HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 32 KERINDUAN (Bagai tidur bertalam air mata)


__ADS_3

Aneka kumpulan bunga tertata dengan apik di sepanjang sisi kanan dan kiri. Hortensia hidrangea, pacar air, lily, dandelion, kana, krisan, honje kecombrang dan anggrek. Masing-masing mencurahkan warna-warni kecantikan dan keanggunannya. Putih, merah, ungu, biru, kuning, jingga dan merah muda.


Lautan bunga hortensia hidrangea menarik perhatian gadis kecil berambut curly. Berlari-lari menarik tangan seorang pria berbadan tegap memasuki rimbunan bunga berwarna putih. Lalu tubuh mungilnya seketika melayang ketika sang pria mengangkatnya tinggi-tinggi. Dilempar keatas lalu ditangkap oleh kedua tangan kekar pria itu.


Menjerit dan tertawa, "lagi... Buyaaa... lagi... aaaah haha..."


Taman bunga di dataran tinggi ini sungguh sangat luas dan indah, setiap hari selalu ramai pengunjung. Namun entah, kenapa kali ini begitu sunyi, dalam suasana yang sangat cerah, Yuana hanya dapat melihat Nabila dalam gendongan ayahnya menyelam dalam lautan bunga hortensia.


"Mas, Nabila... sini, jangan di situ!" seru Yuana menyiratkan kekhawatiran. Amar yang saat ini terlihat cerah bercahaya dalam balutan kaos tanpa krah lengan panjang berwarna putih terang, menurunkan Nabila. Nabila pun dengan riang berlari ke arahnya.


Yuana tertegun, membiarkan Nabila berlari ke arahnya dan memeluk kakinya sementara netra terpaku pada sosok Amar yang hanya diam berdiri, tersenyum menatapnya. Tatapan yang dalam dan senyum yang sangat indah.


Tatapan dan senyum yang sama ketika dulu Amar menantinya di bawah pergola bunga mawar putih sesaat setelah akad nikah. Wajahnya semakin bersinar karena lampu pinspot menyuar padanya di saat pencahayaan hall justru meredup.


Tatapan hangat dan senyum bahagia yang terus tersungging di bingkai wajah Amar mengiringi langkah Yuana di sepanjang wedding aisle. Yang kemudian menyambutnya dan menuntunnya ke panggung pelaminan.


Namun ketika ia hendak melanjutkan langkah mendekat ke arah Amar berdiri, melalui bentangan karpet berwarna merah... pelukan Nabila menyadarkannya.


Diraupnya wajah mungil yang mendongak menatap pandangannya. Senyum teduh Amar terlukis sempurna pada rupa buah hatinya itu.


Yuana memutar bola matanya kembali ke tengah hamparan hortensia putih, berharap menemukan kembali senyuman yang sama. Namun setelah menemukan senyuman yang ia cari, sosok itu perlahan menjauh dan memudar trus menghilang.


"Mas! Mas Amar! Mas... jangan pergi! Jangaaaan...." Yuana berusaha berlari mengejarnya, tapi kakinya mati rasa tak dapat ia gerakkan. Dapat ia rasakan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.


"Mbak... Mbak Yuana," suara Rima membangunkannya, "Mbak Yuana mimpi buruk lagi? Sampai basah kuyup begini, Mbak. Mbak ganti baju dulu, Rima ambilin minuman hangat ya."


"Makasih ya Rim... air putih saja ya," sahut Yuana sambil berusaha memindahkan Nabila yang tidur tengkurap di pahanya. Rupanya mati rasa yang ia rasakan pada kakinya akibat tertimpa tubuh Nabila dalam waktu yang lumayan lama.


"Baik, Mbak," Rima pun bergegas mengambilkan air putih hangat dan menyerahkan pada Yuana yang telah mengganti baju basahnya dengan daster panjang. Setelah memastikan Yuana sudah baik-baik saja, ia pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Saat ini kamar Yuana kembali hening, menyisakan detak jarum jam dan suara halus nafas Nabila serta dirinya yang sedang duduk di tepi ranjang. Perlahan ia buka laci nakas dan mengambil album foto yang ia simpan di dalamnya.


Sebulan sudah album foto itu menemani malam-malamnya. Setiap kali ia terbangun atau tidak dapat tidur, album foto itulah yang selalu setia menemaninya. Lembar demi lembar ia buka setiap halaman album itu. menampilkan kenangan-kenangan terakhir kebersamaan keluarga kecilnya.


Sekumpulan foto yang diambil dan langsung dicetak saat jalan-jalan bersama paska musim liburan terakhir, karena saat liburan justru Amar sibuk mengantar customer yang menyewa mobilnya untuk pergi berwisata. Album foto yang lebih didominasi foto-foto Amar dan Nabila.


Biasanya foto-foto kebersamaan mereka, hanya ditransfer ke laptopnya untuk disimpan, namun entah kenapa foto-foto saat piknik ke taman rekreasi waktu itu langsung dicetak menjadi sebuah album oleh Amar. Untuk kenangan katanya waktu itu.


Yuana mengusap pipinya yang mulai basah akibat lelehan air mata. Gambar demi gambar dalam album foto itu semakin memperdalam rasa rindu yang ia tahan selama ini.


"Mas Amar... Yuana rindu Mas... Yuana rindu," isaknya sambil menutup album foto itu lalu dengan cepat ia masukkan kembali ke dalam laci nakas dan bersimpuh di depan nakas itu. Dengan sesenggukan, Yuana bersandar dan menunduk dalam-dalam, berusaha sebisa mungkin jangan sampai tangisannya mengganggu tidur Nabila.


Semakin menahan tangis, semakin ia tak dapat menghentikan tangisnya itu. Rindu yang ia rasakan pada sosok Amar tak pernah berkurang, makin hari makin bertambah dalam. Tak ada yang ia harapkan saat ini, selain dekapan hangat suami tercinta. Namun itu tinggallah angan yang tak pernah berujung.


Di malam yang sesunyi ini


Aku sendiri tiada yang menemani


Akhirnya kini kusadari


Dia telah pergi


Tinggalkan diriku 


Adakah semua kan terulang


Kisah cintaku yang seperti dulu


Hanya dirimu yang ku cinta


Dan ku kenang


Didalam hati ku


Tak kan pernah hilang


Bayangan dirimu

__ADS_1


Untuk selamanya


Mengapa terjadi kepada dirimu


Aku tak percaya kau telah tiada


Haruskah aku pergi


Tinggalkan dunia


Agar aku dapat


Berjumpa denganmu


(Kisah Cintaku, Peterpan)


 


"Astaghfirullah... Astaghfirullahal´adziim," menyadari bahwa kesedihannya sudah berlebihan, segera Yuana beristighfar. Ia tidak ingin rasa rindu pada almarhum suaminya itu berubah menjadi niyahah, ratapan yang tak berkesudahan.


Sekuat tenaga Yuana berusaha bangkit dan menghapus jejak tangis di pipinya. Bergegas ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan hendak mengambil air wudlu. Niat hati ingin sholat malam sebagaimana biasa ia lakukan, namun ia urungkan, mengingat bahwa ia sedang dalam keadaan nifas.


Jam dinding menunjukkan waktu pukul setengah tiga lebih tujuh menit. Setengah jam lebih awal dari biasanya ia bangun untuk sholat malam. Baginya sepertiga malam yang terakhir adalah waktu yang paling bersebati antara dirinya dengan Sang Pencipta. Karena Yuana tak dapat melaksanakan sholat, ia membentangkan sajadah lalu bersimpuh, meraih tasbih di atas nakas dan mulai melantunkan kalimat-kalimat dzikrullah.


Itulah saat-saat di mana ia bisa mencurahkan segenap rasa, menumpahkan segala keluh kesah, dan menghambakan diri seutuhnya kepada Allah Subhaanahu wa Ta´ala. Dalam keheningan yang sama, ia sampaikan rindu berbalut kepasrahan pada Illahi. Kepasrahan yang niscaya berbalas kekuatan dan kesabaran serta rasa ikhlas.


Melangitkan rasa rindu dengan mengirimkan Al Fatihah berulang untuk mendiang Amar rohimahullah juga untuk kedua orang tuanya.


"Rim... Rima, sudah subuh. Sholat dulu gih!"


Ketika sayup-sayup terdengar kumandang adzan,segera ia bangkit dan pergi ke kamar Rima untuk membangunkannya. Rima, walaupun ia anak yang rajin dalam melaksanakan pekerjaannnya, tapi untuk melaksanakan sholat masih angin-anginan. Namun Yuana tak patah semangat selalu mengingatkan Rima untuk sholat lima waktu.


"Iya, Mbak," terdengar suara malas Rima menjawab panggilan Yuana tadi.


"Setelah sholat, catetan ini kasih ke mbok Sari ya. Kak Nisa pingin belajar masak rawon katanya."


Dijawab senyum dan anggukan oleh Yuana. Rima yang awalnya malas bangun tiba-tiba berubah menjadi bersemangat.


Sejak tinggal di paviliun, bisa dikatakan Yuana tak pernah masuk ke rumah utama lagi, walaupun sekedar untuk bercengkerama dengan Annisa. Selain karena ia sudah terikat kontrak untuk tinggal di paviliun, juga demi menjaga maruahnya selama masa iddah. Bukankah di rumah utama akan bertemu dengan beberapa lelaki yang bukan mahromnya? Satu-satunya penghubung dirinya dengan penghuni rumah utama adalah Rima.


Setelah membangunkan Rima, Yuana kembali ke kamarnya untuk melihat Nabila yang masih tertidur dengan nyenyak. Ia pun mengambil sebuah jilbab instan lalu memakainya, mengambil sketchbook dan beranjak ke luar paviliun.


Di ufuk timur cahaya semburat merah kekuningan mendominasi, menampakkan siluet puncak gunung Semeru yang hanya dapat terlihat di pagi hari. Langit yang semula gelap, perlahan berangsur menjadi keunguan, memberi sedikit cahaya pada taman yang dikelilingi tembok setinggi atas kepala.


Sambil mengamati sekeliling, Yuana mendudukkan diri pada kursi santai di sisi kanan teras paviliun tersebut. Membuka sketchbook pada halaman terakhir ia membuat coretan. Mengambil pensil yang terselip pada halaman tersebut lalu mulai menorehkan ujung pensil itu pada halaman kosong sesudahnya.


Menarik garis horizontal menyalin bentuk pagar tembok terjauh, lalu garis melintang di kanan dan sedikit melengkung di bagian kiri. Lanjut dengan membuat garis-garis halus disertai arsiran yang menggambarkan rona cakrawala di atas garis horizontal tadi. Tak lupa siluet puncak gunung yang berada di tengah-tengah persis, ia salin pula dalam sketsanya.


"Subhanallah... sungguh indah ciptaan-Mu Yaa Allah," gumamnya.


Lalu berpindah membuat coretan di bawah garis horizontal tadi. Memang tidak begitu mendetail, hanya garis besarnya saja, namun cukup menggambarkan kondisi taman saat ini. Landscape taman yang sepertinya dikerjakan oleh profesional, hanya saja sudah sangat lama tidak terawat. Dan yang paling tidak Yuana sukai adalah pagar tembok yang mengucilkan keindahan taman itu.


"Huuffft."


Sambil menghela nafas, Yuana menutup sketchbook tersebut lalu beranjak masuk ke dalam paviliun berpapasan dengan Rima yang hendak menuju rumah utama.


"Saya permisi ke dalam dulu, Mbak Yuana," pamit Rima, yang ia maksud ke dalam adalah ke rumah utama.


"Jangan lupa catetannya tadi ya, sama tolong sampaikan ke mbak Annisa kalo hari ini jadi praktek masak rawon," jawab Yuana setelah menganggukkan kepala.


Setelah Rima menghilang di balik pintu besi penghubung paviliun dan rumah utama, Yuana masuk ke dalam paviliun. Kemudian mendudukkan diri di sofa yang menghadap lurus ke pintu masuk paviliun.


Sungguh ia dalam keadaan bingung saat ini, sama sekali tidak memahami apa maksud dari bu Fatma memberi tugas yang sama sekali tidak ia kuasai ilmunya. Bahkan memintanya memanggil arsitek jika diperlukan? Bukankah seharusnya jadi hal yang mudah bagi bu Fatma untuk memanggil langsung arsitek atau eksterior designer profesional, kenapa justru memberi kepercayaan pada dirinya yang baru dikenal?


Yuana mengurut pelipisnya demi mengurangi rasa pening yang tiba-tiba ia rasakan, kemudian menengadah dan meletakkan kepala pada sandaran sofa.


Satu menit... dua menit...

__ADS_1


Akhirnya ia mengambil nafas panjang dan menghembuskannya dengan keras.


"Hhuuft!" menggelengkan kepala sejenak lalu menegakkan badannya, menyalakan handphone dan mengetikkan sesuatu di sebuah laman pencarian.


Langkah-langkah mendesain landscape taman bunga.


Muncul beberapa judul artikel tentang langkah-langkah pembuatan aneka taman outdoor dengan berbagai contoh foto-foto taman. Dengan serius Yuana membaca beberapa artikel tersebut dan mencatat beberapa poin yang ia anggap penting dari artikel-artikel tersebut. Lalu merangkumnya menjadi beberapa garis besar langkah yang harus ia kerjakan.


"Aku pasti bisa... aku harus bisa!" mensugesti diri untuk merasa optimis pada kemampuan dirinya dalam menyelesaikan tugas yang ia emban sekarang.


Walau bagaimana pun, keputusan bu Fatma memberi pekerjaan sangat membantu kebutuhan Yuana dan Nabila saat ini.


Bukankah ia butuh tempat tinggal di saat masa sewa di rumah bu Martha sudah mendekati waktu habis? Bukankah ia juga butuh pendapatan demi kelangsungan hidupnya dan anaknya? Bukankah ia juga butuh orang lain yang bisa selalu mendukungnya sebagaimana sebuah keluarga?


Dan semua dapat ia peroleh dari kebaikan keluarga bu Fatma. Tempat tinggal yang layak, pendapatan yang mencukupi dan sebuah keluarga yang hangat dan saling mendukung.


Sebuah amanah yang ia terima sejak menandatangani surat kontrak kerjasama


layak untuk ia emban dengan sebaik-baiknya.


"Bundaa."


"Assalamu´alaikum."


Terdengar suara bersamaan dari dalam kamar dan pintu masuk. Rupanya Nabila sudah bangun bersamaan dengan Rima yang datang membawa pesanan Yuana diikuti Azyan yang berjalan sambil loncat-loncat kecil.


"Alaikumussalam wa rohmatullah," Yuana tersenyum membalas salam itu, "taruh dapur ya, Rim," lanjutnya ketika melihat apa yang dibawa oleh Rima.


Azyan mengikuti langkah Rima menuju dapur, sementara Yuana masuk ke dalam kamar menemui Nabila sekalian memandikannya.


Beberapa menit kemudian, setelah Annisa datang, mereka berkumpul di dapur.


Annisa memotong-motong daging yang telah direbus sebelumnya, Yuana memecah buah kluwak untuk diambil isinya sebagai bahan utama racikan bumbu rawon, sedangkan Rima tampak menggosok-gosokkan ujung labu siam yang telah dipotong untuk menghilangkan getahnya.


Sementara Nabila dan Azyan bermain puzzle box di hamparan karpet ruang tengah depan dapur persis.


"Rawon manisa ini kesukaannya ummah, tiap masak rawon pasti dicampur potongan manisa," ujar Annisa ketika lanjut memotong labu siam yang telah dikupas dan dicuci oleh Rima.


Mendengar ucapan Annisa, Yuana terdiam sampai terngiang dengan jelas percakapan kala itu.


"Bagaimana Bila, Dek?"


"Alhamdulillah sudah turun demamnya, Mas. Maaf Yuana tidak sempat masak, seharian tadi Bila demam, rewel terus."


"Iya, gakpapa. Ini sudah mas belikan rawon, kamu makanlah... mas mau mandi dulu."


Ketika Yuana memindahkan rawon ke dalam panci untuk dihangatkan kembali, Nabila terbangun dan meminta makan. Mungkin sudah terasa lapar akibat seharian rewel karena demam paska imunisasi, akhirnya ia makan dengan lahapnya.


"Maaf Mas, ini tinggal kuahnya... dagingnya dihabiskan Nabila."


"Alhamdulillah Bila sudah mau makan. Tidak apa-apa, Dek... itu kuahnya masih banyak, masukin aja dengan manisa oleh-oleh ibu kemarin. Masih ada kan?"


Amar yang baru saja selesai sholat isya' menghampiri Nabila yang baru saja minum air putih lalu menggendongnya. Nabila pun menggelayut manja di dada ayahnya itu melanjutkan rasa kantuknya.


"Manisa? Oh... labu siam, masih ada Mas."


"Yuana... Yuana!" suara Annisa membuyarkan lamunannya, "itu kenapa lama sekali mblender bumbunya."


"Eh... maaf, maaf," sahut Yuana yang langsung mematikan mesin blender sambil mengusap pipinya yang basah tanpa ia sadari. Tanpa menoleh ke arah Annisa, Yuana lalu menuang bumbu halus tersebut ke dalam wajan dan menumisnya.


"Pasti teringat mendiang suaminya lagi itu, Mbak," Rima berbisik pada Annisa yang menatap keheranan pada Yuana.


"Emang sering gitu ya?" Annisa pun bertanya dengan berbisik pula.


"Sering banget Mbak. Ibarat kata nih, ya Mbak... mbak Yuana tuh bagai tidur bertalam air mata," jawab Rima masih dengan berbisik lirih.


"Kasian Yuana, aku pasti gak bakal sanggup berada di posisinya. Semoga dia selalu sabar dan kuat."

__ADS_1


__ADS_2