HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 70 RENDEZ-VOUS


__ADS_3

"Papi... Mami..."


Adalah panggilan terakhir dari Joseph kecil sebelum akhirnya ia harus berpisah dengan orang tua kandungnya sampai sekian tahun lamanya. Sekaligus panggilan pertama ketika ia berjumpa hari ini.


Ya, orang yang dibilang ingin bertemu dengan dokter Yusuf di kediaman Syekh Fatah adalah Jacob dan Linda, orang tua kandungnya.


Ia sama sekali tidak menyangka akan semudah ini, padahal tadi ketika masih di aula ia sudah memantapkan hati untuk berjuang sekuat tenaga apapun rintangannya agar bisa menemukan orang tua kandungnya.


Memang Allah Maha Tahu, ketika hambanya bersungguh-sungguh akan sesuatu maka Allah akan memudahkan untuk mendapatkannya.


Melihat dokter Yusuf yang diam terpaku, Jacob dan Linda spontan berdiri dan memandang dengan intens ke arah putranya itu. Sementara dokter Yusuf belum bisa memisahkan kenangan yang baru muncul dengan kenyataan yang terpampang jelas di hadapannya, tidak tahu harus bereaksi bagaimana.


Tidak sadar jika pandangannya terkunci kepada Jacob, kepada sosok yang perawakan dan wajahnya bisa dikatakan sangat mirip dengannya, hanya saja lebih kebapakan. Terpaku menatap ayah kandungnya yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya.


"Joseph... anakku," sapa Jacob dengan suara tercekat. Terlihat dengan jelas pancaran kerinduan yang teramat sangat pada pria separuh baya itu kepada anak lelakinya.


"Papi..." jawab dokter Yusuf seiring dengan melelehnya air matanya.


"Joseph, anakku... huu," Jacob sontak memeluk erat-erat dokter Yusuf tanpa bisa menghentikan tangisnya, seolah tidak ingin terpisahkan lagi.


Dengan canggung, dokter Yusuf mencoba membalas pelukan dari 'orang baru' untuk yang kedua kalinya ia rasakan, setelah pertama mendapat pelukan mengejutkan dari Yuana beberapa hari yang lalu.


Setelah bisa menguasai diri kembali, Jacob mengurai pelukannya. Ditelangkupkan kedua tangannya membingkai wajah anak yang terakhir ia lihat ketika masih belum genap lima tahun itu.


"Terima kasih telah hidup dengan baik anakku. Maafkan papi dan mami yang tidak berdaya untuk mengajakmu melanglang buana. Terima kasih masih mengingat kami, orang tua yang tidak bertanggungjawab ini."


Mencelos hati dokter Yusuf mendengar ucapan sang papi. Jika benar apa yang diceritakan Papah Rudi dan Bu Fatma mengenai perjalanan hidup Papi dan Mami, pasti kedua orang itu sudah mengalami banyak hal berat dalam hidup mereka.


Sekedar memberi maaf tentu tidaklah berarti untuk mereka, dokter Yusuf merasa harus bisa memberikan hal yang lebih dari sekedar kata memaafkan. Namun ia tak dapat berkata apa-apa selain mengangguk-anggukkan kepalanya.


Pandangannya beralih kepada Linda, sang mami, ketika Papi Jacob menuntunnya mendekati ibu kandungnya itu. Perempuan yang sedang berdiri di tempatnya sambil berurai air mata dan menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.


Perlahan tapi pasti dokter Yusuf berjalan menghampiri.


"Jojo... aa' sayang, aa'... Pinter," Joseph kecil membuka mulutnya ketika mami menyuapinya makan.


"Waaah, Jojo hebat!" puji mami ketika Joseph kecil berhasil merangkai mainan lego.


"Jojo kok demam, mana yang sakit? Coba lihat... Oh, giginya tumbuh lagi, sayang."


"Joseph! Awas jatuh!"


Wajah panik seorang perempuan berambut hitam sebahu itu seakan terpampang nyata di depan mata. Berbaur dengan wajah teduh berbalut hijab warna gelap yang sedang bercucuran air mata.


"Mami," dokter Yusuf tergugu ketika dirinya menjatuhkan lututnya dan memeluk kaki sang mami yang semakin pecah tangisannya.


Semua ikut merasakan keharuan pertemuan antara orang tua anak yang terpisah selama dua dekade lebih. Tidak lelaki tidak perempuan, semua berusaha menyeka air mata yang seperti enggan berhenti untuk mengalir.


Tidak terkecuali Yuana dan Bu Fatma yang ternyata juga telah datang ke kediaman Syekh Fatah didampingi Ustadzah Nadia dan seorang santri yang mengantar mereka.


Jacob yang menyadari kehadiran Yuana, segera menghampiri. Serasa ribuan butir biji serealia jagung yang dipanaskan hingga mengembang, meletup-letup, menari berlompatan memenuhi rongga dada ketika melihat putri kecilnya yang ia letakkan di teras samping rumah Pak Bram sekian tahun silam itu, sekarang sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan anggun.


Apa jadinya jika ia memaksa diri membawa bayi kecil itu ikut dalam pelariannya, mungkin bayi itu tak akan pernah bisa tumbuh dengan baik, bahkan bisa jadi tinggal namanya saja yang bisa dikenang.


"Joanne?"

__ADS_1


Yuana sesaat bingung bagaimana menanggapi pertanyaan pria paruh baya di hadapannya itu.


Yuana yakin jika pria di depannya adalah ayah kandungnya. Pria yang di matanya tampak seperti Kak Jo versi dewasa, sangat mirip, hanya celak mata dan guratan di kening dan sudut mata yang membedakan. Tapi selain itu juga karena ia tidak terbiasa dengan nama panggilan Joanne.


Jacob bisa merasakan kecanggungan yang dirasakan oleh Yuana dan ia memaklumi itu. Berbeda dengan Joseph yang memiliki sedikit kenangan, Yuana yang kala itu masih berusia satu bulanan tentu tidak memiliki sedikitpun ingatan tentang mereka.


"Mm... Yuana?" akhirnya Jacob mengulang pertanyaan dengan mengubah panggilannya menjadi Yuana. Tanpa sadar Yuana menganggukkan kepalanya.


"Boleh papi memelukmu?" Yuana menganggukkan kepalanya lagi.


Akhirnya Jacob maju selangkah demi meraih Yuana, merengkuh badan gadis kecilnya itu dan kemudian memeluknya erat. Dihidunya ubun-ubun Yuana yang berada tepat di depan dadanya, "Joanne, putri kecil papi. Maafkan papi, Nak... Maafkan papi," rintihnya.


Meskipun rintihan yang keluar berupa gumaman yang tidak terdengar jelas oleh orang lain, Yuana bisa mendengarnya dengan jelas. Telinga Yuana yang menempel erat di dada sang ayah bahkan bisa mendengar gemuruh di dalam dada bidang itu.


Gemuruh yang kemudian menular kepadanya, apalagi mendengar ucapan 'putri kecil papi'. Hatinya seakan menghangat, bergemuruh dipenuhi bunga-bunga beterbangan.


Tangan Yuana bergerak perlahan membalas pelukan erat itu, "Papi."


Suasana haru terus saja terasa di ruang tamu tersebut, jangan ditanya bagaimana keharuan yang terjadi tatkala bergantian Yuana yang bertemu dengan Linda. Saking tidak bisa menahan perasaan yang membuncah, Linda bahkan sempat tidak sadarkan diri dan menimbulkan kepanikan walau tidak begitu lama karena Linda segera sadar dari pingsannya.


Syaikhah Fatimah, istri Syekh Fatah, yang masih saudara satu buyut dengan Syekh Fatah itu, merupakan salah seorang yang mempermudah usaha Ilham mempertemukan kedua anak dan kedua orang tua yang telah lama terpisah itu. Yang menyediakan tempat di rumahnya untuk mewujudkan niat mulia Ilham itu. Dan ternyata orang yang dimaksud adalah Jacob dan Linda, pasangan yang ditolong oleh suaminya untuk bisa berdomisili di kota Madinah.


Beliau sempat panik karena Linda yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri itu pingsan. Beliau bahkan sempat hendak bangkit dari kursi rodanya demi ingin menolong Linda. Untung saja putri sulungnya yang menemani lekas menahan dan menggantikannya menolong Linda.


Dengan dipapah Yuana dan putri sulung Syekh Fatah, akhirnya Linda dibaringkan sedikit menjauh ke belakang agar lebih leluasa, diikuti oleh Bu Fatma dan Ustadzah Nadia yang mendorong kursi roda yang diduduki Syaikhah Fatimah. Kemudian putri sulung Syekh menutup satir yang sebelumnya terlipat rapi di tengah dinding ruangan.


Jadi para perempuan kini sudah berada di ruangan baru belakang ruangan tadi yang terhalang satir tebal yang bisa dibuka dan ditutup itu.


"Kun qowiya, yaa Linda. Yajibiina an qowiyana," Syaikhah Fatimah berusaha memberi dukungan agar hati Linda menjadi lebih kuat, "ibnatuki tahtajuki haqa."


Yuana menyambut uluran tangan ibu kandungnya itu dan menggenggamnya erat. Membuat Linda lebih bersemangat lagi dan berusaha untuk bisa duduk menyejajari putrinya yang kemudian berusaha membantunya duduk.


Tidak banyak kata-kata yang keluar dari mulut Linda selain kata, "Joanne... Maaf... Maafkan mami," sambil terus memandang putrinya itu. Sambil sesekali kedua tangannya membingkai wajah Yuana, "Joanne... Maaf... Maafkan mami."


Yuana pun hanya bisa tersenyum menenangkan dan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Apa kabarnya, Sayang? Joanne hidup baik-baik kan selama ini?"


"Yuana baik, Mami."


Saat ini mereka sedang berbincang-bincang mencoba menjalin keakraban. Lalu dengan terbata-bata, Linda menggambarkan perasaannya saat ia harus meninggalkan Joanne yang masih bayi di rumah Pak Bram. Dan ia bersyukur, Joanne bisa tumbuh dengan sangat baik dalam asuhan Pak Bram dan Bu Suci.


Linda juga sangat terpukul ketika mendengar Yuana mengatakan bahwa Pak Bram dan Bu Suci telah tiada dalam sebuah kecelakaan pesawat. Yang paling disesali karena ia tidak dapat menepati janjinya untuk kembali dan tidak sempat mengucapkan maaf dan terima kasih.


"Ilham bilang kamu sudah menikah?"


"Iya, Mami. Amar Nasiruddin nama suami Yuana. Setahun yang lalu meninggal dunia karena kecelakaan."


"Innaalillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun, yang sabar ya Sayang."


"Terima kasih Mami, Yuana juga sudah ikhlas kok."


"Maafkan mami yang tidak mendampingimu selama ini..."


"Iya, Mami. Tidak apa-apa, Yuana mengerti. Semua juga demi kebaikan Yuana dan Kak Jo, iya kan?"

__ADS_1


Baru saja keakraban terjalin, Ustadz Alhusein mengatakan hendak berpamitan karena satu jam lagi masuk waktu dhuhur di mana rombongan harus mengikuti sholat arbain hari terakhir di masjid Nabawi.


Rupanya majlis taklim juga sudah selesai, Syekh Fatah tampak berjalan masuk ke dalam kediamannya dengan sebuah tongkat kayu di tangan kanannya.


"La tadzhab lilmanzil ba'ad, ma ziltu 'aftaqid Ya'qub," sedikit tergesa-gesa Syekh Yusuf masuk, mencegah para tamu pulang karena ia masih merindukan Jacob yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.


"Kun hadziron, Yaa Syekh!" Ilham yang khawatir karena Syekh Fatah jalan tergesa-gesa, sontak bangkit menyambut Syekh Fatah dan menuntunnya untuk duduk.


"Syukron... Syukron... Aina kunta Yaa Ya'qub? Limadza naadiran ma takunu huna?"


Begitu duduk, Syekh Fatah langsung menyapa Jacob, menanyakan kenapa jarang datang ke tempat beliau. Karena memang biasanya Jacob selalu rutin menghadiri kajian majelis taklim yang beliau asuh, sambil tangannya menerima salim tangan dari orang-orang di ruangan itu.


"Idza lam yakun hadzal syaabu huwalladzi ujbirak huna , famataa satatiyun ya rifaqa?" ucap Syekh Fatah sambil menepuk-nepuk pundak Ilham yang duduk di sebelahnya. Karena memang jika bukan karena Ilham yang memaksa mereka datang kali ini, kapan lagi?


Sementara Jacob hanya bisa menyengir karena memang mengakui kelalaiannya dalam menuntut ilmu dengan tidak menghadiri beberapa pertemuan majelis taklim yang rutin ia hadiri dulu.


Bukan tanpa alasan sebenarnya, tapi karena toko yang ia kelola saat ini memang sedang ramai-ramainya, makin besar dan makin komplit sehingga sangat menyita waktunya.


"Hal haadzal syaabulwasiim abnuka?" perhatian Syekh Fatah beralih kepada pemuda lain yang duduk di samping Jacob, beliau menebak bahwa pemuda itu adalah anak Jacob.


"Na'am, haadza Yusuf, huwabniy," jawab Jacob seraya merangkul pundak dokter Yusuf.


Sedangkan dokter Yusuf yang sama sekali tidak memahami percakapan tersebut tetapi tahu jika ia sedang diperkenalkan kepada Syekh Fatah, menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Hal Yusuf fitta'limi?" Syekh Fatah mengira dokter Yusuf sedang menempuh pendidikan, namun yang ditanya tidak menjawab karena tidak mengerti. Sedangkan Jacob pun tidak tahu apakah saat ini Yusuf sedang menempuh pendidikan atau tidak.


"Huwa thobiibul takhdiir. Aah... Al Indunisiyatu faqoth, Yaa Syekh. Huwa laa yafham lughotul arobiyah," Ilham yang juga sedikit kesulitan memahami percakapan antara Syekh Fatah dan Jacob, mencoba memberi masukan agar menggunakan bahasa Indonesia saja.


"Haha... Hasanan, hasholtu alaih."


"Mereka ini yang saya ceritakan kemarin, Syekh."


Selepas sholat Ashar kemarin, Ilham yang mengetahui jadwal hari ini adalah menghadiri majlis taklim di kediaman Syekh Fatah, diam-diam menemui beliau dan menyampaikan keinginannya berkaitan dengan niatnya mempertemukan salah satu jamaah umroh dengan orang tuanya yang kebetulan berdomisili di kota Madinah itu.


"Hah... Apa? Jadi orang tua yang meninggalkan anak-anaknya itu adalah Yakub?"


"Iya, betul, Syekh."


Begitu mengetahui bahwa Jacob adalah orang yang dimaksud oleh Ilham, tentu saja nasehat panjang lebar langsung diberikan oleh Syekh Fatah kepada Jacob yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri itu. Beliau juga sempat marah, kecewa lebih tepatnya, karena Jacob tidak bercerita dari awal.


Jika saja Syekh Fatah mengetahui lebih awal, tentu saja beliau akan mencarikan solusi atau cara untuk mengembalikan keutuhan keluarga itu.


Tapi nasi sudah menjadi bubur, hal yang telah terjadi di masa lalu tidaklah mungkin bisa diulang lagi. Yang paling penting adalah sekarang, apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu tersebut.


"Yusuf, apakah kamu ridlo atas sikap kedua orang tuamu di masa lalu?" tanya Syekh Fatah kepada dokter Yusuf.


Entah kenapa, pertanyaan dari Syekh Fatah itu seolah menuntun dokter Yusuf untuk mengutarakan perasaannya selama ini.


"Saya... Saya... Selama ini mengira jika orang tua kandung saya adalah Papah Rudi dan Mamah Mei, sampai suatu ketika saya jatuh hati kepada Yuana, yang saya tidak tahu jika ternyata adik kandung saya sendiri."


Jacob tersentak dengan pengakuan dokter Yusuf, perasaan bersalahnya menjadi berkali-kali lipat rasanya. Sesak dan berat di dadanya. Pasti sakit sekali rasanya jatuh cinta kepada adik kandungnya sendiri.


Sementara di balik satir, Linda pun merasakan rasa bersalah yang tidak kalah besarnya. Lidahnya bahkan terasa keluh untuk sekedar mwngucapkan kata maaf. Hanya linangan air mata yang senantiasa mengalir tiada henti.


"Berkali-kali Yuana menolak saya, namun sedikit pun tak menyurutkan keinginan saya untuk meminang Yuana. Bahkan saya memilih melajang seumur hidup ketika tahu Yuana menikah dengan orang lain. Hingga kemudian musibah itu datang dan suami Yuana meninggal dunia di bawah pengawasan saya sebagai seorang dokter. Dalam keadaan tersulit pun, Yuana bersikukuh menolak lamaran saya. Sampai suatu hari tanpa sengaja mendengar, alasan sikap Yuana selama ini bahwa saya adalah kakak kandungnya. Dia mengira bahwa kami sama-sama anak haram hasil perselingkuhan, makanya dia tidak bisa mengatakannya. Tentu saja saya tidak mempercayai berita menyakitkan seperti itu."

__ADS_1


Ilham sampai tercengo, mendengar keluh kesah dokter Yusuf yang selama ini terkesan introvert, sedikit bicara dan selalu menyimpan semua hal untuk dirinya sendiri.


__ADS_2