
"Yaa Allah... Astaghfirullah... kenapa aku?"
Yuana memejamkan mata dan segera menutup jendela, kemudian ia merosot duduk bersandar pada dinding di bawah jendela. Dikerjap-kerjapkan matanya hingga kemudian bayangan buram mulai nampak di pelupuk matanya. Semua benda yang ia lihat tampak bergoyang.
Perlahan ia berusaha berdiri, namun kepalanya sangat tidak nyaman, terasa berat dan berputar seolah hendak melayang jatuh. Akhirnya dengan badan terhuyung ia bisa mencapai tepi ranjang dan kemudian merangkak naik dan segera berbaring di samping Nabila.
Berbaring miring ke kiri meringkukkan badan, menaikkan selimut hingga menutupi tubuhnya dan Nabila. Namun tiba-tiba perutnya sangat melilit dan pinggangnya terasa sangat kaku.
"Maas Amar... sakit sekali Maas... ssshh..." rintihnya sambil meremas-remas perutnya. Keringat dingin keluar dari tubuhnya. Biasanya suaminya itu akan sigap segera mendatangi dan menolongnya, tapi saat ini yang dipanggil tidak datang-datang.
Mengalir air mata tanpa bisa dikendalikan, makin lama makin terisak. Perlahan rasa sakit yang ia alami berangsur berkurang seiring dengan melemahnya suara tangisnya.
Perlahan Yuana bangkit dari baringnya, ia ingin minum jahe hangat untuk membuat tubuhnya lebih enakan. Hal yang biasa ia lakukan jika merasa kurang enak badan.
Diraihnya jilbab instan yang tadi ia sampirkan di belakang pintu kamar, memakainya dan kemudian keluar kamar menuju dapur. Tak ada seorang pun yang ia lihat di dalam rumah, namun pintu utama masih terbuka satu sisi.
Saat Yuana menyalakan lampu dapur, bersamaan dengan masuknya dokter Yusuf ke ruang tengah. Lelaki yang hendak pulang itu bermaksud mengambil tas kerjanya yang ia letakkan di sofa.
Ketika hendak menyelempangkan tas itu ke pundaknya, terdengar suara benda jatuh diikuti suara dentingan. Dari ruang dapur yang terbuka itu tampak Yuana sudah jatuh terkulai di lantai dengan cangkir yang hampir lepas dari tangannya.
"Yuana!"
Dokter Yusuf sambil berlari menghampiri Yuana, memeriksa hembusan nafas dan denyut nadinya. Saat tahu Yuana pingsan maka segera dibopong tubuhnya dan dibawa menuju sofa. Rahmat yang sedang menunggu di beranda, mendengar teriakan sahabatnya itu dan bergegas masuk ke dalam rumah ketika dokter Yusuf membopong Yuana.
"Kenapa Yuana, Suf? Ini tangan sama kakinya dingin sekali. Bukannya ia tadi baik-baik saja," spontan Rahmat ikut memeriksa keadaan Yuana. Dan tangannya segera ia tarik ketika dokter Yusuf menoleh dan menatapnya dengan tajam.
"Iya... maaf... maaf..." ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya dan senyum dikulum. Lalu ia mengambil minyak kayu putih dan menyerahkannya ke dokter Yusuf.
"Kau ini beneran dokter apa bukan sih... dipandangin aja mana bisa cepet sadar dia," gerutu Rahmat ketika ia melihat Yusuf hanya memegangi botol minyak kayu putih itu tanpa melakukan apapun.
"Ah iya... kau carikan selimut saja, aku buatkan minuman hangat. Bentar lagi dia pasti siuman, jangan boleh duduk dulu nanti," ucap dokter Yusuf dengan tegas setelah ia tersadar dari lamunan kilatnya tadi.
"Trus... ini kayu putih gimana?"
"Selimut!"
__ADS_1
"Baiklah... baiklaaah... sendiko dawuh."
Rahmat pun segera mengambil selimut di kamar Bu Fatma dan dokter Yusuf0p menuju dapur untuk membuat minuman hangat. Bu Fatma yang belum terlalu lelap tidurnya, terbangun ketika Rahmat mengambil selimut di bawah kakinya.
"Kenapa Mat? Di kamarmu tak ada selimut?" tanya Bu Fatma bingung, pasalnya Rahmat memiliki kamar di lantai dua dan lengkap semua kebutuhan kamarnya.
"Bukan Ummah... ini tadi Yuana pingsan di dapur, sekarang dibaringkan si sofa tengah sama Yusuf," jelas Rahmat pada ibunya tersebut.
"Kok bisa! Kecapekan mungkin dia," seru Bu Fatma sambil beliau turun dari ranjang mengikuti Rahmat keluar kamar.
Rahmat pun segera menutupi badan Yuana dengan selimut tebal yang baru saja ia ambil. Bu Fatma pun mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya ke kaki dan tangan lalu pelipis dan leher Yuana serta dibawah hidungnya. Beliau menggosok-gosok tangan Yuana hingga terasa hangat sambil memijit pelan bagian antara ibu jari dan telunjuk sampai kemudian Yuana membuka matanya perlahan.
"Alhamdulillah... kamu sadar Nak," ucap Bu Fatma melihat Yuana mulai membuka mata.
Yuana mengerjap-kerjapkan matanya demi memulihkan kesadarannya dan bingung menyadari keberadaannya saat ini. 'Bukankah tadi berada di dapur hendak membuat jahe hangat, kenapa sekarang malah tidur di sofa dan dikelilingi Bu Fatma, Pak Rahmat dan Kak Yusuf?' batinnya.
"Ini... minumlah dulu," kata dokter Yusuf sambil menyodorkan cangkir berisi teh jahe hangat. Dengan sigap cangkir tersebut diterima oleh Bu Fatma dan memberikan pada Yuana yang baru saja memperbaiki posisi duduknya.
"Kamu kenapa bisa pingsan? Bukannya tadi baik-baik saja... apa kamu merasa lelah?" tanya Bu Fatma begitu Yuana terlihat lebih segar setelah minum teh jahe hangat.
"Tidak tahu Bu... tadi tiba-tiba gelap saja, maaf jadi merepotkan semuanya."
"Tadi setelah dari kamar mandi tiba-tiba gelap dan kepala kliyengan, ndak lama perutku tiba-tiba terasa sakit... sangat melilit rasanya. Alhamdulillah sekarang sudah baikan... masuk angin saja mungkin," jelas Yuana.
"Alhamdulillah kalau begitu... sebaiknya itu habiskan teh jahenya lalu Nak Yuana segera istirahat biar besok pagi sehat kembali," kata Bu Fatma. Yuana pun mengangguk dan menghabiskan teh jahe buatan dokter Yusuf tadi.
"Besok di rumah sakit, usahakan kau memeriksakan dirimu An. Bagaimanapun kau harus menjaga kesehatanmu agar kau bisa mendampingi masa pemulihan suamimu," imbuh Rahmat yang dari tadi hanya memperhatikan saja.
Yuana berusaha bangkit dipapah oleh Bu Fatma dan berjalan menuju kamar dan dokter Yusuf kemudian pamit untuk pulang ke rumah dinasnya.
Keesokan paginya, Yuana, Nabila, Annisa dan Rahmat pergi ke rumah sakit setelah menghabiskan sarapan bersama. Walaupun sudah lebih baik dari tadi malam, Yuana masih kelihatan sedikit pucat.
Nabila yang paling bersemangat, ia merasa sedang diajak jalan-jalan, apalagi ia pernah bermain mengejar kupu-kupu dan mengenal capung di tempat yang pernah ia datangi itu.
Mereka langsung menuju ke ruang ICU, Yuana dan Nabila menemui Amar sedangkan Annisa dan Rahmat menemui Ilham.
__ADS_1
Nabila yang baru melihat ayahnya dalam keadaan sakit dan terlihat mengenaskan, menangis dalam gendongan Yuana, ia merasa sangat sedih.
"Buyaaa... buya dangan satit... nanti Bila ndak puna buyaaa... huaa..."
"Bila ndak boleh ngomong gitu, buya pasti sembuh sayang... Bila jangan nangis yaa, nanti buya sedih... doakan saja buya cepat sembuh yaa, anak sholihah!" hibur Yuana sambil mengusap kedua pipi Nabila lalu menoel ujung hidungnya.
Bila yang penurut itu pun menghentikan tangisnya, mata bulatnya berkedip-kedip hingga air matanya berhenti keluar. Lalu mengusap bawah hidungnya yang basah dengan punggung tangannya.
"Iih anak bunda kok jorok siiiiih," goda Yuana sambil meraih tisu di tas ransel kecil yang ia selempangkan di pundak, lantas mengusap punggung tangan Nabila dan membersihkan wajah Nabila.
"Buya satit apa bunda? Tok ada ituna... ituna... ituna..." tanya Nabila sambil menunjuk pada balutan pada kaki dan tangan, selang infus juga selang bantu nafas yang dipakaikan pada Amar.
"Sa... yaaang..." suara lirih nan serak Amar mengalihkan perhatian Nabila.
"Buyaaa... dendong Buyaa!" seru Nabila. Yuana sampai kualahan menahan tubuh Nabila yang berusaha menghambur pada ayahnya.
Ingin sekali Amar menarik tubuh Nabila dalam dekapannya, namun sayang sekuat apapun ia berusaha, ia tak dapat menggerakkan tangannya. Terasa sangat berat dan kebas.
"Yu... ana..." lirih suara Amar memanggil sendu pada istrinya.
"Iya Mas... sebentar," jawab Yuana sambil mendudukkan Nabila dengan hati-hati di tempat yang kosong dekat Amar.
"To... long... angkat... tangan... ku... aku... ingin me... luk Nabila," pinta Amar dengan terbata.
"Tangan Mas Amar kenapa?"
"Kebas... sekali... sang... ngat... berat... a... aku..." Amar tak sanggup melanjutkan bicaranya saat tiba-tiba Nabila ikut berbaring dan memeluk lengannya.
"Buya dangan sedih ya," bisik Nabila sambil mempererat pelukannya.
"Sayang... Bila... jaga... bunda... ya..."
"Bunda kenapa Buya?" Nabila tidak mengerti kenapa ia disuruh menjaga bundanya, kenapa bukan sebaliknya, bukankah Nabila masih kecil, mungkin begitu pikirnya.
Tiba-tiba Amar merasakan sesak yang luar biasa di dadanya, sangat sulit baginya untuk menarik nafas dengan lega meskipun dengan alat bantu nafas yang terpasang di hidungnya.
__ADS_1
"Laa... hh.... i... laa... hha... il... hh.... la... llah... hh..." bersusah payah Amar mengucap kalimat tahlil.
"Mas! Mas Amar! Mas Amar kenapa?!" dengan panik Yuana mengguncang badan Amar hingga Nabila terduduk ketakutan lalu menangis.