HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 48 PERCAYA SAJA PADAKU


__ADS_3

"Apa?! Beneran Mas Ilham bilang gitu?"


"Iya, mana harus ada keputusan malam ini. Gimana, Kak?"


"Wah... Wah... Gila. Dapat jackpot tuh kamu, Na. Mas Ilham tuh kalo urusan bisnis sama orang biasanya pelitnya minta ampun, semua harus diperhitungkan dengan jelas. Gini... Gini... Terima dulu kesepakatannya, biar kita ndak perlu mikirin renovasi. Soal proposal ntar aku yang urus. Kamu siapin aja masterpiece sebanyak-banyaknya. Haha... Investor dah di depan mata ini, hahaha..."


Tadi setelah mendapat telepon dari Yuana yang menceriterakan tawaran Ilham, Annisa langsung saja membereskan meja kerjanya dan langsung pulang. Begitu sampai di rumah langsung berlari menuju ke paviliun taman guna menemui Yuana.


"Aku kok deg-degan gini ya, Kak. Jadi nanti kita satu kantor sama Mas Ilham gitu? Takutnya nanti kita gak nyaman aja, Kak," Yuana mematikan penyiram otomatis lalu duduk di kursi taman bersebelahan dengan Annisa.


"Sudah sebulan lebih kan kamu jadi asistennya, masih takut aja?" tanya Annisa heran, ia pikir Yuana sudah terbiasa pada Ilham sama seperti dirinya. Sebab dipandangannya selama ini Ilham bersikap hangat kepada Yuana sebagaimana bersikap kepadanya, jauh berbeda ketika berhadapan dengan perempuan lain, pasti akan cuek bahkan cenderung acuh tak acuh.


"Yaaa bukan yang takut-takut gimana gitu, Kak. Tapi kan Mas Ilham itu gak bisa ketebak gimana orangnya. Auranya bikin orang merinding. Tiap hari berasa uji nyali, hehe," bisik Yuana takut orang yang sedang dibicarakan tiba-tiba datang dan mendengar ucapannya.


"Hahaha... Ada-ada aja kamu ini."


Yuana merasa waktu berjalan begitu cepat. Nabila sudah tertidur pulas ketika Yuana melipat mukena dan sajadah selesai sholat Isya'. Yuana mencium kening Nabila dan merapikan selimutnya agar menutupi badan dengan baik.


Rima duduk manis di sofa tengah sambil asyik melihat handphone membaca komik kesukaannya.


"Nabila tadi sudah makan, Rim? Tumben tidur cepat dia."


"Kekenyangan makan pizza tadi, Mbak. Satu piringan itu dihabisin berdua sama Azyan, sampai ngomel-ngomel Mbak Annisa gak kebagian, hehe."


"Kamu sudah makan?"


"Belum, Mbak. Makanya Mbak Yuana buruan ke dalem, kalo juragan besar sudah selesai makan baru kita-kita bisa makan, hihi," Rima terkikik seraya melambaikan tangan seolah mengusir Yuana.


"Oke, ntar mbak makan dengan cepat, tanpa ngunyah kalau bisa," balas Yuana dengan berseloroh.


Yuana berjalan menuju rumah utama dengan kedua tangan saling meremas. Langkahnya seirama dengan kebimbangan hatinya, antara menerima permintaan Ilham atau menolaknya.


Jika ia menerima, maka mempermudahnya untuk segera mewujudkan cita-citanya. Benar kata Annisa, mengandalkan dana dari kantong sendiri akan membutuhkan waktu seberapa lama?


Jika menolak, bingung dengan alasan apa yang bisa digunakan untuk menolaknya. Sampai tidak terasa Yuana telah tiba di ruang makan, sementara ia belum menemukan alasan itu.


Kedua tangan yang masih saling menggenggam itu tiba-tiba terasa dingin dan basah tatkala melihat empat pasang mata menatapnya.


Lurus di hadapannya, duduk Bu Fatma dengan tatapan lembut dan senyum hangat, dan di sebelah kiri Annisa yang tersenyum lebar hingga terlihat deretan gigi putihnya terlihat antusias melihat kedatangannya.


Tak ada Azyan, mungkin dia juga sudah tepar kekenyangan seperti Nabila. Yuana menahan senyum teringat kelucuan dua bocah itu.


Sementara di sebelah kanan, Ilham duduk sambil bertelepon entah dengan siapa dan tepat di sebelah Ilham, Arief yang menganggukkan kepala menyapa dirinya.


Ilham yang seolah tidak mengacuhkan kedatangannya membuat Yuana sedikit memberanikan diri segera mendekat ke meja makan.


"Nis, geser!" tanpa menyudahi sambungan telepon, Ilham menyuruh Annisa berpindah tempat duduk ke kursi yang sandarannya sudah dipegang oleh Yuana karena akan duduk di situ.


Memang akhir-akhir ini Yuana lebih sering duduk di kursi yang lebih dekat dengan bu Fatma, karena Annisa sering tidak bisa makan bersama.


Dengan bersungut-sungut Annisa berpindah tempat di kursi sebelahnya, dimana Yuana hendak duduk tadi. Ia tepuk-tepuk tangan Yuana yang masih memegang sandaran kursi dengan kaku, "gak papa santai aja," bisiknya.


Yuana pun akhirnya duduk di tempat Annisa sebelumnya, tepat berhadapan dengan Ilham yang menyudahi panggilan teleponnya. Tatapan mata keduanya sempat bersirobok sesaat sampai Yuana tertunduk melihat kedua tangannya yang meremas rok berharap menghilangkan basah di tangannya tadi.


Sekilas Yuana sempat pangling melihat Ilham. Rambut yang semula diikat rapi membentuk bun di puncak belakang kepala dan jambang tipis yang sebelumnya menghiasi pipi sekarang sudah tak ada lagi.

__ADS_1


Berganti dengan rambut berpotongan mandarin era sembilan puluhan, berbelah pinggir dengan poni sedikit melengkung dan semi undercut di bagian bawah dan samping, model lama tapi kekinian. Jambang juga sudah hilang tercukur dengan bersih. Ilham tampak lebih muda dan segar.


Jika saja Yuana masih remaja ABG mungkin ia akan berteriak histeris seperti bertemu dengan artis idolanya dulu ketika ayah ibunya mengajaknya berjalan-jalan ke Hongkong.


Tambah ganteng sih, tapi sorot matanya tetep aja bikin merinding.


"Kamu kenapa, Na, tanganmu dingin sekali," bisik Annisa lagi, "belum menemukan keputusan?"


"Iya, Kak, masih galau nih, takut salah ambil keputusan. Mana Mas Ilham nyeremin gitu, coba lihat," bisik Yuana balik, lalu terkikik melirik Ilham yang juga sedang menatap tajam keduanya.


"Ehm... Ayo kita makan dulu, jangan bergosip saja," Bu Fatma akhirnya bersuara, mengambilkan nasi untuk Ilham dan dirinya.


"Maaf... Iya, Ummah," Annisa yang merasa disindir oleh ibunya segera meminta maaf.


Yang lain pun akhirnya mengikuti apa yang dilakukan oleh Bu Fatma. Mengambil nasi dan lauk pauk lalu berdoa masing-masing dan mulai makan dengan tenang. Setelah mereka menyelesaikan makan malam, Mbok Sari dibantu Rima dengan cekatan membersihkan meja makan.


Bu Fatma memundurkan duduknya karena hendak berdiri, namun ia urungkan ketika Ilham menyampaikan sesuatu kepadanya.


"Ummah, Ilham akan membangun kantor di depan pabrik Yuana. Lokasinya di Adi Sucipto, cukup strategis."


"Adi Sucipto? Ndak tambah muter itu?"


"Ya kalau dari rumah memang sedikit muter kalau mau ke pabrik. Tapi buat pelanggan kita ya tentu tidak, justru semakin dekat, mereka tidak perlu jauh-jauh ke pabrik."


"Ya sudah, ummah pasrahkan semua pada kalian yang muda-muda ini, biar ummah bisa fokus ibadah saja. Sekarang kalian lanjut ngobrol lagi, ummah mau istirahat dulu," akhirnya Bu Fatma pun berdiri dan pergi menuju kamarnya dengan dituntun oleh Ilham.


Yuana, Annisa dan Arief hanya bisa termangu mendengar percakapan Ilham dengan Bu Fatma. Bagaimana bisa Ilham mengatakan rencana pembangunan kantor di saat Yuana belum menyatakan persetujuannya.


Akhirnya Arief yang rencananya hendak pamit pulang, mengurungkan niatnya. Ia mengajak Yuana dan Annisa untuk duduk di ruang keluarga untuk menunggu penjelasan dari Ilham.


"Yaa kalau sudah begini, disetujuin aja kali ya. Biar rencana kita juga lekas terealisasi," akhirnya Yuana membulatkan keputusannya untuk menerima kesepakatan yang ditawarkan oleh Ilham.


"Tuh, kan. Mas Ilham ini pasti sudah bisa memprediksi kalau kamu pasti bakalan setuju. Makanya bisa sepede itu ngomong sama kepala komisaris. Eh, Na. Kita kerjain dulu yuk. Bilang kamu keberatan gitu."


Klethak


Sebuah jitakan mendarat di ubun-ubun Annisa. Meskipun tidak sakit tapi cukup mengejutkan untuk Annisa dan Yuana. Sementara Arief hanya tersenyum-senyum saja.


"Ngajarin saudara itu yang bener!"


Tanpa terdengar suaranya, tanpa tercium baunya. Tiba-tiba saja Ilham sudah berdiri di belakang Annisa dan Yuana duduk.


Mendengar kata saudara dari mulut Ilham, membuat hati Yuana seakan menjadi ringan. Bukankah itu berarti Ilham menganggap ia saudara? Menerima Yuana menjadi bagian dari keluarga ini? Meskipun tetap bukan mahrom sih, tapi anggap saja seperti saudara sepupu, mudah-mudahan mempermudah interaksi keduanya ke depannya.


"Jadi bagaimana?" kalimat pertama yang langsung diucapkan Ilham ketika sudah duduk di sofa single ruang keluarga itu. Bersandar dengan santai dan bersedekap, menatap Yuana menanti sebuah jawaban.


"Ah, itu..." baru saja merasa hati ringan sekarang sudah merasa terintimidasi lagi. Semua mata sekarang tertuju padanya, membuat Yuana semakin gugup tak tahu harus mengatakan apa.


"Katakan saja, jangan ragu. Aku ndak memaksa, semua tergantung keputusanmu."


"Baik, Pak. Yuana setuju dengan penawaran Pak Ilham."


Senyum simpul terbit di bibir Ilham tatkala mendengar jawaban Yuana. Ia melirik Arief tanpa mengatakan apapun, namun sepertinya Arief sudah paham maksud dari majikannya itu.


"Siap, Pak."

__ADS_1


"Nis?" Ilham lalu menengok ke Annisa yang tercengang heran melihatnya.


"Seriusan begini aja ini? Sekecap dua kecap kelar? Gak ada presentasi atau tawar menawar gitu? Transaksi gede lho ini," cecar Annisa tak percaya.


"Karena Yuana tahu, aku gak akan menipu atau merugikannya."


Sesaat mereka terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Yuana melirik bandul jam seukuran yang bergerak ke kanan dan ke kiri seirama dengan gerak putar jarum detik jam yang menunjukkan pukul delapan malam.


"Satu minggu," suara Ilham membuat semua mengernyitkan keningnya, "dalam satu minggu, pikirkan dengan baik ruang apa saja yang dibutuhkan berikut luasannya. Semaksimal mungkin, jangan dikurang-kurangi. Pikirkan juga rencana pengembangan ke depan."


Annisa tersenyum lebar hingga deretan gigi putihnya hampir tampak seluruhnya, akhirnya impian untuk membuka usaha sendiri terbuka di depan matanya, bekerjasama dengan Yuana tentunya.


Sementara Yuana justru memucat, karena waktu seminggu dirasa terlalu mepet untuknya. Yang bahkan tidak pernah menyangka akan secepat ini bisa mewujudkan harapan untuk menjalankan pabrik orangtuanya kembali.


Kemarin Ilham hanya meminta melihat-lihat pabrik dan hari ini Ilham menawarkan kesepakatan untuk merenovasi pabrik tanpa ia harus mengeluarkan biaya sepeserpun. Ya walau harus merelakan ruang bagian depan menjadi milik Ilham. Lebih dari sepadan nilainya.


Sejak malam Yuana memberi keputusan menerima tawaran Ilham tentang pembangunan kantor dan renovasi pabrik milik Yuana, Ilham langsung bergerak cepat.


Satu minggu yang ia beri pada Yuana terlalu lambat baginya, tapi ia memahami bagi Yuana tentu terlalu singkat.


Berkat bantuan Pak Samuel, Yuana berhasil merekap seluruh kebutuhan pabrik, baik dari segi jumlah dan luas ruangan hingga peralatan dan perlengkapan apa saja yang dibutuhkan.


Yuana ingin membuat usaha butik dan konveksi tas, berbeda dengan pabrik peninggalan orang tuanya yang merupakan garmen dan konveksi tote bag dan marchendise.


Meskipun konsep usaha yang dibuat oleh Yuana dengan usaha orang tuanya berbeda, namun kebutuhan sarana dan prasarananya tentu tidak jauh berbeda. Dan Pak Samuel lah yang lebih memahami dari pada Yuana, karena dulu beliau adalah asisten ayah Yuana dan kemudian menjadi manager produksi setelah Amar menggantikannya.


Sebenarnya Yuana ingin membuat outlet di ruangan bagian depan untuk display butik tasnya, namun ruangan depan sudah terlanjur diminta Ilham. Dan itu cukup memusingkannya, membuat outlet di belakang kantor Ilham jika lewat jalan samping kurang menguntungkan. Selain tak akan terlihat dari luar juga itu adalah akses keluar masuk karyawan dan mobil box atau truk yang mengangkut bahan baku atau barang jadi.


"Sudahlah Na, biar itu jadi urusanku. Nanti kalau sudah mulai produksi kita bisa sewa outlet di mall."


"Sewa di mall kan mahal, Kak, eman-eman."


"Biar aku yang mikirin itu. Kamu cukup fokus di bagian desain dan aku bertanggungjawab untuk marketingnya. Kita kan bekerja sama, harus bagi tugas biar hasilnya maksimal. Bagian produksi, Pak Samuel bersedia membantu kami kan?"


"Haha... Bisa saja mbak Annisa ini. Sebenarnya saya ini sudah pensiun, tapi pasti saya akan bantu mbak Yuana sampai semua bisa berjalan dengan baik. Itu janji saya pada Pak Haji dulu. Pasti. Pasti akan saya bantu sebisa saya," berkaca-kaca Pak Samuel karena teringat kedekatannya dulu dengan ayah Yuana, yang biasa ia panggil Pak Haji.


Mengingat kebersamaan semasa perjuangan mendirikan pabrik garmen, dan sekarang harus mendampingi Yuana berjuang mendirikan kembali pabrik tersebut walaupun dengan konsep yang berbeda.


"Gimana Yuana?"


"Ah, iya ya Kak. Jadi ini sudah cukup? Sudah bisa diserahkan ke Mas Ilham?"


Dan kini berkas dari Yuana yang berisi tentang kebutuhan sarana dan prasarana pabrik baru sudah ditangan Ilham.


Ilham membolak balik tiap lembar berkas itu dan membaca dengan seksama, sesekali melirik Yuana yang sedang mengemudikan mobil di sampingnya.


Seperti biasa, setiap keluar pagi hari, Yuana lah yang mengemudikan mobil. Karena Ilham baru minum obat, itu alasannya.


Hari ini mereka akan menemui kontraktor yang akan mengerjakan proyek renovasi pabrik dan pembangunan kantor Ilham.


Syukurlah semua berjalan dengan lancar. Pihak kontraktor sangat profesional dan berpengalaman, sehingga bisa langsung memahami apa yang dikehendaki oleh Yuana. Bahkan menawarkan untuk pengadaan peralatan yang belum dimiliki oleh Yuana dengan harga yang lebih rendah dari pada jika Yuana harus membeli sendiri di toko.


Tentu saja Ilham langsung setuju dan menandatangani kontrak bahkan tanpa meminta persetujuan dari Yuana.


"Mas Ilham kenapa langsung tanda tangan sih. Barang dan harganya saja belum ditunjukkan, ntar kalo dapat zonk gimana?" Yuana sengaja berbisik dan menutupinya dengan telapak tangan agar tidak terdengar oleh pihak kontraktor yang sekarang sedang membaca ulang surat kontrak yang telah ditandatangani oleh Ilham tadi.

__ADS_1


"Percaya saja padaku," gumam Ilham yang saat ini merasa sangat senang. Yuana sudah berani mendekat padanya, bahkan nafas hangat Yuana saat berbisik tadi masih terasa di daun telinga Ilham.


__ADS_2