
"Tidak. Sebisa mungkin kami tidak usah bertemu, dan sebaiknya jangan sampai seorang pun tahu Yuana ada hubungan dengan kami."
Ingin rasanya Bu Fatma berteriak marah kepada Jacob, bagaimana mungkin ada orang tua yang bersikap seperti demikian. Meninggalkan anak bahkan membuangnya dengan mudah, bahkan tidak ingin bertemu disaat anaknya sudah dewasa.
Namun semua hanya berkumpul di ujung lidah, karena menyadari tidak mengetahui karakter kedua orang tua Yuana dan situasi dan kondisi sebenarnya, kenapa sampai mereka bersikap demikian.
"Sudah berapa tahun berlalu, Lin. Keadaan pasti sudah banyak berubah, sudah saatnya kalian bertemu dan bersatu kembali," Ustadzah Nadia mencoba memberi pengertian dan melembutkan hati mereka.
"Nad, kamu tahu sendiri kan... Bagaimana kehidupan kami sebelum tinggal di Madinah ini. Sudah berapa negara yang kami coba tinggali, mereka selalu mengejar dan berusaha mencelakai kami, Nad. Sudah... Cukup kami saja yang menjalani kehidupan seperti ini. Joseph pasti sekarang sudah menjadi pengusaha yang sukses dibawah pengasuhan papa. Sedangkan Yuana, kalau sampai mereka tahu Yuana adalah Joanne, bagaimana kami bisa memastikan keselamatannya. Aku.... Aku... Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Naaad.... bagaimana mereka berusaha membunuh Joanne yang masih bayi... yang... yang bahkan masih belum lepas pusarnya. Aku tidak mau Joanne celaka, Naaaad..."
Linda menangis meraung raung dalam pangkuan Ustadzah Nadia, membuat Bu Fatma yang tadi sempat geram dengan sikap Jacob menjadi ikut merasakan penderitaan Linda ketika harus menguatkan hatinya, meninggalkan Yuana yang masih bayi kepada Pak Bram dan Bu Suci. Tak terasa air matanya ikut meluruh seiring dengan mengerasnya raungan tangis Linda. Mungkin jika ia berada di posisi Linda saat itu, ia akan melakukan hal yang sama demi keselamatan sang buah hati.
Tak jauh berbeda dengan Linda, Jacob menunduk bertumpu pada kepalan tangannya di atas karpet permadani, pundaknya pun bergetar menandakan ia pun menangis walaupun tanpa mengeluarkan suara. Tak ada yang lebih berat daripada perpisahan, terutama perpisahan dengan anak dalam keadaan yang membahayakan sang anak dan juga dirinya.
Ustadz Al berkali-kali menghela nafas dengan berat, menjadi saksi dari perjuangan dan pengorbanan Jacob paska memutuskan menjadi mualaf yang mendapat tentangan dari keluarga besarnya. Ujian yang harus diterima oleh Jacob dan Linda sungguh teramat berat.
Beruntung mendiang orang tua Linda diam-diam sering membantu mengirimkan uang demi membiayai kehidupan anak dan menantunya itu selama berpindah-pindah dalam pelarian hingga akhirnya bisa membeli sebuah ruko di kota Madinah ini. Kota yang tidak bisa dimasuki dan mungkin tidak dibayangkan oleh orang-orang suruhan keluarga Tanoewidjaya bahwa Jacob dan Linda akan berada di kota ini.
Untuk beberapa saat, semua terdiam, larut dalam kesedihan. Hanya suara isak tangis yang terdengar di ruangan yang cukup luas itu.
Jacob lebih dahulu bisa mengendalikan dirinya. Ia sudah duduk dengan tegak, mengusap kasar wajahnya serta sesekali mendongak untuk mencegah airmatanya keluar lagi.
"Sungguh, kami sangat merindukan Joseph dan Joanne. Tapi apakah mereka bakal mengenali kami sebagai orang tuanya?"
Dalam hatinya iapun sebenarnya sangat merindukan kedua orang tuanya, Ferry Tanoewidjaya dan Julia. Hanya karena ia memutuskan menjadi mualaf, kedua orangtuanya itu mengusirnya bahkan kemudian dengan tega memerintahkan orang-orang suruhan untuk mengejar dan membunuh anaknya, walaupun sampai saat ini tidak berhasil.
Hal itulah yang membuat Jacob lebih memilih menyembunyikan identitas putrinya dengan mengatakan kepada orang-orang yang mengejarnya bahwa putrinya telah meninggal paska usaha pembunuhan mereka dulu.
Itu pula sebabnya sampai saat ini ia rela menanggung kerinduan, baik kepada anak-anaknya ataupun kepada kedua orang tuanya. Karena ia bisa mengerti tradisi yang dipegang teguh keluarga besar asal kedua orangtuanya itu sehingga tidak menyurutkan kasih sayangnya dengan selalu mendoakan kesehatan kedua orang tuanya juga memohonkan hidayah untuk mereka.
.
Sementara itu di tanah air, di sebuah rumah di puncak bukit tak jauh dari ibukota.
Empat orang sedang berlutut dan bersujud di tengah ruangan yang luas. Di belakangnya berdiri dua orang berpakaian changsan hitam.
"Dui bu qi... yuanliang women, xiansheng zhe shi zhenni de cuo. Maafkan kami, Ma. Ampuni kami, Pa. Ini semua salah Jenny."
Jenny dan suaminya, Ronald kini sedang memohon ampunan dari Ferry Tanoewidjaya, ayahnya untuk anak dan menantunya yang terbukti bersalah hendak menyelakakan Joseph, cucu kesayangan Ferry.
"Lukas, bukankah popo meminta kamu untuk mencari dan meminta Joseph pulang ke rumah ini? Tapi kenapa kamu malah berniat mencelakainya? Popo sangat kecewa!"
Ronald yang sedang bersujud di samping Jenny gemetaran mendengar kemarahan Julia kepada Lukas, anak yang sangat ia sayangi sontak menarik tangan Lukas yang sedang berlutut untuk segera bersujud memohon maaf kepada kakek dan neneknya itu.
"Jenny... mulai sekarang Lukas adalah tanggungjawabmu, karena popo akan cabut semua fasilitas untuknya."
"Popo! Tolong jangan, Popo. Joseph... Ini... Ini semua karena Engkong. Karena engkong selalu keras kepala berharap pada anak tak berguna itu. Joseph hanyalah dokter, mana bisa dia diharapkan untuk kelangsungan perusahaan."
Duakk! Pyaar!
Ferry tentu saja murka mendengar ucapan cucunya itu. Berdiri dan tongkat yang selalu ia pegang itu diayunkan hingga menyenggol vas bunga di sampingnya sebelum dilempar melayang mengenai lengan dan tubuh Lukas. Jenny, Ronald dan istri Lukas sampai berjengkit karena kaget.
"DASAR ANAK TAK TAHU DIUNTUNG!"
"Jenny, bawa Lukas pergi!" seru Julia memerintahkan putrinya untuk membawa pergi Lukas. Dan itu artinya, Julia benar-benar mencabut semua fasilitas untuk Lukas.
Julia sudah tidak memperdulikan anak dan cucunya itu karena ia sedang sibuk menolong Ferry yang sedang tersengal-sengal dan meringis menahan rasa sakit di dada kirinya.
"Zhushou! Zhushou!" Julia berteriak memanggil asisten suaminya untuk segera memberikan pertolongan.
__ADS_1
"Tuan Feng!" sang asisten yang melihat majikannya terkena serangan jantungpun bergegas membantu membaringkan Ferry Tanoewidjaya ke sofa panjang terdekat, lalu cepat-cepat memanggil dokter pribadi keluarga Tanoewidjaya.
Sementara Julia berlari mencari obat jantung milik suaminya itu, mengingat bahwa ini bukanlah serangan jantung yang pertama kali.
Dokter datang setelah Julia berhasil memberikan obat kepada Ferry. Perlahan nafas Ferry berangsur membaik, genggaman tangan di dada kirinya pun sudah melemah, pertanda nyerinya sudah mulai berkurang.
Setelah dokter memastikan keadaan Ferry sudah membaik dan berangsur normal, ia memohon diri setelah menyampaikan resep dan beberapa pesan demi menjaga kesehatan sang tuan.
"Laogong... Kanze wo. Kamu harus kuat, kita akan mencari sendiri Jacob sampai ketemu ya. Kumohon lihat aku..." dengan lembut Julia berusaha memberi kekuatan kepada suaminya yang ssat ini sedang memandang ke atas dengan tatapan sendu dan kosong.
Julia sangat mengerti bahwa suaminya itu memendam kerinduan kepada Jacob anak kesayangan sekaligus kebanggaannya dulu itu. Anak yang selalu dipuja sanjung di setiap perkumpulan entah keluarga atau kolega bisnis.
Anak yang selalu berprestasi di sekolah dan dengan cepat mempelajari bisnis di perusahaan dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain.
Dibanding anak pertama, Jimmy yang sedang-sedang saja, tidak berprestasi namun juga tidak pernah bermasalah. Dan Jenny, yang sama sekali tidak mengerti bisnis dan sangat bucin kepada Ronald yang jika perusahaan dipegang olehnya maka pasti kebangkrutan yang akan terjadi.
Harapan satu-satunya hanyalah Jacob yang sayangnya keputusannya menjafi mualaf mebjadi tamparan keras bagi Julia di mata keluarga besar di negara asalnya.
Namun ketika semua sudah terlambat, penyesalanlah yang harus ditanggung. Meskipun sudah mengerahkan orang-orang kepercayaan dari keluarga besar Julia di beberapa negara maupun orang-orang bayaran kenalan Ronald, untuk mencarinya, namun semakin dicari semakin jauh diraih.
Kesedihan mendalam dirasakan oleh Ferry dan Julia ketika mengetahui Linda akan melahirkan di sebuah rumah sakit, namun ketika hendak dijemput pulang, ia mendengar bayi yang baru dilahirkan oleh Linda meninggal dunia dalam usia beberapa hari saja.
Penyesalan yang dirasakan semakin bertumpuk berkali lipat.
Dan setelah sekian tahun, ketika harapannya sebagai pengobat rasa sesal, yakni kembalinya dokter Yusuf ke rumah besar dan ditemukannya fakta bahwa anak kedua Jacob dan Linda sebenarnya masoh hidup, justru mereka mendengar bahwa orang-orang suruhan Lukas yang notabene adalah kenalan Ronald, berusaha mencelakai dokter Yusuf dengan menyabitase mobilnya ketika sedang bepergian ke pegunungan.
"Julia..." dengan suara yang lemah Ferry memanggil istrinya yang melamun.
"Shi de, laogong," Julia tersadar dari lamunannya begitu mendengar suara suami yang sangat ia cintai itu.
"Kita cari sendiri mereka."
"Shi... Shi... Kita cari sendiri, jemput mereka," Julia mengangguk-anggukkan kepalanya dengan penuh semangat meskipun air matanya mengalir menetes membasahi genggaman tangannya pada tangan Ferry yang lemah.
"Iya... Iya..."
Jimmy, anak pertama Ferry dan Julia bergegas meninggalkan pekerjaannya di perusahaan begitu mendengar jika papanya mendapat serangan jantung. Kekhawatiran berkecamuk di dalam dadanya mengingat kondisi kesehatan papa yang sangat ia hormati itu.
Namun ia tersenyum begitu sampai di rumah besar. Melihat papanya sudah duduk dengan nyaman di sofa kebesarannya dengan mama Julia yang bergelanyut manja di sampingnya. Ia selalu ikut merasa bahagia jika melihat kedua orang tuanya itu bahagia.
"Jimmy, kamu pulang? Ada apa?"
"Aku dengar papa sakit, makanya aku buru-buru ke sini. Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak ada, Sayang. Oh iya, kebetulan kamu di sini. Mungkin beberapa hari ke depan, mama dan papa tidak bisa menengok perusahaan, tidak apa-apa kan?"
"Pasti papa dan mama pingin bulan madu lagi ya?"
"Buka seperti itu..." Julia tersipu malu digoda anaknya seperti itu, ia akui jika dirinya memang bucin kepada suaminya. Namun jika digoda anak sendiri tetap saja ia merasa malu.
"Papa ingin mencari Jacob," ucap Ferry dengan serius, "tapi tolong jangan sampai ada orang lain yang tahu kepergian kami, cukup kamu saja."
"Baik, Pa."
.
"Bunda lagi apa? Itu di masdid ya? Bagus banget masdidnya."
"Iya, Sayang. Bunda lagi di depan masjid Nabawi. Kapan-kapan Nabila bunda ajak ke sini deh. Nabila habis ngapain itu, kok pada berantakan?"
__ADS_1
"Bila habis espenimen, bikin pelangi."
"Eks pe ri men. Nabila habis eksperimen, Na. Tuh..."
Wajah Annisa tiba-tiba muncul menggeser wajah Nabila di layar handphone Yuana ketika ia melakukan video call dengan putri kecilnya itu, diikuti penampakan sudut ruang tengah yang biasa dipakai belajar jika gurunya datang.
"Gimana Nabila, Kak? Rewel tidak?"
"Gak lah, anakmu ini pinter banget. Kalau Mas Ilham di sana gimana, rewel tidak? Hihihi," balas Annisa dan terkikik dengan bayangannya sendiri jika Ilham membuat Yuana kerepotan selama di Madinah.
"Apaan sih, Kak. Mas Ilham di sini kalem banget, gak kayak di rumah."
Tak sengaja Yuana mematikan panggilan video call tersebut ketika di layar kecil yang menampakkan wajahnya sendiri tiba-tiba muncul wajah Ilham yang berada sangat dekat dengan wajahnya.
"Kenapa dimatikan?" dan benar saja ketika Yuana menoleh hidungnya hampir saja menyentuh pipi Ilham.
"Mas Ilham ngagetin saja!" seru Yuana membuat ibu-ibu yang sedang berdiri di sekitarnya tertawa senang.
Rombongan jamaah sekarang sedang berkumpul di depan hotel yang berseberangan dengan Masjid Nabawi untuk mengikuti program ziarah kota Madinah. Yakni mengunjungi Masjid Quba, Kebun Kurma, Jabal Uhud, Masjid Qiblatain, dan Masjid Sab’ah.
Tak ada ekspresi berarti yang ditampilkan dari wajah dokter Yusuf, entah apa yang dirasakan atau dipikirkan olehnya, berbanding terbalik dengan Yuana yang sangat ceria dan antusias selama perjalanan ziarah kota Madinah ini.
Yuana dan dua gadis sebayanya seakan tak terpisahkan, menyimak penjelasan pembimbing jamaah, membahas tentang sejarah tempat-tempat yang dikunjungi dan berfoto ria.
Semua tak luput dari perhatian Ilham, termasuk kesenduan mata dokter Yusuf saat ini.
"Ada apa, Mas?"
"Yuana..."
Saat ini Ilham duduk berdua dengan dokter Yusuf di dalam bus di pelataran parkir masjid Qiblatain, sambil menunggu jamaah lain yang belum kembali dari masjid.
"Ada apa dengan Yuana?"
"Apa benar dia adik kandungku? Lalu perasaan apa yang aku miliki selama ini kepadanya?"
"Semua akan terjawab jika Mas Jo sudah bertemu dengan orang tua kandung kalian."
"Imposible! Orang dengan kekuasaan seperti Engkong Feng dan Popo Julia saja tidak bisa menemukan mereka, apalagi aku."
"Tak ada yang tidak mungkin bagi Allah, Mas. Jangan pesimis!"
"Bukan pesimis, hanya saja..."
"Jika Allah memberi kalian kesempatan untuk bertemu orang tua kandung kalian, bagaimana?"
"Aku... Ah, entahlah."
"Persiapkan saja hatimu, berusahalah bersikap bijak nantinya."
Bukanlah hal yang mudah bagi dokter Yusuf untuk menata hatinya kembali. Menyayangi Yuana adalah sesuatu yang mutlak baginya, namun dari menyayangi sebagai seorang lelaki lalu harus mengubahnya menjadi menyayangi sebagai seorang kakak kandung tentulah sangat berat.
Kemudian memikirkan tentang orang tua kandung, kenapa bukan papah Rudi dan Mamah Mei saja orang tua kandungnya? Kenapa harus ada nama Jacob dan Linda diantara mereka hingga membuat semua menjadi rumit seperti saat ini.
Mengingat kedudukan dan kekuasaan keluarga Tanoewidjaya, maka bukanlah sesuatu yang mustahil kisah yang dialami oleh Jacob dan Linda benar-benar terjadi di masa lalu. Seperti yang telah diceritakan secara garis besar oleh papah Rudi.
Sekarang sudah dua puluh tahun lebih berlalu, haruskah mereka masih harus sembunyi dari Tanoewidjaya? Di mana mereka sekarang? Jika Tanoewidjaya saja tidak bisa menemukan mereka, bagaimana aku bisa?
Apakah harus bertanya kepada popo Julia, bukankah sekecil apapun informasi itu pasti berguna? Tapi memasuki mansion Feng bukanlah hal yang menyenangkan, ada semacam trauma yang memenuhi pikirannya, entah itu apa.
__ADS_1
Dokter Yusuf yang larut dalam pikirannya sendiri tersadar tatkala bus sudah sampai di depan hotel mereka yang berhadapan langsung dengan masjid Nabawi. Terlihat banyak orang berbondong-bondong menuju masjid, karena sebentar lagi adzan dhuhur berkumandang.
"Allah Maha Mengetahui, Allah Maha Pemberi Petunjuk," gumam dokter Yusuf ketika turun dari bus.