HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 38 DEJAVU


__ADS_3

Dengan lamat, Ilham menatapi wajah Yuana. Mata bulat dengan bulu mata yang lentik, alis yang melengkung indah tidak tebal tidak pula tipis, ujung hidung yang hampir menyentuh ujung hidungnya.


Pipinya yang putih dan halus terlihat merona terkena cahaya matahari yang dibiaskan oleh kain berwarna baby pink yang menutupi kedua wajah mereka. Dan bibir bulat kecil yang sedikit terbuka itu cukup menarik perhatiannya. Seperti ada dorongan dalam diri untuk menyentuhnya.


'Apa aku bisa mengulangnya?'


Ilham remaja duduk selonjoran di tepi lapangan dengan teman-teman seregunya, dengan Amar di sebelah kirinya. Keringat yang membanjiri tubuhnya membuat lengket kaos yang dipakainya.


Meneguk air mineral langsung dari botol sambil mengibas-ibaskan kaos di perutnya agar bisa merasakan kesejukan.


Berpartisipasi membantu Amar bertanding sepak bola egrang mewakili pondok pesantren Kyai Marzuki melawan pondok tetangga cukup seru mengisi libur sekolahnya. Pertandingan olahraga dalam rangka milad pondok pesantren waktu itu.


Saat itu, waktu istirahat menanti dimulainya babak final setelah regunya memenangkan pertandingan semi final.


Entah kenapa, panitia membiarkan egrang, yakni bambu yang dibentuk seperti tongkat yang memiliki tumpuan kaki yang terbuat dari kayu, dipakai bermain-main anak-anak. Ilham menengok sebentar lalu fokus memandang ke tengah lapangan.


Sekilas tadi terlihat beberapa anak seusia sekolah dasar, yang sebagian besar anak 'keluarga dalem' dan asatidz, antusias mencoba berjalan berpijak pada egrang.


Salah satunya seorang anak perempuan dengan rambut sebahu yang dikuncir dua.


Anak itu terlihat sudah mulai bisa menguasai permainan egrang. Terbukti dengan ia bisa berjalan beberapa langkah melingkar kembali menuju tempat ia naik egrang tadi.


Namun saat usahanya yang ketiga ia kehilangan kendali. Langkah yang terlalu cepat membuat ia tak dapat mengendalikan egrang di pegangan tangannya.


Langkah yang terlalu cepat membuatnya tak sengaja seperti lari ke arah Ilham dan kawan-kawannya dan akhirnya terjatuh tepat di atas Ilham yang tidak menyadari keadaan itu.


Ilham terdorong telentang dengan anak gadis itu tepat di atas tubuhnya. Kening Ilham terasa nyut-nyutan. Ilham terdiam memandang lekat wajah dengan mata bulat berbulu mata lentik itu. Mau marah jadi tidak tega. 'Anak ini menggemaskan,' batin Ilham sambil mengecup sekilas bibir mungilnya.


Ilham remaja yang mulai beranjak masa puber, meskipun ia sama sekali tidak tertarik untuk menikmati masa-masa cibta monyet yang sama sekali tidak berguna untuk masa depannya itupun pernah khilaf. Kekhilafan spontan yang membuatnya semakin gigih untuk meraih kesuksesan di usia muda.


Anak gadis itu ternyata bukan hanya ketakutan, matanya yang membulat karena takut dimarahi juga menahan sakit di tulang hidungnya hingga tak menyadari apa yang dilakukan Ilham baru saja. Dan ketika melihat ada darah menetes ke wajah Ilham dari hidungnya, seketika anak itu menangis dengan kencang. Semakin takut.


Peristiwa yang cukup menyita perhatian. Ada yang berusaha menolong anak itu, ada yang memarahi anak-anak lain agar tidak bermain-main dengan egrang lagi, ada pula yang menertawakan nasib Ilham.


"Siapa anak itu?" tanya Ilham pada Amar yang berusaha menolongnya untuk duduk.


"Anak donatur sepertinya. Yang jelas bukan keluarga dalem."


"Yuana!" teriak seorang ibu yang terlihat masih muda dan cantik, yang baru datang karena terlambat mengetahui anaknya celaka.


Ilham yang mendengar suara ibu-ibu tersebut, mencatat baik-baik dalam ingatannya. "Yuana."


Dejavu.


"Bunda! Ayah!" teriakan Nabila mengagetkan Ilham dan Yuana.


Yuana yang tadi kesulitan untuk bergerak akhirnya bisa berdiri ketika Ilham melonggarkan pelukan di pinggangnya. Dengan cepat ia merapikan jilbabnya.


Tersenyum kikuk memutar badan ke arah Nabila yang berada di depan pintu besi. Kembali memucat dan menunduk ketika menyadari bahwa berdiri tepat di belakang Nabila, Bu Fatma yang memandang Ilham dan Yuana bergantian.


"Jangan salah paham, Ummah. Tadi Yuana kesrimpet, kakinya terbelit ujung roknya, jadinya tersungkur nabrak Ilham," kelit Ilham saat Bu Fatma memicingkan mata ke arah Ilham. Jelas-jelas Bu Fatma melihat kedua tangan Ilham melingkar erat di pinggang Yuana.


Cepat-cepat Ilham berdiri dan menepuk-tepuk celananya. Lalu berjalan ke arah Bu Fatma, menggamit lengan ibu yang sangat disayangi itu dan menggandengnya kembali ke rumah utama.


Sengaja ia berjalan sedikit di belakang Bu Fatma agar ibunya itu tidak melihat bahwa tangan yang satunya sedang mengusuk-kusuk perut bekas operasi yang tiba-tiba terasa nyeri.

__ADS_1


"Dasar anak nakal! Kenapa tidak bilang kalau mau pulang, setidaknya ummah bisa jemput, bisa pamitin baik-baik sama Gus." Bu Fatma mencoba untuk kembali fokus dan tidak berpikir macam-macam.


"Ilham tidak mau merepotkan Ummah, sesekali naik taksi tidak apa-apa, berbagi rejeki juga kan? Sekarang gimana Ummah, Azyan bilang masih sering pusing," Ilham mengalihkan perhatian, sambil mendudukkan Bu Fatma di sofa setelah mereka sampai di ruang keluarga. Ia pun ikut duduk di samping beliau.


"Alhamdulillah, sudah mendingan. Bawaan usia ini, gak boleh banyak pikiran kata dokter."


"Ilham kangen banget, Ummah," Ilham menggeser sedikit duduknya lalu merebahkan kepala di pangkuan ibunya itu.


Bu Fatma tersenyum dengan tindakan manja Ilham. Anak kesayangannya itu tidak pernah berubah, mandiri di luar tetapi sangat manja pada ibunya.


Diusap-usapnya rambut Ilham sambil menceritakan banyak hal. Tentang kesehatannya, tentang perusahaan, tentang Rahmat dan Annisa, juga tentang kegiatan sosial keluarga mereka.


Di saat Bu Fatma hendak menyinggung tentang Yuana, terdengar dengkuran halus, rupanya Ilham tertidur dalam pangkuannya.


Bu Fatma tersenyum, ia senang akhirnya Ilham bisa kembali ke rumah.


"Yaa Allah, ridloilah anakku Ilham, sebagaimana aku ridlo kepadanya. Ampunilah segala khilafnya. Berikanlah keberkahan umur, keberkahan rizqi kepadanya. Jauhkanlah ia dari segala bala. Ilaa ruhaniati Ilham Adelio,


A'udzubillahiminasysyaitoonirrojiim. Bimillaahirrohmaanirrohiim. Alhamdulillaahi robbil'aalamiin. Arrohmaanirrohiim.


Maaliki yaumiddiin.


Iyyaaka na'budu wa iyaaka nastaiin.


Ihdinasshiroothol mustakiim.


Shirootolladziina an amta 'alaihim ghoiril maghdluubi 'alaihim waladldloolliin. Aamiin."


Mengusap-usap kepala sambil melantunkan doa, lalu membacakan Al Fatihah dan meniupkan ke ubun-ubun Ilham.


Rutinitas yang bu Fatma lakukan sedari Ilham kecil bahkan hingga dewasa seperti saat ini. Tanpa mengenal waktu, tanpa merasa bosan.


Kondisi Bu Fatma yang masih belum bisa dikatakan fit, serta masih dalam pengaruh obat, membuat beliau tanpa terasa ikut tertidur berbantalkan sandaran sofa dengan Ilham tetap tertidur di pangkuannya.


Sementara di paviliun, Yuana mengajak Nabila mencoba berjalan tanpa alas kaki di atas rumput sintetis. Lebih tepatnya mengalihkan perhatian putrinya itu dari hal tak baik yang baru saja ia lihat. Juga demi menetralkan hatinya dari rasa terkejut, takut, marah, jengkel dan malu yang bercampur aduk jadi satu.


Terkejut karena suara dentuman pintu besi, takut akan reaksi kemarahan Ilham nanti, marah karena merasa seolah Ilham memanfaatkan situasi tadi, dan jengkel karena ucapan Ilham pada ibunya yang sedikit menyudutkannya. Ia khawatir Bu Fatma semakin salah paham padanya dengan mengira Yuana sengaja berpura-pura jatuh ke arah Ilham. Ia pun malu teramat sangat karena posisi absurdnya tadi dilihat oleh Bu Fatma dan terlebih oleh Nabila anaknya.


"Tenapa pipi bunda jadi menah? Bunda sakit?"


"Ah tidak apa-apa sayang, bunda hanya sedang lelah saja. Karena baru selesai pasang rumput ini. Gimana, bagus tidak? Nyaman tidak main di sini?"


"Badus, Bunda... Tamanna dadi tantik. Bila sama Asiyan boleh main di sini?"


"Tentu saja boleh, tapi sekarang kita masuk dulu ya. Sudah masuk waktu dhuhur, kita sholat dulu trus ngapain coba?"


"Tenus maem tenus bubuk siang."


"Pinter anak bunda"


Yuana merasa sedikit lega karena Nabila sudah melupakan pemandangannya tadi. Mereka pun akhirnya masuk ke dalam paviliun. Tak menyadari jika dari satu-satunya balkon lantai dua rumah utama yang menghadap taman, ada seseorang yang sedikit melongokkan tubuhnya di atas pagar memperhatikan interaksi keduanya.


Setelah mengetahui ibunya ikut tertidur, Ilham pelan-pelan bangun dan beranjak menuju kamarnya. Ketika sudah berada di dalam kamar, ia mendengar suara Nabila dari arah balkon. Pasti Nabila sedang berbincang dengan Yuana, pikirnya, sehingga Ilham pun bergegas mengendap-endap menuju balkon dan mengintip keduanya.


"Rupanya mereka ibu dan anak," desahnya.

__ADS_1


Dengan langkah gontai, Ilham berjalan menuju tempat tidurnya. Mengambil handphone di atas nakas lalu menjatuhkan punggungnya di atas kasur.


"Rief, antar aku!"


Dan di sinilah akhirnya ia berdiri, dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Berulangkali ia mencoba mengambil nafas dalam-dalam. Ingin marah, semarah-marahnya. Seakan amarah yang ia timbun sedikit-demi sedikit di dalam hatinya sudah tak terbendung lagi.


Seandainya yang ia hadapi berdiri tepat di hadapannya, mungkin ia bisa menghujaninya dengan beberapa bogeman mentah. Paling tidak ia bisa melepaskan semua yang ia pendam selama ini dengan tindakan fisik yang nyata. Tapi kenyataannya tidak.


Ilham hanya bisa memandangi gundukan tanah berselimut rumput halus dan sebuah nisan di salah satu ujungnya. Sebuah batu nisan yang terbuat dari granit hitam bertuliskan "AMAR NASIRUDDIN".


Berputar-putar dalam ingatan Ilham, bagaimana Amar memohon maaf sekaligus memohon doa restu ketika hendak menikah dengan Yuana. Bagaimana Amar yang selalu mengadukan kesulitan perusahaan orangtua Yuana yang membuat Ilham selalu ikut bersusah payah mencarikan solusi.


Lalu mendengar cerita dari Arief sepanjang perjalanan ke Makobu Hill, secara mendetail tentang keadaan Yuana kenapa sampai harus tinggal di paviliun miliknya.


Entah bagaimana menggambarkan perasaan Ilham sepanjang perjalanan tadi. Rasa sedih, marah, geram dan lebih kepada rasa kecewa, menumpuk jadi satu mengaduk-aduk dalam dada.


Psithurism, angin yang cukup kencang menerpa tubuh, beberapa daun kering yang ikut menerpa, tak membuat dirinya bergeming.


Arief yang merasa sudah berhati-hati dalam menyampaikan informasi, hanya bisa berdiri dengan gelisah di gerbang blok makam Amar, khawatir jika Ilham melakukan hal-hal yang tidak masuk akalnya. Mengumpat-umpat, mengamuk atau membongkar makam misalnya.


Ia celingukan melihat blok-blok pemakaman yang lain, apakah ada orang lain di pemakaman itu. Untung saja suasana sepi, mungkin karena siang hari yang sangat terik, bukan waktu yang tepat untuk berziarah memang.


Namun ia bisa tersenyum lega, karena ternyata Ilham tetaplah Ilham, yang selalu bisa mengendalikan dirinya, semarah apapun ia, sekecewa apapun itu.


Arief memang tidak tahu tentang masa lalu Ilham dengan Amar, tapi ia dapat merasakan ada hal yang tidak biasa di antara mereka. Tentang sikap Bu Fatma pada Yuana dan kemarahan Ilham pada almarhum Amar setelah memintanya menceritakan semua hal yang ia tahu tentang Yuana.


Tiba-tiba saja, suara Ilham yang sedikit terdengar menggeram, memecahkan suara psithurism, membuat Arief bergidik ngeri.


"Kutitipkan dia padamu, kuminta kau jaga dia untukku, kau malah menikahinya! Lalu kuminta kau membahagiakannya, kau malah menyeretnya dalam kesusahan! Dan sekarang... dengan cara seperti apa kau kirim dia ke rumahku, hah! Tidakkah kau berani menghadapiku secara langsung? Pengecut!"


Arief semakin takut dan khawatir, karena ia tidak menceriterakan secara menyeluruh karena menghilangkan cerita tentang donor kadaver, karena baik Bu Fatma ataupun Yusron meminta Arief untuk merahasiakannya dari Ilham dan Yuana terlebih dahulu. Karena mereka yang akan menjelaskan sendiri di waktu yang tepat.


"Rief."


Bergegas Arief berjalan mendekat kepada Ilham yang memanggilnya.


"Bagaimana status Yuana di paviliun?"


"Mbak Yuana terikat kontrak selama satu tahun mulai terhitung sebulan yang lalu. Apa saya harus membuat pembatalan perjanjian kontrak itu?"


"Justru kamu cari cara, apa saja untuk memperpanjang masa kontrak. Kalau bisa selamanya, jangan sampai kontrak itu berakhir!" tekan Ilham sambil menunjuk dada Arief.


"Baik, Pak." Arief hanya bisa mematuhi perintah Ilham, berpikir keras mencari benang merah dari hubungan masa lalu Ilham, Amar dan Yuana.


Ilham sendiri sebenarnya masih terkejut dan tidak menyangka, Yuana lah, seseorang yang dikatakan oleh Bu Fatma yang merawat taman dan paviliun. Taman dan paviliun yang sengaja ia bangun untuk dipersembahkan kepada seseorang yang telah terpatri di dalam hatinya. Seseorang yang dengan sekuat tenaga ia coba lupakan dan ikhlaskan.


Ia bingung bagaimana harus menyikapi kondisi ini. Apakah masih ada rasa dan asa yang sama di hatinya setelah banyak hal terjadi dalam hidupnya? Haruskah ia melupakan semua, memulai dari awal dengan menyuruhnya pergi? Lalu bagaimana jika hal itu justru berarti mengulang kesalahan yang sama seperti di masa lalu?


"Aaaaaaaaaaghrr!"


Ilham mengurai ikatan rambutnya yang panjang melebihi bahu, mengacak-acaknya dengan kesal lalu berjongkok dan meletakkan kepalan tangannya di atas batu nisan.


"Kau tahu!? Hal apa yang paling sulit kulakukan sepanjang hidupku ini? Melupakannya! Mengikhlaskannya! Dan itu sudah kulakukan... Untukmu! Untukmu, Amaaar. Untuk persahabatan kita dulu. Karena kamu satu-satunya orang yang aku anggap sahabat, selama ini. Sekarang, katakan padaku! Apa yang harus kulakukan untuknya. Katakan! Katakan, Mar!!"


Dengan suara parau, Ilham berbicara pada batu nisan itu. Kepalan tangannya bahkan menampakkan guratan-guratan ungu kehijauan dari urat tangan yang menegang.

__ADS_1


Lalu tiba-tiba Ilham menangis sesenggukan, ia coba mendongakkan wajahnya agar air matanya tidak menetes.


"Aku tidak tahu, sekarang aku masih memiliki hati atau tidak, sekalipun itu untuknya. Bahkan hati dalam tubuhku ini saja bukan milikku. Bagaimana aku harus menghadapinya sekarang?"


__ADS_2