
"Sepuntene Mas Yus, gak keuber," dua tetangga Bu Aminah yang juga mengetahui kejadian tadi sempat mengejar dua orang misterius tadi menggunakan motor.
Namun sayang tidak terkejar, sepertinya kedua orang misterius itu adalah orang profesional.
"Nggih, matur nuwun sanget, Pak, kirangan sinten niku," balas Yusron yang saat ini berdiri di samping dokter Yusuf.
Ilham yang keluar belakangan sempat menanyakan kronologi kejadian tadi kepada Nazriel yang sekarang sedang dikompres lebam-lebamnya oleh Bu Aminah.
Nazriel yang hendak mengirim nila bakar untuk Bu Aminah dan Yuana, memarkir mobil agak jauh dari rumah, karena tempat biasa ia memarkir mobil sudah ditempati oleh sebuah mobil putih. Maklum saja, jalanan kampung di daerah puncak pegunungan tidaklah rata seperti di daerah dataran rendah.
Ketika ia berjalan menuju rumahnya, kabut putih sedang turun. Sudah terbiasa, karena setiap menjelang sore memang seperti itu, tapi kali ini tidak begitu tebal seperti beberapa hari kemarin.
Ketika mendekati mobil putih, Nazriel melihat dua orang sedang berjongkok di dekat roda depan mobil tersebut, salah satunya seperti sedang kesulitan meraih sesuatu di sekitar gardan mobil, atau kemungkinan besar hendak menyabotase rem mobil.
Tentu saja Nazriel langsung menegur kedua orang tersebut. Merasa ketahuan kedua orang itu menyerang Nazriel. Namun pemuda pemegang sabuk hitam taekwondo itu melawan dengan cukup sengit, hingga salah satu tendangannya mengenai kaca mobil hingga pecah.
Melihat kemampuan Nazriel yang cukup seimbang, akhirnya mereka tidak memperpanjang perkelahian dan memilih kabur.
Ilham menceritakan kembali penuturan Nazriel kepada Yusron dan dokter Yusuf. Salah satu tetangga tadi langsung mengintip ke bawah mobil dan benar saja, selang rem tampak teriris hingga minyaknya terlihat menetes. Bisa dipastikan jika mobil dibawa menuruni pegunungan, baru ditengah jalan pasti rem akan blong.
"Niki bahaya Mas, dipanggilaken tukang bengkel mawon, kersane digantos sing enggal. Nopo kulo celukan Pak Danu a, Insya Allah saget tiyange," orang tadi membantu mencarikan solusi.
"Nggih... Nggih, Pak Budi. Maturnuwun sanget."
Hari sudah sore, rasanya tidak mungkin jika dokter Yusuf harus menginap hanya untuk menanti mobilnya diperbaiki. Yusron menyarankan agar ia pulang bersama dengan Ilham saja.
Kini semua berkumpul di ruang tamu kembali, mencari jalan keluar. Sebuah pesan masuk di telepon genggam dokter Yusuf dan segera dibalas olehnya.
- Jo, di mana? Hati-hati!
- Ada apa, Pa?
- Pokoknya hati-hati, papa otw ke rumahmu
- Ke apartemen aja
- Ok
Sementara dokter Yusuf berpikir bagaimana caranya pulang, Nabila kini merengek minta pulang bersama dengan Ilham.
"Bundaaa, ayo pulaaang. Tan ayah sudah jemput," rengek Nabila sambil menggoyang-goyangkan lengan Yuana.
"Bunda...," Yuana bingung mencari alasan untuk menolak permintaan Nabila, ia takut kegilaan pikirannya soal Ilham beberapa hari yang lalu paska salah minum di acara reuni terulang kembali.
Yuana tidak menyadari bahwa semua tatapan mata mengarah kepadanya, seolah sama-sama menanti tanggapan Yuana atas permintaan Nabila.
"Sebaiknya memang kalian kembali ke tempat Ilham. Sepertinya di sana jauh lebih aman untuk Yuana dan Nabila, bukan begitu?" ujar Yusron sambil kemudian menatap Ilham dan dokter Yusuf bergantian.
Ilham dan dokter Yusuf sepertinya memiliki kekhawatiran yang sama, mengingat kemunculan dua orang misterius yang ingin menyabotase mobil dokter Yusuf.
Sekecil apapun kemungkinan Yuana dan dokter Yusuf adalah anak kandung Jacob Tanoewidjaya, tetapi mulai sekarang mereka harus meningkatkan kewaspadaannya.
Akhirnya diputuskan, dokter Yusuf dan Yuana akan pulang bersama Ilham. Sambil menunggu Yuana berkemas, Bu Aminah meminta semua untuk makan terlebih dahulu hidangan yang sudah terlanjur disiapkan tadi.
Suasana di ruang makan dipenuhi kecanggungan. Semua memang makan, tapi entah bisa menikmati atau tidak. Tak ada obrolan sekedar basa basi sekalipun, semua tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Terlalu banyak hal yang terjadi atau terkuak hari ini, sangat menguras emosi dan pikiran. Memang hanya diam yang bisa mereka lakukan, hingga waktu menenangkan dan membuka pikiran untuk langkah selanjutnya.
Begitupun selama perjalanan dari desa di puncak pegunungan hingga tiba di kota.
"Terima kasih, assalamu'alaikum," pamit dokter Yusuf ketika turun dari mobil di depan lobi apartemennya. Tanpa menoleh, tanpa bersalaman. Langsung turun, menutup pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam apartemen.
Yuana hanya menatap sendu sambil menjawab salam dalam hati. Seandainya saja ia bisa membuktikan bahwa ia dan dokter Yusuf adalah saudara kandung maka hal pertama yang ingin ia lakukan ketika dokter Yusuf mengakuinya sebagai adik adalah memeluknya erat dan menangis sepuasnya.
Ilham menoleh ke belakang melihat Yuana yang menatap dokter Yusuf, menghela nafas lalu menghadap ke depan kembali dan menjalankan mobilnya kembali.
Sebenarnya ia sudah terlalu lelah, ulu hatinya terasa cengkal dan nyeri. Keringat dingin sudah mulai membasahi kening dan telapak tangannya akibat menahan rasa nyeri tersebut. Sudah tanggung jika ia berhenti sejenak, karena kompleks perumahan sudah dekat.
Hingga akhirnya ketika ia berhasil menghentikan mobilnya di garasi, Ilham menelungkup di atas kemudi sambil memejamkan mata dan satu tangan memegang perut bagian atasnya yang nyeri.
Yuana yang tenggelam dalam lamunan tak menyadari kalau mereka sudah sampai di rumah, hingga saat Nabila yang tidur dipangkuannya menggeliat dan hampir jatuh.
__ADS_1
"Innalillahi!" pekik Yuana terkejut.
Setelah membenahi posisi Nabila di bangku mobil agar tidak terjatuh, Yuana melihat Ilham yang menelungkupkan wajahnya ke atas kemudi.
"Mas, Mas Ilham."
Yuana melihat tangan yang dijadikan tumpuan kepala Ilham mempererat pegangannya pada kemudi, menandakan kalau Ilham mendengar panggilannya hanya saja tidak bisa menyahutinya.
Seketika paniklah Yuana. Memastikan Nabila aman, Yuana segera turun dari mobil, kemudian membuka pintu tempat Ilham duduk dan mencoba membangunkan Ilham.
Mengguncang bahu yang terasa anyep, basah dan dingin. Perlahan
Ilham mendongakkan kepala, masih memejamkan mata dan meringis.
Wajahnya terlihat sangat pucat.
"Yuana..." desisnya.
"Mas Ilham kenapa?! Mbooook! Mbok Sari! Tolong!"
Mbok Sari datang dengan lari tergopoh-gopoh bersamaan dengan mobil yang dikendarai Pak Hadi masuk ke halaman. Pak Hadi dan Annisa pun cepat-cepat turun dari mobil dan mendatangi Yuana.
"Ada apa?" semua serempak bertanya.
Begitu melihat Ilham dalam keadaan tidak baik-baik saja, Pak Hadi langsung menghampiri Ilham dan berusaha memapahnya menuju mobil yang masih berada di halaman tadi.
"Biar aku saja yang nemenin Mas Ilham ke rumah sakit. Yuana istirahat saja, tolong bilang ke ummah kami masih ada keperluan, jangan sampai ummah tahu mas Ilham sakit, ya?"
"Nanti Kak Nisa kabarin ya?"
"Pasti."
Setelah menyempatkan menoleh ke dalam rumah, memastikan bahwa ibunya tidak mengetahui keadaan Ilham, Annisa bergegas menuju mobil di mana Pak Hadi telah mendudukkan Ilham di bangku tengah yang nyaman. Dan mobil segera melaju setelah Pak Hadi menerima tas clutch milik Ilham yang berisi kartu-kartu penting milik Ilham.
Sementara Yuana menggendong Nabila dan Mbok Sari menarik koper menuju paviliun, seorang lelaki yang tadinya berjalan gontai menuju lift yang akan membawanya ke lantai tempat kamarnya berada, bersandar lesu di dinding lift yang sedang merayap naik.
Teringat pertama kali bertemu dengan gadis manis berkuncir dua, bermata bulat berkilau dan senyum manis menyapanya.
"Jo."
"Kak Jo kerja di sini?"
Basa basi yang rasanya sangat mengganggu itu menjadi penyebab rasa gundah gulana setiap malam, setiap menjelang tidur.
Entah kenapa gadis kecil yang kala itu dianggap mengganggu pekerjaannya membantu papa di toko tak bisa lepas dari ingatan seorang Joseph. Pemuda yang sedang menanti pengumuman lolos tidaknya ia masuk jurusan kedokteran universitas negeri ternama itu pertama kalinya merasakan jatuh cinta.
Ia mengatakan kepada papanya akan menyelesaikan kuliahnya dengan baik dan akan melamar gadis manis anak pelanggan toko papanya itu ketika sudah bergelar seorang dokter.
Rasa sakit patah hati karena tertolak lamarannya lalu ditinggal menikah dengan orang yang masa depannya tidak jauh lebih baik darinya ternyata tidak sesakit saat ia merasa mulai dekat tapi justru mendapati bahwa gadis pujaannya itu adalah adik kandungnya sendiri.
Sebenarnya ia bisa saja menyangkal, karena papanya adalah Rudi Wijaya bukan Jacob Tanoewidjaya. Anak Jacob juga bernama Joanne Tanoewidjaya, bukan Yuana Amalia.
Ting
Bunyi pintu lift yang sedang terbuka menyadarkan dokter Yusuf dari lamunannya, ia keluar dari lift dan kembali berjalan gontai menuju kamarnya yang tidak jauh dari lift.
"Jo."
Suara yang dirindukan dan sangat ingin ditemui oleh dokter Yusuf saat ini, Papah.
"Pah."
Dokter Yusuf memeluk erat orang yang selama ini ia hormati dan kagumi. Orang yang selalu menyayangi dan mendukungnya dengan penuh kesabaran. Ia adalah papah, Papah Rudi, satu-satunya ayah yang selama ini ia ketahui.
Ia adalah orang satu-satunya yang langsung mendukungnya ketika ia menyatakan diri menjadi mualaf, berbeda dengan mamah yang sempat menentangnya di awal.
Dua cangkir hazelnut latte sudah tersaji di meja mini bar, ketika ia keluar dari kamarnya. Aroma kopi yang menenangkan mengalahkan aroma segar dari sabun dan shampo yang baru saja ia pakai.
Setelah membersihkan batang steam wand dengan lap basah yang bersih, Papah Rudi duduk berhadapan dengan dokter Yusuf yang sedang menyeruput kopi buatannya itu.
Ia tatap wajah tampan dari anak yang sangat ia sayangi itu. Tidak menyangka bahwa anak kecil yang selalu memberontak ketika didekati oleh siapapun itu, bisa menjadi dokter spesialis anestesi yang mumpuni.
__ADS_1
Dengan tenang pria paruh baya itu menanti dokter Yusuf memulai pembicaraan. Ia memang selalu meminta dokter Yusuf terlebih dahulu yang mengutarakan pikiran atau pendapatnya terlebih dahulu sebelum ia sendiri mengutarakan sesuatu. Apalagi ketika melihat kegelisahan yang tergambar jelas pada wajah tampan anaknya itu.
Memang dokter Yusuf sangat gelisah saat ini, ia sangat bimbang apakah ia perlu menanyakan pada papanya atau tidak. Jika tidak bertanya maka selamanya ia akan hidup dalam kegamangan, jika bertanya ia takut jika pertanyaannya itu akan menyakiti hati orang palong berjasa dalam hidupnya itu.
"Pah..."
"Hm."
"Papah kenal dengan Jacob?"
"Jacob?"
"Jacob Tanoewidjaya. Papah kenal?"
"Ehm..." papa Rudi berdehem sebelum ia menyeruput pelan kopinya.
"Ada apa dengan Jacob?"
"Jadi papah kenal? Siapa dia?"
"Dia adik dari Suk Jimmy yang hilang, dari mana kamu tahu nama Jacob?" jawab papah Rudi yang tidak menyangka bahwa anaknya menanyakan sebuah nama yang sudah lama dihapus dari keluarga Tanoewidjaya.
"Yusuf mendengar sesuatu tentang Jacob, sedikit, apa ada yang bisa papah ceritakan tentang Jacob?"
"Papah hanya orang luar, Jo, sedangkan mamah, dia juga hanya anak yang dikucilkan dari keluarga Engkong Feng. Jadi tak ada yang bisa papah ceritakan."
"Apakah Yusuf harus bertanya pada Suk Jimmy? Atau pada Engkong Feng langsung?"
"Sebaiknya kamu fokus saja menata masa depanmu, Jo. Kita sudah cukup hidup tenang tanpa nama besar Tanoewidjaya."
"Tapi..."
"Percaya papah, Jo. Semakin sedikit kamu tahu, semakin baik buat kehidupan kita."
"Baru saja mobil Yusuf disabotase dua orang misterius. Kami khawatir itu orang Tanoewidjaya."
"Kami?"
"Ya, kami. Yusuf waktu sedang ke rumah mertua Yuana di puncak pegunungan. Tiba-tiba ada dua orang yang sedang merusak mobil Yusuf, bahkan sempat baku hantam dengan adik ipar Yuana."
"Tidak mungkin mereka utusan keluarga Tanoewidjaya, keluarga Bramantio tidak pernah berurusan dengan grup Tanoewidjaya manapun. Kalau mengincar kamu juga tidak mungkin, mereka berjanji tidak mengganggu kamu."
"Berjanji tidak mengganggu Yusuf? Kenapa mereka harus berjanji? Ada masalah apa sampai mereka harus berjanji? Pah, tolong... Yusuf ingin mendengarnya dari Papah sendiri, dari pada nanti Yusuf mengetahui dari orang lain. Yusuf berhak tahu, Pah. Apalagi ini menyangkut soal Yuana."
"Apa hubungannya dengan Yuana? Yuana anak Pak Bramantio, sudah papah bilang keluarga Bramantio tidak ada hubungan apapun dengan keluarga Tanoewidjaya, jadi tidak akan ada hubungannya dengan Yuana. Papah jamin itu."
"Yuana putri Jacob Tanoewidjaya, Pah! Yuana anak kedua Jacob Tanoewidjaya! Dan anak pertamanya, tentu Papah tahu siapa dia."
Papah Rudi terhenyak mendengar seruan dari dokter Yusuf. Ia sama sekali tidak menduga jika putri dari Jacob masih hidup, dan itu adalah Yuana. Yuana, gadis manis yang selama ini diharapkan akan menjadi menantunya, gadis idaman Joseph, yang artinya...
Selama ini Joseph mencintai adik kandungnya sendiri!
Tembok beton seakan runtuh dan menghimpit dada papah Rudi, tak dapat ia bayangkan betapa hancurnya hati putra kesayangannya ini.
"Pah... Yusuf sangat menyayangi Papah sebagaimana Papah menyayangi Yusuf. Percayalah, Pah, itu tak akan pernah berubah, Yusuf tetap anak Papah."
Ucapan dokter Yusuf seakan memberi ruang bagi papah Rudi untuk bisa sedikit bernafas lega. Itu tanda bahwa Joseph jauh lebih kuat dari dugaannya.
Mungkin kini memang saatnya Joseph mengetahui asal usulnya.
"Engkong memiliki empat orang anak. Satu anak dari istri pertama dan tiga anak dari istri kedua. Dan mamahmu adalah anak ketiga Engkong, tapi dari istri pertama."
Papah Rudi membuka cerita dengan penjelasan tentang silsilah keluarga mamah Mei.
"Jadi mamah lahir setelah ada Suk Jimmy dan Encim Jenny?"
"Iya, setelah mamah berusia dua tahun, Popo melahirkan anak ketiga yang diberi nama Jacob."
"Lalu di mana nenek?"
"Amah, kau bisa panggil dia Amah. Amahmu dulu adalah karyawan toko yang dinikahi Engkongmu. Sekian lama menikah tidak kunjung memiliki anak, hingga akhirnya Engkong terpaksa menikah lagi dengan Popo Julia. Dan dukungan Popo Julia lah yang berhasil membuat Engkong menjadi raja bisnis waktu itu, hingga sekarang menjadi salah satu sembilan naga. Jadi Popo Julia dianggap sebagai istri yang sempurna untuk Engkong Feng, semua hal berada di bawah kendali Popo Julia."
__ADS_1
"Dan akhirnya amah tersisihkan?"