
Sepanjang perjalanan ziarah kota Madinah, Yuana terselimurkan dari beban pikiran. Kisah demi kisah yang dituturkan oleh muthowif di setiap perjalanan menuju destinasi ziarah didengarkan dengan seksama olehnya. Membuat ia semakin antusias untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah itu.
Sedangkan dokter Yusuf yang masih banyak hal yang baru ia dengar dan ketahui tentang sejarah perjuangan Nabi Muhammad itu membuatnya berjanji akan lebih banyak membaca dan mempelajari sepulangnya di tanah air. Tentu saja Ustadz Al senang mendengarnya.
Ketika Yuana memasuki masjid Nabawi dan bersujud di atas sajadahnya, seketika ia merasa menjadi makhluk yang teramat kecil dan tiada memiliki kekuasaan apapun untuk memilih jalan hidupnya. Dan ia pun merasa tak pantas untuk mengeluhkan semua hal yang terjadi padanya karena semua adalah kehendak Allah Yang Maha Kuasa.
Terutama setelah berkunjung ke museum Nabi Muhammad SAW yang berada di depan gerbang delapan masjid Nabawi. Menampakkan sejarah perjuangan Rosulullah selama di Madinah hingga akhir hayatnya. Membuat Yuana merasa perjuangannya selama ini sebagai seorang janda yatim piatu dengan satu anak tidaklah ada apa-apanya. Masih terlalu banyak kenikmatan dan kemudahan yang ia dapatkan dan yang harus ia syukuri.
"Bismillahir rahmaanir rahiim. A’uudzubillahil kariimi wa sulthaanihil qadiimi minasy syaithaanir rajiimi. Allahummaf tahlii abwaaba rahmatika."
Dengan sungguh-sungguh, Yuana membaca doa yang dibaca setiap memasuki masjid Nabawi, sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Ustadz Al sebagai pembimbing jamaah.
Yang artinya, dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, kepada-Nya Yang Maha Mulia dan kepada kekuasaan-Nya Yang Maha Dahulu dari godaan setan yang terkutuk. Ya Allah, bukakanlah bagiku segala pintu rahmat-Mu.
Ustadz Al juga meminta para jamaah untuk memperbanyak membaca sholawat dan menghadiri majlis ilmu yang telah terjadwal di masjid Nabawi atau membaca Al Qur'an atau kitab-kitab yang banyak tersedia. Jangan lupa juga memperbanyak doa-doa baik untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain.
Seperti obor yang terpantik api, semangat beribadah para jamaah berkobar-kobar selama berada di dalam masjid, seakan enggan untuk keluar, kembali ke hotel sekalipun.
Apalagi ketika bisa mendapatkan kesempatan untuk bersujud, sholat dua rakaat di dalam Roudloh, taman dari taman-taman surga, tempat yang mustajab untuk melangitkan doa, setelah bersusah payah mengantri setiap bakda subuh. Tak ada satu orang pun yang tidak menitikkan air mata ketika bersujud di dalamnya.
"Jangan lupa dibaca setelah sholat dua rokaat, lalu barulah kau pinta segala hajat-hajatmu. Insya allah mustajab," pesan Ustadzah Nadia sambil menunjukkan halaman yang memuat doa di raudlaoh pada buku pedoman umroh yang dibawa masing-masing jamaah.
"Yaa Baaqiyal 'izzi wal 'azhamati, wa daaimas sulthaani wal qudrati, wa syadiidal bathsyi wal quwwati, nafidzal amri wal iraadati, wa waasi'ar rahmati wal maghfirati, wa rabbad dun-yaa wal aakhirati.
Kam min ni'matin laka 'alayya yaqshuru 'an aysarihaa hamdii, wala yablughu adnaahaa syukrii. Wa kam min shanaai'a minka ilayya laa yuhiithu bikatsiirihaa wahmii, walaa yuqayyiduhaa fikrii."
Yang artinya, wahai Yang Kekal kemuliaan dan keagungan-Nya,Yang Abadi kekuasaan dan kemampuan-Nya, Yang amat keras siksa dan kekuatan-Nya, Yang pasti terlaksana perintah dan kehendak-Nya, Yang Maha Luas rahmat dan ampunan-Nya, wahai Tuhan (Pemelihara) dunia dan akhirat. Betapa banyak nikmat yang Engkau karuniakan kepadaku, sehingga aku tak sanggup dan tak mudah menyampaikan pujian pada-Mu, dan tak akan berimbang dengan rendahnya rasa syukurku kepada-Mu. Betapa banyak karunia yang Engkau curahkan kepadaku, sehingga keinginanku tak sanggup menjangkaunya, dan pikiranku tak mampu membatasinya.
Tak henti-hentinya air mata Yuana meleleh ketika bersimpuh dan berdoa di Roudloh, bayangan mendiang ayah dan ibu yang melintas dalam pikirannya semakin memperderas air mata tatkala mendoakan mereka berdua. Ia seperti tidak rela jika kedudukan keduanya sebagai orang tua tergantikan oleh keberadaan orang tua kandung yang selama ini tidak ia ketahui.
Yuana pun memohon petunjuk kepada Allah Subhaanahu wa Taala bagaimana ia harus menyikapi keberadaan orang tua kandungnya ini.
Saat ini adalah hari keempat mereka di kota Madinah, masih ada empat hari lagi untuk memenuhi program sholat arbain, yakni melakukan jamaah sholat fardlu sebanyak empat puluh waktu di masjid Nabawi.
Dan selama empat hari tersebut masing-masing diperkenankan untuk melakukan ibadah secara mandiri, meskipun kebanyakan melakukan secara bersama-sama sesuai kesepakatan jamaah.
Pada umumnya mereka memilih melakukan iktikaf sebanyak-banyaknya di masjid, tujuannya jangan sampai tertinggal satu pun sholat fardlu berjamaah.
Namun tidak sedikit juga yang di pagi harinya ingin menjelajahi kota Madinah ini entah sendirian atau bersama yang lain. Selama tidak memiliki kendala bahasa, pendamping atau muthowwif pasti mengijinkan.
Dan biasanya dimanfaatkan oleh jamaah untuk berjalan-jalan ke pertokoan atau mall terdekat untuk membeli oleh-oleh bagi kerabat di tanah air atau menjelajahi berbagai macam kuliner, makanan khas timur tengah.
Itu juga yang dilakukan oleh Bu Fatma. Dari pagi setelah sholat dhuha, ia sudah heboh dengan toko mana saja yang harus didatangi. Daftar benda-benda yang harus dibeli pun sudah tercatat rapi di buku memonya.
__ADS_1
Ilham hanya pasrah melihat kebiasaan ibunya itu setiap berada di Madinah. Sedangkan Yuana dan dokter Yusuf yang baru pertama kali berada di kota Madinah, tentu saja antusias dengan ajakan Bu Fatma. Apalagi dijanjikan akan diajak makan siang di restoran khas timur tengah yang terkenal di kota itu.
Sebenarnya Bu Fatma memiliki tujuan sendiri kenapa mengajak Yuana dan dokter Yusuf untuk berjalan-jalan membeli oleh-oleh. Beliau menargetkan hari ini kebutuhan membeli ini dan itu harus sudah rampung, kemudian memberi tahu mereka berdua secara perlahan tentang keberadaan Jacob dan Linda di kota ini. Dan hal itu akan beliau sampaikan ketika makan siang nantinya.
Beliau harus memastikan bagaimana perasaan keduanya terhadap kedua orang tua kandung Yuana dan dokter Yusuf, barulah Bu Fatma bisa menentukan akan mempertemukan mereka atau tidak, sesuai dengan nasihat dan arahan dari Ustadz Al. Karena walau bagaimana pun keadaannya baik Bu Fatma atau siapa pun tidak dapat memaksakan kehendak kepada mereka.
Dengan pasrah Ilham mengekor setiap langkah Bu Fatma dan Yuana dengan beberapa tentengan di tangan kanan dan kirinya. Semua adalah hasil lapar mata Bu Fatma dan Yuana.
Sedangkan dokter Yusuf tak jauh beda, tetapi tentengan yang berada di kedua tangannya adalah oleh-oleh yang sengaja ia beli sendiri untuk keluarga besarnya, yakni keluarga Tanoewidjaya, beberapa keponakan papah Rudi dan beberapa rekanan dokter dan perawat di rumah sakit.
Empat puluh menit lagi masuk waktu dhuhur, mereka bergegas kembali ke hotel untuk meletakkan barang belanjaan dan membersihkan diri untuk menanti adzan dhuhur. Sebelum adzan, mereka sudah berada di dalam masjid Nabawi.
"Kita cari restoran paling enak. Mau yang Indonesia, western, oriental atau khas timur tengah nih?" tanya Ilham ketika mereka berempat sudah berada di lobi hotel. Ia hendak memesan taksi ke petugas resepsionis.
"Timur tengah dong, jauh-jauh ke sini ngapain cari urap-urap," jawab dokter Yusuf sekaligus menyindir Ilham yang kemarin malam bingung mencari sayur urap seperti orang mengidam.
"Memang ada resto oriental di sini?" tanya Yuana dengan heran.
"Ya banyak."
"Ummah pingin lahmun mandi saja, Ham. Ilham boleh makan kambing kan, Suf?"
"Boleh saja, Ummah. Lebih boleh lagi makan makanannya kambing," seloroh dokter Yusuf yang dibalas kepalan tangan Ilham yang mengarah padanya.
Yuana ikut terkikik melihat gurauan kedua lelaki yang tanpa disadari mulai disayanginya itu.
Selama di dalam taksi mereka membahas menu yang diinginkan, akhirnya begitu memasuki pintu restoran, Ilham mempersilahkan yang lain untuk berjalan ke arah kanan menuju tangga ke lantai dua tempat area makan di tempat berada.
Bu Fatma mencari jalasah yang kosong atau bilik tempat makan lesehan yang di mata Yuana dan dokter Yusuf mirip kubikel kantor-kantor, sementara Ilham menuju meja kasir untuk memesan makanan.
Lahmun mandi, dajjaj biryani, pistachio kunafah, samosa, churros, mixed salad dan jus jeruk serta delima.
Yuana dan Bu Fatma duduk di dekat jendela, sehingga bisa menikmati pemandangan di jalan King Abdul Aziz. Deretan pohon kurma yang berbaris rapi di marka jalan, lalu lintas yang lumayan lengang jika dibandingkan dengan di tanah air. Beberapa gedung apartemen dan pertokoan juga terlihat dari ia duduk.
Cuaca yang cukup terik dan panas tampak di luar, sangat khas daerah gurun di tanah Arab berbanding terbalik dengan keadaan di dalam ruangan yang cukup sejuk karena berpendingin ruangan.
Bu Fatma cukup puas dengan restoran pilihan Ilham kali ini, karena suasananya sangat mendukung niatnya untuk membahas tentang Jacob dan Linda kepada Yuana dan dokter Yusuf.
Dipandanginya dokter Yusuf dan Yuana, Yuana yang sedang bertopang dagu menikmati pemandangan di luar dan dokter Yusuf yang duduk menunduk di dekat pintu masuk bilik memainkan gawai di tangannya.
Memang ada kemiripan yang sangat kentara jika diperhatikan walaupun tentu ada perbedaan karena versi laki-laki dan versi perempuan. Alis, sama-sama lurus tetapi milik dokter Yusuf sedikit lebih tebal. Mata yang sedikit sipit di ujungnya, lebih bulat sedikit milik Yuana. Hidung, dokter Yusuf persis seperti Jacob sedangkan Yuana lebih mirip Linda. Warna kulit juga sama walaupun tonenya lebih terang milik Yuana.
Tak sabar rasanya Bu Fatma segera mempersatukan mereka sebagaimana seharusnya. Begitulah Bu Fatma, perempuan berhati lembut yang digembleng oleh kedermawanan Abah Haikal, suaminya. Selalu totalitas dalam membantu orang lain.
__ADS_1
Ilham menyusul masuk ke dalam bilik jalasah. Setelah ia duduk, ia pun tak ubahnya seperti dokter Yusuf, membuka layar gawainya lalu terlarutke dalamnya. Bu Fatma hanya bisa menghela nafas melihat keduanya.
"Urusan pekerjaan, sebentar saja, Ummah," Ilham mengerling ketika ibunya berdehem kepadanya. Yuana hanya melirik sebentar ke arahnya lalu kembali memandang ke arah luar jendela.
"Bu, apakah ibu kenal keluarga Tanoewidjaya?" tanya Yuana pada Bu Fatma, dengan suara pelan nyaris bergumam sebenarnya.
"Siapa yang tidak tahu keluarga Tanoewidjaya, di kalangan pebisnis mereka cukup populer. Tapi ibu hanya tahu saja, tidak kenal."
"Jika Yuana benar-benar cucu keluarga mereka bagaimana?"
"Ya tidak bagaimana-bagaimana, Nduk. Kita memang tidak bisa memilih dari rahim siapa kita dilahirkan, dari benih siapa kita tercipta. Tapi kita bisa memilih, menjadi anak berbakti atau tidak. Itu saja. Tanyakan saja pada hati nuranimu, kamu ingin menjadi anak seperti apa?"
"Tapi Yuana lebih tenang dengan kehidupan Yuana selama ini, Bu. Yuana pasti tidak bisa menyesuaikan diri dengan keluarga Tanoewidjaya. Apa sebaiknya memang seperti ini saja, seperti keinginan orang tua kandung Yuana, anggap saja mereka tidak pernah ada, dan Joanne bukanlah Yuana, agar Yuana bisa hidup tenang," Yuana seperti bergumam sendiri, namun ternyata terdengar oleh dokter Yusuf.
"Lalu bagaimana denganku? Bagaimanapun kita harus menemukan mereka, biar jelas, tidak mengambang seperti sekarang. Agar aku... bisa benar-benar berhenti mengejarmu," dokter Yusuf selalu saja emosional mendengar tentang orang tua kandungnya.
Ia pun sebenarnya ingin mendengar bahwa semua hanyalah ilusi, hanya karangan orang iseng saja. Tapi tidak mungkin orang seperti papah Rudi berbohong, begitupun dengan dokumen resmi akta kelahiran milik Yuana dan... dirinya.
Ya, dokter Yusuf baru menyadari jika akta kelahirannya bukanlah yang sebenarnya ketika papah Rudi memintanya melihat tanggal akta tersebut dikeluarkan. Akta kelahiran yang keluar saat usianya sudah menginjak enam tahun. Saat papa Rudi membawa dokter Yusuf kecil yang menderita depresi keluar dari rumah besar yang membuatnya trauma kala itu. Akta kelahiran yang diterbitkan dengan kekuatan uang tentunya.
"Naah makanannya sudah datang!"
Tak lama kemudian memang makanan datang diantar oleh salah satu petugas restoran, sesuai pesanan.
"Obrolannya dipending dulu ya, kita fokus mensyukuri nikmat Allah yang ada di depan mata saja, oke?"
Awalnya dokter Yusuf bingung dengan cara makan dua piring besar nasi mandi dan biryani yang ada di hadapannya sekarang ini, namun kemudian ia yang akhirnya paling heboh berebut lauk terakhir yang ada di piring itu.
"Enak ya? Lapar apa doyan?" sungut Ilham gara-gara kalah cepat dengan dokter Yusuf.
Yuana menahan tawa, menutup mulutnya yang masih penuh nasi dengan tangan.
Sementara Bu Fatma mengulas senyum melihat kehebohan ketiga anaknya yang berebut makanan seperti anak kecil. Mungkin karena ini pengalaman mereka bertiga makan bersama dari piring yang sama.
Ilham menumpuk dua piring yang telah habis isinya itu, kemudian mengumpulkan remah-remah yang tercecer akibat aksi berebut tadi dan menyingkirkannya ke tepi bilik lalu membersihkan tangan dengan air yang telah disediakan. Berganti kudapan dan minuman yang ia geser ke tengah.
"Silahkan, Ummah. Waktu dan tempat dipersilahkan," ucap Ilham seolah ia seorang moderator sebuah diskusi.
Bu Fatma yang mengetahui maksud ucapan Ilham pun memandangi Yuana dan doker Yusuf bergantian, berusaha merangkai kalimat yang tepat untuk menyampaikan tujuannya.
Dengan beberapa pertimbangan akhirnya Bu Fatma lebih memilih untuk berbicara langsung pada intinya, yang membuat dokter Yusuf dan Yuana tergemap mendengarnya.
"Ummah sudah menemui Jacob dan Linda."
__ADS_1
"Kapan?"
"Di mana?" tanya Yuana dan dokter Yusuf bersamaan.