
Tiga hari kepergian Yuana ke desa, tidak membuat Ilham patah arang. Ia menganggap ini justru kesempatan yang baik untuk melancarkan rencananya.
Renovasi pabrik milik Yuana bisa dikatakan sudah rampung. Pembangunan kantornya pun tinggal tahap finishing. Ilham tersenyum puas melihat hasil akhirnya.
"Pasti akan jadi kejutan yang manis untuk Yuana," gumam Ilham sambil berkacak pinggang di halaman depan kantor barunya.
"Saya pikir Pak Ilham ini sangat romantis dan penyayang, seandainya saja Pak Ilham yang jadi suami nona," ucap Pak Samuel yang berdiri tak jauh dari Ilham.
"Nona? Maksud Pak Samuel, Yuana?"
"Hehe... Maaf, saya cuman berandai-andai," Pak Samuel menyengir karena merasa keceplosan bicara.
"Pak... Apa selama ini Yuana bahagia dengan pernikahannya?"
Ilham memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menengadah melihat melihat orang yang sedang memasang neon box.
"Bahagia itu relatif, Pak. Karena itu urusan hati. Amar itu orangnya baik, berdedikasi, bertanggungjawab. Perusahaan makin berkembang setelah Amar bergabung. Makanya Pak Bram bisa mempercayakan putrinya pada Amar. Tapi entah kenapa, setelah menikah, Amar itu seperti orang yang bingung. Sepertinya belum siap berumahtangga atau bagaimana. Kinerja menurun, pelanggan yang selama ini dihandle olehnya seakan raib entah ke mana, kemudian musibah juga datang silih berganti. Hingga akhirnya seperti sekarang ini. Menurut Pak Ilham, apakah Yuana bahagia?"
Pertanyaan yang tadinya biasa saja menurutnya kini terdengar menyakitkan ketika Pak Samuel yang menanyakan kepadanya. Rasa sesak dan nyeri bagai dicubit-cubit sangat terasa di dalam dadanya. Karena ia sangat yakin bahwa Yuana tidak bahagia selama ini. Dan itu menyakitkan hatinya.
Dan yang paling menyakitkan bagi Ilham adalah bahwa ia merasa turut andil dalam ketidakbahagiaan Yuana itu.
Ilham tidak menjawab pertanyaan dari Pak Samuel, justru berjalan masuk ke dalam ruang lobi kantornya sambil menundukkan kepala.
"Semangat berjuang anak muda," gumam Pak Samuel sambil mengikuti langkah Ilham.
Pak Samuel yang selama ini sangat dekat dengan keluarga Bram Suseno, keluarga Yuana, bisa merasakan bahwa Ilham menyimpan rasa pada sang nona besar.
Bagi orang yang sudah menganggap Yuana seperti anak sendiri, Pak Samuel pasti memiliki harapan agar Yuana bisa hidup bahagia. Dan sepertinya harapan itu bisa ia gantungkan pada seseorang bernama Ilham, yang kini sedang duduk bersama dengannya di ruang lobi kantor Ilham yang baru itu. Menikmati makan siang yang baru dikirim dari sebuah rumah katering.
Bukannya Ilham tidak tahu kalau sedari tadi Pak Samuel menelisik dirinya. Ia juga tahu kenapa Pak Samuel bersikap demikian. Dan ia lebih memilih untuk menikmati makan siangnya itu tanpa banyak bicara.
"Apa Pak Ilham mencintai Yuana?"
Ilham mengusap bibirnya dengan selembar tisu, lalu mengambil air mineral dalam botol, membuka dan meneguknya dengan perlahan. Terlihat dengan jelas ia menikmati makan siangnya. Tak terganggu dengan sikap dan pertanyaan Pak Samuel.
"Maaf... Bukannya saya mau ikut campur... Saya hanya ingin memastikan bahwa Yuana berada di tangan yang tepat."
"Menurut pengamatan Pak Samuel selama ini, apakah saya mencintai Yuana?"
"Ya... Pak Ilham terlihat sangat mencintai Yuana. Kalau tidak, tidak mungkin dengan mudahnya proyek ini dikerjakan."
"Jujur, saya memang mencintai Yuana. Rasa cinta saya jauh lebih besar dan lebih dalam dari yang bisa Pak Samuel bayangkan."
Pak Samuel mengernyitkan dahinya, mencoba menelaah kalimat yang diucapkan Ilham.
"Bukankah cinta terbesar adalah ketika kita rela melepaskan agar dia bahagia?" lanjut Ilham kemudian.
Dan terkesiaplah Pak Samuel, teringat akan ucapan Amar sehari sebelum pernikahannya.
"Siapa yang tidak akan jatuh cinta pada Non Yuana, Pak. Saya pun begitu. Tapi ada yang jauh lebih baik dan pantas daripada saya."
"Jangan bilang dokter muda itu, atau yang kamu sebut pengagum rahasia itu, Mar. Kamu itu jangan terlalu banyak berhalusinasi. Aku tahu kamu mungkin minder, tapi Pak Bram sudah memilih kamu. Itu artinya kamulah yang pantas untuk Non Yuana. Ingat, tak ada satupun seorang ayah yang tidak ingin putrinya mendapat lelaki pilihan sebagai pemimpinnya. Dan itu, kamu."
"Seandainya Pak Samuel tahu apa yang melatarbelakangi Pak Bram memaksa saya menikahi Non Yuana, Bapak pasti tidak akan berkata demikian."
"Sudah... hentikan omong kosongmu! Kamu sudah menerima permintaan Pak Bram, jangan mundur. Laki-laki pantang menjilat ludah sendiri."
Pak Samuel masih mengingat dengan jelas keraguan Amar menjelang pernikahannya, walaupun ia tidak tahu persis alasannya. Padahal, orang bodoh mana yang menolak jika dijodohkan dengan putri bosnya sendiri.
Pernah ia berpikiran bahwa Amar orang yang hanya sok-sokan saja. Aslinya kegirangan tapi berpura-pura keberatan. Sebenarnya suka dengan Yuana tapi gengsi mengakui, sehingga mengatasnamakan pengagum rahasia setiap memberi sesuatu yang romantis.
"Apa Pak Ilham mengenal mendiang Amar sebelumnya?"
"Ya, Amar satu-satunya sahabat saya."
"Kenapa Pak Ilham tidak datang saat mereka menikah?"
"Karena saya tidak diundang. Sudah, kita lihat di belakang, apakah semua sudah beres."
__ADS_1
"Pak Ilham... Saya minta tolong untuk satu hal. Tolong jauhkan Yuana dari orang yang bernama Joseph, itu pesan dari Pak Bram."
Ilham yang sudah berjalan beberapa langkah, berhenti dan menoleh ke Pak Samuel yang masih duduk menatapnya.
"Joseph... Wijaya?"
Satu nama Joseph yang Ilham tahu dan sering berusaha menemui Yuana adalah dokter Yusuf. Namun Ilham harus memastikan apakah ia yang dimaksud oleh Pak Samuel.
Ada apa dengan dokter Yusuf? Ada hubungan apa sebenarnya dokter Yusuf dengan Yuana? Kenapa orang tua Yuana sampai berpesan untuk menjauhkan putrinya dari dokter Yusuf? Pasti ada yang tidak beres.
"Memangnya ada apa? Saya tahu Joseph sering menemui Yuana, tapi saya yakin Yuana bisa mengatasinya. Apa yang harus ditakutkan?"
Ilham berusaha mengorek informasi selain fakta yang ia tahu bahwa memang dokter Yusuf sedikit terobsesi kepada Yuana, namun Yuana pun berkali-kali menolak dengan tegas dan berusaha untuk selalu menghindar.
"Pokoknya tolong jaga Yuana, jauhkan sajalah dari orang yang namanya Joseph. Apalagi sampai mereka menikah, haram kata Pak Bram."
"Haram?"
"Ya, haram katanya. Pak Ilham mestinya yang lebih tahu dari pada saya perihal itu."
"Apa karena perbedaan agama?"
"Ah... Tak tahu lah. Sepertinya bukan hanya soal agama, ada hal lain yang saya tidak tahu, tapi sepertinya Amar tahu."
"Dan karena itu Pak Bram hanya bisa mempercayakan Yuana pada Amar?"
"Tepat sekali."
Ada apa sebenarnya, Ilham merasa harus mencari tahu agar ia bisa menentukan bagaimana menyikapi masalah yang berhubungan antara Yuana dan dokter Yusuf.
Ilham tidak memperpanjang obrolannya dengan Pak Samuel, meskipun sibuk dalam pikirannya memikirkan kepada siapa ia harus mencari informasi. Orang terdekat Amar! Ibunya. Ya, ia harus segera menemui Bu Aminah, ibu Amar. Atau, Kyai Marzuki, yang menikahkan Amar dan Yuana.
Terlihat beberapa tukang sedang membereskan peralatannya, pertanda pekerjaan utama mereka sudah selesai. Tinggal merapikan dan membersihkan ruangan demi ruangan sebelum pekerja yang hendak menata ruangan mulai bekerja.
"Pak Ilham bisa mempercayakan pengawasan kepada saya saja, jadi Pak Ilham bisa segera pergi," Pak Samuel yang bisa merasakan kegelisahan Ilham menawarkan diri untuk melanjutkan pengawasan.
"Hahaha, dengan senang hati," kelakarnya karena melihat Ilham bertanya juga sambil tertawa.
"Kalau begitu saya tinggal dulu ya, Pak. Ada tugas yang jauh lebih penting sekarang."
"Ya ya."
Ilham bergegas berjalan menuju mobilnya sambil menghubungi Arief.
"Rief, kamu masih menyimpan data milik Amar dan Yuana?"
"..."
"Oke, kirim email saja, sekarang."
Sementara itu di rumah utama keluarga Haikal.
"Tumben cuma bentar ke pabrik, Nis?"
"Iya, Ummah. Hari ini mesin tidak beroperasi. Gudang sedang packing untuk pengiriman terakhir, ada Pak Hadi sama Arief. Bahan baku besok baru masuk. Aaaah... Akhirnya bisa santai seharian."
"Bulan ini Zein belum ke sini, Nis. Tidak ada masalah, kan?"
"Tidak ada masalah, Ummah. Kak Zein sekarang sudah mulai sibuk penelitian. Doakan lancar ya, Ummah."
"Iya, ummah doakan lancar penelitiannya. Semua anak-anak dan cucu-cucu pasti ummah doakan satu persatu, ummah sebut namanya satu satu, tak ada satupun yang terlewat."
"Ummah memang yang terbaik," puji tulus Annisa kepada ibunya.
Saat ini Bu Fatma dan Annisa sedang duduk berselonjor di atas karpet, menemani Azyan yang sedang bermain puppet dengan Norish. Entah cerita apa yang sedang dilakonkan, yang jelas Norish bisa tertawa-tawa melihat kakaknya bermain boneka tangan itu.
"Sekarang Mas Ilham kelihatan beda ya, Ummah. Tadi pagi sempat mampir ke pabrik, kayak gimana gitu."
"Kayak gimana maksudnya?"
__ADS_1
"Kayak gimana ya? Ya, pokoknya lebih nyenengin lihatnya."
"Mungkin karena masmu itu sudah menemukan tambatan hati yang pernah hilang," Bu Fatma berkata dengan santainya namun membuat Annisa terbelalak menoleh ke arah ibunya yang terlihat berseri dalam pandangan Annisa.
"Seriusan, Ummah?! Gadis misterius itu beneran sudah ketemu?"
Dijawab lirikan dan anggukan oleh Bu Fatma.
"Siapa, Ummah? Siapa? Ummah sudah ketemu langsung?"
"Sudah, ummah bahkan sering ketemu. Kamu juga kenal."
"Nisa kenal? Emmm... Siapa? Kayaknya yang Nisa kenal, semua gak ada yang Mas Ilham suka deh. Selama ini Mas Ilham selalu tak acuh sama yang namanya perempuan. Nggak, Nisa pasti ndak kenal. Emang siapa sih, Ummah?"
"Yuana."
"Yuana!? Tidak mungkin," Annisa menggeleng-gelengkan kepala, tidak percaya bahwa gadis kecil yang membuat Ilham dulu sama sekali tidak tertarik kepada gadis manapun adalah Yuana.
Karena sikap Ilham selama ini terlihat biasa saja, ya memang sih tidak sedingin biasanya tapi kan juga tidak sehangat selayaknya orang yang mencintai. Yuana juga bersikap biasa saja bahkan cenderung sungkan dan takut pada Ilham.
"Tidak mungkin, Ummah. Kemarin Yuana sempat cerita, kalau ucapan Mas Ilham tidak serius, hanya untuk menghentikan kecemburuan Mbak Ratna saja."
"Ya karena memang Yuana tidak tahu, bahkan tidak kenal sama sekali sebelumnya dengan Ilham. Selama ini, masmu itu hanya bisa mencintai dalam diam," dengan sendu Bu Fatma berusaha menjelaskan, "coba bayangkan perasaan Ilham selama ini seperti apa."
"Nisa sama sekali tidak percaya, Ummah. Mas Ilham kan tinggal ngomong saja, atau bilang sama Abah atau Ummah, kan pasti dilamarin. Kenapa harus sok misterius gitu, pake acara mencintai dalam diam, jadinya merusak dirinya sendiri kan? Jadi ketikung kan, akhirnya Yuana malah menikah dengan Mas Amar. Mas Ilham ini bodoh atau gimana sih?"
"Hush, jangan kasar ngomongnya."
"Tunggu... Trus dokter Yusuf?"
"Ada apa sama Yusuf?"
"Dokter Yusuf itu dari dulu terobsesi sama Yuana, Ummah. Ummah masih inget tidak, waktu dokter Yusuf dulu patah hati karena lamarannya ditolak? Ya, orang tua Yuana itu, Ummah, yang menolak dokter Yusuf mentah-mentah. Duuuh, bagaimana ini, Ummah?"
"Bagaimana apanya?"
"Ya bagaimana kalau Mas Ilham sama dokter Yusuf berseteru memperebutkan Yuana, Ummah. Seorang dokter bersaing dengan pasiennya, jadi apa pasiennya nanti, apakah ia akan selamat?"
Bu Fatma memukul bahu Annisa karena kesal mendengar pemikiran putrinya tersebut, "kebanyakan nonton sinetron kamu ini."
Di saat yang sama, Ilham menepikan mobilnya karena harus membuka email yang baru dikirimkan oleh Arief. Ia mencoba mencermati setiap informasi yang ia dapatkan, namun tak menemukan kejanggalan sama sekali dalam dokumen-dokumen itu.
Ilham menyandarkan kepalanya, mengingat-ingat setiap keping kenangan dan ingatan tentang Yuana di masa lalu. Ia yang suka mengawasi Yuana dari kejauhan, dengan ditemani Amar tentunya, sedikit banyak mengetahui tentang Yuana.
Orang tua yang sangat menyayangi dan cenderung overprotektif membuat Yuana kurang bergaul, sama seperti dirinya. Apa karena Yuana anak tunggal, penerus satu-satunya perusahaan yang dirintis orang tuanya, hampir sama seperti dirinya. Tapi, menikahkan Yuana dengan Amar? Hanya untuk menghindarkan Yuana dari dokter Yusuf?
Bagi seorang pengusaha, apa yang dilakukan oleh orang tua Yuana sangat tidak masuk akal, terlalu ceroboh. Menikahkan Yuana, pewaris satu-satunya dengan orang yang sama sekali tidak menguasai bisnis. Amar yang belum genap setahun menjadi asisten Pak Bram, yang bahkan progres kemajuan kinerjanya mayoritas ditopang oleh Ilham dari belakang.
Kecuali ada hal besar atau prinsip yang melatarbelakangi. Tapi apa itu?
"Kyai Marzuki!" seru Ilham sambil menyalakan mesin mobil untuk bergegas menuju pesantren.
Membutuhkan waktu hampir dua puluh menit untuk bisa duduk berhadapan dengan Kyai Marzuki. Namun harus menunggu selesai sholat Ashar berjamaah baru bisa membicarakan apa yang ingin Ilham ketahui.
"Sebenarnya kami tidak boleh membuka rahasia besar tentang Yuana. Tapi sekarang tidak ada orang yang bisa melindungi Yuana selain kamu, jadi kami rasa kamu harus tahu."
"Rahasia besar?"
"Ya, ada rahasia besar yang bahkan Yuana sendiri tidak tahu. Rahasia yang bisa membahayakan hidupnya jika diketahui orang yang mengincarnya. Kami harap setelah mengetahui hal ini, kamu bisa menjaga Yuana dengan baik."
Ilham berusaha menyimak dengan baik penuturan dari Kyai Marzuki dan istrinya, memang sungguh mengejutkan mengetahui latar belakang Yuana yang rumit. Namun hal itu tidak mengurangi perasaan Ilham kepada Yuana. Justru rasa ingin melindungi yang semakin menggebu. Perasaan kesal dan marah pada Amar pun perlahan menghilang, seiring dengan terbukanya alasan pernikahan terjadi.
"Akad nikah Amar dan Yuana dilakukan di sini, saya sendiri yang menikahkan. Bukan sebagai tawkil wali melainkan sebagai wali hakim. Tidak ada resepsi mewah, hanya acara akad nikah yang dihadiri oleh keluarga Amar dan pengurus pesantren."
"Saya mengerti, Kyai. Tapi apakah ada dokumen atau bukti otentik mengenai hal ini?"
"Coba tanyakan kepada Bu Aminah, dimana Amar menyimpan sebuah stopmap tua bersimpul benang merah. Karena itu adalah dokumen asli milik Yuana, simpanlah baik-baik. Saya harap kamu bisa menyegerakan yang harus disegerakan."
Mendapat kepercayaan dari Kyai Marzuki seperti sebuah suntikan harapan bagi Ilham untuk segera meminang Yuana, agar ia juga bisa melindungi Yuana sepenuhnya.
__ADS_1