
Ilham sedang sibuk memilah email yang masuk ke akun emailnya, menandai email penting yang harus segera dibaca atau ia baca esok dan email tidak penting yang harus dihapus. Kebiasaan yang dilakukannya setiap menunggu jam makan malam.
Kali ini ia duduk di tepi sofa ruang kerjanya, agar aktifitasnya tidak mengganggu kenyamanan keluarga yang sedang berkumpul. Meskipun begitu ia tetap bisa mendengar percakapan keluarganya, walaupun kadang hanya ia dengar sepintas lalu.
Tapi begitu mendengar Ratna mulai mengusik Yuana, ia yang sedari tadi menunduk melihat layar handphonenya, melongokkan kepala ke ruang tengah melihat Ratna dan Yuana bergantian.
Ratna memang tampak bersikap biasa saja namun kata-katanya tadi terdengar sangat tajam seperti bukan dirinya. Ilham saja geram dan ingin marah, bagaimana dengan perasaan Yuana?
Sedangkan Yuana tampak menunduk, kedua tangan Bu Fatma mengusap-usap pundaknya, entah apakah dia kini menahan malu, sedih atau marah. Yang jelas Bu Fatma sedang menasehati Ratna untuk tidak berkata seperti itu.
Namun sepertinya Ratna tetap keberatan dengan keberadaan Yuana di rumah ini, apakah seperti ini wujud kecemburuan seorang istri itu? Pasti Yuana ketakutan dan bingung harus bersikap bagaimana sekarang.
'Bagaimana caraku menolong Yuana dari situasi ini? Ternyata Ratna tidak pernah berubah. Kenapa Mas Rahmat juga diam saja? Bagaimana jika setelah kejadian ini Yuana meminta mundur dan memilih pergi entah kemana? Apakah aku siap kehilangan dirinya lagi? Sial!!'
"Jangan khawatirkan Yuana! Dia tidak salah apa-apa, dia tidak akan mengganggu rumah tangga siapapun, apalagi rumah tangga kalian. Karena dia akan segera menikah denganku. Yuana, calon istriku!" tanpa berpikir panjang lagi, Ilham berjalan ke depan meja ruang tengah di mana keluarganya berkumpul itu.
Dengan berdiri angkuh menatap Ratna dan Rahmat, ia katakan kalimat yang cukup mengejutkan semuanya itu. Tidak terkecuali Yuana yang mendongak tak percaya menatap Ilham.
"Wah... Wah... Wah... Ternyata bukan Mas Rahmat saja yang digoda. Kamu pun sudah terjerat jebakannya, memang janda selalu di depan ya," Ratna berdiri sambil menepukkan tangannya beberapa kali lalu menunjuk ke arah Ilham.
"Ratna! Sudah! Cukup!" bentak Bu Fatma. Ia tak menyangka, Ratna yang biasanya bersikap dan bertutur kata lemah lembut bisa mengatakan hal-hal yang bisa menyakiti hati orang lain.
Bentakan Bu Fatma membuat pertahanan di hati Yuana runtuh, sudah tak dapat lagi ia menahan perasaannya. Tanpa berpamitan, ia lari menuju paviliun taman sambil berusaha menahan tangis. Tak menghiraukan sapaan Rima yang sedang membantu Mbok Sari menyiapkan makan malam.
"Ada apa ya, Mbok, Mbak Yuana kok lari sambil nangis gitu?" bisik Rima penasaran.
"Hush... Jangan suka ikut campur urusan majikan. Bawa ini ke meja makan, sudah mau jam delapan ini. Sebentar lagi waktunya makan malam."
Rima membawa mangkuk besar berisi kari ayam dengan hati-hati dan sebisa mungkin tidak menimbulkan suara, sambil melirik ruang tengah yang sepertinya sedang tegang suasananya. Berjalan bolak-balik antara dapur dan ruang makan, membuatnya bisa mendengar dengan jelas keributan keluarga majikannya tersebut.
"Apa kamu tidak merasa keterlaluan berbicara seperti itu?!" dengan tetap berdiri, Ilham bersedekap menghadap Ratna yang masih berdiri di depannya.
"Kamu tidak tahu saja, bahkan janda yang kamu bilang calon istrimu itu menggoda Mas Rahmat sampai kancing bajunya lepas, kamu bilang aku keterlaluan?"
"Astaghfirullah, Ratna. Mas kan sudah jelasin, kancing mas tersangkut di bajunya Nabila, copot, waktu mas naruh Nabila di kasurnya," Rahmat berusaha menarik tangan Ratna agar duduk kembali di sampingnya. Tidak enak hati pada Bu Fatma yang terlihat bersedih mendengar semua, karena ini adalah pertikaian pertama anak-anaknya.
"Bela teruuuus!"
"Ratna, ummah bilang cukup ya, Nak. Duduk dulu. Ilham, kamu duduk juga."
Dengan enggan Ilham hendak duduk di tempat Yuana duduk tadi, tapi urung karena melihat Mbok Sari yang sepertinya hendak menyampaikan sesuatu.
"Ada apa, Mbok?"
"Anu, Mas. Maaf, makan malamnya sudah siap. Sama ini..." Mbok Sari mengulurkan tangan kepada Ilham, "kancing bajunya Den Rahmat, tadi Rima yang tahu kancing Den Rahmat lepas waktu naruh Nabila."
"Terima kasih, Mbok."
Ilham menerima kancing baju tersebut, melihatnya sebentar lalu berjalan ke depan Ratna duduk dan meletakkan kancing tersebut di meja tepat di depan Ratna.
"Bisa pasang kancing, kan?"
Ilham berjalan mendekati ibunya, tapi tidak untuk duduk melainkan mengajak untuk segera makan malam saja dengan mengulurkan tangan membantu Bu Fatma berdiri.
"Kita makan malam saja, Ummah. Ah, bahkan Yuana belum menyiapkan obatku."
Akhirnya mereka makan malam dalam diam, hanya dentingan sendok di piring yang sesekali terdengar. Hingga ketika Ilham selesai meminum obatnya, Bu Fatma berbicara.
"Ummah harap, ini yang pertama dan terakhir kalian bertikai seperti tadi. Kalian terpelajar, terdidik, terbiasa mendiskusikan segala sesuatu. Bukankah itu yang selalu abah dan ummah ajarkan pada kalian?"
Bu Fatma memandang anak-anaknya satu persatu sebelum melanjutkan nasihatnya.
__ADS_1
"Ratna, ummah mengerti perasaanmu saat ini. Tapi cemburu buta juga tidak baik, Nak. Menuduh tanpa bukti dan saksi bisa menjadi fitnah. Itu justru akan merusak rumah tanggamu. Kamu, Mat, ini kesempatanmu sebagai kepala rumah tangga untuk memperbaiki keharmonisan hubungan kalian."
"Baik, Ummah," jawab Rahmat.
"Annisa, semoga peristiwa ini juga jadi pembelajaran untuk kamu. Apalagi kalian juga tinggal berjauhan, harus bisa saling percaya, saling terbuka satu sama lain, ya?"
"Siap, Ummah."
"Rahmat, Ratna, kalian diskusikan paket yang mau diambil, segera booking, nanti totalnya berapa kirim nomer rekeningnya ke ummah. Ya sudah, sekarang kalian istirahat dulu."
"Rahmat bayar sendiri saja, Ummah."
"Tidak, kan tadi ummah sudah janji mau traktir. Yang penting rumah tangga kalian menjadi jauh lebih baik, ummah ikut senang. Ham, tolong pijat kaki ummah sebentar, ya," Bu Fatma memberi kode kepada Ilham untuk berbicara berdua sebelum mereka tidur.
"Ayah, bunda mana?" suara Nabila yang baru keluar dari kamar anak-anak cukup membuat semua menoleh. Termasuk Ratna yang tadi sudah berjalan mendahului Rahmat dan sudah mendekati tangga.
"Iya, Sayang. Nabila mau tidur sama bunda?"
"Nabila bubuk sama adik Norish yuk, nanti tante dongengin, mau?" tawar Annisa.
"Bila mau bubuk sama bunda," jawab Nabila sambil mengucek-kucek matanya.
"Anterin Nabila dulu saja, Ham. Sepertinya kamu juga harus berbicara dengan Yuana. Ummah tunggu di kamar ya."
Akhirnya mereka pun pergi ke kamar masing-masing setelah Ilham menggendong Nabila untuk diantar ke paviliun taman. Berhenti sebentar di dapur, meminta Mbok Sari mengambilkan seporsi nasi kari untuk Yuana. Akhirnya dengan tangan kiri menggendong Nabila dan tangan kanan membawa sepiring nasi kari.
"Yuana... Yuana."
Dengan tangan kiri yang menggendong Nabila, Ilham mencoba membuka pintu paviliun. Rupanya Yuana mengunci pintu, mungkin karena mengira Nabila tidur di rumah utama dan ia tidak ingin diganggu.
"Yuana! Ini aku sama Nabila, bukain sebentar," Ilham setengah berteriak berharap Yuana mendengar dan mau membuka pintu.
Dan benar saja, tak lama terdengar suara pintu dibuka lalu lampu ruang depan menyala. Dan pintu yang tadi diketok Ilham akhirnya terbuka setelah terdengar suara kunci diputar.
"Biar Yuana saja, Mas."
"Siapin bantalnya saja," ujar Ilham dengan tetap menyelonong ke kamar Yuana. Setelah meletakkan Nabila di atas kasur, Ilham pun bergegas keluar dari kamar.
Setelah Yuana menyelimuti Nabila, ia pun keluar kamar hendak mengunci kembali pintu depan. Namun ternyata Ilham belum keluar paviliun, melainkan duduk di sofa di depan kamar itu.
"Duduklah, ada yang mau aku sampaikan."
Sebenarnya Yuana enggan bertemu dengan siapa pun malam ini, apalagi wajahnya terlihat sangat sembab karena sedari tadi menangis. Tapi ia pun tak bisa mengusir Ilham, ia ingin tahu alasan ucapan Ilham tadi.
"Aku minta maaf atas kejadian tadi, dan aku terpaksa mengakui kamu sebagai calon istriku. Maaf, aku spontan mengucapkannya, karena tidak menemukan ide lain selain itu. Aku tidak mau Ratna terus-terusan menindasmu," padahal Ilham memang sengaja mengakui karena memang itu yang ia harapkan.
Namun Ilham terlalu takut jika Yuana tersinggung atau bahkan menolak dirinya lalu memilih untuk pergi menjauh.
"Tapi, saya..."
"Kamu bersikap biasa saja, seperti biasanya. Anggap aku tak pernah mengatakannya. Rumah tangga mereka memang sepertinya sedang bermasalah, dan aku tidak mau kamu yang jadi sasaran pelampiasan Ratna."
"Besok pagi saya akan bicara dengan Bu Ratna, biar tidak ada kesalahpahaman lagi."
"Tidak perlu, biar itu jadi urusan Mas Rahmat. Aku tahu persis siapa Ratna, pembelaanmu tak akan berguna untuknya."
"Tapi..."
"Sudah, segeralah beristirahat, tak ada yang harus kamu tangisi. Anggap tidak pernah terjadi apapun malam ini," Ilham tidak tega melihat wajah Yuana yang sembab karena menangis.
"Mas Ilham sudah minum obat?" Yuana mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Hmm," dijawab anggukan kepala Ilham, "oh ya, jangan lupa dimakan," tunjuk Ilham pada sepiring nasi yang ia letakkan di meja tadi .
"Iya, Mas. Maaf, tadi tidak sempat menyiapkan obatnya."
"Tidak apa-apa, besok pagi jangan sampai kesiangan. Temani aku ke suatu tempat."
"Baik, Mas."
"Pakai setelan hijaunya."
"Hah?" Yuana bingung dengan maksud permintaan Ilham, kenapa ia diminta memakai setelan hijau, seingatnya ia tidak punya setelan hijau.
"Aku tahu kamu sudah mencucinya. Aku balik dulu, assalamu'alaikum," pamit Ilham seraya bangun dari duduknya dan berjalan keluar.
"Iya, Mas, wa 'alaikumussalam," jawab Yuana setelah mengerti setelan yang dimaksud Ilham.
Setelan dengan atasan berwarna pistachio dan bawahan serta outer berwarna sage, yang dibelikan Ilham waktu berjalan-jalan menemani Bu Fatma shopping dulu.
Yuana mengikuti Ilham sampai ke ruang depan lalu menutup dan mengunci pintu begitu Ilham keluar dari paviliun.
Hati Yuana sekarang sedikit lebih ringan setelah mendengar penjelasan Ilham. Entah ia harus bersikap bagaimana esok di hadapan Ratna ataupun Bu Fatma. Ia takut jika Bu Fatma akhirnya juga berpikiran jika ia menggoda Ilham.
"Yaa Allah... Hamba pasrah akan segala skenario yang Engkau tetapkan untuk hambamu ini, Yaa Allah. Berilah hamba kekuatan dan kesabaran untuk menjalaninya. Hamba hanya mengharap keridloan-Mu, Yaa Allah."
Keesokan paginya, semua sudah berkumpul di ruang keluarga rumah utama menanti sajian makan pagi yang sedang disiapkan oleh Bu Fatma dibantu Mbok Sari dan Rima.
Ratna sudah tidak bersikap ketus namun juga tidak bisa bersikap ramah, bahkan ia tidak mengacuhkan sapaan Yuana padanya. Pengakuan Ilham sama sekali tidak mengurangi rasa cemburunya.
Turunnya Ilham dari tangga cukup menyita perhatian, pasalnya ia memakai setelan berwarna senada dengan Yuana. Atasan kemeja polos lengan panjang berwarna pistachio satu tone lebih gelap dari atasan Yuana berpadu dengan celana berwarna sage sewarna dengan celana kulot milik Yuana, hanya berbeda bahannya saja.
"Ciye... Ciyeee... Udah couple-an aja nih outfitnya," goda Annisa saat tahu kakaknya itu menuruni anak tangga dengan santai lalu langsung menuju meja makan.
Sebuah jas dan dasi yang dipegang Ilham disampirkan di sandaran kursi meja makan sebelum ia duduk di kursi itu.
Bu Fatma tersenyum melihat penampilan Ilham yang terlihat segar itu. Ia pun ikut duduk di kursinya, kursi yang selalu menjadi tempat duduk Abah Haikal dulu jika makan bersama. Rahmat menyusul ikut duduk tepat berhadapan dengan Bu Fatma dan disusul Ratna yang duduk didekatnya, selisih dua kursi dari tempat duduk Ilham.
"Kalian jadi hadir acara reuni?" tanya Bu Fatma pada Ratna yang baru saja duduk.
"Jadi, Ummah, tapi sepertinya Mas Rahmat datang telat karena masih ada urusan dengan Annisa di pabrik," jawab Ratna.
"Iya, Ummah. Nanti selesai urusan pabrik, Rahmat akan jemput Ratna dan langsung ke resort, jadi tidak mampir pulang dulu," imbuh Rahmat membenarkan ucapan Ratna. Sepertinya mereka sudah memutuskan paket liburan yang diminta ibunya itu.
"Baguslah. Kalian baik-baik di sana, berkomunikasi dengan lebih terbuka sehingga bisa saling memahami. Ratna juga masih muda, siapa tahu pulang-pulang, ada kabar kehadiran adiknya Tiara, hehe."
Setelah drama semalam, sarapan pagi kali ini terbilang berjalan cukup tenang. Bahkan Azyan dan Nabila pun memilih makan sendiri tanpa rewel khas anak-anak.
Mungkin karena bukan makanan berat menu makan pagi kali ini. Hanya pancake pisang dengan beberapa pilihan topping yang tersedia di atas meja.
Selesai sarapan, semua memulai aktifitasnya masing-masing. Bu Fatma menemani anak-anak menanti kedatangan mentor home schooling mereka.
Ratna membawa si pinky pergi ke hotel tempat reuni sekolahnya diadakan, kebetulan ia adalah salah satu panitia, sehingga harus datang lebih awal.
Rahmat dan Annisa bersama Pak Hadi tentunya, pergi ke pabrik.
Ilham baru saja mendatangkan mesin embos dan laser untuk memperluas segmen pasarnya, di mana permintaan akan kulit bertekstur atau bermotif tertentu sedang meningkat permintaannya. Dan hari ini adalah proses instalasi serta pelatihan untuk operatornya.
Rahmat yang lebih paham hal teknis tentu saja harus dimanfaatkan dengan baik oleh Ilham untuk membantunya, apalagi pagi ini Ilham harus melakukan meeting dengan klien baru.
Selain meeting tersebut ada acara penting lain yang harus dihadiri Ilham. Yuana yang bertugas memastikan protokol kesehatan Ilham tentu saja wajib ikut.
"Acara kedua aku yang nyetir," ucap Ilham seraya meletakkan kunci mobil di telapak tangan Yuana yang digamitnya tanpa permisi.
__ADS_1
"Ish, kebiasaan," protes Yuana sambil menangkis tangan Ilham, "ini kenapa harus pakai seragam... kayak anak panti saja. Mana ada meeting pakai dresscode? Pasti akal-akalan saja ini... akal bulus!" gerutu Yuana sambil berjalan mengikuti Ilham menuju mobil yang akan mereka naiki.
Segera ia membuka central lock pintu mobil ketika melihat Ilham sudah menunggu di samping pintu dan tersenyum lebar mendengar gerutuannya.