
Kedatangan Ratna sebenarnya bukan tanpa alasan. Ia yang didapuk menjadi bendahara panitia pelaksanaan reuni SMA seangkatannya, tidak mungkin tidak datang bukan?
Lagipula ia juga kangen dengan Bu Fatma yang selalu baik padanya, sudah lama tidak mengunjungi beliau. Jadi ia memilih untuk menginap di rumah mertuanya itu ketimbang menginap di resort yang sudah disewa panitia.
Namun Ratna tak tahu jika suaminya, Rahmat juga sedang berada di kota ini. Setahunya Rahmat sedang melakukan project baru menindaklanjuti launching event venue kemarin. Jadi begitu ia melihat Rahmat, terkejut tentu saja. Apalagi melihatnya baru datang bepergian dengan... Yuana!
Yuana. Lagi-lagi Yuana. Dulu Yuana yang menyebabkan Ilham menolaknya mentah-mentah. Dan sekarang Yuana muncul dalam drama rumah tangganya. Kekesalannya pada Yuana sudah mencapai ubun-ubun.
Niat ingin menjatuhkan Yuana di mata keluarga, tak berjalan sesuai harapannya karena Ilham justru mengangkatnya tinggi-tinggi sebagai calon istri. Upayanya dulu menjauhkan Yuana dari Ilham terasa sia-sia belaka.
Rencana mengajak Ilham berangkat bareng menuju tempat reuni, urung sudah, Ilham malah harus pergi bersama Yuana untuk urusan pekerjaan. Mana penampilan mereka berdua kelihatan serasi lagi.
Minta ditemani Rahmat juga tidak mungkin, ada tanggungan di pabrik katanya. Mengawasi instalasi mesin baru dan melatih operatornya agar esok bisa langsung digunakan.
Keluarga ini tidak mengenal hari libur kah? Tanggal merah, masih saja harus bekerja?
Ratna terus saja bersungut-sungut selama ia mengendarai mobil berwarna merah muda yang ia pinjam dari Annisa. Untung saja jalanan lengang di pagi ini, hingga ia bisa sampai di resort tempat acara reuni dilaksanakan dengan cepat dan selamat.
Ratna sampai di pelataran parkir, bersamaan dengan beberapa panitia yang lain. Ia pun melupakan kekesalannya dan melebur dalam kegiatan kepanitiaan.
"Eh, ngapain bawa minuman keras segala sih. Kita ini mau acara reuni sekolah lho, bukan party. Jaga nama baik sekolah donk," protes Ratna ketika salah satu panitia membawa sebuah kardus berisi beberapa botol minuman keras bermerk terkenal.
"Requestnya Juan Genki ini, dia mana bisa kerja bener kalo ndak ada ini. Gak tahan dingin katanya," orang yang membawa kardus itu berusaha membela diri.
"Otak sudah konslet itu namanya. Awas aja kalau yang lain pada ikutan si Gila itu," rutuk Ratna.
"Korslet, Buuuk."
"Sama aja."
Ketika sampai di ruang kepanitiaan, ternyata semua sudah pada berkumpul, dan segera melakukan koordinasi terakhir terkait pelaksanaan acara reuni. Ada beberapa susunan acara yang persiapannya sudah benar-benar maksimal.
Selama berjalannya koordinasi, terlihat Edi, sang ketua pelaksana yang biasa dijuluki Juan Genki itu, terlihat beberapa kali meneguk minuman keras yang dibawa tadi.
"Ed, kenapa sih lu minum mulu, ntar mabok berantakan nih acara. Lu kan ketapelnya," Ratna sudah tidak tahan lagi untuk protes kepada Edi.
"Noh, liat si Jarwo, ngebul terus kenapa? Karena dia gak bisa mikir bener kalo ndak ngebul. Lha gua... gak bisa mikir bener kalo ndak ada ini, mana dinginnya kebangetan di sini. Kayak lu gak kenal gua aja."
Memang dari seluruh panitia, hanya Ratna yang berani menegur Edi, karena mereka pernah dalam satu lingkaran pertemanan ketika masa satu sekolah dulu. Sedangkan yang lain hanya melihat bahwa Edi yang berprofesi sebagai seorang promotor handal pasti bisa menghandle sebuah acara kecil seperti reuni ini, jadi tak mempermasalahkan kebiasaan Edi bekerja sambil mengkonsumsi minuman keras.
Tak lama acara pun segera dimulai, diawali dengan hiburan-hiburan ringan, berkaraoke diiringi sebuah elekton sambil menunggu peserta lain berdatangan.
Setelah dirasa peserta sudah banyak yang hadir, maka acara inti bisa segera dimulai. Masih ada beberapa panitia yang bersiap-siap di ruang panitia, termasuk Edi. Sedangkan Ratna dan yang lain sudah menjalankan tugas di hall resort.
Masuk ke acara pembuka, lalu sambutan ketua pelaksana dan Edi sama sekali belum muncul. Ratna mencoba untuk memanggil, karena seingatnya tak ada lagi yang perlu dilakukan di ruang panitia, semua harus fokus di acara.
"Kalian pada ngapain sih? Ed! MC uda manggil dari tadi tuh," teriak Ratna dari pintu penghubung aula dan ruang panitia. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat beberapa orang mengerumuni Ilham dan Yuana.
Ratna merapat ke panggung sambil bersungut-sungut tentang diajaknya Yuana oleh Ilham ke acara reuni kali ini. Sia-sia saja ia memaksa Amar menikahi Yuana jika akhirnya Yuana tetap muncul d kehidupan Ilham.
Hal itu ternyata terdengar oleh Edi yang sudah berdiri di belakangnya. Edi menangkap ketidaksukaan Ratna pada kedekatan Yuana dengan Ilham, dan memancingnya untuk mengusili Yuana. Bukankah Amar dan Ilham dari dulu memang dua orang paling menyebalkan di dunia ini.
"Menikmati Yuana sepertinya ide bagus untuk membalas dua orang itu, haha," pikir Edi.
__ADS_1
Sepanjang acara, pikiran Edi hanya berputar pada cara untuk mendapatkan Yuana secepatnya.
Setelah rangkaian seremonial, acara ramah tamah merupakan acara paling inti, sebagai sarana bernostalgia dan bersilaturahmi yang sebenarnya. Dan agar acara bernilai positif maka diisi dengan acara bincang santai.
Sesi pertama diisi oleh Mono juragan bakso dan sesi kedua diisi oleh Fatma yang berprofesi sebagai dokter. Diluar rencana, Fatma mengundang Ilham untuk ikut sharing di atas panggung. Tentu saja sebuah kesempatan emas buat Edi.
Melihat Yuana yang sama sekali belum beranjak dari duduknya, timbul sebuah ide. Edi mengambil dua gelas jus jeruk dan sepiring kudapan dengan mengantri seperti yang lain. Kemudian dengan berhati-hati memasukkan sesuatu yang diambilnya dari dompetnya ke dalam salah satu jus tadi.
Setelah merasa semua aman, ia memanggil salah satu karyawan catering untuk mengantarkan jus jeruk dan kudapan tadi ke meja di mana Yuana sedang duduk sendiri.
Kemudian ia pun bergabung dengan Ratna menyapa teman-teman lain yang belum disapanya sedari tadi. Sambil sesekali memperhatikan Yuana tentunya.
Lima belas menit berlalu, sepertinya rencananya berjalan sempurna. Ilham masih hangat-hangatnya berdiskusi di saat Yuana pergi ke belakang panggung.
Dengan beralasan perut tiba-tiba mulas, Edi meminta Ratna untuk mewakili dirinya menyapa yang lainnya.
Sebenarnya Ratna pun sempat memperhatikan Yuana yang pergi sendiri ke belakang panggung, kemudian disusul Edi. Mengenal karakter Edi seperti apa, pasti akan terjadi sesuatu. Ia memang tidak menyukai Yuana, tapi membuat keonaran di acara yang membawa nama almamater tentu sangat tidak diharapkan.
"Edi gobl*k!"
Ratna pun segera mendekati pengatur acara utnuk mempercepat acara ramah tamah beralih ke acara renungan. Dimana tirai tebal akan ditutup sekeliling aula dan meredupkan lampu untuk menciptakan suasana yang sendu.
Setelah pengatur acara menyetujui, Ratna pergi keluar melalui pintu depan untuk meminta dua orang petugas keamanan yang berjaga di pos masuk resort, mengikutinya ke belakang aula.
Ketika ia sampai di dalam ruang panitia, ia mendapati Ilham tengah membabi buta memukul wajah Edi yang telentang di bawahnya. Sedangkan Rahmat menenangkan Yuana.
"Ham! Cepat bawa Yuana pulang! Biar aku yang urus bajingan ini," seru Rahmat.
Pandangan Ratna dan Rahmat terpaku selama beberapa detik. Sorot amarah dan kecewa seperti ditujukan pada dirinya. Ratna sedikit tidak terima, namun ia menyadari kesalahannya yang dulu, hingga merasa menjelaskan bahwa ia tidak terlibat saat ini pun percuma.
"Langsung bawa pulang, berendam air hangat sama teter degan ijo, biar efek obatnya berkurang," Ratna menyempatkan berpesan kepada Ilham begitu melihat keadaan Yuana yang sepertinya ia tahu apa yang sebenarnya terjadi, ntah Ilham paham atau tidak.
Sementara Ilham bertanya-tanya, kenapa Rahmat dan Ratna sama-sama menyuruhnya membawa Yuana pulang, bukannya ke rumah sakit saja.
Selama perjalanan pulang, Ilham menghubungi Arief untuk memanggil dokter keluarga ke rumah sekarang juga, berharap begitu sampai di rumah dokter juga sudah datang. Tidak lupa meminta dibelikan degan ijo yang banyak. Efek obat?
"Oh, ****!"
Begitu sampai di rumah, kepanikan pun terjadi. Bu Fatma yang sudah mendapat kabar keadaan Yuana dari Rahmat pun segera menyiapkan segala sesuatunya. Air hangat sudah disediakan di bath up kamar mandi paviliun oleh Mbok Sari.
Yuana membuka mata ketika Ilham memasukkan Yuana ke dalam air hangat.
"Pusing... panas..." keluh Yuana membuat Ilham bingung harus bagaimana.
"Sudah, Mas Ilham keluar dulu saja. Biar mbok yang jagain Mbak Yuana," ucap Mbok Sari dengan sedikit mendorong Ilham keluar.
Ilham duduk di sofa ruang depan paviliun, menyugar rambutnya lalu menyandarkan kepalanya.
"Aaaaargh!" ia hentakkan kepalan kedua tangan di pahanya. Ilham marah, geram dan kecewa kepada dirinya sendiri.
Ilham sangat tahu Edi terobsesi untuk menjatuhkannya sejak dulu, dan ia pernah jatuh dalam perangkap yang disuguhkan Edi padanya. Edi lah pemasok minuman laknat yang selama ini telah merusak dirinya. Dan kali ini ia teramat sangat menyesal telah membawa Yuana masuk ke dalam sisa pusaran rivalitas masa mudanya.
Tak lama Mbok Sari keluar dari kamar, hendak menanyakan apakah degan hijaunya sudah datang.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Yuana, Mbok?"
"Masih pusing dan panas katanya, Mas."
"Assalamu'alaikum. Maaf, Pak. Ini degan ijonya," Arief masuk membawa dua butir degan hijau yang sudah dibuka atasnya dan diberi sedotan. Diikuti Bu Fatma, dokter Reisa dan Bu Aminah yang kebetulan datang dengan Nazril.
Ketika Bu Aminah datang, Bu Fatma sedang gelisah di teras menunggu kedatangan Arief dan dokter. Betapa kaget dan sedihnya Bu Aminah ketika Bu Fatma menceritakan apa yang sedang menimpa Yuana saat ini.
Akhirnya Bu Aminah meminta untuk membantu Mbok Sari merawat Yuana sebelum diperiksa oleh dokter. Dokter Reisa pun menyarankan agar degan hijaunya segera diminumkan kepada Yuana.
"Bagaimana bisa terjadi hal semacam ini, Ham? Kasihan Yuana. Ummah kan sudah minta sama kamu, jaga Yuana, jaga Yuana, Haaam," keluh Bu Fatma hampir menangis.
"Maaf, salah Ilham, Ummah. Semua salah Ilham," sesal Ilham.
Sementara di dalam kamar mandi. Setelah dipaksa menghabiskan satu butir air degan hijau, Yuana merasakan mual yang teramat sangat dan kemudian memuntahkan semua isi perutnya. Namun sakit kepala dan rasa panas belum sepenuhnya hilang, walaupun sudah berkurang banyak.
Dengan dibantu oleh Mbok Sari, Yuana keluar dari bath up kemudian membersihkan diri dan berganti piyama panjang.
Dokter Reisa mulai memeriksa kondisi Yuana setelah ia berbaring di ranjang.
Sebagai seorang wanita yang sudah pernah menjalani rumah tangga, Yuana tahu apa yang ia rasakan saat ini. Sebuah keinginan yang ingin dituntaskan bersama mendiang Amar, suaminya. Namun keinginan yang dirasakan saat ini, sangat berbeda dengan yang pernah ia rasakan. Jauh lebih kuat hingga seperti hendak menghilangkan akal sehatnya.
Bukan sosok Amar yang akan ia rindukan kehadirannya jika ia mengalami perasaan seperti ini dulu, melainkan Ilham. Mungkin karena kebersamaan mereka setiap hari yang menyebabkan munculnya sosok itu dalam rasa inginnya kali ini. Atau karena seringnya Ilham menggodanya hingga terbawa ke alam bawah sadarnya?
Dan itu tidak boleh. Ilham hanyalah seorang atasan, majikan yang memang harus ia perhatikan sebatas protokol kesehatannya. Tidak lebih. Yuana tidak pernah sekalipun melibatkan hatinya dalam pekerjaan ini.
Tidak. Tidak boleh. Sebisa mungkin Yuana menghilangkan keinginan yang tidak biasa iu. Besarnya usaha yang ia lakukan untuk mengendalikan dirinya itu lah yang membuatnya sempat pingsan tadi.
Dan saat ini, setelah dokter Reisa pamit keluar, hanya tersisa rasa malu yang dirasakan oleh Yuana. Pada Bu Aminah, ibu mertuanya, ibu dari mendiang Amar, suami yang bahkan tidak muncul bayangannya saat ia mengalami hal seperti ini.
"Dadi rondho kembang iku pancen abot songgohe, Nduk. Abooot. Akeh cuboe, akeh godane."
Bu Aminah merapikan selimut yang ia tutupkan ke tubuh Yuana sambil mengusap-usap kaki Yuana. Kemudian tersenyum ketika mengusap air mata Yuana yang menetes mendengar ucapannya.
"I-ibuuu...," Yuana menggenggam tangan Bu Aminah yang masih menempel di pipinya.
"Masa depanmu isih dowo, Nduk. Ojo sampe kebembeng masa sing wes lewat. Wes... Saiki ngasuho disik, ojo mikir liyane. Degan ijoe teteren ben ndang pulih. Ibu tak pamit yo, iku mau saking Nazriel arep kulak, dadi ibu nunut."
"Ibu temani Yuana dulu ya?"
"Ibuk gak iso suwe, Nduk. Kapan-kapan ibuk mrene maneh," jawab Bu Aminah sambil kemudian mencium kening Yuana cukup lama.
Di ruang depan Ilham dan Bu Fatma masih membicarakan tentang Yuana, sementara Mbok Sari mengantarkan dokter Reisa.
"Bu Aminah, monggo duduk di sini dulu, sambil nunggu Nak Nazriel datang," Bu Fatma meminta Bu Aminah untuk duduk bersamanya karena ada yang ingin mereka diskusikan, "begini, Bu... mengenai Yuana..."
"Cah ayu, Nabila, sini Nduk," Bu Aminah memotong ucapan Bu Fatma ketika melihat Nabila yang mengintip sambil berpegangan pada daun pintu.
Bukannya menuju ke arah neneknya itu, Nabila justru berlari mendatangi Ilham, "Ayah, bunda tenapa?"
"Bunda sakit kepala, Sayang. Nabila sama ayah saja ya, biar bunda istirahat dulu," jawab Ilham dengan lembut seraya mengangkat Nabila ke pangkuannya.
"Nak Ilham..." tentu saja Bu Aminah heran kenapa Nabila bisa memanggil ayah pada Ilham.
__ADS_1
"Maaf, sepertinya Nabila hanya rindu pada sosok seorang ayah," jelas Bu Fatma berharap Bu Aminah tidak salah paham terhadap Ilham.
"Yaa Allah, ngapunten sanget nggih, kulo namun kuwatos anak putu kulo niki namung dados beban damel keluarga njenengan," Bu Aminah merasa tidak enak hati, sebab keluarganyalah yang seharusnya mengemban tanggung jawab atas Yuana dan Nabila, "mungkin miyos sae menawi Yuana nderek kulo mawon ten ndeso, kersane mboten wonten kedadosan kados meniko malih."