
"Di mana?"
"Kapan?" tanya Yuana dan dokter Yusuf bersamaan. Mereka sama-sama terkejut dengan penuturan Bu Fatma.
Bagaimana mungkin Bu Fatma bisa semudah itu bertemu dengan Jacob dan Linda sementara papah Rudi mengatakan bahwa keluarga Tanoewidjaya yang dengan kekuasaan sebesar itu saja tidak bisa menemukan bahkan hingga ke pelosok negeri dan ke berbagai negara. Pikir dokter Yusuf.
Yuana yang seakan tak percaya pun menoleh ke arah Ilham yang menganggukkan kepala sambil tersenyum meyakinkan bahwa apa yang diucapkan Bu Fatma itu benar adanya.
"Ketika Ilham menceritakan keadaan kalian dan tentang fakta bahwa orang tua kandung kalian yang bernama Jacob dan Linda, Ummah jadi teringat... dulu ada sepasang suami istri dari keluarga konglomerat yang mengikrarkan diri menjadi mualaf. Sempat heboh dan viral waktu itu. Padahal waktu itu belum ada sosial media seperti sekarang ini. Tapi hampir semua media massa, koran, majalah, tabloid menerbitkan beritanya. Banyak pro kontra mengenai berita masuk Islamnya seorang calon penerus Tanoewidjaya Group, hingga pada akhirnya diumumkan melalui media massa juga, bahkan pengumumannya sampai satu halaman penuh. Bahwa Jacob Tanoewidjaya dicoret dari daftar keluarga besar Tanoewidjaya."
Dokter Yusuf dan Yuana terdiam mendengarkan penuturan dari Bu Fatma. Mereka sama sekali tidak tahu harus berkomentar atau bersikap bagaimana.
"Setelah pengumuman itu, mulai muncul teror di majlis taklim tempat Jacob dan Linda membaca syahadat. Awalnya hanya ustadznya yang di datangi beberapa orang yang mencari keberadaan Jacob dan Linda, namun semakin lama semakin meresahkan karena mulai mengancam jamaah satu persatu. Sampai majlis taklim tersebut resmi ditutup demi keamanan para jamaah."
Mata Yuana dan dokter Yusuf membulat mendengarnya, tidak menyangka jika sampai berimbas kepada jamaah majlis taklim.
"Ummah heran, kenapa setelah tidak diakui sebagai anggota keluarga malah dicari sampai sebegitunya."
Sementara dokter Yusuf mencoba mencari-cari ingatan atau kenangan sekecil apapun tentang Jacob dan Linda, menurut perkiraannya harusnya ia berusia lima tahunan waktu itu. Dan harusnya ada kan kenangan walaupun hanya sepintas lalu. Kenapa sama sekali tidak ada sedikitpun yang ia ingat tentang sosok Jacob dan Linda ini?
"Dan beberapa tahun berikutnya, ustadz tadi bertemu dengan Jacob dan Linda lagi setelah sekian tahun tidak bertemu. Jacob dan Linda ternyata hidup berpindah-pindah dari pulau ke pulau hingga dari satu negara ke negara yang lain. Karena mereka selalu dikejar oleh orang-orang yang berkeinginan untuk membunuh mereka."
Yuana yang sejak tadi berkaca-kaca mendengar cerita dari Bu Fatma seketika pecah tangisnya, ia benar-benar tidak bisa membayangkan berada di posisi yang sama dengan mereka.
"Tidak... Tidak mungkin. Engkong Feng dan Popo Julia tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu. Ini pasti hanya salah paham, aku yakin. Bu Fatma... Tolong katakan di mana mereka saat ini, aku harus menemui mereka, aku akan mengatakan bahwa semua hanya salah paham. Engkong dan Popo bahkan tidak mempermasalahkan ketika aku menjadi mualaf. Aku harus bertemu dengan mereka."
Tangis Yuana membuat dokter Yusuf menjadi semakin risau, ia pun meracau ingin menyangkal cerita tersebut tetapi ia sendiri pun tidak yakin dengan penilaiannya tentang keluarga Tanoewidjaya.
Karena entah disebabkan oleh apa, seperti ada ketakutan yang menjalar di tubuhnya setiap ia mendatangi rumah besar atau mansion Feng. Apakah ini adalah wujud rasa depresi yang di derita oleh anak kecil yang diceritakan oleh papah Rudi waktu itu. Jadi anak itu benar-benar aku? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku bisa merasa takut?
"Tenanglah... Ini baru cerita awal. Dengarkan sampai akhir, baru kalian nanti bisa memutuskan mau bertemu atau tidak. Bahkan saksi utama bisa kalian temui sekarang."
Ilham yang sedang bertukar pesan dengan ustadz Al, sedikit terganggu dan jengkel mendengar racauan dokter Yusuf. Sebenarnya Ilham memahami sikap dokter Yusuf kali ini.
Seburuk apapun keluarga yang masih sedarah dengan kita, jika dibicarakan keburukannya oleh orang lain pasti akan terasa menyakitkan. Dan mungkin dokter Yusuf tidak akan mempercayai cerita Bu Fatma barusan jika tidak mau mendengarkan kelanjutan ceritanya.
Akhirnya setelah menceriterakan apa yang ia ingat dulu, Bu Fatma pun meneruskan ceritanya, berdasarkan cerita dari Ustadz Alhusein dan Ustadzah Nadia. Bagaimana peneror tersebut bertidak terhadap Ustadz Al dan para jamaah demi menunjukkan atau menyerahkan Jacob dan Linda kepada mereka. Padahal Ustadz Al dan lainnya tak ada satupun yang mengetahui keberadaan Jacob dan Linda.
Yuana dan dokter Yusuf terbelalak ketika mendengar Ustadz adalah ustadz yang dimaksud. Ustadz yang menuntun Jacob dan Linda membaca syahadat, juga ustadz yang mendapat teror dari utusan keluarga Tanoewidjaya.
Hingga beberapa tahun kemudian paska teror, Ustadz Al yang menjalankan usaha penyelenggara haji dan umroh, bertemu dengan Jacob dan Linda ketika berziarah ke Jabal Rahmah. Sama-sama sedang menjalankan umroh. Dan sejak itu komunikasi mereka terjalin dengan baik hingga saat ini.
Berbinar Yuana mendengar kisah pertemuan Ustadz Al dengan kedua orang tua kandungnya, seolah ia ikut berada di sana.
__ADS_1
Kemudian Bu Fatma pun menceriterakan perjalanan Jacob dan Linda selama pelarian dari satu kota ke kota yang lain, dari satu negara ke negara yang lain.
"Bagaimana ibu bisa mengetahui kisah mereka dengan mendetail?"
"Sebenarnya yang ibu ceritakan ini hanya garis besarnya saja, agar kalian mengetahui latar belakang kehidupan keluarga kalian kenapa sampai harus tercerai berai seperti selama ini. Agar kalian bisa memikirkan dan memutuskan apakah kalian ingin bertemu dan bersama lagi atau tidak. Tapi ibu harap kalian bisa bersikap bijaksana," Bu Fatma berharap cemas akan sikap Yuana dan dokter Yusuf setelah ia menceritakan tentang penyebab Jacob dan Linda meninggalkan mereka berdua di waktu masih kecil.
"Tentu saja kami ingin bertemu, hanya saja..." dokter Yusuf menatap Yuana yang juga sedang menatap dirinya. Sama-sama ingin memastikan bahwa mereka memiliki keinginan yang sama untuk bertemu Jacob dan Linda.
Selain itu, dokter Yusuf juga ingin memastikan kesiapan hatinya untuk benar-benar menghapus harapannya pada Yuana sebagai seorang lelaki kepada seorang perempuan dan menggantinya dengan perasaan sayang sebagai seorang kakak kepada adik kandungnya. Karena selama ini ia pun tidak tahu bagaimana rasanya memiliki seorang adik.
"Kak Jo," panggilan Yuana kepada dirinya menyadarkan dokter Yusuf, ada rasa hangat yang tiba-tiba menelusup ke dalam relung hatinya, bukan rasa hangat dengan debaran seperti yang ia rasakan selama ini terhadap Yuana.
Rasa hangat seperti ketika ia mendapat restu dari papah Rudi dan mamah Mei untuk menempuh pendidikan kedokteran di bawah tekanan engkong Feng yang menginginkan ia mengambil kuliah managemen bisnis di luar negeri. Juga rasa hangat pertama kali ia memasuki rumah amah... Ya, rumah amah, rumah sederhana milik seorang nenek yang sangat bahagia akan kedatangan dirinya. Yang memeluknya dengan penuh kasih sayang.
Sekilas ingatan dirinya waktu kecil tiba-tiba melintas, dan dokter Yusuf akhirnya menyadari bahwa yang ia rasakan saat ini kepada Yuana adalah perasaan hangat sebuah keluarga.
"Yuana... Kamu benar-benar adikku, adik kandungku."
"Iya, Kak. Yuana adik kandungmu."
Yuana bangkit lalu berjalan dengan lututnya mendekati dokter Yusuf yang masih tidak beralih menatapnya. Perlahan semakin mendekat dan apa yang selama ini ia tahan akhirnya bisa dilakukannya, memeluk dokter Yusuf, Kak Joseph, kakak kandungnya.
"Kak... Kak Jo... huu," tak kuasa lagi menahan air mata, Yuana menangis di dalam dekapan sang kakak yang baru menerimanya sebagai seorang adik kandung. Ia yang sudah lama mengetahui bahwa dokter Yusuf adalah kakak kandung yang tidak dapat ia raih, merasakan kelegaan yang membuncah tatkala dokter Yusuf mau mengakuinya sebagai adik kandung.
Perlahan air matanya pun ikut menetes seiring dengan tangisan Yuana.
"Sedikit lagi, Ummah," Ilham sedikit bergeser mendekati Bu Fatma, sama-sama menyaksikan dan ikut merasakan keharuan kedua kakak beradik itu.
"Ustadzah Nadia masih berusaha," bisik Ilham sembari menunjukkan percakapannya dengan Ustadz Al di akun media perpesanannya.
"Tidak apa-apa, pelan-pelan saja, kita urai satu persatu. Lihat... Sekarang kamu bisa tenang kan kalau Yusuf menemui Yuana lagi."
"Ummah benar-benar merestui Ilham, kan?"
"Tentu saja, coba kamu bilang dari awal, suami Yuana pasti kamu, bukan Amar," masih dengan berbisik, Bu Fatma mencubit gemas pipi Ilham.
"Adududu..."
Suara Ilham yang mengaduh membuat Yuana dan dokter Yusuf mengurai pelukan mereka.
"Kakak," Yuana menghapus air mata yang tersisa di pipi dokter Yusuf, "akhirnya Yuana bisa memanggil kakak."
Dokter Yusuf hanya tersenyum kikuk namun mengangguk menanggapi ucapan Yuana.
__ADS_1
"Dan sekarang Mas Jo tiba-tiba saja menjadi pakde, ya kan Bun," seloroh Ilham kepada Yuana dan dokter Yusuf, mencoba mencairkan suasana. Ia yakin jika saat ini dokter Yusuf pasti masih canggung, berbeda dengan Yuana yang tampak jelas tergambar kelegaan dan kebahagiaan di raut wajahnya, "aduh!"
Sebuah tepukan di punggung Ilham dari Bu Fatma diikuti tawa seisi bilik mengakhiri kebersamaan mereka makan siang di restoran Romansiah.
Sementara itu di sebuah ruko, Ustadz Alhusein memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku. Ucapan hamdalah keluar dari mulutnya begitu mendapat pesan dari Ilham mengenai dokter Yusuf yang sepertinya sudah berdamai dengan hatinya, menerima dan mengakui Yuana sebagai adik kandungnya. Meskipun sepertinya masih butuh waktu untuk mengajak mereka menemui kedua orang tua kandungnya.
Ustadz Al melirik istrinya, Ustadzah Nadia yang saat ini masih terus berjuang meluluhkan hati Linda dan Jacob untuk membuka diri dan mau menemui kedua anak mereka.
"Jaman sudah berganti Lin, orang tua kalian sekarang pasti juga sudah sepuh, tidak akan sekeras dulu. Buktinya Joseph dan Joanne juga bisa hidup dengan tenang, tak terusik oleh teror apapun."
"Mereka tidak mengenal kami, Nad. Syukur alhamdulillah jika mereka bisa tumbuh dan hidup dengan baik. Kami tidak akan mengganggu kebahagiaan mereka saat ini."
"Kamu yakin mereka hidup bahagia tanpa kalian?""
"Hidup dalam keluarga Tanoewidjaya takkan membuat Joseph hidup kekurangan, dibawah pengasuhan Pak Bram dan Bu Suci, Joanne juga pasti jadi gadis paling beruntung saat ini."
"Kenapa hatimu menjadi sekeras ini, Lin. Bukankah kemarin Bu Fatma bilang Joanne sudah memiliki anak? Apakah kalian tidak penasaran siapa suaminya? Siapa nama anaknya? Di mana mereka tinggal sekarang? Kamu sama sekali tidak penasaran?"
"Sudah kami putuskan, semakin sedikit yang kami saling tahu, akan semakin baik untuk mereka."
"Allahumma Yaa Muqollibal Qulub, lembutkanlah hati yang sekeras batu ini Yaa Allah," sengaja Ustadzah Nadia mengeraskan doanya, yang lebih ke arah sarkasme agar Linda bersedia sedikit saja melembutkan hatinya dan menerima keberadaan anak-anaknya.
Sebagai sahabat lama, tentu Ustadzah Nadia memahami keputusan Linda ini disebabkan oleh banyak hal yang terjadi kepadanya. Namun ketika waktu sudah lama berlalu dan Linda masih terpaku pada keadaan di masa lampau sehingga tetap bersikeras untuk abai terhadap keberadaan kedua anaknya cukup membuat Ustadzah Nadia geregetan.
"Kita semua tahu, ujian yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Taala tidaklah ringan, terutama kepada hambanya yang mualaf. Dan kalian sudah berhasil melaluinya, iya kan? Dan saat ini adalah ujian kalian sebagai seorang muslim, apakah kalian telah menjalankan amanah yang diberikan oleh Allah kepada kalian, yaitu anak-anak kalian. Dan ingatlah, tugas menjadi orang tua itu tidak pernah ada habisnya. Sekarang... Kami pamit dulu, jamaah kami sudah menunggu. Kalau kalian berubah pikiran, hubungi kami, jangan ragu. Assalamu'alaikum," Ustadz Al menyudahi usaha Ustadzah Nadia membujuk sahabatnya itu.
Seharusnya semua masukan dan bujukan yang disampaikan oleh istrinya itu sudah cukup, tinggal memberi waktu kepada Jacob dan Linda untuk merenunginya. Mudah-mudahan saja Allah segera membuka dan melembutkan hati mereka berdua.
"Atta'allumu fii shighoori kannaqsyi 'alal hajari watta'allumu fii kibaar kannaqsyi 'alal maai," gumam Ustadz Al di dalam taksi yang helaan nafasnya sampai terdengar oleh Ustadzah Nadia yang duduk di sampingnya.
"Ya, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, dan belajar di waktu besar bagai melukis di atas air. Tapi bukan berarti kita harus berhenti belajar kan?" Ustadzah Nadia menyandar di bahu Ustadz Al dan meraih tangannya yang bersedekap lalu meletakkan di pangkuan, berharap agar sang suami mau bersabar sedikit lagi menghadapi Jacob dan Linda.
Masih ada hari esok.
Dua hari berlalu, besok adalah hari terakhir mereka menjalani sholat arbain di Masjid Nabawi. Sudah tidak ada kecanggungan lagi antara dokter Yusuf dan Yuana, begitu keluar dari hotel mereka terlihat seperti sepasang kekasih, selalu bergandengan tangan seolah takut kehilangan salah satunya. Baru berpisah jika hanya diharuskan berpisah antara jamaah laki-laki dan jamaah perempuan. Sampai tidak menyadari jika sudah dua pagi Ilham tidak bersama-sama mereka.
"Mas Ilham ndak ikut lagi ya?" tanya salah satu dari ibu-ibu jamaah kepada Yuana.
"Hah?" Yuana justru menengok ke dokter Yusuf di sebelahnya yang ternyata juga menatap bingung ke arahnya. Mereka bahkan tidak tahu kalau kemarin ketika bersama-sama pergi ke Bengali Market, Ilham tidak ikut serta.
"Ilham ada urusan sekalian bersilaturahmi dengan temannya," untung saja Bu Fatma segera menimpali hingga tidak ada kecurigaan dari para jamaah dan juga Yuana dan dokter Yusuf.
Karena sebenarnya kemarin dan hari ini, Ilham pergi menemui Jacob dan Linda, berusaha melembutkan hati yang sudah terlanjur keras seperti batu.
__ADS_1