
Yuana mengemudikan mobil menuju lokasi pertemuan meeting, sebuah hotel terbaik di tengah kota.
Klien baru ini katanya adalah perwakilan Indonesia untuk suplier bahan baku produsen tas branded luar negeri yang harga tas edisi terbatasnya bisa mencapai sembilan digit nilai rupiah.
Ketika Yuana sibuk memarkirkan mobil, Ilham justru sibuk merapikan penampilannya.
Begitu mobil berhenti dengan sempurna, Ilham cepat-cepat turun dan berjalan ke pintu pengemudi lalu cepat-cepat pula membukakan pintu untuk Yuana.
Tentu saja Yuana keheranan dengan sikap Ilham tersebut. Pasti ada udang di balik batu.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Ilham sambil sedikit membungkukkan badan berkaca di kaca mobil, menyugar rambut lalu merapikannya, "dasi?" menegakkan tubuh menghadap Yuana.
Yuana menghela nafas lalu maju satu langkah mendekat, memperbaiki dasi yang sedikit miring dan kendur. Yuana tahu jika Ilham memang sedang mengerjainya, tapi ia tak mau memperpanjang urusan. Ditariknya pelan ujung kecil dasi ketika ia meluruskan posisi simpul dasi hingga Ilham sedikit tersedak karena tercekik.
"Hai!" teriak Ilham, namun Yuana mengabaikannya, lebih memilih untuk berjalan mendahului menuju ke ruang lobby hotel.
Sesampainya di meja resepsionis, Ilham menyampaikan bahwa ia ada janji temu dengan salah satu tamu hotel tersebut, atas nama Tuan Adrian. Resepsionis tadi segera mengecek buku tamu dan nama Adrian ada dalam daftar CIPs (Commersially Important Persons) hotel tersebut.
Kemudian meminta salah satu petugas mengarahkan Ilham dan Yuana untuk menuju penthouse hotel tersebut. Petugas tersebut mengantarkan hingga masuk ke lift khusus dan menekan tombol angka tertinggi dan mempersilahkan Ilham untuk menutup pintu lift, karena tidak bisa mengantar sampai ke atas.
"Mas Ilham kenapa sih?" lama-lama Yuana risih dengan tingkah Ilham sepanjang pagi ini.
"This is our first date, Yuana," jawab Ilham dengan tetap memperhatikan penampilannya melalui pantulan dirinya di pintu lift.
Yuana memutar bola mata jengah mendengar jawaban absurd Ilham. Bukankah sandiwara calon istri seharusnya hanya di depan Ratna? Ini kenapa terbawa sampai ke urusan pekerjaan, sungguh Yuana tidak habis pikir dengan tingkah Ilham itu.
Yuana memang sudah terbiasa dengan godaan-godaan Ilham padanya, namun ia menganggap itu hanyalah bercanda biar tidak stres menghadapi tekanan pekerjaan. Sebab ia yakin Ilham paham akan kondisinya yang baru saja berkabung dan tidak ada niatan untuk membuka hati. Sedangkan Ilham sendiri juga masih terhitung pemulihan dari sakit fisik dan psikisnya, trauma akan hubungan dengan perempuan pasti masih membekas.
ting
Denting suara lift berhenti disusul terbukanya pintu lift, membuyarkan pikiran Yuana. Ia pun berjalan keluar menyusul Ilham yang ternyata sudah berdiri di sebuah pintu yang berada tepat tiga meter di depan pintu lift.
Yuana menoleh ke kanan dan kiri, hanya terlihat pantulan mereka berdua di cermin besar yang melapisi dinding selasar berukuran tiga kali dua meter itu.
"Ini tempat apa, Mas? Kenapa di satu lantai hanya ada satu pintu ini saja?" tanya Yuana penasaran.
Belum sempat Ilham menjawab, seseorang telah membukakan pintu untuk mereka. Untuk beberapa saat, Ilham terkejut melihat siapa yang membuka pintu tersebut.
"Bonjour beau fr'ere, Adelio," seorang gadis cantik tinggi semampai menyapa dan mengulurkan tangannya ke arah Ilham sambil tersenyum manis.
"Bonjour belle femme, Aimee," Ilham menyambut uluran tangan gadis bernama Aimee itu lalu mencium jemari lentiknya sekilas.
Rasa panas dan menyesakkan tiba-tiba saja menyeruak di dada Yuana, dengan spontan ia menarik lengan kiri jas yang dikenakan oleh Ilham. Namun segera ia lepaskan menyadari ketidaksopanannya itu, ia tidak ingin gadis itu salah paham padanya.
"Votre femme?" tanya Aimee pada Ilham apakah gadis ini kekasihnya seraya tersenyum ke arah Yuana.
"Yuana, future femme," jawab Ilham sambil tersenyum lebar menoleh ke arah Yuana memperkenalkannya sebagai calon istri.
Namun Yuana yang tidak tahu bahasa yang digunakan mereka berdua, mengartikan bahwa Ilham sedang memperkenalkan gadis itu sebagai kekasih atau gadis incaran Ilham, mengingat ketika di dalam lift tadi Ilham mengatakan bahwa hari ini adalah kencan pertama Ilham.
"Hallo, Yuana, kenalkan saya Aimee," sapa ramah Aimee pada Yuana menggunakan bahasa Indonesia dengan logat asingnya.
"Hai Aimee, saya Yuana asisten Pak Ilham Adelio," balas Yuana sambil menerima jabatan tangan Aimee dengan menekankan kata asisten ketika memperkenalkan dirinya.
"Silahkan masuk, anggap rumah sendiri, haha...," Aimee mempersilahkan tamunya itu masuk, ia berusaha berkelakar untuk menciptakan keakraban di antara mereka, "duduklah, saya akan buat minuman."
Ilham pun mempersilahkan Yuana duduk di sofa besar di depan mereka, namun ia sendiri tidak duduk melainkan malah mengikuti Aimee yang berjalan menuju kitchen bar tak jauh dari Yuana duduk.
"Bahasa Indonesiamu makin lancar sepertinya," basa basi Ilham ketika ia sudah duduk di barstool tepat di depan Aimee yang sedang mengambil cangkir untuk membuat minuman. Tujuan Ilham duduk di situ adalah untuk memastikan bahwa minuman yang dibuat oleh Aimee tidak mengandung alkohol dan bisa diminum olehnya dan Yuana.
__ADS_1
"Sudah tentu, kalau tidak, tidak mungkin saya ada di sini sekarang," ternyata Aimee hendak membuat teh herbal, "du sucre? satu atau dua?" ia menanyakan jumpah takaran gula yang hendak ia masukkan ke dalam cangkir.
"Di mana Adrian?"
"Jumpa teman dia, di lounge di lantai sembilan, hanya sebentar dia bilang."
"Kalian?"
"Tiga bulan yang lalu," jawab Aimee sambil menunjukkan cincin yang berada di jari manisnya.
"Wah selamat ya, tak menyangka hubungan kalian selancar ini."
"Terima kasih, kamu tahu pasti bagaimana perjuanganku dulu. Ah akhirnya Adrian bisa melihat ketulusanku."
Jika didengar dengan seksama, percakapan antara Ilham dan Aimee adalah percakapan basa basi biasa saja. Intonasinya pun lumayan terdengar dengan baik bahkan jika didengar dari sudut yang berseberangan. Tapi ketika prasangka dan dugaan menguasai hati dan pikiran maka telinga seakan tak dapat mendengar dengan jelas percakapan itu.
Hati Yuana yang semakin memanas melihat keakraban Ilham dan Aimee hanya dipenuhi gerutuan dan penyesalan karena telah menemani Ilham datang ke tempat yang... indah dan romantis ini.
Demi tak melihat Ilham dan Aimee yang asyik bercengekerama, Yuana memalingkan wajah entah kemana saja, asal bukan ke arah mereka berdua.
'Mimpi apa aku semalam, harus jadi nyamuk seperti ini. Kenapa juga aku harus ikut ke sini, katanya meeting nyatanya ngedate. Huh dasar Mas Ilham, sukanya seenaknya sendiri. Baru semalam bilang calon istri, sekarang dikacangin kayak gini. Huft... bukannya geer ya, Mas. Tapi kalau gini kan bisa senewen juga.'
Sampai tak menyadari jika Ilham telah duduk di dekatnya setelah meletakkan cangkir di meja.
"Minum tehnya, mumpung masih hangat," suara Ilham yang dekat tentu saja mengagetkan Yuana, "kamu kenapa? Nggak nyaman?"
"Gak kenapa-napa, Mas," sahut cepat Yuana menutupi kecanggungannya.
"Ikut aku," ajak Ilham sambil mengambil cangkir dan membawanya berjalan ke teras.
Mau tidak mau Yuana pun mengikuti Ilham, "Aimee di mana, Mas?" menyadari jika mereka ternyata hanya berdua saja.
Ilham tidak menjawab, ia berjalan terus ke depan mendekati pagar teras paviliun.
"Iya, indah banget, Mas. Sangat layak kota kita dijuluki kota wisata. Coba lihat, Mas. Gunung dan bukit yang mengitari kota ini bisa terlihat dengan jelas dari sini. Fotoin aku ya, Mas," ujar Yuana antusias sambil menyerahkan handphone yang sudah ia tekan tombol kameranya.
Belum Ilham sempat memprotes, Yuana sudah terlihat berpose cantik dengan tangan kiri memegang pagar dan tangan kanan terangkat di atas kening, seolah sedang silau memandang kejauhan.
Ilham terkesima melihat hasil potretannya, pantas saja Yuana meminta foto. Latar belakang lanskap pemandangan, perpaduan pegunungan, langit, awan dan tentu saja obyek utama dalam foto tersebut menyatu sehingga terlihat sangat estetis.
Muncul ide di benak Ilham. Dengan cepat ia berjalan ke belakang Yuana lalu mengarahkan kamera selfi dan menekan tombol potret dua kali. Sambil tersenyum lebar ia mengirimkan beberapa foto ke nomor aplikasi pesan instan miliknya.
Dengan sengaja ia menjauhkan handphone tersebut dari jangkauan tangan Yuana yang berusaha merebutnya.
Ketika centang dua sudah tersemat, ia pun mengembalikan handphone tersebut, bukan ke tangan Yuana, melainkan memasukkan ke dalam saku outer yang dipakai Yuana.
"Jangan dihapus, sekarang coba lihat ke bawah," Ilham memegang kedua bahu Yuana dan mengarahkannya menghadap ke depan pagar di mana terlihat taman rooftop lantai sembilan.
"Subhanallah... Indahnya! Kok bisa sih di lantai sembilan ada taman bunga seindah ini. Eh tapi... kenapa seperti familier ya, Mas?"
"Kamu seperti pernah melihat sebelumnya?"
"Iya, seperti pernah melihat landskap yang persis ini. Tapi di mana ya?"
"Ingin melihat lebih dekat? Setelah meeting kita ke situ. Tidak akan lama. Itu Adrian sepertinya sudah datang. Mau menemani meeting atau tunggu di sini saja?"
"Kalau tunggu di sini saja, boleh?"
Ilham tersenyum dan mengangguk lalu masuk ke dalam menemui Adrian. Benar saja, pertemuan keduanya tidaklah lama. Adrian hanya menyampaikan apa saja yang ia butuhkan dan Ilham menyanggupinya. Untuk detail kerjasama, tentu saja asisten masing-masing yang akan menyelesaikannya.
__ADS_1
"La fille est la femme d'Ilham," bisik Aimee pada Adrian memberitahu siapa gadis di depan mereka ketika mereka bertiga berjalan menuju teras menghampiri Yuana, selepas meeting.
"Ah oui?" reaksi Adrian seakan tak percaya.
"Attends juste l'invitation," jawab Aimee seraya melirik ke arah Ilham yang ternyata mendengar obrolan teman sekaligus rekan bisnisnya itu.
"S'il vous plait priez... vite fait," Ilham sengaja mengikuti bahasa Aimee agar Yuana tidak mengerti bahwa ia menjawab 'doakan saja, segera', karena ia bahkan belum menyatakan perasaannya kepada Yuana.
Melihat Aimee dan Adrian yang bergandengan mesra, rasa sedikit bersalah karena sempat menyalahartikan kedekatan Aimee dan Ilham tadi, walaupun hanya dalam hati.
Setelah berbasa basi sebentar, Ilham dan Yuana pun berpamitan dengan alasan karena harus menghadiri acara penting lainnya. Kalau tidak, pasti Adrian akan menahan mereka untuk tinggal lebih lama lagi.
Seperti yang dijanjikan pada Yuana, Ilham mengajak Yuana mampir ke rooftop lantai sembilan di mana terdapat sebuah lounge persis di bawah penthouse yang ditempati Adrian tadi.
Ilham memesan dua mini cup gelato dengan varian rasa yang sama, lalu mengajak Yuana menuju taman bunga yang mereka lihat dari teras penthouse.
"Beneran, Mas, kayak familier gitu, tapi di mana ya? Mana ada dua taman dibangun dengan lanskap yang sama persis. Tapi kan Yuana juga ndak pernah ke sini sebelumnya," Yuana tetap merasa bahwa ia pernah melihat lanskap taman persis seperti yang mereka lihat saat ini.
"Kamu tahu kenapa paviliun yang kamu tempati tertutup dari pandangan luar?"
"Astaghfirullah, iya, Mas! Taman paviliun yang lama!"
"Aku ingin mempersembahkan taman itu untuk gadis impianku jika kelak kami menikah. Karena harga penthouse sangat mahal, bukankah membangun sendiri jauh lebih baik," tutur Ilham sambil menghabiskan suapan gelato terakhirnya.
"Mas Ilham orangnya sangat romantis ternyata," Yuana seperti melihat sisi lain dari sosok Ilham.
"Dan kamu yang membuyarkan semua mimpi-mimpiku itu," gumam Ilham sedih mengingat impiannya melamar Yuana ternyata digagalkan oleh sahabat yang diminta untuk menjaga Yuana untuknya.
"Maaf, Mas. Yuana tidak tahu, karena setahu Yuana, taman itu sangat tidak terawat dan Bu Fatma meminta Yuana membuat lanskap taman yang baru."
Yuana merasa sangat bersalah dan tidak enak hati pada Ilham, ia berpikir keras bagaimana cara untuk menebus kesalahannya itu.
"Mas Ilham pasti sangat marah dan kecewa ya, Mas, karena tiba-tiba saja taman impian Mas Ilham sudah Yuana kacaukan."
"Awalnya memang aku marah..."
"Yuana harus bagaimana untuk menebusnya, Mas. Apa harus mengembalikan seperti semula?" potong Yuana dengan paniknya.
"Menikahlah denganku."
Kalimat sakral yang Ilham cadangkan bertahun-tahun yang lalu, akhirnya bisa ia ucapkan walaupun tanpa perencanaan sama sekali.
Terkesiap Yuana mendengar ucapan Ilham, ia coba menelisik wajah Ilham, mencari keseriusan di sana. Jangan-jangan ini hanya kelanjutan sandiwara mereka. Menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ada siapa pun kecuali beberapa orang di dalam lounge yang tidak mereka kenal, untuk apa terus bersandiwara?
"Menikahlah denganku, Yuana Amalia," ulang Ilham dengan tatapan tajam namun lembut menusuk sampai ke dalam hati Yuana.
"Tapi..."
"Kau ingat pernah terjatuh saat bermain egrang waktu kecil?
"Kok Mas Ilham tahu?"
"Menurutmu?"
Yuana mencoba mengingat-ingat kejadian waktu ia terjatuh dari egrang, menimpa seseorang dan sesuatu yang lembut dan basah menyentuh bibirnya bersamaan dengan darah menetes dari hidungnya.
"Itu ciuman pertamaku, Yuana," ucap Ilham ketika melihat rona wajah Yuana yang memerah menahan malu dan semakin memerah mendengar ucapan Ilham barusan.
"Apa maksudnya, itu jaman masih ingusan, masih SD, masih kecil, kenapa dihitung ciuman pertama? Aku bahkan tidak menyadarinya," gerutu Yuana menutupi rasa malunya sekaligus tidak terima karena seolah ia yang dituding mencuri ciuman pertama Ilham.
__ADS_1
"Tapi gadis kecil yang masih ingusan itulah yang memotivasiku untuk bisa menjadi orang yang sukses sekaligus menjatuhkanku ke dalam jurang yang sangat dalam."
Wajah Yuana yang tadinya memerah menjadi pucat pasi, tidak mengerti maksud kalimat terakhir Ilham namun cukup membuatnya merasa bersalah. Apakah gara-gara ia mengubah lanskap taman milik Ilham atau takutnya ada hal lain yang tidak ia ketahui atau tidak ia sadari?