
Pagi yang cerah dipertengahan musim kemarau. Namun udara terasa sejuk, karena kota yang berada di ketinggian 440-667 meter di atas permukaan laut itu dikelilingi oleh pegunungan. Bahkan bagi para pendatang baru bisa dikatakan udara terasa sangat dingin menusuk tulang.
Selepas sholat subuh berjamaah, Bu Fatma berkeliling rumah, mengecek keadaan rumah selama beliau tinggal ke Singapura. Sementara Annisa kembali ke kamar untuk menyusui Norish yang merengek karena haus. Sedangkan Yuana membantu menyiapkan sarapan. Yuana meminta Mbok Sari untuk beristirahat, biar Yuana saja yang masak pagi ini.
Sepulang dari rumah sakit barusan Mbok Sari berbelanja kebutuhan masak untuk hari ini. Yuana mengambil beberapa bahan untuk sarapan. Ada tempe kacang kesukaan Bu Fatma, baby cumi pesanan Annisa, dan brokoli hijau untuk anak-anak. Setelah memberitahukan keinginan majikannya itu, Mbok Sari menuju paviliun belakang, tempatnya beristirahat.
Yang pertama dilakukan Yuana adalah membersihkan baby cumi, setelah mencabut tulang dan mulut cumi, membilas di air mengalir dan meniriskan. Lalu menyiapkan bahan-bahan sambal dan menumisnya sebentar, tak lupa mengupas dua papan petai dan memotongnya menjadi dua bagian.
Setelah mengulek kasar bahan sambal, Yuana memanaskan wokpan berdiameter dua puluh empat centimeter. Menuangkan minyak sayur dan memasukkan hasil ulekan dan mengaduknya hingga tanak. Setelah tanak, petai dan baby cumi dimasukkan hingga mengeluarkan kuah yang mendidih. Dimasukkan gula, garam dan kaldu penyedap secukupnya. Diicip sedikit, matikan kompor.
Selanjutnya membuat adonan tepung krispi, membilas tempe kacang dan memotongnya menjadi delapan potongan bentuk kubus, memotong brokoli dan merendamnya dalam air garam.
Ceklek
Terdengar suara dari magicom, menandakan nasi yang ditanak sudah matang. Bergegas Yuana memanaskan wajan enamel dan menuangkan minyak sayur. Memasukkan potongan brokoli dalam adonan tepung dan menggorengnya. Lalu menggoreng tempe kacang dengan sisa adonan tepung tadi. Terakhir mengulek cabe, bawang putih dan sedikit garam. Tempe kacang yang sudah matang dipenyet di atas sambal bawang.
Sesudah matang semua, Yuana memindahkan masakan ke dalam piring saji dan menatanya di meja makan. Bu Fatma datang membawa dua bungkus roti tawar susu dan roti gandum.
"Waaah... harum sekali, jadi lapar nih. Kau masak sendiri, Nak Yuana?" berbinar Bu Fatma memuji masakan Yuana.
"Iya Bu... kasian Mbok Sari semalaman berjaga di rumah sakit. Monggo sarapan dulu Bu, maaf kalo ternyata kurang sedap," sahut Yuana.
"Bangunin anak-anak dulu deh... kita sarapan bareng saja." Keduanya pun beranjak, Yuana membangunkan Nabila dan Bu Fatma memanggil Annisa dan Azyan.
__ADS_1
"Sambel cumiiii... dah lama ndak makan sambel cumi nih," sorak Annisa begitu melihat sambal cumi tersaji di meja makan.
"Makanya belajar masak... tuh minta ajarin sama Yuana. Jangan beli masakan online melulu, ndak kasian apa sama anak dikasih masakan ndak jelas," ujar Bu Fatma sambil memukul pelan lengan putrinya itu.
"Don´t worry Ummah... bentar lagi aku sama Yuana kan jadi partner, banyaklah kesempatan buat belajar masak. Ya kan Na?" Yuana yang sedang mengoleskan selai coklat kacang pada roti untuk Nabila hanya tersenyum dan mengangguk.
"Partner? Partner apaan coba? Jangan-jangan partner menggosip... jangan mau Nak Yuana," goda Bu Fatma.
"Ummaaah... putrimu yang cantik ini memang banyak ngomongnya. Tapi tetep harus menghasilkan donk. Kita uda sepakat mau kerjasama, Ummah. Bikin brand tas lokal kualitas import. Ntar Yuana bagian produksi, akunya bagian marketing. Klop kan?" tutur Annisa.
"Eh..." Yuana yang merasa belum berbincang mengenai detail kerjasama sedikit terkesiap. Namun ia tidak berkomentar karena setuju dengan pemikiran Annisa.
"Waah putri ummah gerak cepat juga nih... belum juga ummah cerita soal keahlian Nak Yuana, kamu ternyata malah uda ngajak kerjasama aja," dalam hatinya, Bu Fatma bangga pada putrinya tersebut. Ia merasa Annisa mewarisi keahlian kedua orangtuanya dalam membangun bisnis. "Semoga sukses untuk kalian berdua ya."
"Aamiin... Aamiin Yaa Robbal´aalamiin."
"Ning, biar Yuana yang bawa pinky ya... Pak Hadi siaga di rumah aja, siapa tahu nanti ummah butuh dia," ucap Bu Fatma sambil memberikan kunci mobil pada Annisa.
"Iya Ummah... Assalamu´alaikum," jawab Annisa sambil mencium punggung tangan ibunya dan kemudian berlalu ke teras depan di mana Yuana yang sudah berpamitan terlebih dahulu menunggunya.
"Pinky... apaan Kak?" tanya Yuana bingung sambil menerima kunci mobil yang diulurkan Annisa padanya.
"Tuh... kamu yang bawa ya, aku ndak bisa nyetir, hihi," Annisa menunjuk ke arah mobil yang berderet dalam garasi lalu berjalan mendekati mobil yang dimaksud. Sisi terdekat terparkir luxury MPV warna white pearl yang kemarin Yuana naiki, lalu di tengah-tengah sebuah sedan M sport warna black saphire dan sebelahnya lagi sebuah mobil hatchback warna pink.
__ADS_1
"Kak Annisa suka warna pink ternyata," goda Yuana.
Hmmm coba kalau uda lihat interior di dalamnya, makin julid ntar kamu Na.
"Nggak juga... ini abah yang beliin, maksudnya biar aku ndak jadi kuliah ke luar negeri. Tau-tau dah ada aja nih mobil waktu aku mau berangkat," ujar Annisa.
"Terus?" Yuana menahan tawa ketika tahu interior mobil berwarna pink dengan corak gambar karakter kucing putih dari Jepang.
"Ketawa aja Naaaa... jangan ditahan, ntar kentut tau," Annisa menunjukkan sedikit kekesalannya pada reaksi Yuana saat membuka pintu mobil.
"Maaf Kak... gak nyangka aja sih, ternyata Kak Annisa seorang Kitty-ra juga. Eh... ini bisa dinyalain kan?" kata Yuana saat ia sudah duduk di kursi pengemudi dan mencoba menyalakan mesin mobil.
"Bisa kali Na... meskipun gak pernah kupakai tapi tiap hari selalu dipanasin sama Pak Hadi. Jadi kamu tenang aja nyetirnya, gak bakalan mogok deh... kalau mogok tinggalin aja di jalan, hehe."
Akhirnya mereka berdua pun pergi ke rumah sakit yang berada tidak begitu jauh dari kediaman Ilham. Hanya butuh melintasi beberapa hunian, lapangan golf, komplek perumahan non klaster dan sebuah mall. Di samping mall besar itulah rumah sakit Raya Husada berada.
Setelah menghentikan mobil di tempat parkir pengunjung, Annisa dan Yuana berjalan bersama-sama menuju ruang ICU. Tapi ketika sudah dekat dengan ruang ICU, Annisa pamit untuk pergi menemui dokter Yusuf di ruangannya terlebih dahulu. Yuana pun bergegas masuk ke ruang ICU untuk melihat suaminya.
"Assalamu´alaikum Mas Amar... apa kabar Mas?" Yuana menyapa Amar yang terbaring dengan mata terpejam dan mencium punggung tangan yang menancap jarum infus itu dengan perlahan. Lalu menggenggam jemarinya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan mengusap ubun-ubun suaminya itu. Dipandang dengan intens wajah lelaki yang sangat ia cintai itu.
"Mas... Yuana kangen... cepet bangun donk Mas... hiks... Mas janji kan kemarin kalau Yuana dateng lagi Mas Amar pasti bangun... kenapa sekarang belum bangun juga Maaas... hiks..." ingin rasanya Yuana mengguncang tubuh suaminya seperti biasa ia harus membangunkan di beberapa kali subuh jika suaminya itu susah bangun karena kelelahan.
Tapi melihat kondisi tubuh Amar yang penuh luka dan alat medis yang terpasang, jangankan mengguncang, menyentuhnya saja ia takut akan menyakiti suaminya. Yang bisa ia lakukan hanyalah menahan diri dari tangis yang seperti akan meledak dari dadanya.
__ADS_1
Hingga kemudian dalam genggaman tangan kirinya, Yuana merasakan sedikit gerakan dari jemari Amar. Seketika senyum Yuana berkembang dengan sempurna.
"Mas Amar... Mas bisa mendengar Yuana?" tanya Yuana sambil memandang wajah suaminya untuk meyakinkan dugaannya. Dan ia dapat melihat bola mata suaminya itu sedikit bergerak-gerak meskipun dalam keadaan tetap terpejam.