
Yuana meraba amplop coklat bersimpul benang merah, terasa tebal tak beraturan isinya. Lalu diletakkan di samping kotak kayu. Melihat isi album lebih menarik perhatiannya.
Dua buah album foto, satu album bersampul gambar bunga dan merk salah satu studio foto dan satu album bersampul kulit warna coklat tua.
Yuana mengambil album bersampul gambar bunga terlebih dahulu. Hatinya sedikit berdebar ketika akan membukanya. Ia takut jika hatinya tidak kuat membuka kenangan tentang Amar.
Namun seketika senyum tersungging di bibir Yuana, melihat foto-foto masa balita dan masa anak-anak Amar. Bisa dikatakan jika Nabila mirip sekali dengan Amar kecil.
Mata bulatnya, ujung rambut yang bergulung, pipi gembulnya, senyumnya yang sedikit meringis, sama persis antara ayah dan anak.
Membuka lembar demi lembar halaman album, berganti dengan foto-foto kebersamaan Amar dan kakak adiknya. Jika diperhatikan mereka seperti kembar tiga namun berurutan ukuran tingginya. Pakaian yang dipakai juga kebanyakan bercorak sama.
Yuana tersenyum, membayangkan perlakuan kedua mertuanya saat ketiga anak jagoannya masih kecil-kecil dulu. Mereka pasti sudah berusaha keras untuk membagi kasih sayang dengan sama besarnya.
Dan beberapa lembar berikutnya adalah foto-foto kebersamaan Amar dan kedua orang tuanya. Foto ketika Amar bonceng di belakang oleh bapak dan si kecil Nazriel di belakang diikuti Yusron remaja yang naik sepeda di samping motor bapak. Sepertinya mereka hendak berangkat ke masjid, karena mereka memakai baju koko dan tersampir di pundak bapak dan Yusron masing-masing sebuah sajadah.
Ada juga foto Amar memakai pakaian toga diapit kedua orang tuanya. Pertama saat wisuda santri dan yang kedua wisuda sarjana. Tampak aura kebahagiaan dan kebanggaan terpancar dari wajah mereka.
Tepat di halaman terakhir, tertempel sebuah kartu ucapan dengan tulisan khas Amar, sebuah kutipan yang mengungkapkan perasaan Amar tentang kedua orang tuanya.
"Kebaikan seorang bapak lebih tinggi dari gunung, dan kebaikan seorang ibu lebih dalam dari lautan"
"Terima kasih Bapak"
"Terima kasih Ibu"
Yuana menutup album itu dengan hati yang dipenuhi dengan keharuan. Ia kemudian menghela nafas lega ketika menyadari bahwa tidak terjadi apa yang ia khawatirkan ketika hendak membuka album itu tadi.
Meletakkan album tersebut ke dalam kotak kayu lagi dan berganti mengambil album kedua. Album yang lebih tebal dan bersampul kulit domba asli berwarna coklat.
Ya, ia tahu bahwa sampul coklat itu terbuat dari kulit domba, bukan kulit sapi apalagi kulit sintetis setelah sekian lama ia mendampingi Ilham bergelut dalam bisnis kulit.
Ia menimbang-nimbang album yang terasa lebih berat dari album sebelumnya. Terang saja, ini kan lebih tebal dan bersampul kulit.
Membolak balik album itu tanpa membukanya. Sepertinya ia pernah melihat album yang sama persis dengan album yang ia pegang saat ini. Bukan hanya satu, tapi berderet lebih dari lima buah.
Di ruang kerja Ilham. Di rak dinding di bawah pigura foto yang terkesan mengintimidasi, foto close up yang terlihat kaku menampakkan wajah Ilham yang tegas dan memakai jas abu-abu berdasi motif garis halus.
'Ah, jika melihat foto itu, ingiiin rasanya menggantinya dengan yang tampak lebih ramah atau ceria.'
'Mas Ilham lagi ngapain ya? Dia sudah makan belum, obatnya tidak lupa kah? Kenapa sih, Mas Ilham itu selalu mengabaikan kesehatannya sendiri. Apa-apa masih harus diingatkan.'
Yuana menghela nafas dalam ketika sosok Ilham muncul dalam pikirannya. Ada yang bergemuruh memenuhi hatinya ketika mengingat tentang Ilham.
Bayangan Ilham sekarang seakan-akan menari di pelupuk mata. Gesturnya ketika duduk memeriksa dokumen, ketika berdiri di samping jendela sambil memperhatikan desain motif yang baru atau bahkan ketika mondar-mandir gelisah menanti telepon atau kedatangan Arief unuk menyampaikan laporan.
Atau Ilham yang berpura-pura tidak mendengar ketika ia mengingatkan untuk istirahat dan makan siang. Juga bagaimana keusilan dan keisengan Ilham padanya.
Tanpa Yuana sadari matanya berkaca-kaca karena merindukan Ilham, padahal belum sehari ia pergi. Aneh bukan?
"Astaghfirullah."
Setelah menimbang-nimbang album di tangannya, akhirnya Yuana memutuskan untuk menyimpan kembali album tersebut ke dalam kotak kayu beserta amplop coklat yangbia taruh di sebelahnya tadi. Besok-besok saja ia akan melihat-lihat isi kotak kayu itu lagi.
Yuana yang sudah tidak merasa pusing lagi, memutuskan untuk keluar dari kamar demi menghilangkan kegundahannya akan bayangan Ilham.
__ADS_1
Berpapasan dengan Bu Aminah yang akan keluar dengan membawa sebuah rantang kosong.
"Mau ke mana, Bu?"
"Arep mudun tuku bakso," jawab Bu Aminah yang ingin membelikan Yuana makanan berkuah.
"Yuana antar ya?"
"Ora usah, Nduk. Mengko lak wong-wong podo ngerti awakmu teko malah gembruduk mrene kabeh, ora iso ngasuh ngko awakmu."
Yuana yang memahami maksud baik Bu Aminah pun hanya bisa tersenyum melihat ibu mertuanya itu pergi keluar. Memang benar, setiap kali datang ke desa, para tetangga pasti akan mendatangi rumah mereka dengan membawa buah tangan yang banyak.
Sebenarnya Yuana sih senang-senang saja, keramahan dan keguyupan penduduk desa membuat ia merasa seperti memiliki banyak saudara.
Hanya saja memang ada beberapa orang yang seperti tidak tahu waktu, yang bertamu terlalu lama bahkan ada yang baru berpamitan ketika waktu menjelang tengah malam. Meskipun Amar yang menemui tetap saja Bu Aminah merasa terganggu karena tidak bisa beristirahat.
Yuana yang tidak tahu harus melakukan apa, akhirnya memutuskan untuk duduk-duduk saja menonton televisi.
"Untung ae, Nduuuk, awakmu maeng ora melu. Rame iku mau ndek warung bakso. Mesakno Shofi, Nduk, dilabrak karo bojone Pak Mantri. Lawong ncen Pak Mantrine kuwi sing giatel wonge. Shofi ki arep ngandok mesisan ngaso, mari mubeng nagih cicilan, moro-moro disanding karo Pak Mantri. Awakmu lak ngerti dewe seh, Pak Mantri ki koyo opo wonge. Cubo lak awakmu mau melu, trus disanding karo Pak Mantri, opo yo ora awakmu sing dilabrak karo Bu Mantri. Wes, Nduk, awakmu ning omah ae, ora usah metu-metu," datang-datang Bu Aminah langsung nyerocos, menceritakan kejadian yang baru saja terjadi di warung bakso, di mana Shofi tetangga mereka yang sedang beristirahat sambil makan bakso dilabrak oleh seorang wanita yang suaminya mencoba mendekati Shofi.
"Kasihan Mbak Shofi ya, Bu," hanya itu yang bisa Yuana komentari.
"Yo mesakno, wong wadon ditinggal merat sing lanang, mbuh nandi. Kerjo banting tulang nguripi anak karo emak e sing loro-loroen. Ancen wong urip ngrondo kuwi yo ngunuiku, Nduk. Kudu kuat, tahan banting. Ora mung rekoso nyambung urip, godane kuwi yo akeh, ujiane abot."
"Memang suaminya ke mana, Bu? Seingat Yuana rumah tangga mereka baik-baik saja."
"Kecantol rondo, Nduk. Lha iyo, wong lak alasan e nulung rondo, kok yo tego bojone dewe didadekne rondo. Kuwi ngunu ancen wong gemblung jenenge, wong edyan. Shofi kuwi wonge sek enom, sek ayu, mugo-mugo ae ndang oleh bojo anyar sing gemati nang Shofi, anak e karo emak e."
Yuana sedikit terhenyak dengan sikap Bu Aminah kali ini. Tidak biasanya beliau seperti ini, sampai tampak sedikit tersengal-sengal nafasnya.
"Ibu kenapa?"
"Oalah Nduk. Ibuk iki wes ngrasakno cubo lan abot e dadi rondo, saiki ibuk kudu nyekseni anak mantue ibuk ngalami cubo ditambah kedadeane Shofi iki mau. Ibuk iki ra trimo rasane, Nduk."
Yuana merangkul dan menyandarkan kepalanya di pundak Bu Aminah, merasa bersyukur masih memiliki seorang ibu pengganti orang tuanya, yang berempati mendalam pada dirinya.
"Terima kasih banyak ya, Bu. Yuana beruntung memiliki ibu di saat-saat seperti ini."
"Awakmu ojo rumongso dewean yo, Nduk. Isih ono ibuk, ono Bu Fatma, lak ono butuh opo-opo yo ojo sungkan-sungkan."
""Iya, Bu."
Bu Aminah yang sangat protektif pada Yuana membuatnya tidak dapat ke mana-mana selama tiga hari ini. Bahkan sekedar menyapu halaman depan rumah. Hikmahnya, keduanya sekarang jauh semakin akrab daripada ketika Amar masih ada dulu. Mereka berdua jauh lebih terbuka menceritakan banyak hal tanpa harus merasa sungkan.
Sedangkan Nabila, jangan ditanya lagi, pasti akan selalu mengikuti kemana pun Nazriel pergi. Terkadang datang ke rumah Bu Aminah, berdua atau bertiga dengan anak Yusron yang selisih setahun lebih besar dari Nabila. Selama Yuana menginap di rumah Bu Aminah, Nazriel lebih memilih untuk tidur di rumah Yusron.
"Bunda, Bila mau ikut Bude lagi. Bila bubuk sama mbak Nadin ya, Bunda."
Nabila yang bergelanyut manja di pangkuan Yuana, berusaha untuk merayu Yuana agar diizinkan menginap di rumah budenya sekali lagi.
"Yakin ndak mau nemenin bunda?"
"Mbak Nadin itu, kalo pagi ngasih makan sapi. Kalo Bila nemenin Bunda, nanti Bila ketindalan, sapinya sudah kenyang."
"Wes jarno, Na, kapan maneh," kata Halimah saat mengajak Nabila untuk kembali pulang. Sejak usaha pengembangbiakan sapi perahnya berkembang, Yusron membeli rumah yang lebih dekat dengan kandang. Masih satu desa dengan rumah Bu Aminah hanya beda dusun saja. Namun baik Halimah atau Yusron hampir setiap hari selalu mengunjungi Bu Aminah.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, dadah Bunda. Kalo ayah datang, telpon ke bude ya, nanti Bila ikut ayah pulang. Jangan ditindal!"
Yuana hanya bisa menggelengkan kepala, karena Nabila mengucapkannya saat motor yang dikendarai Halimah sudah hendak keluar dari pintu pagar.
Yuana masuk ke dalam rumah dan merapikan kembali ruangan yang sedikit berantakan karena kedatangan Nadin dan Nabila.
Beberapa saat kemudian ketika Yuana hendak masuk ke dalam kamar, terdengar seseorang menutup pintu mobil. Sebuah mobil SUV berwarna putih tampak parkir di depan pagar.
Bu Aminah yang sedang berada di kebun samping, tergopoh-gopoh pergi ke depan rumah sambil membawa sebuah keranjang berisi buah manisa atau labu siam yang baru dipetik.
Beliau bingung karena tidak mengenal tamu yang baru datang itu. Namun ia berusaha waspada agar kedatangan tamu tersebut tidak menimbulkan masalah baru untuk Yuana. Mengingat tingkat keingintahuan para tetangga yang sangat tinggi.
Seorang pria muda berkulit putih langsat bersih, dengan rambut dan pakaian yang rapi, berjalan memasuki halaman rumah sambil mengangguk sopan ke arah Bu Aminah. Pria tersebut membuka kacamata hitam yang ia pakai sebelum mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum," ucap salam pria itu kepada Bu Aminah.
"Wa 'alaikum salam wa rohmatullahi wa barokaatuh," Bu Aminah yang terkesima melihat penampilan dan wajah tampan menjawab salam dengan setengah bergumam. Namun kemudian terperanjat pucat pasi ketika mendengar suara Yuana yang muncul dari dalam rumah.
"Kak Joseph."
Nama Joseph terdengar bagai petir di telinga Bu Aminah, padahal yang memiliki nama sedang tersenyum manis dan Yuana menyebutkannya dengan suara yang pelan.
Keranjang berisi buah labu siam jatuh ke tanah dan dengan gugup gemetaran Bu Aminah meraih keranjang tersebut dan mengambil buah yang tumpah.
"Ibu... Ibu kenapa?"
Yuana dan dokter Yusuf spontan mendekati Bu Aminah untuk menolongnya.
Yuana bergegas pergi ke dapur ubtuk membuatkan teh panas untuk Bu Aminah dan dokter Yusuf, setelah membantu Bu Aminah duduk dan mempersilahkan dokter Yusuf untuk duduk pula.
Dokter Yusuf berusaha untuk mengajak Bu Aminah berbasa-basi, namun Bu Aminah bergeming memperhatikan dokter Yusuf dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
Dokter Yusuf sebenarnya bingung, kenapa Bu Aminah bersikap demikian kepadanya, tapi ia berusaha bersikap biasa saja.
"Kak Jo kok tahu Yuana di sini?" tanya Yuana setelah meletakkan dua gelas teh panas untuk dokter Yusuf dan Bu Aminah.
"Aku pernah kehilanganmu, Yuana. Sekarang aku tidak mau kehilangan kamu lagi, walaupun harus naik gunung turun lembah," dokter Yusuf berusaha berkelakar meskipun dengan nada yang memelas.
"Diminum dulu tehnya, Kak!"
Yuana meraih tangan Bu Aminah yang duduk di sebelahnya lalu meletakkan di pangkuannya.
Sementara Yuana dan dokter Yusuf berbincang, Bu Aminah seolah ditarik ke dalam pusaran masa lalu. Di mana Amar sedang bersimpuh di depannya.
"Amar kedah yaknopo, Buk? Kulo mboten saged menawi dikengken milih, Non Yuana nopo Ilham. Non Yuana niku larene lugu, sendiko dawuh ten tiyang sepah e. Ilham nggih njenengan sumerap piyambak kados pundi."
"Cobak ceritakno nang Ilham ae, Le, sopo ngerti dekne ngerti situasi njur gelem mulih, nglamar Yuana."
"Tapi Pak Bram pun wanti-wanti kulo, pun sampe crito ten sinten kemawon. Pun sampe wonten sing ngertos statusipun Non Yuana kale Joseph. Tiyang lintu sing sumerap namung kulo kaleh njenengan. Kulo namung saged nguyahi Ilham kersane purun enggal-enggal nglampahi Non Yuana. Tapi Ilham nggih ngeyel, mboten purun nglampahi sakderenge piyambak e sukses. Lha Ilham mawon mboten pede lho, Buk. Nopo maleh kulo sing namun dublojoyo niki, Buk, pundi pantes nyanding Non Yuana."
"Yoiku sing jenenge menungso duwe karep namung Pengeran sing Maha Duwe Kerso. Istikhoroh, Le. Yen pancen Ilham ora gelem mulih, Pak Bram yo wes kadung milih awakmu, pasrahno wae marang Gusti Allah. Jodoh kuwi takdire Pengeran, dudu rekodoyoe menungso."
Mengingat tentang status Yuana dan Joseph atau dokter Yusuf itu, Bu Aminah seakan terlempar kembali ke alam nyata hingga beliau tersentak ke sandaran sofa.
"Ibu mengantuk?" Yuana mengira Bu Aminah mengantuk hingga kepalanya tersentak ke belakang.
__ADS_1
Bu Aminah yang sudah kembali sadar menatap bergantian Yuana dan dokter Yusuf, apakah sekarang saat yang tepat baginya unuk membuka simpul benang merah hubungan Yuana dan Joseph yang membuat Pak Bram dulu bersikeras melarang mereka berdua bahkan untuk sekedar bertemu?