HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 36 TERKEJUT


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak Yuana berziarah ke makam almarhum suaminya dan mengunjungi pabrik peninggalan orang tuanya. Rencana renovasi pabrik masih terkendala beberapa hal.


Kesehatan Bu Fatma yang sedang menurun membuat Pak Hadi dan Annisa lebih sering berada di perusahaan Ilham. Permintaan penyamakan kulit dan kulit mentah sedang banyak-banyaknya.


Sedangkan Rahmat pun tidak bisa sering datang karena sedang sibuk menjelang launching event venue yang baru dibangun di daerah pinggiran ibukota.


Yuana jadi lebih memiliki waktu lebih banyak menemani Azyan, Nabila dan Norish serta Bu Fatma dalam seminggu ini.


Yuana yang terlihat sangat telaten menemani anak-anak dan sabar melayaninya, membuat Bu Fatma semakin kagum dan sayang pada Yuana.


'Semoga Yuana bisa menjadi bagian keluarga ini selamanya,' batin Bu Fatma saat Yuana dengan lembut memijat kakinya.


Ada sedikit kekhawatiran di hatinya jika nanti Ilham kembali pulang ke rumah, Yuana akan merasa tidak nyaman dan memilih untuk pergi. Karena walau bagaimanapun, Ilham bukanlah mahrom bagi Yuana.


Bu Fatma sangat tahu bahwa Yuana sangat menjaga marwahnya, sangat terlihat dengan jelas dari gestur Yuana ketika Rahmat ada di rumah atau usaha Yuana untuk menghindar ketika dokter Yusuf datang berkunjung.


Oleh karena itu, dengan sedikit egois, Bu Fatma selalu menekankan soal kontrak yang ditandatangani Yuana hingga setahun ke depan. Apapun yang terjadi, Yuana dilarang meninggalkan paviliun selama masa kontrak, sekalipun itu Ilham yang meminta. Karena Yuana sepenuhnya ada dalam tanggung jawab Bu Fatma.


Berharap bahwa dalam setahun tersebut, Bu Fatma bisa menemukan cara kembali untuk membuat Yuana tetap dalam rangkulannya. Semakin memikirkan hal itu semakin menurun kondisi kesehatannya. Tekanan darahnya naik turun tidak stabil, membuat Yuana menjadi iba hati dan berjanji tidak akan meninggalkan Bu Fatma hingga beliau sehat.


Sebenarnya Yuana sedang berada dalam kebimbangan. Di satu sisi ia memang menyayangi dan telah menganggap Bu Fatma sebagai pengganti ibunya. Tidak ada keberatan sama sekali di dalam hatinya untuk menemani dan merawat beliau. Ia pun tidak tahu, harus pergi ke mana jika harus pergi dari paviliun itu sekarang.


Namun di sisi lain, setiap Bu Fatma menyebut tentang rencana kepulangan Ilham, ia merasa sangat tidak enak hati. Walau bagaimanapun, ia adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh Amar yang bahkan lepas masa iddah dan baru sekali ia kunjungi makamnya. Sedangkan rumah yang ia tinggali saat ini adalah paviliun milik orang bernama Ilham, yang bukanlah mahromnya, bahkan orang yang belum ia kenal.


Ia memang berjanji kepada Bu Fatma untuk menjalankan kontrak dengan baik dan akan selalu menemani beliau, namun ia pun ingin segera menyelesaikan urusannya dengan pihak bank perihal penyitaan rumahnya. Agar rumahnya bisa ia miliki dan tempati kembali.


Yuana tidak bisa mengharapkan klaim asuransi atas kebakaran pabrik untuk kepentingan pribadinya. Bukankah pemulihan pabrik dan kesejahteraan karyawan juga membutuhkan dana yang besar?


Sebenarnya Amar telah mengajukan restukturisasi kredit sebelum kecelakaan terjadi. Restrukturisasi kredit bisa diajukan jika nasabah mengalami kredit macet, sehingga agunan atau jaminan tidak sampai harus dilelang. Namun pihak bank memberi Amar tempo penangguhan selama empat bulan harus lunas.


Dan saat ini, Yuana memperkirakan sudah hampir lima bulan. Kenapa tidak ada informasi penagihan atau apapun dari pihak bank untuk dirinya? Bukankah akad kredit dulu mengatasnamakan dirinya? Apakah rumahnya sudah masuk daftar lelang? Atau justru sudah bukan jadi miliknya lagi? Kenapa ia bisa begitu ceroboh tidak memperhatikan tanggal jatuh temponya?


Baru ia sadari bahwa selama ini, dirinya selalu bergantung pada Amar, suaminya. Sejak menikah dan memiliki anak, yang ia tahu hanyalah mengabdi pada suami dan merawat Nabila. Segala sesuatu di luar urusan rumah tangga sepenuhnya ia limpahkan pada Amar.


"Apalah aku tanpa dirimu, Mas. Mas Amar... kenapa kau harus meninggalkanku di saat seperti ini, Mas? Kenapa? Kenapaaa...?"


Setegar-tegarnya seorang perempuan, sekuat apapun hatinya, akan ada saatnya ia menemui sisi dirinya yang rapuh dan lemah.


Mungkin saat ini Yuana berada dalam masa itu. Kerapuhan dan rasa tak berdaya mengantarkannya dalam lelap lelah hingga ufuk fajar menyingsing.


Senin pagi adalah awal hari yang penuh semangat. Memulai hari dengan penuh optimis dan antusias. Sebagai wujud syukur bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberi manusia kesempatan untuk mengerjakan amal kebajikan. Bekerja, belajar, membantu orang lain mengatasi masalah, menjadikan diri menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.


Yuana yang jauh lebih segar dari pada semalam, tampak semangat memulai hari. Nabila akan sibuk siang ini, ia dan Azyan akan mulai belajar mewarna bersama seorang guru yang didatangkan oleh Annisa dari sebuah sanggar.


Yuana telah meminta izin kepada Bu Fatma untuk pergi ke luar untuk sebuah keperluan. Ia tidak mengatakan akan pergi ke kantor bank untuk menanyakan tentang penebusan surat sertifikat rumahnya. Tidak perlu pikirnya.


Dengan membawa beberapa berkas dokumen terkait serta semua tabungan yang ia miliki, ia optimis bisa menyelesaikan tanggunannya itu.


Namun alangkah terkejutnya Yuana ketika petugas loan service bank yang ia temui mengatakan bahwa hutangnya telah lunas dan sertifikat rumahnya telah diambil. Bahkan Yuana beberapa kali meminta petugas tersebut untuk mengecek kembali, namun hasil yang terpampang pada layar monitor di depan petugas tersebut tidak berubah. Status pinjaman atas nama Yuana Amalia perhari ini benar-benar telah lunas.

__ADS_1


Ketika Yuana menanyakan siapa yang melunasi, petugas tersebut meminta Yuana untuk menanyakan secara langsung kepada manager bank. Karena proses pelunasan tersebut tidak terjadi di mejanya, sehingga ia tidak tahu.


Namun sayang, manager bank yang dimaksud saat ini sedang keluar kantor, jadi Yuana diminta untuk kembali keesokan harinya.


Dengan langkah lemas dan bingung ia berjalan menuju lantai dasar gedung perbankan tersebut di mana ia memarkir mobil. Ia mencoba menerka siapa kiranya yang telah menebus sertifikat rumahnya.


Ia sangat yakin yang mengetahui tentang hutang ini hanya Amar dan Pak Samuel. Pak Samuel pun tak mungkin, karena justru beliau yang mengingatkan Yuana tentang jatuh tempo pelunasan. Bahkan beliau sedikit berandai-andai, jika hutang tersebut atas nama Amar mungkin saat ini hutang tersebut akan otomatis lunas cukup dengan mengajukan klaim asuransi.


Lalu siapa yang melunasinya?


Ketika Yuana hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba ada seorang gadis yang sama sekali tidak ia kenal menyerangnya.


"Yuana!"


Bahu yang didorong cukup keras membuat Yuana sedikit limbung dan punggungnya menabrak spion.


"Iya, saya Yuana. Kamu siapa?"


"Jadi kamu yang namanya Yuana?! Dasar janda gatel!"


Yuana yang kaget dan kesakitan tidak bisa melawan, karena ia sepenuhnya tidak memahami ada apa gerangan.


"Jauhi Koh Joseph! Jangan terus-terusan memperalatnya!"


Yuana pun semakin bingung.


'Apa maksudnya Koh Joseph itu Kak Jo? Ada apa dengan Kak Jo, siapa gadis ini, memang apa yang aku lakukan?'


Bersandar pada pintu mobil, mengerjap-kerjapkan mata dan berusaha mengatur nafas. Yuana meletakkan telapak tangannya di dadanya yang naik turun dan merasakan debaran jantungnya.


'Ada apa ini? Apakah ada sesuatu yang aku lewatkan? Apakah aku tidak sengaja melakukan sesuatu yang membuatnya marah? Tapi apa hubungannya dengan Kak Jo? Yaa Allah... Apakah salahku jika sekarang aku adalah janda? Bukankah aku juga selalu berusaha menghindar jika Kak Jo datang?'


Sungguh, masalah penebusan sertifikat rumah yang tidak jelas dan ancaman gadis tak dikenal itu menyurutkan semangat Yuana hari ini.


Rencana yang telah ia susun hari ini buyar sudah. Ia tidak ingin ke mana-mana lagi. Sebaiknya ia pulang dan menghibur diri dengan berkebun di taman saja.


Untuk itu ia pun bergegas masuk ke dalam mobil dan mengendarainya keluar meninggalkan gedung bank menuju perumahan Taman Golf.


Sesampainya di rumah, ia memarkirkan mobil tepat di sebelah mobil sedan hitam milik Ilham yang sedikit berdebu. Pak Hadi yang biasanya setiap pagi membersihkan dan memanasi mesin mobil itu, memang sedang sibuk mendampingi Annisa di perusahaan sampai tidak sempat mengurus mobil Ilham.


Yuana berdiri sebentar di depan pintu yang menghubungkan garasi dengan ruang keluarga rumah utama. Dari pintu yang terbuka sebelah itu, ia bisa melihat Nabila dan Azyan asyik mengikuti arahan dari guru les mewarna.


Nabila sempat menoleh ke arahnya dan melambaikan tangannya. Dibalas dengan senyuman dan tanda jempol dari bundanya, lalu asyik mewarnai kembali.


Tidak ingin mengganggu konsentrasi anak-anak itu, Yuana pun berlalu menuju paviliun tanpa melalui rumah utama, melainkan lewat belakang rumah. Menyapa sebentar Mbok Sari dan Rima yang sedang mengasuh Norish yang duduk di stroler memainkan kerincingan.


Rupanya Mbok Sari mengetahui jika Yuana sedang dalam kondisi yang tidak baik meskipun Yuana sudah memaksakan senyumnya.


"Istirahatlah, tenangkan diri dulu, Nabila biar mbok yang urus," ucap Mbok Sari seraya mengelus lengan Yuana.

__ADS_1


"Makasih, Mbok."


Yuana pun segera menuju paviliun. Derit pintu besi yang menghubungkan area belakang dengan paviliun terdengar ketika Yuana menutupnya.


Sepertinya engsel pintu itu sedikit berkarat, nanti setelah berkebun akan ia beri minyak pelumas pikirnya.


Meletakkan sepatu di rak di samping pintu masuk paviliun, meletakkan kunci mobil di atas bufet dan map berkas di laci bufet, berjalan gontai ke kamar untuk meletakkan tas ransel kecil andalannya dan melepas jam tangannya.


Hampir saja mendudukkan diri ke tepi ranjang, ia bergegas berdiri dan berjalan keluar kamar. Ia tahu, jika ia duduk dan berdiam diri maka ia tidak akan bisa menahan diri untuk menangis sejadi-jadinya.


Ia tidak mau menangis dan sangat tidak suka menangis. Ia harus kuat dan selalu tegar. Mulai saat ini, ia harus bisa berdiri dengan tegak di atas kakinya sendiri. Ia harus bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk mengatasi semua persoalan dalam hidupnya.


Dengan tekad yang baru ia sugestikan pada dirinya sendiri itu, Yuana berjalan ke arah taman. Tanpa berganti pakaian, masih memakai gamis mayung bercorak cerry blossom dan jilbab ceruty lebar berwarna baby pink polos, ia menuju lemari kecil tempat ia menyimpan peralatan berkebunnya.


Ia ambil sebuah lap lembut, garpu rumput, sekop, gunting daun dan gunting rumput. Ia letakkan di atas tumpukan rumput sintetis yang baru datang kemarin.


Diambilnya gunting daun dan ia mulai menggunting daun-daun yang mulai mengering atau yang tumbuh tidak rapi.


Ia juga mengelap beberapa dedaunan yang terlihat sedikit kusam.


Ia berdiri sambil bertolak pinggang melihat ke sekeliling taman. Memandang puas semua tanaman sudah ia rapikan.


Ia kembali berjalan ke arah lemari, meletakkan lap dan gunting daun lalu mengambil gunting rumput. Menggunting sedikit rumput yang mulai tumbuh tidak rata. Lalu menukar gunting rumput denfan sapu lidi.


"Semangat, Yuana!" ia menyemangati dirinya sambil mengepalkan tangan kirinya ke atas dan mulai menyapu rontokan dedaunan dan rumput tadi.


Sesekali ia mendengar sayup-sayup suara tawa renyah Nabila dan Azyan. Ia pun ikut tersenyum.


Setelah selesai menyapu, dedaunan yang terkumpul ia masukkan ke dalam lubang tanah di sudut taman dekat tumpukan rumput sintetis tadi. Kemudian ia aduk-aduk dedaunan tadi menggunakan sekop seukuran tangannya agar tercampur dengan dedaunan yang mulai membusuk di dalam lubang tadi. Menyiramkan sedikit air dan menutupnya kembali dengan tutup ember bekas. Ah... persediaan pupuk kompos aman, pikirnya.


Menepuk-tepukkan tangannya dan meletakkannya di pinggang. Memutar pinggang ke kanan dan ke kiri. Memutar bahu ke kanan dan ke kiri sampai terdengar pelan suara krek... krek. Lalu merenggangkan kedua tangan ke atas tinggi-tinggi.


"Lanjut, Yuana!" serunya sambil menepuk tumpukan rumput sintetis dengan kuat lalu tertawa sendiri.


Saking semangatnya, ia tidak menyadari bahwa keadaan di dalam rumah utama yang tadi terdengar sedikit ramai tiba-tiba sudah sunyi senyap.


Yuana mengambil garpu rumput dan menyeret karung berisi pasir halus di samping tumpukan rumput sintetis. Kemudian dia mulai menggaruk tanah di sepanjang sisi taman, yang sebelum renovasi ditutup paving, lantas menuangkan pasir diatasnya dan diratakan kembali menggunakan garpu rumput tadi.


Sesekali berhenti menegakkan tubuh dan mengusap peluh di dahi. Lalu berjongkok dan menggaruk-garuk tanah dan pasir lagi.


Setelah dirasa pasir sudah tersebar dengan rata, Yuana mulai mengambil lembar demi lembar rumput sintetis dan menatanya di atas rataan pasir tadi.


Sepanjang bagian sisi taman tersebut memang tidak terkena air hujan sehingga lebih pas jika dipasangi rumput sintetis daripada paving.


Tujuan pemasangan rumput sintetis agar taman terlihat lebih estetik dan nyaman untuk dipakai bermain anak-anak karena lebih tebal dan empuk. Di samping itu juga agar anak-anak tidak bermain di area taman yang berpotensi merusak rumput asli di taman itu.


Alhamdulillah, akhirnya selesai sudah. Seluruh sisi taman sudah tertutup dengan sempurna.


Terlonjak bangun dari duduk jongkoknya, ketika Yuana mendengar derit dan debuman pintu besi yang membentur tembok berlapis batu serta suara laki-laki yang berteriak kepadanya.

__ADS_1


"LANCANG!! Berani-beraninya kau rusak semua!" teriak laki-laki itu tepat di depan wajah Yuana yang pias dan pucat menahan rasa terkejut dan kesakitan karena lagi-lagi bahunya terdorong tangan orang tak ia kenal dan punggungnya terhempas ke dinding.


__ADS_2