HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 27 KEGUNDAHAN BU FATMA


__ADS_3

"Yuana!" serunya saat menangkap tubuh Yuana.


Bu Fatma yang baru memperhatikan pengemudi mobil tadi merasa terkejut


karena ternyata orang itu adalah Arief.


"Arief? Kok bisa ada di sini?" tanya Bu Fatma.


"Iya... saya Bu... maaf, bisa minta tolong buka pintunya, Bu?" ucap Arief saat ia sudah berada di depan pintu belakang mobilnya dengan membopong tubuh Yuana.


"Eh... iya... iya..." Bu Fatma pun bergegas membukakan pintu belakang mobil Arief dan beliau pun ikut masuk ke dalamnya.


"Kita ke rumah sakit langsung saja ya, Bu... sepertinya Yuana sakit, ini sepertinya pendarahan," ujar Arief sambil menunjukkan tangannya yang ada sedikit bekas noda darah.


"Haa... pendarahan? Kamu yakin Rief? Kita langsung ke IGD aja kalo gitu. Yaa Allah... kasihan Yuana... mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa ya Naak," seru Bu Fatma dengan paniknya.


Arief pun setuju dengan keputusan Bu Fatma untuk membawa Yuana ke IGD.


"Baik... ke Raya Husada saja ya, Bu," kata Arief.


"Ndak ke rumah sakit terdekat saja, Rief. Ini Yuana masih pingsan gini..." Bu Fatma sangat mencemaskan kondisi Yuana.


"Saat ini seharusnya Bu Fatma juga ke Raya Husada, Bu..."


"Maksudnya gimana? Apakah Ilham..." Bu Fatma merasa aneh dengan ucapan Arief.


"Iya Bu... saat ini Pak Ilham sudah masuk ruang operasi. Tadi waktu Pak Amar sedang kritis, Pak Ilham muntah darah lagi. Apa Mbak Annisa tidak cerita?"


"Annisa tidak bercerita apa-apa, Rahmat bahkan tidak menghubungi sama sekali... huuft... Yaa Allah..." jawab Bu Fatma sembari menggenggam tangan Yuana yang terasa semakin dingin dan basah.


"Cepetan Rief! Buruaaan! Duh... kok tambah anyep kabeh iki..."


"I... iya... baik, Bu."


Arief pun berusaha menambah kecepatan mobilnya. Beruntung jalanan tidak begitu macet, sehingga tidak butuh waktu yang begitu lama sampailah mereka di IGD Raya Husada.


Dengan cekatan Arief membopong Yuana menuju ruang IGD, beruntung petugas IGD juga cekatan menyambutnya dengan menyorongkan stretcher dorong padanya. Setelah Yuana terbaring dengan baik di atas stretcher, petugas membawanya ke ruang triage untuk diperiksa oleh staf medis yang berjaga.


"Rief... kau urus Yuana dulu ya. Ibu mau lihat Ilham dulu... di mana ruang operasinya?"


"Baik Bu. Ruang operasi Ilham, depan ruangannya dokter Yusuf itu lurus aja, dekat kok," jawab Arief.


"Oh ya, Rief... nanti tolong kau telpon Annisa ya, suruh bawain tasku sama tas Yuana, tertinggal di sana soalnya."


"Baik, Bu."


Bu Fatma pun segera pergi ke ruang tempat Ilham dioperasi yang ditunjukkan oleh Arief tadi. Betapa cemas dan gelisah perasaan seorang ibu yang mendengar anaknya sedang berjuang antara hidup dan mati, di saat ia baru saja menghadiri proses pemberangkatan pemakaman jenazah sahabat anaknya tersebut.


Sedangkan Arief menuju tempat duduk di ruang tunggu IGD, mengeluarkan telepon genggam dari saku jasnya dan segera menelpon Annisa. Berbicara sebentar kemudian mematikan telepon dan memasukkan kembali ke dalam saku jasnya.

__ADS_1


Sesaat kemudian ia berdiri dan cepat-cepat menemui salah seorang staf medis yang keluar dari pintu ruang IGD.


"Bagaimana keadaan Yuana, Dok?"


"Sepertinya istri Bapak sedang bermasalah dengan kehamilannya, jadi akan kami rujuk ke bagian kandungan. Silahkan Bapak urus dulu pendaftarannya," ucap staff yang mengira bahwa Arief adalah suami dari pasiennya tersebut sambil menunjuk ruang administrasi.


"B... ba... baik, Dok," jawab Arief dengan terbata, ia merasa sedikit senewen karena dikira suami dari Yuana. Ingin menjelaskan tapi ia merasa tidak perlu, yang terpenting Yuana bisa segera tertangani dengan baik.


'Yuana hamil?' batin Arief merasa iba pada Yuana.


Segera Arief mengurus pendaftaran untuk Yuana agar mendapatkan penanganan terbaik serta dirawat di ruang rawat VIP.


Arief sudah terbiasa dengan sifat keluarga Bu Fatma, bahkan sejak Abah Haikal masih hidup. Bahwa ketika menolong orang lain, pasti akan memberikan yang terbaik seperti halnya kepada keluarga sendiri.


Sementara...


"Rahmat... gimana Ilham? Kenapa operasinya mendadak seperti ini? Kau bahkan tidak mengabari ummah sama sekali..." dengan gusar Bu Fatma bertanya pada Rahmat. Dan Rahmat yang menyadari kegusaran ibunya itu, tersenyum.


"Assalamu'alaikum, Ummah... maaf, Rahmat ndak ngabarin Ummah. Rahmat pikir Annisa pasti sudah cerita sama Ummah, apalagi Ummah pasti juga sedang repot di rumah kan?"


"Wa alaikum salam. Sekarang coba jelaskan!"


"Kirain Annisa sudah cerita sama Ummah. Tadi sewaktu Amar kritis, Rahmat fokus menemani Amar, Ummah. AdaYusron sama Bu Aminah juga. Rahmat ndak merhatiin Annisa di mana... ternyata sedang ngemong Nabila di luar. Waktu Amar sudah tiada, Ilham sudah tidak di ruang ICU, Annisa juga ndak ada. Mana Yuana pingsan juga tadi... untung ada Bu Aminah dan Yusron tadi. Rahmat langsung nyari Yusuf, ternyata Ilham menjalani pemeriksaan MRI. Dia muntah darah lagi katanya. Hasilnya... hati Ilham harus segera diganti, Ummah. Kebetulan sudah ada donor yang cocok, jadi dilakukan sekarang. Dokter Bastian ndak mau menunda-nunda lagi. Ini juga baru lima belas menit, dokter Bastian masuk ruang operasi. Doakan saja Ummah... biar operasinya lancar."


Bu Fatma hanya mendengarkan dan manggut-manggut saja dari tadi. Ia mencoba mencerna setiap kata yang anak sulungnya itu. Bukan beliau tidak mengerti, tetapi beliau sedang memikirkan kepingan-kepingan informasi yang beliau tangkap selama beliau menjaga Amar dan Ilham selama ini.


"Maksudmu... donor yang cocok itu... Amar?! Bukankah Yusuf sudah bilang tidak mungkin?"


"Yaa Allah... gimana aku harus menghadap Yuana... hati ummah tidak sanggup melihat kesedihannya, Rahmaaat. Bagaimana kalau ia tahu, jenazah suaminya dalam keadaan tidak utuh. Ummah... ummah... Yaa Allah... Yuanaa..." betapa gundah gulana perasaan Bu Fatma saat ini, yang bahkan beliau sendiri tidak dapat menjelaskan perasaannya itu.


"Sudahlah, Ummah... saat ini jangan terlalu banyak dipikirkan. Sebaiknya Ummah pulang dulu, istirahat... Ummah tadi ke sini naik apa? Bukannya Ummah sedang di pesantren tadi?"


"Yuana... sekarang di IGD diantar Arief tadi," jawab Bu Fatma dengan lesu.


"Yuana? Ada apa lagi, Ummah? Kenapa harus ke IGD?"


"Entahlah, Mat... tadi perutnya tiba-tiba sakit trus pingsan. Pas diangkat sama Arief ada darah, makanya langsung kita bawa ke IGD," jelas Bu Fatma, "sekarang kamu saja yang pulang dulu, Mat... kamu dari pagi di rumah sakit, mandi-mandi sana. Biar Ummah sama Arief yang jaga," lanjut beliau.


"Jangan Ummah... kasian Arief, pasti juga capek dia... tadi dari kantor langsung mampir ke sini mau minta tanda tangan Ummah. Tapi waktu Rahmat kasih tau kalo Ummah sedang ke pemakaman Amar, dia langsung ke sana," sergah Rahmat pada usulan ibunya itu.


"Gak papa... uda... kamu pulang dulu. Paling ndak sampai Hadi dateng... bentar lagi Hadi sama Annisa ke sini, kok."


"Ya udah... sekalian saya nunggu Pak Hadi juga. Nanti Rahmat nebeng Arief aja pulangnya, biar si pinky dibawa Annisa ntar," putus Rahmat akhirnya.


"Mana bisa begitu... Adik bontotmu itu mana bisa nyetir mobil," sanggah Bu Fatma dengan sedikit sewot.


"Emang beneran ndak bisa, Ummah? Saking ngalem aja paling itu, Ummah... biar ke mana-mana ada yang anterin..."


Tak terasa obrolan ibu dan anak tersebut mengantarkan detak jarum jam yang menunjukkan waktu telah hampir tengah malam.

__ADS_1


Rahmat melepas jaket yang ia pake dan menangkupkan ke punggung ibunya. Ia kembali berjalan mondar-mandir di depan ruangan operasi, bolak-balik melirik lampu bulat yang menyala merah terang tepat di atas pintu ruangan itu. Nyala lampu yang menandakan bahwa operasi mayor terbuka itu masih sedang berlangsung.


Sementara Bu Fatma tak henti-hentinya berkomat-kamit melantunkan sholawat dan dzikir demi kelancaran operasi transplantasi hati yang sedang dijalani oleh anak keduanya, Ilham.


"Assalamu'alaikum Mas Rahmat, Bu..." suara Pak Hadi membuat Bu Fatma dan Rahmat menoleh bersamaan.


"Wa 'alaikum salam... Annisa mana?" jawaban salam dan pertanyaan tentang Annisa diucapan bersamaan oleh ibu dan anak tersebut. Membuat Pak Hadi tersenyum dan menjawab sambil bergantian melihat ke arah Bu Fatma dan ke arah Rahmat.


"Mbak Annisa sudah saya antar pulang duluan tadi. Kasian Den Zyan dan Non Bella sudah mengantuk, bahkan sudah tidur di mobil semua tadi," tutur Pak Hadi menjawab pertanyaan kembar tadi.


Kemudian Pak Hadi menyerahkan tas milik Bu Fatma dan Yuana kepada majikannya tersebut, lalu menyerahkan kunci mobil milik Bu Fatma yang ia bawa tadi untuk ditukar dengan kunci si pinky, mobil yang dibawa oleh Rahmat tadi pagi.


"Mas Rahmat pulang saja dulu, Mas. Ini kunci rumah dan kunci Alph*rdnya. Mas Rahmat bawa mobil ibu saja, soalnya saya parkir di depan tadi. Biar besok pagi si pinky saya yang bawa, sekalian saya serviskan," ucap Pak Hadi.


"Memangnya si pinky kenapa Had?" tanya Bu Fatma heran.


"Ndak apa-apa Bu... hanya sudah waktunya servis saja."


Rahmat pun menyerahkan kunci mobil milik Annisa itu ke Pak Hadi setelah menerima kunci dari Pak Hadi. Kemudian ia berpamitan kepada ibunya dan berpesan agar ibunya mengabari jika operasi Ilham sudah selesai.


Ketika Rahmat akan melangkah pergi, Arief datang dengan penampilannya yang tampak sangat kusut.


"Gimana Yuana, Rief? Sudah siuman?" tanya Bu Fatma langsung tentang Yuana ketika melihat Arief datang.


"Yuana ternyata sedang hamil, Bu... kata dokter sekitar lima mingguan. Sayangnya... Yuana baru saja mengalami keguguran. Tapi, sepertinya dia belum tahu..."


Semua terkejut mendengar kabar tersebut, terlebih Bu Fatma, di antara mereka berempat, beliau lah yang paling merasakan kesedihan tentang nasib Yuana.


"Astaghfirullahal'adziim... innaa lillaahi wa inna ilaihi rooji'uun. Sekarang di mana dia, Rief?"


"Sekarang sudah di ruang rawat Lavender, Bu... tadi di tangani di ruang bersalin, sepertinya pendarahannya banyak, jadi butuh donor darah. Untung saja persediaan darah di sini ada, jadi bisa segera tertolong dan sekarang Yuana sedang istirahat, makanya sudah bisa saya tinggal."


"Syukurlah kalau begitu, Rief. Terima kasih ya, maaf sudah merepotkan. Sekarang pulanglah dulu, salam buat istrimu ya," ucap Bu Fatma setelah mendengar penjelasan Arief tentang keadaan Yuana.


Akhirnya Arief dan Rahmat pergi meninggalkan rumah sakit bersama-sama, pulang ke rumah masing-masing. Meninggalkan Bu Fatma dan Pak Hadi yang duduk di ruang tunggu yang tak jauh dari ruang operasi.


Sepeninggal Rahmat dan Arief, Bu Fatma tergugu menahan isak tangis. Pak Hadi sangat memahami perasaan majikannya itu. Karena Pak Hadi yang telah mengabdi pada beliau selama puluhan tahun, bahkan sebelum Bu Fatma menikah dengan Abah Haikal itu, sudah pasti sangat mengenal karakter Bu Fatma.


Pak Hadi hanya duduk di bangku yang berhadapan dngan Bu Fatma, memperhatikan Bu Fatma menyelesaikan tangisnya. Karena setelah menyelesaikan tangis, barulah Bu Fatma bisa mengungkapkan segala gunda gulana dalam hatinya.


Pak Hadi adalah orang kedua setelah Abah Haikal yang dipercaya sebagai tempat mencurahkan isi hati Bu Fatma. Karena dulu, awal Pak Hadi mengabdi pada Bu Fatma, kondisi Bu Fatma sangat mirip dengan kondisi Yuana saat ini.


Ditinggalkan kedua orang tua ketika baru saja menikah dan proyek yang ditangani orang tuanya terbengkalai dan meninggalkan hutang ganti rugi yang lumayan banyak.


Untung saja, Abah Haikal orang yang sangat ulet, ditambah jiwa bisnis Bu Fatma, akhirnya mampu mengatasi masalah dengan baik dan berhasil mengembangkan usaha yang dirintis menjadi perusahaan yang lumayan besar di kotanya.


Berbeda dengan Yuana yang dalam kondisi terpuruk, justru harus ditinggal oleh suaminya untuk menghadap Illahi. Ditambah sekarang harus kehilangan calon buah hati mereka. Dalam satu hari harus kehilangan suami dan anak dalam kandungan. Betapa hancur hati Bu Fatma jika harus berada di situasi yang sama dengan Yuana saat ini.


Oleh sebab itu, apapun yang akan terjadi, Bu Fatma berjanji pada dirinya sendiri, akan mendampingi Yuana sampai kapan pun sebagaimana seorang ibu terhadap anak gadisnya.

__ADS_1


"Mulai sekarang, kau adalah putriku... Yuana."


__ADS_2