
Pukul empat sore, Ilham baru menyelesaikan menandatangani berkas-berkas yang dikirimkan secara online oleh Arief dan dicetak oleh Yuana sebelumnya. Kemudian merapikannya ke beberapa map snelhecter disesuaikan dengan peruntukkannya.
Niatannya untuk menelpon Arief, ia urungkan karena terdengar ketukan di pintu yang bahkan tidak tertutup.
"Assalamu'alaikum, kok sepi... pada kemana semua?" suara lembut dari pengetuk pintu terdengar diiringi senyuman manis ketika Ilham melihat ke arah pintu.
"Wa alaikum salam, mbak. Apa kabar?" Ilham sedikit terkejut dengan kedatangan kakak iparnya, sedangkan Rahmat tidak mengatakan apa-apa tadi perihal kedatangan istrinya.
"Yah seperti kamu lihat sekarang. Alhamdulillah mbak sehat. Ummah mana?"
"Lagi jalan-jalan ke mall depan sama anak-anak. Mbak Ratna baru datang sendirian atau tadi bareng Mas Rahmat?" masih penasaran apakah mereka berdua saling tidak mengetahui keberadaan masing-masing.
"Baru datang, Ham, mbak naik pesawat terakhir ini tadi."
"Kenapa ndak bilang kalau mau datang? Kan bisa dijemput Pak Hadi atau Arief di bandara. Naik apa tadi ke sini?"
"Alhamdulillah sekarang ada taksi online, jadi gampang lah urusan transportasi. Mbak gak suka merepotkan, lagian pingin bikin kejutan kok. Tapi yang dikejutkan pada ndak ada, hehe."
"Kenapa ndak bareng sekalian aja dengan Mas Rahmat, Mbak?"
"Kayak ndak tau masmu aja. Kalau sudah sibuk dengan urusan project mana bisa diganggu."
Ilham semakin heran dengan jawaban Ratna dan berpikir jika rumah tangga kakaknya pasti sedang bermasalah.
"Ya, tapi sesibuk-sibuknya, bukankah komunikasi dengan pasangan itu penting?" walau merasa dirinya sok bijak, entah kenapa kalimat itu yang keluar, "semoga kalian bisa menemukan solusi untuk masalah kalian."
"Hei... siapa bilang kami ada masalah," sanggah Ratna bertepatan dengan suara derit pintu gerbang disusul suara debum pintu mobil ditutup.
"Ah itu pasti ummah sama anak-anak," lanjutnya seraya berlari menuju pintu samping yang menghubungkan ruang tengah dengan garasi.
Ratna sungguh terkejut melihat di depannya, Rahmat sedang berusaha menggendong anak kecil yang jelas-jelas bukan Azyan, karena rambut panjang curly yang dikuncir dua itu jelas bukan anak laki-laki.
Yang lebih mengejutkan adalah gadis kecil tadi diambil dari pangkuan seorang perempuan berkulit putih yang lebih muda dan cantik darinya.
Dan ketika Rahmat sudah menggendong anak tadi, si perempuan sibuk membawa beberapa barang yang sepertinya adalah mainan anak itu.
Apa ini yang kamu katakan sibuk akhir-akhir ini, Mas? Apa jangan-jangan anak itu anakmu, Mas? Apa ini dibalik sikap dinginmu selama ini? Bahkan ummah juga menyembunyikan dengan baik. Apa ini maksud ucapan ambigu Ilham tadi? Tidak! Tidak! Aku tidak mau dimadu, aku tidak bisa...
"Ratna?!"
Rahmat hampir tidak percaya, istrinya tiba-tiba sudah ada di sini. Bukankah Ratna selalu sibuk dan hanya mau meluangkan waktu jika itu adalah masalah Tiara? Kenapa tidak bilang jika mau ke sini, tahu gitu tadi berangkat sama-sama, bukankah itu lebih baik? Dan kenapa wajahnya pucat begitu? Apa ia sakit?
"Permisi," Yuana yang berjalan melewatinya menyadarkan Rahmat dari ketertegunannya.
Namun karena ia sedang menggendong Nabila, ia hanya melewati Ratna sambil mengangkat satu tangannya dan bicara tanpa suara, "tunggu."
Ratna sama sekali tidak menyangka, bahwa Rahmat mengabaikannya demi mengikuti perempuan yang berjalan mendahului tadi. Menuju kamar tamu! Bahkan Rahmat ikut masuk ke kamar itu!
"Astaghfirullahal'adziim," gumam Ratna sambil memegangi dadanya yang seakan tertekan beban yang sangat berat. Lunglai sudah kedua kaki yang ia topang sekuat tenaga agar tetap berdiri tegak tadi. Dengan sedikit terhuyung ia berjalan cepat menuju sofa dan mendudukkan diri di sana.
Sementara di dalam kamar tamu yang telah direnovasi menjadi kamar anak-anak itu, Yuana bergegas menyiapkan tempat tidur untuk Nabila di kasur yang berada di sisi kanan, kemudian menyiapkan pula untuk Azyan, kasur berbentuk benteng ala negeri dongeng yang berada di sisi kiri. Anak itu sebelas dua belas dengan Nabila, pasti nanti pulang juga dalam keadaan tertidur.
Rima yang tertidur di samping Norish, yang tengkurap di atas playmat yang tergelar di dekat benteng tadi sambil memegangi botol kosong, terbangun saat Rahmat masuk dan meletakkan Nabila di kasur yang sudah disiapkan Yuana.
"Maaf, Mbak Yuana, saya tertidur!" gelagapan Rima yang merasa terciduk tertidur saat menjalankan tugas.
klinthiiing
Terdengar suara benda padat kecil terjatuh dan menggelinding ke kolong kasur tempat Nabila baru saja dibaringkan membuat Yuana dan Rima spontan menoleh ke arah Rahmat yang berdiri celingukan di samping kasur Nabila.
Karena tidak tahu benda apa yang jatuh dan Rahmat pun sudah pergi ke luar kamar, Yuana mengembalikan perhatiannya kepada Norish yang sedang kini sedang asyik memukul-mukul mainan yang tergantung di atas playmat.
"Kok bisa sih, Rim... kamu tertidur saat jagain Norish? Semalam kamu begadang lagi? Untung aja Norish ndak merangkak ke mana-mana... bahaya tahu," cecar Yuana pada Rima yang sepertinya masih penasaran benda apa yang jatuh tadi.
__ADS_1
"Iya, semalam nglanjutin nonton drakor yang kemarin. Abis nanggung, Mbak, tinggal beberapa episode aja, hihi," jawab Rima sambil meringis mengakui kesalahannya.
"Lain kali jangan diulangi, kalu terulang terpaksa mbak laporkan ke Bu Fatma," tegas Yuana.
"Iya, Mbak, Rima janji," balas Rima sambil masih menungging mengintip ke kolong tempat tidur.
"Kamu ngapain sih?"
"Nyari yang jatuh tadi, Mbak Yuana ndak kedengeran kah?"
Yuana tidak menghiraukan Rima, kakinya sudah terasa lelah, jadi lebih baik memilih menyelonjorkan kaki sambil menjaga dan mengudang Norish.
"Mbak!"
Rima yang tiba-tiba mendekat dan menepuk paha, mengagetkan Yuana.
"Apa sih, kebiasaan deh," gerutu Yuana.
"Pak Rahmat sama siapa sih, kok kayaknya sedang ribut," bisik Rima.
"Ribut apanya, sepertinya itu sama istrinya, udah deh hilangin kebiasaan keponya itu."
Yuana memang mendengar samar suara Ratna dan Rahmat yang sepertinya sedang mendebatkan sesuatu, ia menarik tangan Rima ketika Rima akan pergi ke arah pintu.
"Kalau beneran ada istrinya Pak Rahmat, Rima mau bikinin minum, Mbak," kelit Rima karena ketahuan akan menguping.
"Tadi ada Mbok Sari, pasti sudah dibuatkan minum, sudah di sini aja kerjakan tugasmu."
Sementara di ruang kerja, sepeninggal Ratna, Ilham menelpon Arief membahas berkas yang sudah ia tanda tangani tadi sekalian membahas rencana esok hari, jadi Arief bisa langsung pulang, tidak perlu datang ke rumah sore ini.
Ilham menggeliatkan badannya ke atas, ke kanan dan ke kiri, kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan keluar ruang kerjanya. Ia juga ingin bergabung jika ummah benar-benar sudah pulang. Berkumpul bersama keluarga adalah hal yang sangat ia sukai.
Tetapi ternyata yang duduk di sofa hanya Rahmat dan Ratna. Mau ikut duduk bergabung ia urungkan karena sepertinya mereka sedang bersitegang.
"Mas Rahmat tidak perlu menjelaskan apa yang Ratna lihat dengan mata Ratna sendiri. Aku sama sekali tidak menyangka Mas Rahmat lebih memilih selingkuh."
"Astagfirullahal'adziim... Astaghfirullahal'adziim... Astaghfirullahal'adziim. Sudah! Apa akan mengubah kenyataan?"
"Kenyataan tidak akan berubah, Sayang, tapi emosi dihatimu yang akan reda. Jadi kita bisa bicara dengan enak."
"Ratna tidak peduli, Mas. Mau Mas Rahmat menikah lagi, mau kumpul kebo, Ratna ndak peduli. Kalau Mas Rahmat sudah bosan dengan Ratna, pulangkan baik-baik, jangan begini!"
Rahmat berusaha meredam emosi istrinya itu dengan merangkulkan tangannya dipundak sang istri. Tapi Ratna selalu menampik, tak mau disentuh.
"Tapi itu Yuana..."
"Iya! Itu Yuana, anak magang dulu itu kan? Berapa tahun, Mas? Berapa tahun Mas Rahmat menyembunyikannya?!"
"Mas gak pernah menyembunyikan. Bahkan sekarang ummah sudah menganggapnya anak sendiri. Jadi Mas juga menganggap Yuana adik sendiri. Ilham dan Annisa juga."
"Siapa yang akan percaya. Menyimpan janda muda di dalam rumah dengan dalih dijadikan adik. Alasan basi itu, Mas."
Pertengkaran terhenti karena sayup-sayup terdengar adzan maghrib. Ratna bangkit dan berlari ke lantai dua menuju kamarnya. Diikuti oleh Rahmat yang membawa serta koper Ratna yang berada di dekat tangga.
Ilham yang tadi hendak maju membantu Rahmat menjelaskan pada Ratna perihal Yuana menjadi urung. Ia kemudian menoleh ke arah kamar anak-anak, tampak Yuana membuka pintu dan keluar kamar dengan mimik wajah datar. Ia tak tahu Yuana mendengar semua yang ia dengar tadi atau tidak.
"Ummah mana?" tanya Ilham, karena setahunya tadi ibunya pergi dengan Rahmat dan Yuana.
"Belum pulang, Mas. Mungkin sebentar lagi karena tadi mbak Annisa nyusul dan Azyan minta dibelikan sosis bakar."
"Waah lama tuh, biasanya antriannya panjang."
"Iya, Mas, tadi antriannya emang lumayan."
__ADS_1
"Mau berjamaah?"
"Boleh, Mas. Tapi Yuana ambil wudlu dulu ya," jawab Yuana antusias apalagi melihat mbok Sari yang sudah mengenakan mukena masuk dan menuju musholla, "Mbok, tunggu, kita jamaah."
"Iya, Mbak Yuana."
Ilham tersenyum melihat wajah ceria Yuana, ia pun menyusul Yuana untuk mengantri wudlu di kamar mandi bersih yang berada dekat musholla.
Ketika mereka bertiga sudah siap di mushollah, Bu Fatma berlari-lari masuk rumah dan minta ditunggu untuk ikut berjamaah. Dan akhirnya mereka sholat maghrib berjamaah berempat, karena Annisa sedang berhalangan dan Pak Hadi memilih sholat sendiri di paviliun.
Sepertinya Rahmat dan Ratna berjamaah sendiri di kamar, karena sama sekali tidak keluar dari kamar sampai waktu Isya'. Dan baru turun setelah semua berkumpul di ruang keluarga menanti jam makan malam.
Ratna begitu senang melihat Bu Fatma yang tersenyum ke arahnya, namun seketika menghapus wajah cerianya begitu melihat Yuana duduk di sebelah Bu Fatma.
Setelah menyapa dan mencium tangan Bu Fatma, Ratna mengambil duduk menjauh di ujung sofa agar tidak berdekatan dengan Yuana. Rahmat samapi menggelengkan kepala melihat kecemburuan tak berdasar istrinya itu.
Perbincangan menghangat dimulai dari saling menanyakan kabar, lalu menceriterakan rutinitas terbaru kegiatan sehari-hari mereka, juga kerumitan Tiara menjelang usia remaja.
Seperti biasa, Bu Fatma selalu menanggapinya dengan bijak, berbagai nasihat ia selipkan agar bisa diterima anak-anaknya itu tanpa terkesan menggurui.
"Mumpung Ratna sudah datang ke sini, ummah akan ngasih hadiah buat Rahmat dan Ratna. Brosur yang dapat dari mall tadi mana, Mat?"
"Emmm, Rahmat kasih Yuana kayaknya, Ummah."
"Ah iya, ada di tas Yuana."
Yuana pun teringat ketika ada seorang SPG sebuah agen travel yang berpakaian seksi memberikan beberapa brosur kepada Rahmat, lalu menyerahkan padanya karena harus membantu Azyan menaiki dinding panjat. Lalu ia bergegas menuju kamar anak-anak di mana ia meninggalkan tas ranselnya, mengeluarkan brosur yang dimaksud dan menyerahkannya pada Bu Fatma.
Bu Fatma membaca brosur-brosur tersebut dan menanyakan pada Yuana jika ada yang kurang dimengerti.
"Yang ini di pegunungan, yang ini di pantai, enaknya yang mana ya, Nduk?"
"Ditanyakan langsung pada Pak Rahmat atau Bu Ratna aja, Bu, kan ada beliaunya," Yuana memilih mengalihkan kepada yang bersangkutan saja.
"Oh iya ya, hehe," Bu Fatma terkekeh seraya menepuk-tepuk lutut Yuana, lalu menyodorkan brosur-brosur tersebut pada Ratna, "Coba kalian pilih salah satu, ummah yang traktir."
"Enak beneeeer," celetuk Annisa menggoda kakak-kakaknya itu.
"Yang suka habisin voucher hotel siapa?" tanya Bu Fatma dijawab dengan senyum lebar oleh Annisa.
Ratna sedikit mengangkat tubuh agar tangannya bisa menjangkau brosur tersebut. Lalu bergelayut manja ke lengan Rahmat yang duduk disebelahnya.
"Oh, paket honeymoon. Jadi seandainya aku ndak ke sini, calon istri baru yang bakal diajak nih. Pasti kesel kan, ternyata jadinya sama aku," gumamnya setengah berbisik ke Rahmat.
Ia merasa Bu Fatma masih menghargai dirinya dengan memberikan paket honeymoon itu kepada dirinya. TTRatna membolak-balik brosur sambil menyenderkan kepala di pundak suaminya itu.
"Uda manja gini, dijaga ngomongnya, masih curiga aja bawaannya," bisik balik Rahmat.
"Gak curiga gimana, di mana-mana emang janda tuh, apalagi yang punya anak, nyarinya pasti yang kebapakan, yang mapan. Kalo yang masih bujang gak bakal kelihatan meskipun di depan mata," bahkan sudah tidak bergumam lagi.
Meskipun tidak lantang tapi cukup terdengar oleh semua yang duduk di ruangan itu, tentu saja semua terkejut mendengarnya.
Emosi Ratna yang tadi sudah sedikit mereda, tersulut kembali gegara brosur paket honeymoon yang dititipkan Rahmat pada Yuana.
"Maksud Mbak Ratna siapa ya?" Annisa merasa jika Ratna sepertinya sedang menyindir Yuana, "Yuana?"
"Eh, kok bisa langsung ketebak, jadi semua sudah tahu ya?"
"Mbak Ratna jangan asal nuduh deh, pasti Mbak salah paham."
"Salah paham? Wong mbak lihat pakai mata kepala sendiri kok. Ingat... Al hamwu al maut, ipar saja adalah maut, apalagi orang lain. Kenapa juga Ummah harus membawa masuk perempuan asing masuk ke dalam rumah. Ilham masih lajang, Mas Rahmat juga sering ke sini sendirian, bukankah itu sengaja mengundang fitnah namanya."
"Sabar ya, Nduk," Bu Fatma mengusap bahu Yuana yang kini tertunduk dalam, "Ratna, kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu, su'udzon, gak baik, Nak. Makanya ummah mau kalian mengambil salah satu paket itu, biar kalian bisa memperbaiki hubungan kalian. Jangan ditolak, kalau perlu kalian berangkat besok. Ummah sudah memberi banyak masukan buat Rahmat. Rahmat... kamu paham maksud ummah kan? Kamu kepala rumah tangga, harus bisa menahkodai bahtera rumah tangga kalian dengan baik."
__ADS_1
"Tapi Ummah, selama telur kupu-kupu masih disimpan, lama-lama dia akan jadi ulat yang menggerogoti..." Ratna masih belum bisa menerima keberadaan Yuana di rumah punden itu, tapi sebelum menyelesaikan mengungkap kekhawatirannya, kalimatnya terpotong oleh seseorang yang baru datang.
"Jangan khawatirkan Yuana! Dia tidak salah apa-apa, dia tidak akan mengganggu rumah tangga siapapun, apalagi rumah tangga kalian. Karena dia akan segera menikah denganku. Yuana, calon istriku!"