HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 7 GELISAH TAK BERUJUNG


__ADS_3

"Tenapa buya beldalah ya Bunda?"


DEG...


Kenapa rasa ini kembali hadir. Rasa yang sama ketika Yuana harus kehilangan kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya kala itu sedang dalam perjalanan pulang dari luar negeri, menghadiri Fashion Festival Week dua tahun silam. Biasanya ia ikut menghadiri festival itu seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun karena ia baru melahirkan Nabila waktu itu sehingga tidak bisa ikut.


Perasaan sesak yang dirasakan Yuana sebelum datang kabar kecelakaan pesawat yang ditumpangi kedua orang tuanya. Ledakan pada sayap pesawat menyebabkan pesawat jatuh ke Samudra Hindia dan tak ada satu awak atau penumpang yang selamat.


Perasaan itu sama persis seperti yang sedang ia rasakan saat ini.


Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya. Sejenak ia merasa berada dalam sebuah ruang kosong yang sempit dan gelap. Gelisah dan ketakutan mendominasi perasaannya sekarang.


"Yaa Allah... lindungilah suami hamba, mudahkan jihadnya dalam mencari nafkah untuk kami." suara batin Yuana, mendoakan suaminya, berharap sedikit mengurangi perasaan gundah dalam hatinya.


Sampai terasa ada sepasang tangan mungil mengusap kedua pipinya. Mengerjap Yuana menatap dua bola mata yang bulat jernih di hadapannya.


"Bunda tenapa nangis? Bila minta maap... Bila sayang bunda..." lirih Nabila yang kemudian jadi terisak dan merengkuh masuk dalam pelukan Yuana.


Seolah tabir yang menutupi pandangannya tadi lenyap, Yuana kembali pada kenyataan bahwa ia sekarang sedang duduk di ruang tamu dengan memeluk Nabila, buah hatinya. Diciumi pucuk kepala sang putri.


"Iya sayang... bunda tidak apa-apa, tadi ada debu masuk ke mata bunda, jadinya perih. Bunda juga sayaaaaang sama Bila," seru Yuana sambil mengeratkan pelukannya.


Ketika melihat lukisan hasil finger print yang tergeletak di sampingnya, teringat pertanyaan Nabila tentang buya kenapa berdarah. Seketika diambilnya handphone yang ia letakkan di rak persis di atas kepalanya. Langsung dicoba menghubungi suaminya, berdering, tapi tidak diangkat.


Menepis gelisah, dicoba sekali lagi. Berdering, tapi tetap tidak diangkat sampai panggilan terputus secara otomatis. Digenggamnya erat handphone tersebut.


Terdengar suara adzan dari masjid yang tidak jauh dari rumahnya.


Biasanya Amar selalu berhenti untuk menunaikan sholat terlebih dahulu. Dicobanya sekali lagi menghubungi suaminya. Masih berdering dan lagi-lagi tidak diangkat. Beralih ke video call, berdering dan tetap tidak terhubung.


Kali ini Yuana menyerah, ia letakkan kembali handphone pada rak dinding tempat ia biasa menyimpan handphone dan kunci. Ia beranjak dan mengajak putrinya untuk sholat Dhuhur.


"Ayo Sayang... kita sholat dhuhur dulu. Kita doakan buya agar tidak terjadi apa-apa, selalu sehat dan dilancarkan kerjanya ya," ajak Yuana pada putrinya.

__ADS_1


Nabila memang masih kecil, masih berusia dua tahun, bahkan bicarapun masih belum fasih. Namun Yuana selalu membiasakan untuk mengajak Nabila sholat, meskipun pada kenyataannya, lebih sering bermain atau duduk diam di samping bundanya.


Selesai menjalankan sholat, tak lupa membaca sholawat dan dzikir, lalu berdoa. Doa untuk dirinya sendiri, agar selalu mendapat nikmat iman dan Islam. Doa untuk keluarga, agar selalu mendapat keberkahan dunia akhirat. Lalu doa untuk kemaslahatan umat. Tak lupa doa khusus untuk keselamatan suaminya yang sedang berjuang mencari nafkah serta doa agar diberi ketenangan dari rasa gelisah yang tak berujung.


Setelah menyelesaikan sholat dhuhur, rasa gelisah yang dirasakan Yuana sedikit berkurang. Kemudian Yuana membuatkan Nabila segelas susu. Setelah itu ia mengajak Nabila untuk tidur siang sebagaimana biasanya, karena ia pun merasa butuh tidur siang sebentar.


"Sayang... kita boci dulu ya," ajak Yuana.


"Boci? itu apa bunda?" tanya Nabila.


"Booo Ciii... bobok... ciyaaaang," jawab Yuana sambil menggendong Nabila ke kamar. Sedikit mengayun-ayun dan mencium pipi gembilnya. Nabila tertawa-tawa renyah jadinya.


Ada banyak manfaat yang bisa didapat dari tidur siang. Tidak hanya bagi anak-anak, tapi juga untuk orang dewasa. Tidur siang selama 20 sampai 30 menit saja sudah cukup untuk mendapat manfaat tersebut. Diantaranya dapat meningkatkan daya ingat, pikiran tetap produktif, memperbaiki suasana hati, meningkatkan kewaspadaan, meningkatkan kesabaran, juga meningkatkan kreativitas.


Dan benar juga... setelah tiga puluh menit tidur siang, sekedar memejamkan mata sebenarnya, Yuana terbangun dalam keadaan lebih fresh dan perasaan tenang. Perlahan ia turun dari ranjang, memastikan agar Nabila tidak ikut terbangun, karena anak usia balita seusia Nabila membutuhkan waktu tidur lebih banyak.


Berjalan ke belakang rumah sambil menyepol rambut panjangnya ke atas. Diambilnya keranjang cucian lalu mengangkat jemuran yang sudah kering dan meletakkan ke dalam kamar. Dilihatnya Nabila masih tertidur pulas, tidur menungging di atas guling. Sungguh menggemaskan.


Bergegas Yuana membersihkan rumahnya, tak lupa memakai jilbab instan ketika hendak membersihkan halaman rumah.


"Eh iya selamat sore juga Nak Yuana, Nabila masih tidur yaa," jawab Bu Marta lemah lembut.


"Iya Bu...Bila masih tidur. Saya ke dalam dulu Bu," pamit Yuana karena ia telah selesai duluan.


Setelah membersihkan diri, Yuana ke dapur untuk memasak. Biasanya setelah bangun tidur dan mandi, Nabila pasti lapar. Dan Yuana memang terbiasa memasak untuk sekali makan saja, jadi selalu fresh. Kali ini ia masak orem-orem tempe dan telur puyuh. Sederhana, namun jadi makanan favorit suaminya.


Ketika orem-orem sudah hampir masak, tiba-tiba ujung dasternya terasa ditarik-tarik. Ternyata Nabila sudah bangun dan menghampirinya ke dapur.


"Eeh... anak bunda sudah bangun. Kenapa tidak panggil bunda tadi, hm?"


"Bila tan uda besal bunda... bisa banun sendili."


"Iya... anak bunda sekarang sudah besar, makin pinter makin sholihah," ucap Yuana sambil mengelus-elus rambut buah hatinya tersebut. Mematikan kompor lalu Yuana mengangkat Nabila tinggi-tinggi dan membawanya ke kamar mandi. Nabila menjerit lalu tergelak karenanya.

__ADS_1


Setelah rutinitas mandi, sholat ashar dan makan, Yuana mengajak Nabila belajar menulis. Lebih tepatnya sih mencorat-coret di atas kertas, untuk melatih gerak motorik halusnya.


Saat sedang asyik menemani Nabila belajar, terdengar suara panggilan masuk di handphone Yuana.


...Buya Bila😘...


...memanggil...


"Alhamdulillah mas Amar akhirnya menelpon... berarti tidak ada apa-apa," batin Yuana saat tangannya meraih handphone dan menggeser icon bergambar telepon warna hijau.


"Assalamu´alaikum Mas," sapa Yuana menjawab panggilan telepon.


"Wa ´alaikum salam. Maaf... saya Arief."


DEG...


"Apakah ini dengan istri Pak Amar?"


"Iya... saya istrinya Pak. Di mana suami saya sekarang?"


"Beliau di Rumah Sakit Raya Husada. Tolong share lokasi ya Bu, sebentar lagi Pak Hadi akan menjemput Bu Amar."


"Baik Pak Arif, saya siap-siap sekarang."


Dengan gemetar, Yuana menyiapkan dirinya dan Nabila untuk pergi ke rumah sakit. Segala kemungkinan berseliweran dalam pikirannya, karena belum tahu apa yang terjadi sebenarnya.


"Yaa Allah Yaa Maalik... mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan Mas Amar," penuh harap atas kekuasaan Tuhannya bagi keselamatan suaminya.


Setelah bersiap, terdengar suara adzan maghrib. Yuana bergegas melaksanakan sholat maghrib. Nabila yang tahu bundanya sedang gelisah tidak banyak bertanya, ia diam saja dari tadi, hanya mengikuti kemana saja Yuana bergerak.


"Bila sayaang... putri bunda yang cantik ini makin pinter aja ya," Yuana mencoba menghapus kekhawatiran pada putrinya itu. Yuana yakin, putrinya tersebut sedang mengkhawatirkannya, karena tidak biasanya Nabila diam saja seperti ini.


"Bentar lagi Nabila ikut bunda pergi ke rumah sakit. Ada yang harus bunda jenguk. Di sana nanti Nabila juga pinter seperti sekarang ya, nurut apa kata bunda... okey?"

__ADS_1


"Otey bunda," jawab Nabila sambil menganggukkan kepala dan memeluk bundanya itu.


__ADS_2