
"Gimana Rif?" tanya Bu Fatma pada Arief ketika asisten Ilham tersebut datang menghampirinya.
"Sudah selesai Bu. Kita ambil jalan kekeluargaan. Tidak ada tuntutan apapun, perbaikan mobil ditanggung mereka semua."
"Baguslah. Nanti kalo bayi mereka sudah lahir, tolong carikan buket bunga dan kado bayi ya... ibu mau berkunjung nanti," pinta Bu Fatma pada Arief.
"Baik Bu," jawab Arief.
"Oh iya... nanti mobilnya Amar kalo sudah selesai, sumbangkan saja. Akan ibu ganti yang baru. Oh ya...kau sudah hubungi keluarga Amar?"
"Sudah Bu... barusan saya hubungi istrinya. Beliau sedang bersiap-siap, sebentar lagi dijemput sama Pak Hadi setelah sholat maghrib."
"Baguslah kalau begitu. Oh ya Rief... bisa kau urus agar Ilham dan Amar satu ruangan?"
"Bisa Bu... saya usahakan," sanggup Arief.
"Kita sholat maghib dulu... itu Mbok Sari uda balik dari musholla, mungkin Hadi langsung menjemput istri Amar," seru Bu Fatma saat melihat Mbok Sari berjalan menghampiri mereka di ruang tunggu pasien.
"Hadi mana Sar?" tanya Bu Fatma memastikan keberadaan Pak Hadi.
"Menjemput istrinya Mas Amar katanya Bu," jawab Mbok Sari.
"Memangnya Hadi sudah tahu rumahnya Amar di mana Rief?" kali ini bertanya pada Arief.
"Sudah Bu, tadi istrinya sudah mengirim alamat rumahnya, langsung saya forward ke nomornya Pak Hadi."
"Baiklah kalau begitu. Sar... tolong jaga di sini sebentar ya, saya maghriban dulu sama Arief," pamit Bu Fatma. "Nanti kalau istrinya Amar datang, panggil saya ya," lanjutnya.
"Nggih Bu," jawab Mbok Sari.
*
__ADS_1
Sesaat Yuana merasa berada pada ruang hampa, ia bingung harus bagaimana setelah mendapat telepon dari seseorang bernama Arief. Banyak pertanyaan yang muncul dalam pikirannya, yang ia tahu pasti tidak dapat menemukan jawaban. Siapa Arief? Mengapa ia memegang handphone milik suaminya? Ada apa dengan suaminya? Kenapa harus ke rumah sakit? Raya Husada? Siapa Pak Hadi? Kenapa ia akan menjemputnya?
"Astaghfirullahal´adziim... Laa hawla wa laa quwwata illaa billah... kuatkanlah hambamu ini Yaa Allah...," gumam Yuana sambil menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa, termasuk berkas kebutuhan Amar jika memang Amar ternyata harus dirawat di rumah sakit. Tidak mau berandai-andai dengan hal yang buruk, tapi ia harus siap untuk segala kemungkinan terburuk.
Kemudian Yuana beranjak menunaikan sholat maghrib. Untung saja Nabila tidak rewel, ia bisa duduk dengan tenang di samping ibunya. Nabila yang biasanya banyak bicara, bertanya ini itu, kali ini ia diam saja. Ia hanya memandang, seolah ia memahami bahwa ibunya sedang dalam kegalauan.
"Bila sayaang... putri bunda yang cantik ini makin pinter aja ya," Yuana mencoba menghapus kekhawatiran pada putrinya itu. Yuana yakin, putrinya tersebut sedang mengkhawatirkannya, karena tidak biasanya Nabila diam saja seperti ini.
"Bentar lagi Nabila ikut bunda pergi ke rumah sakit. Ada yang harus bunda jenguk. Di sana nanti Nabila juga pinter seperti sekarang ya, nurut apa kata bunda... okey?"
"Otey bunda," jawab Nabila sambil menganggukkan kepala dan memeluk bundanya itu.
Tak lama terdengar suara mobil berhenti di depan pagar rumah. Rupanya orang bernama Pak Hadi yang hendak menjemputnya sudah sampai.
Bergegas Yuana merapikan jilbabnya, lalu menggendong Nabila. Tak lupa menenteng sebuah tas ransel yang berisi kebutuhannya dan putrinya serta berkas milik Amar, suaminya, berjaga-jaga bila diperlukan.
*
Setelah menunaikan sholat Maghrib Bu Fatma berdiam di musholla rumah sakit, memperbanyak dzikir dan sholawat sekalian sholat Isya. Sedangkan Arif, setelah sholat Maghib segera mengurus penempatan Ilham dan Amar agar bisa satu ruangan terpisah dari yang lain.
"Bu... ini istrinya Mas Amar." ucap Mbok Sari diikuti Yuana mengulurkan tangan kepada Bu Fatma.
"Assalamu´alaikum Bu. Saya Yuana istrinya Mas Amar, salam kenal Bu Fatma," kemudian mencium tangan Bu Fatma.
"Wa ´alaikum salam Nak Yuana. Hallo anak cantik...siapa namanya?" sapa Bu Fatma pada balita dalam gendongan Yuana.
"Namatu Nabila pandinnya Bila," jawab Nabila dengan malu-malu.
"Aiiih lucunya. Mari Nak Yuana kita ke tempat Amar."
Kemudian sambil berjalan pelan-pelan, Bu Fatma menceritakan kronologis kejadian sampai Amar dirawat. Tampak sangat jelas ekspresi keterkejutan dan kesedihan dalam raut wajah Yuana. Namun ia terus berusaha tegar, jangan sampai terlihat menangis oleh buah hatinya.
__ADS_1
Sesampainya di ruang tunggu IGD ternyata Ilham dan Amar sudah berada di ruang ICU VIP yang terdiri dari dua bed set ICU yang masing-masing dilengkapi dengan peralatan pemantau kondisi vital. Namun untuk malam ini belum diizinkan untuk ditemui, hanya bisa melihat dari ruang kunjungan yang dibatasi jendela kaca.
"Rief... tolong mintakan izin kepada dokter agar Yuana bisa melihat suaminya sebentar ya," perintah Bu Fatma kepada Arief.
"Baik Bu," jawab Arief kemudian keluar ruangan menuju ruang dokter. Tak berapa lama ia datang bersama dokter Sinta. Kebetulan dokter yang memakai baju dokter lengan pendek tersebut hendak memeriksa kondisi Amar setelah dipindahkan ke ruang ICU.
"Mari... siapa yang hendak melihat pasien, saya dampingi," ucap dokter Sinta, residen yang diminta oleh dokter Yusuf untuk bertanggung jawab atas kepindahan pasien Amar.
"Saya Dok... saya istrinya Amar," sahut Yuana dengan antusias.
"Baik... saya beri waktu lima menit dan tolong... jangan bersuara," ucap Sinta seraya membuka pintu dengan pelan.
Yuana berjalan perlahan mengikuti dokter Sinta masuk ke ruang IGD tempat Amar dibaringkan. Sambil menutup mulut menahan isak, Yuana menghampiri Amar. Ingin mengutarakan segala kesedihannya melihat kondisi suaminya saat ini. Ingin menghambur memeluknya. Namun melihat luka di sekujur tubuh suaminya, Yuana tidak sanggup.
Sejurus kemudian Yuana keluar dari ruangan ICU dan berlari menuju ke toilet yang berada di ujung gedung ICU. Yuana menangis sekeras-kerasnya di dalam kamar mandi, dengan suara parau ia memanggil-manggil nama suaminya.
"Huaaaaa... aaaa... Mas Amaar... Mas Amaaaaarr... " bersandar di belakang pintu kamar mandi, tubuhnya melemas hingga ia terduduk memeluk kedua lututnya.
Menahan isak tangis Yuana berusaha mengembalikan dirinya untuk bisa menerima kenyataan. Setelah Yuana berhasil menenangkan dirinya, ia bersihkan mukanya dan merapikan jilbab dan pakaiannya. Kemudian ia keluar dari toilet dan kembali ke ruangan ICU di mana ia meninggalkan Nabila dan Bu Fatma.
Bu Fatma yang menyadari kondisi Yuana, sengaja mengajak bicara Nabila, mengalihkan perhatiannya agar tidak menyadari kondisi ibunya yang sedang sedih dan kalut.
"Bila... sini gendong sama Buti. Nanti Buti ceritain tentang cucu-cucu Buti. Bila mau kan berteman sama cucu Buti, Azyan sama Noris."
Sengaja Bu Fatma mengenalkan dirinya kepada Nabila dengan sebutan Buti seperti cucu-cucunya memanggil dirinya. Melihat Nabila, ia jatuh hati seperti halnya kepada Azyan dan Noris, apalagi Nabila mau digendong olehnya.
"Mau Buti... Bila mau."
"Kalau begitu nanti nginap di rumah Buti ya... besok pagi Azyan sama Noris datang, jadi bisa langsung main bareng."
Sambil mengelus pungung tangan Yuana, "Nak Yuana malam ini ikut ibu pulang ya, besok pagi kita ke sini lagi. Biar Nabila tinggal di rumah, mumpung Anisa pulang, jadi ada yang jagain."
__ADS_1
"Tapi Bu... ," ucap Yuana dengan sungkan karena tidak ingin merepotkan orang lain tapi juga bingung harus bagaimana, meninggalkan Nabila sendirian tidak mungkin, mengajak terlalu lama di rumah sakit juga tidak baik.
"Sudah...jangan sungkan begitu. Nak Amar sudah seperti anak ibu, berarti Nabila juga cucu ibu."