
Setelah membawa mobil hatchback milik Annisa yang lebih sering disebut 'si pinky', untuk servis rutin ke bengkel langganan, pak Hadi menyempatkan diri mendatangi beberapa resto catering untuk memesan nasi kotak dan booking selama enam hari ke depan, sesuai perintah dari bu Fatma.
Untuk urusan sedekah semacam ini, bukanlah hal yang besar buat keluarga bu Fatma. Almarhum abah Haikal yang memperkenalkan keajaiban bersedekah kepada bu Fatma dan membiasakan keluarga mereka untuk istiqomah menjalankannya.
"Alhamdulillah, urusan catering sudah selesai, Bu. Untuk pondok pesantren, tiga resto, sedangkan untuk majelis taklim di masjid Al Fattah sama masjid An Nur ditangani ibu-ibu pengurus majelis. Mudah-mudahan lancar sampai tujuh harinya," jelas Pak Hadi sambil menyerahkan beberapa lembar nota serta kuitansi.
"Syukur Alhamdulillah, Had. Terima kasih ya sudah banyak membantuku selama ini," ucap Bu Fatma dengan tulus.
"Tidak masalah, Bu Fatma. Sudah kewajiban saya untuk menjaga dan membantu keluarga almarhum Abah Haikal semampu saya."
"Oh iya, Had. Tolong tanyakan sama Rahmat, nanti teman-temannya Amar yang bakal hadir di rumah ada berapa orang, pastikan Sari menyiapkan hidangannya dengan cukup. Tetangga... ada yang perlu diundang kah?" lanjut Bu Fatma.
"Tetangga satu blok kan ndak ada yang muslim, Bu... ada sih satu, tapi beda blok dan sepertinya jarang ada di rumah, jadi sepertinya tidak perlu. Kemarin saya juga sudah laporan ke pengurus komplek."
"Untuk paviliun gimana? Uda beres renovasinya?"
"Insya Allah hari ini selesai, Bu. Tinggal cat ulang bagian outdoor saja... besok sudah ready to habitation," jawab pak Hadi dengan lugas sambil mengajukan kedua jari jempolnya.
"Cepat juga kerjanya, pinter Arief cari tukang. Suruh Arief ngasih bonus tambahan nanti," ucap bu Fatma sambil merapikan tas kantong berisi pakaiannya yang kotor kemudian mengulurkan tas tersebut ke pak Hadi.
"Ya sudah... kalau begitu kau pulang dulu saja, istirahat... sudah kayak panda buluk tuh muka," suruh bu Fatma karena melihat pak Hadi terlihat sudah sangat mengantuk, "saya mau masuk lihat Yuana dulu."
Setelah bu Fatma terlihat masuk ke ruang Lavender, pak Hadi bertolak pulang ke rumah. Sehari semalam ia terjaga, membuat badannya serasa melayang. Betul yang dikatakan majikannya tadi, ia harus segera istirahat... tidur. Karena nanti sore, ia juga masih harus menyiapkan tempat untuk acara tahlilan yang dihadiri teman-teman alumni pondok almarhum Amar, yakni pengajian pembacaan Yaasin dan tahlil yang pahalanya ditujukan untuk almarhum.
"Bagaimana, Nak Yuana? Sudah enakan?" tanya bu Fatma menyapa Yuana yang baru keluar dari toilet dan sedang merapikan jilbabnya, "masih pusing?" tanyanya lanjut sambil meraih tiang penyangga botol infus yang dipegang Yuana.
"Alhamdulillah... sudah tidak pusing lagi, Bu. Mungkin karena menjelang menstruasi... dan ketidaksiapan... menghadapi kehilangan, Yuana... Yuana... hiks... hiks..."
"Ssssh... yang sabar ya, Nak... berusahalah untuk ikhlas, biar suamimu bisa tenang di alam kubur," hibur bu Fatma seraya merangkul bahu Yuana dan menuntunnya untuk duduk di tepi brankar. Dipeluknya tubuh putri barunya itu, tubuh yang sedikit berguncang menahan tangis.
"Maaf... Bu Fatma... maafkan Yuana sudah terlalu banyak merepotkan Ibu. Yuana ingin minta tolong sekali lagi pada keluarga Bu Fatma, mungkin saya akan merepotkan Ibu sampai masa iddah selesai. Setelah itu, Yuana janji tidak akan merepotkan Bu Fatma lagi."
"Memangnya Nak Yuana sudah ada rencana ke depannya gimana?" tanya Bu Fatma dengan lembut.
"Emmmm... Yu... Yuana... emmm... mungkin... mungkin akan kembali ke kontrakan Bu Martha... dan... mulai mendesain lagi," dengan terbata Yuana menjawab asal, karena sebenarnya ia pun tidak tahu apa yang akan terjadi pada kehidupannya kemudian hari. Hanya kembali ke kontrakan dan mencoba mengirim desain-desain tas yang ada di pikirannya.
"Tidak! Ibu tidak akan pernah mengizinkan Nak Yuana kembali ke kontrakan. Nak Yuana harus tetap ikut ibu."
Dengan tegas bu Fatma menolak keinginan Yuana. Bagaimanapun juga, menurutnya, Amar telah berkorban sangat besar pada keluarganya. Pengorbanan yang membuat seorang Yuana menjadi janda dan Nabila menjadi yatim. Tidak... ia tidak akan membiarkan Yuana dan Nabila hidup dengan tak layak. Sungguh tak adil jika ia tidak bisa membalas pengorbanan Amar itu.
"Tapi Bu... Yuana... Yuana tidak mau berhutang budi seumur hidup pada keluarga Bu Fatma. Apalagi sekarang Bu Fatma dalam kesusahan dengan sakitnya Mas Ilham, pasti butuh perhatian dan dana yang lebih. Yuana tidak ingin menambah beban bagi keluarga Bu Fatma. Percayalah Bu... Yuana pasti bisa hidup dengan baik setelah melewati ini semua."
"Baik... ibu mengerti. Tapi... ibu mohon, jangan kembali ke kontrakan. Hati ibu tak akan pernah tega melepas Nak Yuana dan si cantik Nabila hidup sendirian di luar sana. Bekerjalah pada ibu, biar ibu bisa tenang."
"Bekerja pada Bu Fatma? Kerja apa, Bu?"
"Yaa... bekerja pada ibu, ibu gaji sebagaimana mestinya. Tenang saja, Nak Yuana pasti akan segera tahu. Tak ada penolakan! Setelah tujuh harinya Amar, akan kusuruh Arif membuat akta kerjasamanya."
Yuana pun tercengang melihat ketegasan bu Fatma dalam mengambil keputusan. Berbagai macam hal berkecamuk dalam pikirannya, tentang pekerjaan apa yang akan diberikan padanya, kenapa sampai harus ada akta kerjasama? Apakah ia harus tinggal di rumah bu Fatma selamanya? Bukankah artinya ia harus satu rumah dengan Ilham, lelaki yang bukan mahromnya? Bagaimana jika kak Annisa kembali ke Singapura dan bu Fatma ikut juga?
__ADS_1
Tanpa sadar ia menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat.
'Tidak... tidak... ini bisa menimbulkan fitnah'
Saat Yuana hendak menyampaikan kekhawatirannya, seorang dokter didampingi seorang perawat datang untuk melakukan visit.
"Apa kabar Ibu Yuana, Ibu Fatma?" sapa dokter tersebut.
"Alhamdulillah, baik... Dokter Nyoman. Iya kan, Yuana?" jawab bu Fatma.
"I... iya... Alhamdulillah sudah baikan, Dok," sahut Yuana berusaha menghilangkan kegugupan akibat kekhawatirannya tadi.
"Apakah masih pusing? Kalau sudah tidak pusing, Ibu Yuana sore ini sudah boleh pulang."
"Alhamdulillah sudah tidak pusing lagi, Dok... cuman masih ada rasa sedikit nyeri seperti kram waktu jalan ke kamar mandi barusan."
"Okey... kalau begitu jika sampai siang tidak ada keluhan yang lain, sore sudah bisa pulan. Mungkin akan ada lebih banyak gumpalan dan rasa nyeri selama dua atau tiga hari ini, jangan panik... karena itu hal yang normal paska abortus komplit."
"A... abor... tus.. komplit? Saya... saya hamil, Dok?"
Bagai disambar petir di siang hari, rasanya tak percaya, di saat ia mau mulai belajar menerima kehilangan, mulai belajar mengikhlaskan... ia harus kehilangan sekali lagi. Kehilangan jabang bayi yang kehadirannya pun tidak ia ketahui sebelumnya.
Wajah pucat Yuana, semakin pucat. Kelopak mata yang sembab dan meninggalkan sisa bengkak menatap dokter Nyoman tak percaya. Namun kemudian ia mengerjap dan menggelengkan kepala.
Mana mungkin ia hamil, bahkan menstruasinya juga lancar, dan sekarang hanya terlambat... dua... emm tiga hari. Bukankah itu masuk kategori normal?
"Tapi saya sekarang menstruasi, Dok... sesuai waktunya, hanya telat tiga hari saja," sanggah Yuana.
"Sesuai perkiraan saya, usia kehamilan lima minggu. Sayangnya plasenta tidak berkembang dengan baik dan akhirnya janin luruh dengan sendirinya."
Plasenta terbentuk dan berkembang di tempat sel telur yang sudah dibuahi melekat di dinding rahim. Yakni sekitar awal minggu ke empat kehamilan. Selain sebagai pemasok oksigen, pembuang karbondioksida, dan penyedia nutrisi bagi janin, plasenta juga berperan penting dalam membuang kotoran dari darah janin. Sehingga ketika ternyata plasenta tidak terbentuk dan berkembang dengan sempurna, maka pertumbuhan dan perkembangan janin pun pasti terganggu.
Sedangkan yang terjadi pada Yuana adalah plasenta terganggu sejak awal pembentukannya, pemicu utamanya adalah stress, kelelahan dan anemia.
Bagaimana tidak, minggu keempat kehamilannya berarti tepat dengan kabar kecelakaan yang menimpa Amar, suaminya, sangat memungkinkan untuknya mengalami gangguan kehamilan. Dan pada akhirnya, tepat minggu kelima kehamilannya, janin itu luruh, keguguran... tepat saat ia harus mengantar kepergian Amar ke peristirahatan terakhir.
"Perbanyak istirahat, jangan stress. Dan... ini silahkan diambil resepnya... tetap jaga nutrisi agar pemulihannya bisa cepat. Dua minggu lagi kontrol ya... Saya permisi dulu..." pesan dokter Nyoman sebelum ia harus pergi melakukan visit dokter pada pasiennya yang lain.
"Baik Dok... terima kasih."
Perlahan Yuana mengusap-usap perutnya, memejamkan mata dan merapatkan bibirnya. Menunduk semakin dalam lalu kemudian menangis tergugu. Bu Fatma pun mempererat dan memasukkan Yuana dalam pelukannya.
"Maaf... Yuana ingin tidur, Bu..." ucapnya setelah ia cukup lelah menangis. Kepalanya terasa sangat berat, mungkin dengan tidur sebentar bisa memulihkan kondisinya.
"Baiklah Nak... istirahatlah sebentar. Ibu tinggal lihat Ilham dulu ya, nanti biar Annisa ke sini dan kalian bisa pulang sama-sama," bu Fatma membantu membaringkan Yuana dari pelukannya lalu menyelimuti kaki hingga pinggangnya. Setelah itu beliau keluar dari ruangan tersebut menuju ruang ICU tempat Ilham saat ini.
**
"Bunda sama buya temana yaa... tok belum pulang-pulang dali temalen?" gumam Nabila pada boneka barbie yang sedang ia mainkan. Boneka barbie yang dibeli saat ia dan Azyan diajak jalan-jalan ke mall tempo hari oleh tante Ica, Annisa, maminya Azyan.
__ADS_1
Meskipun gumaman Nabila tidak ditujukan untuknya, namun terdengar oleh telinga Azyan. Azyan yang duduk tak jauh dari Nabila, sedang bermain game sliter, permainan cacing makan cacing di gadget miliknya yang berupa tablet sepuluh inch hadiah ulang tahun dari opah, ayahnya papi Zein tiga bulan yang lalu.
"Bunda Bella kan lagi sakit... nanti juga pulang. Kalau ayah Bella kan sudah meninggal... yaa gak bisa pulang lagi," sahut Azyan sambil menutup permainannya karena cacing jagoannya mati gara-gara menabrak badan cacing yang lain.
"Buya tetindalan di mana... tok ndak bisa pulang laadi? Bila tan taaaneen," mata bulat Nabila berkedip-kedip sesaat trus berubah menjadi sayu.
"Kata mami, catatan amal baik ayah Bela sudah penuh... jadi ayah Bela dipanggil masuk surganya Allah. Kalau sudah masuk surga ndak bisa pulang lagi."
"Sulda? Sulda itu apa?"
"Surga itu tempat untuk orang-orang yang disayang sama Allah. Tempatnya buwaguuuus buwangeeeet... leeebih dari sedunia. Kata mami, nanti... semua orang yang baik, akan berkumpul di surga semua. Maa... kaa... nyaa... Bela harus jadi anak baik... biar amal baiknya banyak... terus masuk surga... terus ketemu ayah Bela. Kalau ndak punya catatan amal baik, nanti ndak bisa masuk surga, gak bisa ketemu deh sama ayahnya," Azyan menjelaskan dengan ekspresi serius namun justru tampak menggemaskan untuk ukuran anak seusianya.
Rima yang duduk di sofa sambil menimang-nimang Norish sampai harus menahan tawa mendengarkan Azyan memberi nasehat pada Nabila. Sedangkan Nabila hanya manggut-manggut hingga rambut curlynya tampak bergoyang-goyang.
"Assalamu'alaikum..." ucapan salam sontak membuat ketiganya menoleh ke pintu samping.
Nabila langsung saja berlari menghambur ke arah si pengucap salam.
"Bundaaaaa..."
Yuanapun berlutut menyambut buah hatinya tersebut. Direngkuhnya tubuh mungil Nabila, dipeluk erat-erat seolah enggan untuk dilepaskan. Lalu dihirup dalam-dalam aroma shampo bayi, aroma yang sungguh menenangkan, terutama jika berasal dari rambut anaknya sendiri.
Meskipun selama dalam perjalanan dari rumah sakit tadi, Yuana sudah mencoba menata hati agar kuat dan tidak menangis di hadapan Nabila, namun ketika dalam posisi seperti ini, sekuat apapun ia berusaha kuat, air mata tetap saja lolos mengalir membasahi pipinya meski tanpa tangisan.
'Anakku sayang... hanya kamu Nak, harta bunda satu-satunya yang bunda miliki sekarang. Sungguh... bunda tidak tahu...apakah bunda nanti bisa menjagamu dengan baik, Nak? Yaa Allah... berilah hamba-Mu ini kekuatan, Yaa Allah. Yaa Allah... aku harus kuat... aku harus kuat.'
Annisa dan Zein yang baru masuk tertegun melihat pemandangan ibu dan anak tersebut, demikian juga Rima dan Azyan. Tanpa sadar mereka pun ikut meneteskan air mata.
"Bunda dali antelin buya te sulda ya?" suara imut Nabila menyadarkan semua orang.
Annisa dan Zein yang terpaku di dekat pintu samping tadi segera masuk dan langsung naik ke lantai dua, diikuti Azyan yang berlari-lari kecil di belakang mereka.
"Iya... iya, Sayang. Bunda habis nganterin buya, buya... buya tidak bisa ikut pulang, Sayang. Maafkan buya... ya, Sayang," jawab Yuana dengan maih memeluk erat putrinya itu.
"Bila sudah tahu, Bunda... Bila dandi dadi anak yang baik bial nanti bisa masuk sulda sama buya. Bunda juda.. bial nanti sama-sama ladi di sana."
"Iya, Sayang... iya. Bila adalah anak bunda sama buya yang baik, anak pinter, anak sholihah."
"Bunda dangan nangis ladi ya," ucap Nabila sambil memegang niqob basah yang menutupi pipi ibunya itu.
"Iya, Sayang... bunda tidak akan menangis lagi. Ayo... sekarang Nabila mandi dulu ya, sekarang sudah masuk ashar kan."
Keberadaan Nabila di sisinya adalah salah satu sumber kekuatan yang tidak ia sadari. Rasa sedih dan tidak berdaya akibat kehilangan sosok Amar yang ia rasakan tiap kali ia sendiri, seakan memudar saat ia bersama Nabila. Jiwanya yang terasa hampa, menjadi sejuk ketika bercengkerama dengan buah hatinya itu.
Qurrota A'yun... penyejuk mata, penyejuk hati, penyejuk jiwa.
Sesuai dengan doa... yang senantiasa ia selipkan dalam doa panjang lima waktunya, pun dalam doa sepertiga malamnya.
"Robbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrota a'yun, waj'alnaa lilmuttaqiinaa imaamaa"
__ADS_1
Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa (QS Al Furqon: 74)