HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 43 ASISTEN PRIBADI


__ADS_3

Corner Park Mall adalah sebuah mall yang dibangun oleh pengembang bertaraf internasional Paluman Grup sebagai salah satu fasilitas perumahan Telaga Golf, selain rumah sakit Raya Husada. Terpisahkan oleh akses jalan menuju gerbang utama perumahan. Corner Park Mall di sisi kiri dan Raya Husada di sisi kanan.


Ketika kemarin diajak oleh Ilham ke mall ini, Nabila tidak begitu memperhatikan. Tiba-tiba diajak oleh orang yang baru dikenalnya, tentu membuat dirinya hanya terfokus pada orang tersebut. Ilham yang tampan, ramah dan baik hati. Mengajaknya jalan-jalan, membelikan mainan dan yang lebih membahagiakan ketika ia diijinkan untuk memanggilnya 'ayah'.


Dan ketika kali ini diajak oleh Yuana, barulah Nabila bisa memperhatikan sekelilingnya. Ia yang berjalan dengan berpegangan pada tangan Yuana, melihat ke kanan dan ke kiri. Display yang menarik dari deretan toko dan restoran ternama begitu sayang untuk ia lewatkan. Hingga mereka berdua tiba di pusat mall tersebut.


Corner Park Mall dibangun dengan konsep lokal yang dikemas secara modern bertaraf internasional, di mana terdapat sebuah taman di tengah-tengahnya. Taman dengan berbagai koleksi tanaman bunga lokal yang tersusun indah dan rapi mengelilingi sebuah air mancur disco. Air mancur yang seolah menari mengikuti iringan musik yang dimainkan selama mall buka sampai tutup.


"Bunda! Airrr mancurrr!"


Yuana terkejut mendengar suara Nabila. Bukan teriakannya yang mengejutkan, tetapi kemampuan Nabila mengucapkan huruf 'r' walaupun disertai dengan penekanan ketika mengucapkannya. Intonasinya pun jadi terdengar lucu dan menggemaskan.


Berbinar Nabila menyaksikan tarian indah dari air mancur itu dan berbinar pula Yuana mengetahui anak kesayangannya itu bisa melafalkan huruf 'r' yang selama ini begitu sulit diucapkan.


"Coba disebutkan lagi, Sayang. Apa itu?"


"Airr mancurrr, Bunda. Airr mancurrnya menarri."


Melihat Nabila berusaha melafalkan huruf 'r' dengan baik sampai getaran lidahnya terlihat dengan jelas, begitu menggemaskan. Yuana langsung mengangkat Nabila dalam gendongannya dan menciumi pipinya dengan gemas.


"Yaa Allah, Alhamdulillah... Anak bunda makin pinter sekarang."


Yuana kemudian membawa Nabila untuk duduk di salah satu kursi taman yang terbuat dari besi tempa bermotif bunga yang berada di sekeliling air mancur tersebut. Mereka berdua sangat menikmati pemandangan tarian air mancur, apalagi setiap tiga puluh menit sekali akan muncul warna-warni bagai pelangi dalam air tersebut yang berasal dari lampu laser yang menyorot ke arah air mancur yang membentuk layar berbentuk busur.


"Bundaa! Jadi kipas cantik," sorak Nabila kegirangan.


Tidak terasa sudah dua kali pertunjukan air mancur berwarna-warni tersebut mereka nikmati. Berarti sudah satu jam lebih, mereka duduk di kursi taman itu.


"Bunda, haus," rengek Nabila akhirnya.


"Ah, iya, Sayang. Bunda lupa tidak bawa air minum buat Nabila. Bila lapar juga, tidak? Makan ayam goreng mau?" tanya Yuana sembari ia memindai deretan toko di sekitarnya mencari gerai makanan cepat saji.


"Mau... mau," jawab Nabila dengan semangat.


Mereka pun kemudian berjalan menuju gerai makanan cepat saji terdekat. Untung antrian tidak begitu panjang, hanya ada dua orang yang juga sedang mengantri di depannya. Maklum saja karena masih belum masuk waktu makan siang.


Di gerai ini menerapkan sistem self servis, dan setelah mendapat makanan dan minuman yang dipesan, Yuana mengajak Nabila duduk di tempat yang dari situ masih bisa melihat air mancur tadi.


Baru saja duduk, telepon genggam Yuana yang berada di dalam tas berbunyi. Yuana pun segera mengangkat telepon yang ternyata dari Bu Fatma.


"Iya... Iya... Baik."


Setelah mengembalikan telepon genggam ke dalam tas, Yuana mengajak Nabila mencuci tangan terlebih di dahulu di sebuah wastafel yang berada tidak jauh dari tempat duduk mereka. Kemudian baru menikmati makanan dan minuman setelah membaca doa sebelumnya.


"Airr, airr... aaair! Hehe... Bila sudah bisa kan, Bunda," rupanya Nabila baru menyadari jika dirinya bisa melafalkan huruf 'r'.


"Iya, anak bunda makin besar makin pinter. Ucap apa, Sayang? Al...?"


"Alhamdulillah."


"Iya, Alhamdulillah."


"Bunda, kemarrin itu, Bila sama Asiyan dibeliin mainan sama Ayah Ham di situ, yang belok situ," Nabila menceritakan kepergiannya dengan dengan Ilham yang baru diingatnya.


"Ayah Ham siapa?" Yuana sedikit terkejut mendengar cerita yang baru ia ketahui itu.


"Itu, Ayah Ham yang tadi sama Buti."


"Nabila, itu Om Ilham, bukan ayah. Nabila panggil Om Ilham saja ya... Jangan panggil ayah," tegas Yuana, ia ingin meluruskan bahwa Ilham bukanlah ayah Nabila.

__ADS_1


"Tapi ayah bilang boleh panggil ayah."


"Iya, tapi Nabila bukan anaknya Om Ilham. Panggil om saja ya?" suara Yuana melunak saat melihat Nabila mulai berkaca-kaca.


"Tapi Bila suka sama ayah, Bila mau punya ayaaah," dan Nabila mulai menangis.


Anak kecil yang bahkan baru saja bisa melafalkan huruf 'r' itu belumlah mengerti tentang status hubungan dalam keluarga. Yang ia mengerti bahwa ia memiliki bunda, dan ayah yang ia panggil buya tetapi sudah meninggal dunia, tak akan kembali lagi.


Nabila hanya ingin punya ayah seperti dulu. Dan sekarang di saat hadir seseorang yang bersedia dipanggil ayah, bunda melarangnya. Apa salahnya? Ia pun terisak-isak sedih.


Yuana bingung bagaimana menjelaskan pada buah hatinya itu.


"Ada apa ini?" sebuah suara bariton memecah suasana. Tiba-tiba saja Ilham berdiri di samping meja, dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Suaranya pelan, tapi tatapan tajamnya cukup membuat Yuana merasa terintimidasi sekali lagi.


Yuana melirik ke samping dan belakang Ilham. Kemana Bu Fatma, kenapa Mas Ilham sendirian? Pas Nabila lagi nangis lagi.


"Tidak ada apa-apa, Mas."


Ilham berjalan memutari meja dan duduk di dekat Nabila, sepertinya ia tidak puas dengan jawaban Yuana.


"Nabila kenapa? Coba bilang sama ayah?"


Nabila menghentikan sesenggukannya dan menatap Ilham dengan mata berkaca-kaca.


"Bila, ndak boleh panggil ayah, soalnya Bila bukan anak ayah."


"Sini," Ilham mengulurkan kedua tangan ke arah Nabila lalu mengangkat dan mendudukkannya di pangkuan, "boleh. Siapa yang bilang ndak boleh. Azyan dan Nabila sama-sama bukan anak ayah. Tapi Azyan panggilnya Yah Ham, ayah Ilham, Tante Nisa tidak marah tuh. Kenapa Nabila ndak boleh?"


Nabila mengangguk-angguk senang, karena ia tetap boleh memanggil ayah. Dalam hatinya ia merasa bisa memiliki ayah lagi, sesederhana itu pola pikir anak-anak.


Sementara itu Yuana melotot geram menatap Ilham yang juga sedang menatap tajam pada dirinya. Jika memungkinkan ingin rasanya ia memaki laki-laki tidak tahu malu itu. Ia kepalkan tangan di depan hidungnya, ingin menunjukkan kalau ia sedang marah pada Ilham.


Namun Ilham malah tidak dapat menahan senyumnya, menganggap sikap Yuana sungguh lucu dan menggemaskan.


"Ham, kita jalan-jalan sebentar tidak apa-apa kan?" tanya Bu Fatma saat terlihat Nabila menghabiskan suapan terakhirnya.


"Tidak apa-apa, Ummah. Ilham temani."


Mereka pun kemudian berjalan-jalan berkeliling mall tersebut. Mampir di beberapa gerai pakaian dan aksesoris.


Seperti perempuan pada umumnya, Bu Fatma juga suka berbelanja. Hanya saja kesempatan yang ia miliki sangat terbatas. Begitu ada kesempatan, seperti tidak ingin menyia-siakan.


Begitu pun Yuana, namun niatnya hanya ingin melihat-lihat tren mode terbaru saja untuk inspirasi dalam membuat sketsa.


Yang membuat Yuana merasa tak enak hati adalah ketika paperbag yang ia bawa ternyata jumlahnya bahkan melebihi yang ditenteng Ilham dan Bu Fatma.


Sesuai perjanjian di awal bahwa barangnya harus dibawa sendiri-sendiri, dan dari begitu banyak barang yang ia bawa tak ada satu pun yang ia beli sendiri. Beberapa dibelikan Bu Fatma dan separoh lebih adalah pemberian Ilham. Keduanya sama, tak ada kata penolakan.


Ketika Yuana berusaha protes dan menolak, Ilham hanya menggedikkan bahunya saja, berlalu pergi dan justru membelikan barang yang lainnya lagi.


"Sudah, terima saja. Pantang menolak rejeki," Bu Fatma malah mendukung kelakuan Ilham.


Kegiatan berbelanja baru terhenti tatkala Bu Fatma menerima telepon dari Arief, yang mengatakan bahwa Arief sudah menunggu di depan pintu keluar mall tak jauh dari gerai tempat mereka berada saat ini.


Arief yang melihat Yuana kewalahan membawa banyak paperbag, segera turun dari mobil dan berlari mendekat. Kemudian meminta semua paperbag tersebut, membawa ke dalam mobil dan meletakkannya di jok belakang. Sedangkan milik Bu Fatma dan Ilham diletakkan di bagasi.


Sepanjang perjalanan pulang yang tidak lama itu, Arief mengendarai sambil melaporkan semua hasil meeting barusan. Dalam pendengaran Yuana, sepertinya ada progres bagus antara perusahaan Ilham dan perusahaan bernama Ayoni. Dalam hati ia bersyukur, sedikit mengurangi rasa ketidakenakhatiannya karena Ilham tadi telah menghamburkan banyak uang untuknya dan Nabila.


Sesampainya di rumah, Yuana dibantu Rima membawa barang-barangnya ke paviliun dan Bu Fatma dibantu Mbok Sari membawa barangnya ke dalam rumah. Sementara Ilham dan Arief langsung menuju ruang kerja.

__ADS_1


Aroma desinfektan masih tercium walaupun sudah satu jam berlalu. Karena sedikit tidak tahan dengan aromanya, Ilham mengajak Arief untuk duduk di ruang tamu saja. Angin yang masuk dari pintu yang terbuka lebar memudarkan aroma desinfektan di ruang tamu.


Banyak hal yang dibahas oleh mereka berdua. Tentang perkembangan perusahaan selama ditinggal oleh Ilham, tentang produksi di musim saat ini, juga tentang rencana kembalinya Ilham ke perusahaan.


Setelah sholat dhuhur berjamaah dan makan siang bersama, Bu Fatma ikut bergabung dalam perbincangan yang penting bagi perusahaan tersebut.


Penjelasan dari dokter ketika berkonsultasi tadi cukup mempengaruhi keputusan bagaimana kinerja Ilham ke depannya. Dan diputuskan bahwa selama belum memiliki kantor yang terpisah dari pabrik maka Ilham akan bekerja penuh dari ruang kerjanya di rumah sedangkan pabrik diserahkan sepenuhnya dalam pengawasan Arief.


Dan gegara Ilham lupa meminum obat setelah makan siang tadi, maka Bu Fatma memerintahkan Arief untuk mencarikan seorang asisten pribadi untuk Ilham. Seorang asisten yang ditugaskan untuk mengawasi segala protokol kesehatan yang harus dijalani oleh Ilham dari bangun tidur sampe malam menjelang tidur.


Ilham yang sangat tidak suka terlalu banyak orang lain mencampuri urusan pribadinya itu jelas saja sangat menentang. Jangankan urusan pribadi, asisten rumah tangga yang diizinkan masuk rumah utama saja hanya Mbok Sari, ini kenapa malah menyuruh orang lain lagi untuk mengurusi dirinya.


"Ilham Adelio, tolonglah. Ini demi kebaikanmu, ini demi kelangsungan hidupmu, Nak. Tolong jangan membuat ummah khawatir, ummah sudah dua kali hampir kehilanganmu, ummah tidak mau kehilanganmu lagi, Naaak."


Ilham terhenyak ketika tiba-tiba Bu Fatma berlutut dan menangis di pangkuannya.


"Ummah! Ummah... Bangun, Ummah. Jangan seperti ini, Ummah. Ilham janji akan menjaga diri, Ummah. Ilham akan selalu sehat untuk Ummah. Ilham janji, Ummah."


Bu Fatma menegakkan tubuhnya, dengan masih berlutut, ia merangkum wajah Ilham dengan kedua tangannya. Sementara kedua tangan Ilham berusaha menghapus air mata yang membasahi kedua pipi wanita yang paling ia sayangi itu.


"Abah dan ummah menaruh harapan besar padamu, Ham. Dan seperti tadi kata dokter Bastian, sekarang Allah sudah memberi kesempatan hidup baru yang luar biasa untukmu."


Ilham memejamkan mata, meresapi dan memahami betul apa yang dikatakan ibunya itu. Digenggamnya kedua tangan sang ibu yang berada di pipi.


"Ummah sudah tua, Ham... tidak bisa menjagamu dengan baik. Ummah juga tidak sanggup jika harus kehilanganmu, Ham."


"Iya, Ummah. Iya..."


"Ummah akan tenang jika ada yang membantu ummah menjagamu."


Ilham meraih tubuh ibunya, memeluknya erat, menyalurkan rasa sayangnya demi menguatkan hati sang ibu.


Ketika dirasa sudah tenang, Ilham mendudukkan ibunya ke tempat duduknya semula, berganti dirinya yang berlutut di hadapan Bu Fatma.


"Ummah tenang ya, Ummah. Ingat kesehatan Ummah juga. Ilham janji akan menjaga diri dengan baik kali ini. Ilham janji tidak akan bertindak bodoh lagi."


"Asisten pribadi, bagaimana?"


"Iya, Ummah. Ilham setuju, akan ada asisten pribadi."


"Atau sekalian, ummah carikan istri saja. Bagaimana?"


"Tidak perlu, Ummah. Please, jangan menambah beban pikiran Ummah lagi, ya. Cukup asisten pribadi saja, ya kan Rief?"


Arief yang sedari tadi diam menyaksikan drama ibu dan anak, gelagapan ketika tiba-tiba bosnya itu menodongnya.


"Iya, Pak. Siap, besok pasti sudah ada, Pak."


Ilham menepuk jidatnya mendengar jawaban impulsif dari Arief. Bagaimana bisa Arief menjanjikan besok sudah ada asisten pribadi untuknya? Awas saja jika yang datang tidak sesuai dengan dirinya.


Bu Fatma tersenyum lega karena merasa jika kehidupan Ilham akan lebih tertata ke depannya. Putra kesayangannya itu dipastikan tidak akan berbuat bodoh lagi karena akan ada yang selalu mengawasinya.


Sementara Arief, hanya bisa mengutuk dirinya yang dengan mudahnya menjanjikan sesuatu yang tidak mudah untuk ia penuhi dalam waktu sesingkat itu.


Hari sudah menjelang sore. Tidak mungkin pula dalam semalam ia bisa menemukan orang yang cocok untuk menjadi asisten pribadi bosnya.


Dengan takut-takut melirik ke arah Ilham duduk, berharap bosnya itu tidak menyadari kegalauannya. Tetapi ia salah. Ilham sudah menyipitkan mata ke arahnya, mengisyaratkan bahwa ia harus menepati janjinya. Membawa orang yang cocok untuk menjadi asisten pribadi untuk Ilham esok hari.


Ting!

__ADS_1


Inna ma'al 'usri yusro. Dibalik kesulitan pasti ada kemudahan.


Dibawah tatapan tajam mengintimidasi Ilham, Arief menemukan siapa orang yang paling cocok menjadi asisten pribadi Ilham.


__ADS_2