
"Kak Joseph!" seru Yuana sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
Dan Bu Fatma, Annisa serta Rahmat yang sebelumnya menoleh ke arah pintu serentak menoleh melihat Yuana. Bu Fatma berpikir, bagaimana Yuana bisa tahu nama dokter Yusuf sebelumnya. Sedangkan Rahmat dan Annisa seperti menemukan jawaban atas pertanyaan yang tersimpan di masing-masing pikirannya.
"Ah... Dokter Yusuf... masuk Dok. Ayo... ayo... sekalian makan malam," Bu Fatma mempersilahkan dokter Yusuf untuk bergabung makan malam.
Dokter Yusuf berjalan masuk mendekati Bu Fatma, mengucap salam kemudian meraih tangan kanannya dan menciumnya, "Assalamu´alaikum." Setelah semua menjawab ucapan salamnya, ia menepuk pundak Rahmat lalu duduk di sebelahnya.
Rahmat dan Annisa yang duduk berhadapan menatap dokter Yusuf dan Yuana bergantian. Sedangkan Yuana menundukkan kepalanya, merasa kikuk dan canggung karena harus duduk berhadapan dengan Yusuf atau yang dikenalnya dengan nama Joseph dan diperhatikan oleh kedua kakak beradik disampingnya.
"Apa kabar, Ana?" tanya dokter Yusuf mengawali sapaannya pada Yuana.
"Alhamdulillah baik Kak... Kak Joseph sendiri apa kabar?" jawab Yuana sambil menatap dokter Yusuf dengan canggung, kemudian kembali menunduk dan menghabiskan suapan terakhirnya.
"Alhamdulillah, aku baik-baik saja An. Ayah ibu sehat?" dokter Yusuf masih menatap Yuana dengan intens.
"Sudah dua tahun lebih, ayah dan ibu tiada, Kak."
"Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji´uun, turut berduka ya. Maaf aku tidak mendengar kabar dukanya," sesal dokter Yusuf sambil tetap memandang intens pada Yuana.
"Tidak apa-apa Kak, terima kasih," ucap Yuana masih dengan kecanggungannya, "maaf... saya permisi, mau istirahat dulu," lanjutnya kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Betul Nak Yuana... segera istirahatlah, biarin piringnya. Nanti Sari yang beresin. Besok pagi kau harus ke rumah sakit lagi kan," timpal Bu Fatma yang juga bangkit dari tempat duduknya. Lalu beliau menepuk pundak Rahmat dan tersenyum pada dokter Yusuf.
"Yuana... besok kau ajak putrimu ya, ayahnya tadi berpesan ingin bertemu," kata dokter Yusuf ketika Yuana hendak melangkah.
"Baik Kak... terima kasih," balas Yuana dengan sedikit tersenyum kemudian bergegas menuju kamar.
Sementara Annisa, dari tadi sengaja memperlambat makannya demi memperhatikan interaksi dokter Yusuf dan Yuana. Setelah memastikan Bu Fatma dan Yuana masuk ke kamar masing-masing, ia pun segera berpaling pada lelaki yang duduk di sebelah kakak sulungnya itu sambil menyipitkan matanya.
Sedangkan dokter Yusuf hanya mengerlingkan matanya dengan malas melihat sikap adik dari sahabatnya itu.
"Tuh kaaan... beneeer... dia Yuana yang sama. Pantesan dokter Yusuf gak bisa move on, emang Yuana high quality woman sih," tukas Annisa.
__ADS_1
"Cks... dasar perempuan... sudah Nis, tidur sana! Besok pagi gantian kamu yang ke rumah sakit, biar ummah istirahat di rumah," Rahmat berdecak dan memerintahkan adik perempuannya itu untuk segera pergi tidur. Selain tidak suka melihat adiknya mengurusi urusan pribadi orang lain, ia juga merasa tidak enak pada Yusuf, sahabat karibnya itu.
Annisa pun bersungut-sungut lalu beranjak menuju kamarnya setelah memanggil Mbok Sari untuk membereskan meja makan.
Kemudian Rahmat mengajak dokter Yusuf untuk berbincang-bincang di ruang keluarga, namun dokter Yusuf meminta ke beranda saja agar tidak mengganggu yang lain.
"Kenapa? Kamu pingin merokok Suf?!" Rahmat tahu meskipun seorang dokter, tapi sahabatnya itu kadang-kadang merokok jika sedang galau.
"Ndak lah! Aku sudah lama tidak pernah merokok juga ndak mau lagi. Allah sudah memberiku hidayah... jadi aku harus memperbaiki kualitas hidupku."
"Alhamdulillah... syukurlah kalau begitu."
"Monggo Mas Dokter, diminum susu jahenya," Mbok Sari memotong perbincangan tersebut sambil meletakkan dua cangkir di meja.
"Makasih Mbok," ucap Rahmat dan dokter Yusuf bersamaan.
Setelah Mbok Sari masuk ke dalam rumah lagi, mereka melanjutkan perbincangan, dari obrolan ringan sebagaimana sahabat lama yang baru bertemu hingga tentang keadaan Amar dan Ilham.
"Bagaimanapun... Amar adalah suami Yuana saat ini, lakukan yang terbaik untuknya," harap Rahmat penuh penekanan pada dokter Yusuf.
"Carikan cara apapun yang bisa membantunya untuk pulih, kalau perlu bawa ke luar negeri atau datangkan profesor sekalian."
"Tidak perlu ke luar negeri, kita punya neurosurgeon terbaik di Jakarta. Bisa saja kita mengambil langkah pembedahan, bedah atau tidak...resikonya sama-sama besar. Aku tadi ke sini niatnya ingin membicarakan hal ini dengan Yuana. Tapi ternyata sepertinya akan sulit jika aku yang bicara."
"Sulit di kamunya atau Yuana," tukas Rahmat sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Aku yang sulit untuk bicara, haha..." tergelak dokter Yusuf akan pengakuannya sendiri.
"Ya... yaa... itu baru masuk akal, hahaha..." seloroh Rahmat lalu mengambil cangkir dan menyeruput isinya yang hangat kuku. "Besok lusa aku balik, Jakarta mana itu... ntar aku coba ke sana," lanjutnya.
"Daerah Koja... nanti aku email alamatnya, besok kita temui dokter Bastian saja dulu, beliau juga yang bakalan mimpin tim transplantasi buat Ilham. Oh ya... sudah menemukan orang yang bersedia donor untuk Ilham?"
"Belum... apa aku pasang iklan saja ya... aku kasih imbalan berapa aja deh"
__ADS_1
"Mana bisa begitu... pendonor itu harus dengan kerelaan hati, bukan seperti jual beli seperti itu."
Sementara itu...
Yuana yang baru saja masuk kamar, terperanjat melihat Nabila berbaring persis di tepi kasur dengan satu kaki terkulai ke bawah. Segera ia angkat dan ia pindahkan ke tengah-tengah, namun baru dibaringkan, Nabila menggeliat dan terbangun minta dibikinkan susu botol.
Akhirnya ia keluar lagi dari kamar, ia menengok ke kanan dan ke kiri, ternyata sudah tidak terlihat satu orang pun di ruang keluarga maupun di ruang makan. Ia pun berlenggang ke dapur dengan tenang. Ternyata di dapur ada Mbok Sari sedang memasak air untuk membuatkan minum dokter Yusuf.
"Eh... Mbak Yuana... mau buat susu buat Non Bella ya? Ini bentar lagi umub airnya, di termos habis," kata Mbok Sari ketika Yuana masuk dapur.
"Iya Mbok... makasih. Mau buatkan minuman buat siapa Mbok?"
"Itu Mbak... buat mas dokter. Enaknya dibuatkan apa ya, Mbak?" tanya Mbok Sari yang sepertinya masih bingung mau membuat minuman apa untuk tamu majikannya tersebut.
"Malem-malem gini, bikinin susu jahe aja Mbok. Biar badan hangat dan nanti bisa istirahat dengan baik," jawab Yuana memberi solusi pada Mbok Sari.
Setelah membuatkan susu botol untuk Nabila, Yuana pun kembali ke kamar dan memberikan susu tersebut pada putrinya itu. Sambil menemani Nabila minum susu, Yuana menyenandungkan bacaan sholawat jibril berulang-ulang hingga Nabila tidur lelap kembali.
Shollallaahu ‘ala Muhammad...
Shollallaahu ‘ala Muhammad...
Shollallaahu ‘ala Muhammad...
...
Kemudian ia turun dari ranjang dan membawa botol kosong ke kamar mandi. Selain untuk mencuci botol tersebut di wastafel kamar mandi sekaligus ia membersihkan diri dan berwudlu sebelum beranjak tidur.
Keluar dari kamar mandi, Yuana berjalan menuju jendela. Jendela dengan model kaca nako tersebut belum tertutup dengan sempurna. Namun tangan yang sedang memegang gagang atau tuas nako tersebut berhenti menariknya karena mendengar lamat-lamat suara dua orang lelaki sedang membicarakan Amar, suaminya. Ia pun penasaran dengan pembicaraan tersebut.
Mendekatkan telinga ke jendela dengan maksud mempertajam pendengarannya. Namun karena jaraknya kurang dekat, hanya beberapa kata saja yang bisa ia dengar dengan baik.
Amar, batang otak, bedah lalu suara tawa.
__ADS_1
Hanya itu yang dengan jelas dapat ia tangkap di telinganya. Berulang kali ia mencoba menghubungkan kata-kata yang ia dengar tadi. Sama sekali ia tidak memahaminya. Yang ia yakini bahwa suaminya sudah sadar dan setiap hari akan semakin membaik dan lekas sembuh. Terus ia berusaha meyakinkan dirinya.
Namun alam bawah sadarnya tidak sejalan denan hatinya. Kata-kata 'Amar, batang otak dan bedah' terus berdengung di kepalanya. Hingga akhirnya keadaan tiba-tiba menjadi gelap dan tampak bintang-bintang berputar-putar di sekitarnya.