HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 40 LAMARAN KAK JO


__ADS_3

Ilham keluar dari kompleks pemakaman Makobu Hill dengan langkah gontai. Diusap wajahnya yang sembab, kemudian kembali merapikan rambutnya dan kembali ia ikat dengan karet hitam.


Mengajak Arief mampir ke sebuah restoran dengan menu rumahan, milik Oma Rahmi, nenek dari salah satu teman kuliahnya di luar negeri. Rumah bernuansa kolonial yang asli bangunan peninggalan kakek buyutnya yang keturunan Belanda dan masih terjaga dengan baik.


Ilham memilih duduk di sebuah meja payung yang berada di bawah pohon ketapang tua di sudut taman. Meja berbentuk bulat dengan sebuah payung besar yang menancap di tengah-tengahnya. Empat buah kursi sandaran kayu mengitarinya.


Ilham dan Arief duduk berseberangan, menghadap ke arah taman yang asri. Tak lama, Oma Rahmi ditemani salah satu pegawainya menghampiri.


"Assalamu'alaikum, Oma. Apa kabar?" Ilham mendahului menyapa dan menarik sebuah kursi agar Oma Rahmi bisa duduk.


"Alhamdulillah, oma sehat. Nak Ilham apa kabar? Sudah lama tidak main ke sini," Oma Rahmi yang masih kelihatan bugar tersebut duduk sambil merapikan kain jarik dan kebaya yang ia pake.


"Alhamdulillah, Ilham juga sehat, Oma. Wah, Oma ternyata masih ingat dengan Ilham," jawab Ilham yang otomatis juga ikut menegakkan badan agar duduk dengan rapi pula.


Demikian pula Arief, memundurkan duduknya agar bisa bersandar dengan tegak.


"Jangan ngece, justru Nak Ilham kayaknya yang sudah lupa sama oma, buktinya gak pernah jenguk oma, iya kan?"


"Hehe, ndak lupa, Oma, hanya sedikit sibuk saja. Oh ya, masak apa hari ini, Oma? Ilham laper."


"Ono opo ae, Nduk?" tanya Oma Rahmi pada pegawainya yang sedari tadi berdiri di belakangnya. Lalu pegawai tersebut menyebutkan beberapa menu yang telah dimasak hari ini.


"Sayur bayam kunci, ikan kuniran sama tempe kacang sambel bawang aja, tidak merepotkan kan Oma?" pinta Ilham setelah mengetahui kebanyakan menu yang tersedia tidak cocok untuknya. Bersantan dan berempah kuat, harus ia hindari.


"Waah, berarti harus oma sendiri yang masak ini. Tentu tidak merepotkan, oma malah seneng. Jangan khawatir, masih lihai kok oma memasak, hehe. Nak bagus ini, mau makan apa?" bertanya kepada Arief sambil berdiri.


"Disamakan saja, Oma."


"Terima kasih, Oma. Ilham kangen masakan Oma."


"Ah oma jadi kangen cucu, seandainya saja, Noah bisa sering-sering pulang," Oma Rahmi bergumam sambil berjalan menuju ke dalam rumah.


Setelah masakan dihidangkan, Ilham dan Arief makan dengan lahapnya. Setelah makan, Oma Rahmi tidak mengizinkan Ilham cepat-cepat pulang. Ia ingin ditemani ngobrol beberapa saat. Oma Rahmi yang memang ramah itu sangat menyukai Ilham yang bisa menghormati orang tua. Pikiran Ilham sangat terbuka, sehingga selalu nyambung jika diajak berbicara oleh orang tua tersebut.


Oma Rahmi juga meminta Ilham untuk mengimami sholat ashar berjamaah di mushola yang tersedia di sana. Setelah itu, ia menghidangkan kudapan dan teh herbal dan melanjutkan obrolan sambil melakukan panggilan video dengan Noah.


Tak lupa Oma Rahmi membawakan beberapa bungkus camilan khas restoran miliknya, sambil mengancam jika Ilham tidak mau menerima maka jangan kembali makan di tempatnya. Tentu saja dibalas Ilham dengan tawa seraya menerima bungkusan tersebut.


Bukan tanpa alasan, Ilham makan di tempat Oma Rahmi. Karena ia tahu, berbincang dengan Oma Rahmi yang ramah dan humoris bisa mengalihkan pikirannya. Ia ingin kembali ke rumah dalam keadaan ceria dan baik-baik saja. Ia tidak ingin ibunya mengetahui gejolak emosinya tadi.


Langit sudah menunjukkan waktu petang. Beberapa awan yang sudah berbaur warna antara putih, abu-abu dan jingga, tampak melayang di langit yang berwarna biru keunguan. Beberapa kelompok burung tampak beterbangan, burung pipit dan walet seolah sedang berlomba untuk kembali ke sarangnya.


Udara terasa sejuk mengelus wajah ketika Ilham membuka jendela mobil untuk menyapa petugas keamanan komplek rumahnya.


Dua kali, Arief membunyikan klakson agar ada seseorang yang membukakan pintu pagar. Namun tak terlihat ada pergerakan sama sekali. Ilham berinisiatif untuk turun sendiri membuka pintu gerbang dan menyuruh Arief langsung masuk memarkirkan mobil di garasi.


Setelah menutup kembali pintu pagar, Ilham yang berjalan menuju teras rumah melihat Nabila sedang menangis sendirian di undakan teras.


"Nabila! Kenapa menangis sendirian di sini?"


"Ayaaah... huaaa... Bunda hilang..."


Ketika kemarin di mall, anak itu memanggilnya ayah, Ilham merasa biasa saja. Tetapi sekarang ketika ia tahu bahwa anak itu adalah putri dari Yuana, entah kenapa, mendengar Nabila memanggilnya ayah, ada rasa hangat yang tiba-tiba mengalir dalam tubuhnya, mendesir di dalam dadanya. Ada dorongan yang kuat untuk menggendong anak kecil itu.


Dan ketika merasakan Nabila memeluknya saat ia gendong, tiba-tiba juga muncul sedikit emosi, rasa marah, rasa tidak terima, bagaiman bisa anak sekecil ini harus kehilangan ibunya di dalam rumahnya. Ia melirik ke arah garasi, Arief baru saja mengeluarkan motornya karena hendak pulang. Ilham hanya mengangguk ketika Arief berpamitan.


Dengan Nabila di gendongan, Ilham menyusuri dalam rumahnya. Siapa tahu ada yang bisa ditanya, Yuana ke mana. Ternyata sepi. Lalu ia menuju ke paviliun belakang, juga sepi. Ia pun berjalan ke paviliun taman, sambil mengusap-usap punggung Nabila yang masih tersisa isak tangisnya.

__ADS_1


Ia melihat tanaman dan rumput taman masih basah, baru disiram. Berarti Yuana ada di paviliun. Ia pun segera masuk ke dalam paviliun yang pintunya sedikit terbuka. Ketika ia sampai di gawangan pintu yang menghubungkan ruang depan dan ruang tengah, ia dikejutkan oleh sebuah teriakan.


"Aaaaah!"


Beberapa meter di hadapannya, terhalang satu set sofa, di depan area dapur, berdiri dengan kikuk seorang gadis berkulit putih dengan rambut terurai basah. Berbebat sebuah handuk dengan kedua tangan berusaha menutupi area dada dan paha. Sungguh sangat indah. Yuana.


Dengan cepat Ilham berusaha menyadarkan diri.


"Astaghfirullahal'adhiim," desisnya sambil cepat-cepat membalikkan badan menghadap ke ruang depan.


Tak disangka, ketika ia membalikkan badan, pecah tangisan Nabila. Begitu kencang di dekat telinganya. Ia pun reflek membalikkan badannya lagi, tapi ia melihat Yuana masih berdiri kaku di tempatnya.


"Cepat ke kamar!" teriak Ilham sambil membalikkan badannya kembali.


Tangis Nabila seketika berhenti demi mendengar teriakan Ilham.


"Maaf, Sayang... maaf." Ilham meminta maaf kepada Nabila karena melihat sorot ketakutan pada anak tersebut.


Ilham kemudian duduk dan berusaha menenangkan Nabila di pangkuannya. Ia menghapus air mata yang masih mengalir di pipi Nabila.


"Sudah, jangan menangis lagi. Kan bunda sudah ketemu, sepertinya tadi sedang mandi. Anak cantik, jangan menangis ya, kita tunggu bunda ganti baju."


Nabila mengerjap-kerjapkan mata dan berusaha menarik nafas. Sepertinya hatinya sudah mulai tenang.


"Iya, Ayah. Tenima kasih," ucap Nabila sambil memeluk Ilham kembali.


Sementara itu Yuana dengan wajah merah padam menahan geram dan malu yang teramat sangat, segera berlari menuju kamarnya. Ia bersandar sebentar untuk meredakan jantungnya yang berdetak kencang.


"Apes sekali aku hari ini. Apa ini yang namanya hari sial? Yaa Allah, ampunilah segala dosa-dosaku."


Setelah memastikan pintu tertutup dengan baik, Yuana berjalan menuju almari untuk mengambil pakaian ganti. Mempertajam pendengaran, memastikan Nabila sudah tidak menangis lagi. Lalu bergegas menunaikan sholat ashar, memperbanyak istighfar dalam wiridnya.


Tapi ia sama sekali tidak pernah menyangka pertemuan pertama dan kedua dengan Ilham, bahkan di hari yang sama justru dalam kondisi yang sangat absurd, sangat konyol, sangat memalukan.


Yuana mengendap-endap berusaha mengintip dari tepi gawangan pintu, berharap hanya ada Nabila karena Ilham sudah berpamitan pulang.


Namun kenyataan di depan mata membuat hatinya sedikit mencelos, Ilham duduk bersandar dengan kepala sedikit mendongak dan mata terpejam dengan memangku Nabila yang tertidur memeluknya. Ia teringat betapa dulu, seringkali Nabila dan Amar berada di posisi yang sama.


Yuana berharap bisa mengangkat Nabila dan memindahkannya ke kamar tanpa membangunkan Ilham. Tetapi kedua tangan Ilham berada di atas punggung Nabila. Mau membangunkan tapi tidak tega sekaligus masih malu dengan kejadian yang tadi.


"Yaa Allah, aku harus bagaimana?"


Bingung antara maju ke depan atau mundur kembali ke kamar saja. Atau membuatkan minuman saja, tapi itu berarti ia menahan Ilham untuk lebih lama padahal ia inginnya justru Ilham sudah pulang ketika ia keluar kamar tadi.


Sampai tiba-tiba muncul suara dari arah pintu masuk.


"Mas Ilham?! Ngapain di sini?"


Annisa langsung saja menyelonong masuk dengan keheranan melihat Ilham berada di ruang tamu Yuana duduk tertidur dengan memangku Nabila.


Ilham dan Nabila yang sebenarnya hanya tidur-tidur ayam, pun segera membuka matanya. Nabila yang langsung melihat ibunya, langsung saja memanggil, "Bunda."


Ilham menatap Yuana dengan senyum yang tak dapat diartikan. Sedangkan Yuana segera mengambil dan menggendong Nabila sambil memelengoskan kepalanya.


Annisa menatap curiga ke arah Ilham dan Yuana secara bergantian, seolah menuntut penjelasan. Namun ia teringat akan tujuannya datang, jadi nanti saja meminta penjelasan pikirnya.


"Yuana, ada tamu nyari kamu."

__ADS_1


"Siapa, Kak?"


"Biasa, dokter cinta."


"Siapa iih?"


"Kak Jo-mu itu, siapa lagi."


"Ish... Kak Annisa jangan bikin gosip ya."


Ilham yang berjalan keluar, diam-diam mencuri dengar perbincangan adiknya dengan Yuana. Ia jadi penasaran siapa yang dimaksud dokter cinta oleh Annisa? Siapa Kak Jo? Apakah calon suami Yuana? Ah, bagaimana kalau benar itu calon suaminya?


Dengan rasa penasaran yang tinggi, Ilham melebarkan langkahnya, menyusuri paviliun belakang menuju ke garasi. Ia akan mencoba melihat siapa tamu itu dari samping rumah. Di depan garasi, ia melihat ada mobil SUV terparkir.


"Wah, dia sudah biasa datang ke sini rupanya," gumamnya sambil berjalan menunduk di samping si pinky, "sepertinya cukup familier ini kendaraan, siapa ya?"


Dengan masih mengendap-endap, Ilham mengintip ke arah teras depan rumahnya. Tampak duduk tegap membelakanginya seorang pria dengan rambut berpotongan layered undercut. Ada buket bunga mawar peach tergeletak di meja bundar depan laki-laki itu.


"Nyari apa, Mas?"


Sebuah tepukan dan bisikan cukup membuat Ilham melonjak hingga helm yang tergantung di kaca spion motor yang biasa dipakai asisten rumah tangga hampir terjatuh. Untung saja ia masih sigap menangkap helm tersebut, sehingga tidak menimbulkan suara gaduh.


"Ndak nyari apa-apa, Mbok. Yang duduk di depan itu siapa?"


"Oh, dokter Yusuf, Mas. Nyari mbak Yuana katanya."


"Apa!" Ilham terpekik tertahan.


"Mas Ilham mau nemuin?"


"Ndak... Ndaaak. Aku ke atas aja, Mbok."


"Nggih, Mas."


Ilham pun langsung masuk ke dalam rumah melalui pintu samping. Ketika hampir sampai ke lantai dua, ia sempat melihat sekelebat bayangan Yuana yang berjalan sendirian ke depan.


Ada rasa sedikit terbakar di dalam dadanya, seperti tidak terima ada lelaki lain yang mendekati Yuana. Namun ia mencoba menepis perasaan itu, toh ia bukan siapa-siapa bagi Yuana. Ia pun yakin Yuana belum mengenal dirinya, karena dulu ia hanyalah seorang secret admirer, pengagum rahasia yang pengecut. Dan kepengecutannya itu ia sesali sampai hari ini.


"Kenapa harus pakai inisial sih, Ham. Nanti kan Yuana jadi salah paham," suara Amar terngiang jelas di benaknya saat ini.


"Aku merasa belum pantas, Mar. Abah sudah berjanji, sepulang dari luar negeri, abah akan pensiun dan perusahaan akan diserahkan padaku. Yuana pasti juga sudah lulus kuliah saat itu. Aku pasti akan langsung melamarnya. Sementara ini, tolong jaga dia untukku," Ilham pun masih ingat dengan jelas jawabannya saat itu.


Keputusan yang ia rasa paling tepat saat itu, menjadi sebuah penyesalan berkepanjangan hingga saat ini.


Dan kini saat ia dalam kebimbangan untuk mengulang rasa dan memperbaiki atau memilih untuk melupakan, ada seorang lelaki dengan poin lebih unggul mendahului. Dari sudut manapun, ia merasa dokter Yusuf memang lebih baik dan lebih bermasadepan dari pada dirinya. Insecure, itu yang dirasakan Ilham saat ini.


Untuk memantapkan hatinya, Ilham berniat menyaksikan kebersamaan Yuana dengan dokter Yusuf. Jika ia melihat sendiri kebahagiaan terpancar dari wajah Yuana, ia akan benar-benar mengikhlaskannya lagi.


Ilham punkeluar dari kamar dan perlahan turun menuju ruang tamu. Dari balik tirai ia bisa melihat Yuana yang duduk berseberangan dengan dokter Yusuf. Buket bunga sudah berpindah dalam genggaman Yuana yang menunduk.


Ilham menarik nafas dalam-dalam untuk membesarkan hatinya.


"Aku hanya ingin membahagiakanmu, Na. Sudah sekian lama aku menanti saat ini. Apa kamu masih belum percaya padaku?" suara memohon terdengar dari mulut dokter Yusuf yang memasang ekspresi memelas.


Hampir saja Ilham kelepasan untuk tertawa. Wajah arogan, dingin dan angkuh yang selama ini ditunjukkan oleh dokter Yusuf, bisa berubah seratus delapan puluh derajat di hadapan Yuana, yang semakin kusut masai ketika mendengar jawaban Yuana.


"Maaf, Kak. Tapi Yuana benar-benar tidak bisa menerima lamaran Kak Jo."

__ADS_1


Masih di balik tirai, ingin rasanya Ilham melakukan selebrasi ala pencetak gol dalam permainan bola, meloncat tinggi sambil mengepalkan tangan dan menariknya seraya meneriakkan 'Yes! Yes! Yes!'


__ADS_2