HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 19 PESAN TERAKHIR?


__ADS_3

"Yuanaaa... Yuana...Amar... Amar sadaaar!" seru Bu Fatma dengan bahagia.


Yuana tersentak mendengar seruan perempuan yang sedang memeluknya itu. Segera ia melepaskan diri dari pelukan itu, dipegangnya kedua lengan Bu Fatma, "be... benarkah yang Ibu bilang? Mas Amar... Mas Amar sudah sadar?"


"Alhamdulillah Nak... Allah mengabulkan doamu! Amar sudah sadar, sekarang sedang bersama Rahmat. Masuklah Yuana... temui suamimu!" jawab Bu Fatma dengan uraian air mata bahagia.


"Subhaanallah... Alhamdulillah... Laa ilaaha illallah... Allahu akbar... Mas Amar..." bergetar bibir Yuana bertasbih dan memanggil nama suaminya. Waktu seakan berhenti ketika terlihat Amar berbaring pada brankar dengan sandaran sedikit terangkat. Hatinya terasa terbang ketika Amar melihat dan memberi senyuman kepadanya. Tanpa sadar perlahan tubuhnya berjalan mendekat, netranya terpaku hanya pada tatapan Amar seorang.


"Baiklah kalau begitu... karena bidadarimu sudah datang, mas keluar dulu ya Mar."


Suara Rahmat dari samping Amar menyadarkan Yuana dari keterpakuannya, membuatnya jadi sedikit tersipu malu. Sedikit melipir dan menundukkan kepala ketika Rahmat berjalan keluar melaluinya.


"Kemarilah sayang..." suara lirih dari lelaki yang tampak lemah itu membuat Yuana sekonyong-konyong menghamburkan diri ke dalam pelukan Amar.


"Mas Amaaar... huuu..hks..."


Dengan segenap kepayahan, Amar mencoba mengangkat lengan kirinya lalu berusaha memeluk Yuana dan mengelus-elus punggungnya. Sejenak ia biarkan Yuana berada dalam pelukannya, walau hal itu menyebabkannya sedikit merasa sesak dan kesulitan untuk bernafas. Ia dapat merasakan kerinduan dan kesedihan yang dirasakan Yuana karena koma yang ia alami selama seminggu ini.


*


"Bagaimana dengan keinginan Amar, Dok? Apa mungkin bisa terlaksana? Sedangkan anggota keluarga kami tak ada satu pun yang memenuhi syarat untuk mendonorkan hati untuk Ilham."


Rahmat merasa dilema, karena ketika ia sedang berbincang dengan Ilham mengenai keharusan Ilham menjalani transplantasi hati, ternyata Amar dalam keadaan sudah sadar dan mendengar semua. Dan ketika Bu Fatma melihat Amar terlebih dahulu sebelum pergi ke musholla, Amar menyampaikan keinginannya untuk menjadi pendonor bagi Ilham.


Dan kini Rahmat dan Bu Fatma sedang berada di ruangan dokter Yusuf untuk membicarakan hal itu. Dokter Yusuf sendiri pun tadi merasa kaget mendengar keinginan Amar karena ia juga berada bersama Rahmat di ruang ICU tadi.

__ADS_1


"Melihat keadaannya, maaf... tidak bisa. Meskipun memang golongan darahnya sama dan kondisi fisik memenuhi syarat, tapi bukankah ia sekarang baru sadar dari koma. Dan kita sama sekali belum tahu kondisi gegar otaknya sudah membaik atau tidak. Harus ada observasi lanjutan paska koma. Jadi sangat tidak mungkin kita menjadikannya pendonor. Sebaiknya kita bersabar dulu sampai menemukan pendonor yang cocok," sergah dokter Yusuf.


Yang ia pikirkan justru perasaan Yuana saat ini. Bagaimana mungkin ia menjadikan Amar calon pendonor hati ketika suami Yuana itu baru sadar dari komanya. Ia sangat tidak ingin menyakiti perasaan Yuana.


"Ya, betul kata dokter Yusuf. Kita tidak mungkin memenuhi keinginan Amar. Rahmat... sebaiknya kau minta bantuan keluarga besar abah, siapa tahu salah satu dari mereka ada yang bersedia jadi pendonor," tegas Bu Fatma kemudian.


"Baik Ummah," sahut Rahmat.


*


Ketika Amar merasakan dadanya semakin sesak, ia ingin Yuana mengangkat tubuh dari pelukannya, namun ia tak sampai hati.


"Mau... tidur di sini juga?" akhirnya Amar mencoba berseloroh sambil menepuk pelan punggung Yuana agar istrinya itu bangkit dan sedikit terhibur. Dan benar saja, akhirnya Yuana mendongak melihat wajah Amar dengan tersenyum malu.


Sejurus kemudian ia bangkit dan menjawab selorohan Amar, "mana mau! Mas Amar aja yang harus cepet pulih... biar bisa segera keluar dari sini."


"Memangnya kalau Mas Amar keluar dari sini... Mas mau pergi ke mana? Niat amat ndak ngajak Yuana sama Nabila," rajuk Yuana mendengar Amar berpesan seolah hendak pergi jauh.


"Yuana... mas... ndak akan... ke mana-mana. Mas... hanya... ingin memastikan... kalau... istri mas ini... akan selalu... baik-baik saja. Percayalah... mas... akan selalu menemanimu sayang... juga Nabila. Kalian... adalah anugerah... yang Alah beri... pada mas... yang harus... mas jaga... sepenuh hati... dengan... segenap jiwa raga mas ini."


Terenyuh hati Yuana mendengar tutur kata suaminya, hatinya terharu sekaligus merasa sedih. Seandainya Amar tahu, betapa rasa takut yang ia rasakan saat ini. Ia takut jika Amar benar-benar akan pergi meninggalkannya. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya tak dapat lagi ia tahan.


"Mas... aku membutuhkanmu... aku... membutuhkanmu... untuk selalu ada di sisiku. Mas... tolong... jangan pernah berniat untuk pergi lagi... aku tak akan sanggup Mas."


"Kau... tahu Dek? Seumur hidup mas... mas tidak pernah... merasa jatuh cinta... seperti... mas jatuh cinta... pada Yuana. Mas... merasa... sangat beruntung... ketika... ayah... meminta mas... menikahimu. Mas bahagia... memilikimu... juga Nabila... dalam hidup mas. Maaf... mas... tidak pernah... melamarmu dengan romantis," lirih Amar yang masih dengan lemah berusaha menyampaikan semua perasaannya pada Yuana.

__ADS_1


"Apaan sih Mas... Yuana ndak butuh hal seperti itu, bagi Yuana... Mas bisa mencintai Yuana dan menyayangi Nabila itu sudah cukup. Yang penting sekarang Mas Amar sudah kembali. Yuana tahu di hati Mas hanya ada kami... ya kan?" balas Yuana sambil ia mengusap air mata yang membasahi pipinya. Kali ini ia mencoba tersenyum manis, ingin menunjukkan bahwa ia pun merasa bahagia bisa menjadi istri Amar.


"Yuana... mas... minta tolong. Selama mas... tidak bisa... mendampingi kalian, tolong... jadilah... ibu yang kuat... untuk Nabila," pinta Amar.


"Mas! Kenapa ngomongnya gitu sih. Mas gak tau gimana susahnya Yuana berusaha kuat selama seminggu ini... Sekarang Mas Amar sudah sadar, tolong... jangan bikin Yuana sedih lagi, Mas. Mas cepet sembuh yaa... cepet pulang yaa..."


Amar tersenyum melihat Yuana yang biasanya selalu tegas dan bijak, sekarang jadi terlihat lemah dan merengek padanya. Amar bisa merasakan ketakutan Yuana yang tidak ingin kehilangan dirinya. Ingin rasanya Amar memeluk dan menenangkan istrinya itu. Namun apa daya, untuk menyampaikan perasaannya saat ini saja, ia harus menahan rasa sakit di kepala dan dadanya.


Sekuat mungkin Amar berusaha keras untuk menyembunyikan rasa denyut nyeri di dalam otaknya. Agar Yuana bisa tenang ketika ia menyampaikan pesan-pesan terakhirnya. Sehalus mungkin ia harus menarik nafas demi mengisi rasa sesak dalam dadanya, untung saja selang nasal kanula yang terpasang di hidungnya cukup membantu untuk meraup oksigen dengan cukup.


"Dek... Aku sangat mencintaimu... percayalah... hati mas... akan selalu menemanimu... selalu ada untukmu..."


Yuana yang tidak tahan lagi mendengar ucapan Amar, berlari keluar ruangan dan berpapasan dengan Bu Fatma yang hendak menghampirinya. Bu Fatma yang mengangkat tangan ingin menahan kepergian Yuana, menarik kembali tangannya ketika melihat Amar menatap Yuana dengan air mata yang mengalir. Cepat-cepat ia menghampiri Amar untuk memastikan keadaan yang sebenarnya terjadi.


"Nak Amar... kenapa Yuana?"


"Bu... saya... titip Yuana... dan Bila... ju... ga... hati... saya..." dengan terbata Amar memohon kepada Bu Fatma.


"Nak Amar... bersemangatlah untuk sembuh, kau pasti bisa menjaga Yuana dan Nabila nantinya. Soal Ilham, tenanglah... kami pasti akan menemukan donor yang cocok. Fokuslah untuk cepat pulih... yaa?!" tegas Bu Fatma pada Amar sambil mengelus pundak sahabat dari anak-anaknya itu.


"Sah... yhaa... moh... hon..." dengan tersengal-sengal Amar berusaha memohon pada Bu Fatma untuk mengabulkan keinginannya sambil menggenggam erat tangan Bu Fatma. Melihat Amar seperti kesulitan menarik nafas, membuat panik Bu Fatma.


"Amar! DOKTER... TOLOOOONG!!" teriak Bu Fatma dengan panik sambil menekan tombol darurat.


Yuana yang sedang menangis di depan pintu seketika langsung berlari menghambur ke arah Amar, diikuti di belakangnya dokter Sinta dan dokter Yusuf.

__ADS_1


"Maaaas! Mas Amaaaaaar..." Yuana semakin meraung ketika Bu Fatma memeluk dan membawanya menjauh agar dokter bisa memeriksa keadaan Amar.


__ADS_2