yuana menghabiskan wedang jahe yang sudah dingin. Padahal waktu ia membawa secangkir wedang jahe itu ke kamar masih dalam keadaan sangat panas. Mungkin karena suhu udara di desa yang dingin membuat wedang tersebut juga cepat dingin.
Yuana merebahkan diri di kasur karena masih merasa sedikit pusing.
"Sebenarnya obat apa yang aku minum, kenapa aku jadi begini? Tapi rasanya enak kok, berasa banget jeruk asli, makanya aku habisin tadi. Apakah ada yang memasukkan obat dalam jus jeruk tadi? Apa teman Mas Ilham tadi? Siapa? Kenapa yang terbayang justru wajah Mas Ilham, tapi aku yakin bukan Mas Ilham pelakunya."
Semakin memikirkan apa yang sebenarnya terjadi padanya, semakin terasa sakit kepalanya, akhirnya ia memilih unuk memejamkan matanya.
Sementara itu di musholla rumah utama, selepas sholat ashar, tertunduk dalam, Ilham tidak beranjak dari duduk terpekurnya.
Bu Fatma yang baru menyelesaikan wiridnya, mengusap-usap bahu putra kesayangannya itu.
Ilham menoleh dan menjatuhkan kepalanya di pangkuan sang ibu, "Ummah..."
"Sebenarnya apa yang telah terjadi pada Yuana? Kamu..."
__ADS_1
"Edi."
"Edi? Edi temannya Ratna itu?" dijawab anggukan kepala Ilham, "apakah Ratna terlibat?"
"Ilham tidak tahu, Ummah. Yang jelas tadi Ratna yang membawa petugas keamanan untuk mengamankan Edi."
"Apa Rahmat tahu? Tadi masmu sempat ngabari ummah kalau mau jemput Ratna di resort."
"Tahu, bahkan Mas Rahmat yang bantu Ilham menemukan Yuana."
"Menemukan?"
"Iya, sewaktu Ilham sedang di atas panggung, Yuana pamit ke toilet. Tapi lama tidak kembali, akhirnya Ilham cari, tapi tidak ada siapapun di toilet. Lalu Ilham ketemu mas Rahmat, dan ternyata Yuana sudah hampir dilecehkan oleh Edi di ruang kesehatan. Harusnya kubunuh saja dia."
"Hush... Masih beruntung Yuana tidak sampai diapa-apakan, jangan menambah masalah menjadi lebih besar."
"Maafkan Ilham, Ummah," gumam Ilham sambil menggenggam erat tangan Bu Fatma yang sedang mengusap-usap kepalanya.
"Kasian Yuana, ia pasti syok dan trauma saat ini."
"Apakah Yuana marah sama Ilham, Ummah?"
"Tidak... Tadi Yuana hanya bilang untuk saat ini tidak bisa dekat-dekat sama kamu. Memangnya kalian ada masalah?"
"Apa karena Ilham mengatakan Yuana calon istri Ilham ya, Ummah. Tapi Ilham sudah menjelaskan alasan Ilham kok, Ummah, dan dia mengerti."
"Selain itu?"
"Sampai sebelum peristiwa tadi juga masih baik-baik saja."
"Kalau begitu ya seharusnya memang tidak ada masalah. Mungkin karena masih ada pengaruh obat itu, jadi dia harus menjaga jarak sama kamu, hehe," kelakar Bu Fatma.
"Apa sebaiknya Ilham benar-benar melamar Yuana ya, Ummah?"
"Memangnya kamu sudah siap untuk membuka hati lagi? Ummah tidak ingin kehilangan kamu untuk kesekian kalinya, hanya gara-gara patah hati. Kamu terlalu berharga kalau hanya untuk patah hati, Haaam."
"Ummah ingat gadis kecil yang jatuh saat main egrang dulu?"
"Ah... Cinta monyetmu itu? Bagaimana ummah bisa ingat, kamu saja main rahasia, tidak mengenalkannya pada ummah."
"Sebenarnya dialah cinta pertama Ilham, Ummah, sampai sekarang tak akan berubah. Apapun akan Ilham lakukan asalkan dia bahagia."
"Termasuk melihat dia bahagia dengan orang lain?" tanya Bu Fatma, karena beliau tahu bahwa cinta pertama Ilham itu telah menikah bahkan sebelum Ilham menyatakan perasaannya dan cukup memporakporandakan hati anaknya tersebut.
"Asalkan dia bahagia."
Bu Fatma termangu mendengar jawaban Ilham yang menjawabnya sambil tersenyum dan mengangguk dalam pangkuannya.
Apa sebenarnya yang kamu rasakan, Nak. Bahkan kamu masih bisa tersenyum dalam kesedihanmu. Sebesar itukah perasaanmu pada gadis itu? Kalau memang iya, kenapa dulu tidak bercerita pada ummah, ummah bahkan rela berlutut padanya, melamarnya untukmu, Nak. Aku jadi penasaran, siapa gadis itu, bagaimana kehidupannya sekarang.
"Yuana," gumam Ilham.
"Hah?"
"Gadis kecil itu Yuana," gumam Ilham lagi seraya menyurukkan keningnya ke perut Bu Fatma dan satu tangannya memeluk erat pinggang ibunya itu.
Seketika semua terasa berputar dalam pandangan Bu Fatma, sebuah roll film tampak berjalan menayangkan penggalan-penggalan perjalanan masa remaja Ilham ketika masih tinggal di kampung. Persahabatan antara Ilham dan Amar yang seperti tak terpisahkan. Diawali Amar yang selalu mendampingi Kyai Marzuki yang mengisi taklim di masjid terdekat dan Abah Haikal yang sering mengajak Ilham sowan ke pesantren asuhan sang kyai.
Ilham yang selalu ceria dan penuh optimis, walaupun berada dalam tekanan sang ayah untuk belajar menjadi penerus perusahaan.
Ilham yang selalu berbinar ketika bertemu dengan Amar membuat hati seorang ibu merasa tenang, karena anak kesayangan yang tidak mudah bergaul dengan sebayanya itu memiliki sahabat yang selalu mensuportnya.
Lalu sejak kepindahan keluarga Haikal, Amar tidak pernah muncul lagi. Kabarnya ia bekerja di sebuah garment dan Ilham pergi menuntut ilmu ke luar negeri.
Ilham masih penuh semangat ketika merombak rumah sebelah menjadi sebuah taman yang sangat indah. Mendatangkan arsitek profesional dan aktif memantau setiap detail pembuatan taman walaupun dari luar negeri.
Hadiah untuk calon istri harus maksimal katanya. Namun semua tiba-tiba berubah justru ketika taman indah itu sudah jadi.
__ADS_1
Ilham berubah menjadi apatis dan bersikap sesuka hatinya, susah dihubungi. Taman indah itu tak terurus dan menjadi taman gersang yang terlihat mencekam jika malam tiba.
Kebodohan demi kebodohan silih berganti dilakukan Ilham membuat kesehatannya terganggu hingga merusak tubuhnya sendiri.
Hingga Bu Fatma bertemu kembali dengan Amar, sopir taksi online yang dipesan oleh beliau di bandara. Dan mendapati Ilham yang hampir meregang nyawa seandainya tidak segera mendapat pertolongan.
Amar... Yuana... Ilham...
"Maaf... Maafkan ummah, Sayang. Maaf ummah sudah membawa masuk Yuana ke rumah ini. Ummah tidak tahu keputusan ummah itu akan menyakiti hatimu, Nak."
Bu Fatma tergugu, menyadari kemungkinan rasa sakit hati Ilham setiap melihat Yuana. Anaknya itu pasti menahan perasaannya dan menunjukkan semua baik-baik saja, bahkan bersedia menyayangi Nabila yang notabene adalah hasil penghianatan pujaan hati dengan sahabatnya sendiri.
"Tidak, Ummah. Ilham justru berterimakasih karena Ummah sudah menahan Yuana di sini. Jadi Ilham kelak bisa memastikan bahwa Yuana akan hidup dalam kebahagiaan."
"Tapi dia pernah menghianatimu, Nak. Apa kamu bisa menerima itu?"
Ilham bangkit dan duduk menghadap dirinya kepada ibunya itu. Meraih kedua tangan ibunya dan menggenggamnya erat.
"Yuana tidak pernah menghianati Ilham, Ummah. Yuana bahkan tidak tahu perasaan Ilham selama ini padanya. Dulu Ilham bahkan tidak pernah memperkenalkan diri Ilham kepadanya. Ilham yang terlalu pengecut, Ummah. Ilham yang terlalu naif."
Semakin sakit hati Bu Fatma, mengetahui bahwa anaknya yang merupakan calon menantu idaman beberapa kerabat dan koleganya itu justru selama ini menghabiskan hidupnya dengan mencintai dalam diam. Sungguh ironis bukan?
Dengan tatapan sendu dan usapan lembut, Ilham mengusap air mata Bu Fatma yang mengalir membasahi pipinya.
"Ummah... Ilham ingin membahagiakan Yuana. Apakah Ummah merestui?"
"Apakah kamu yakin?"
"Ilham yakin, Ummah. Sangat yakin."
"Apa kamu juga yakin, Yuana mau membuka hatinya untukmu?"
"Ilham yakin, Ilham bisa membuka hati Yuana untuk Ilham."
"Apa ada yang harus ummah bantu?"
"Beri Ilham doa dan restu, hanya itu yang Ilham harapkan dari Ummah. Selain itu, Insya Allah Ilham pasti bisa."
"Berjuanglah, Nak. Ummah akan selalu memberikan doa dan restu untuk kalian."
"Terima kasih, Ummah," Ilham meraih kedua tangan Bu Fatma dan menciuminya dengan takzim.
Sementara Yuana membuka matanya.
Tidur sejenak membuat sakit kepalanya lumayan berkurang. Menatap nanar langit-langit kamar ketika lamat-lamat mendengar percakapan Bu Aminah, Nazriel dan Nabila di ruang tengah, depan kamar yang ia tempati sekarang.
"Wes ayu," ucap Bu Aminah setelah menyisir dan memakaikan jepit di rambut Nabila, "ndang diajak dolan kunu, slimurno bocah ayu iki, mbakmu ben iso istirahat disik."
"Sudah siap? Kita let's go!"
"Kita mau ke mana, Om Acil?"
"Kita mau ke rumah bude Imah, lihat sapi kecil mau?"
"Sapine wes nglahirno ta, Riel?"
"Sampun, Bu."
"Mau... Mau... Yeay lihat bayi sapi," seru Nabila yang suaranya sudah terdengar semakin jauh. Sepertinya Nazriel sudah mengajak Nabila meninggalkan rumah.
Yuana menarik nafas dalam-dalam, ia bersyukur Nabila tidak rewel di ajak pergi ke desa. Ia memang masih membutuhkan waktu untuk memulihkan dan menenangkan diri.
Tak sengaja Yuana melihat sebuah kotak kayu berada di atas lemari pakaian, berada di bagian belakang mepet dengan dinding. Kenapa ada kotak kayu di atas situ? Kenapa ia tidak pernah tahu? Apakah itu milik mas Amar?
Karena penasaran, ia pun turun dari ranjang dan berusaha meraih kotak itu dengan menaiki bangku kecil.
Dengan hati-hati, ia menurunkan kotak kayu tersebut dan meletakkannya di atas meja rias. Mengambil selembar tisu basah di dalam tas ranselnya unuk membersihkan permukaan kotak kayu yang berdebu.
__ADS_1
Dibukanya perlahan kotak tersebut, yang ternyata berisi dua buah album foto dan sebuah amplop coklat besar dengan simpul benang merah.