
Pukul dua siang, mobil yang dikemudi oleh Yuana tiba di pelataran pabrik. Pabrik yang dipagari tembok batako di sekelilingnya itu tampak biasa saja dari luar. Untung saja Yuana selalu membawa kunci cadangan jika diperlukan sewaktu-waktu seperti sekarang ini. Karena Pak Samuel hanya datang dua hari sekali di pagi hari untuk membersihkan sekitar bangunan.
"Mas... Mas Ilham, sudah sampai," Yuana membangunkan Ilham dengan menusuk-tusukkan ujung bolpoin ke telapak tangan yang berada dekat sandaran bangkunya.
Ilham terbangun, menguap lebar dan menggeliatkan badannya untuk mengembalikan saraf yang kendur akibat tidur barusan.
"Selamat sore, Bunda, hehe," sudah tak malu lagi Ilham di depan Yuana, kepalang basah, tak ada gunanya lagi membangun image cool di hadapan Yuana.
"Ish, kebiasaan!" dengus Yuana yang memilih untuk langsung keluar dari mobil. Sebelum tidur mode garang, begitu bangun udah kayak kesambet aja.
Tak memedulikan Ilham segera turun atau tidak, Yuana langsung menuju pintu gerbang dan membuka kuncinya. Setelah kunci terbuka, ia kesulitan mendorong pintu besi berukuran besar itu. Namun Ilham yang berjalan mendekat sambil menggulung lengan kemejanya segera membantu Yuana mendorong pintu itu.
"Eh, Mas, jangan! Berat lho, gak papa?"
"Ndorong gini aja gak papa lah, yang akan jadi masalah kalo gendong kamu," Ilham menjawabnya biasa saja, tapi di telinga Yuana terdengar sangat menyebalkan.
"Mulai... Mulai!"
"Tuh bener kan, baru ngomong aja lho ini," Ilham makin menggoda Yuana.
"Ish," Yuana tak menghiraukan lagi gurauan Ilham, akan berkepanjangan pikirnya. Ia pun mulai membuka pintu masuk pabrik, menyalakan beberapa lampu utama yang masih bisa menyala dan mengajak Ilham berkeliling.
Yuana membuka ruangan pertama, tempat ayah dan suaminya dulu bekerja. Terdapat dua buah meja kerja, sebuah almari besi, satu set sofa yang ditutup kain tebal yang sedikit berdebu. Dan dua buah mesin jahit cylinder bed, sebuah mesin obras dan sebuah mesin high speed yang berjajar rapi di sudut ruangan. Mesin baru yang belum terpakai karena keburu terjadi kebakaran yang membuat pabrik bangkrut.
Lalu berpindah ke ruangan di seberangnya. Sebuah ruangan yang lebih luas. Satu set sofa yang lebih besar berada tepat di sebelah pintu. Lalu terdapat tiga buah meja kerja yang salah satunya sebelumnya di tempati Pak Samuel selaku manager operasional.
Kemudian beranjak lebih ke dalam. Terdapat sebuah ruangan yang tak kalah luasnya. Meja besar dengan mesin potong diatasnya yang dibungkus plastik berdebu. Meja yang berbentuk agak tegak di salah satu sudut dekat jendela besar, tertutup kain tebal yang juga berdebu. Sepertinya meja untuk mendesain atau menggambar pola.
Di depan ruang potong itu terdapat loker yang memenuhi dinding, loker tempat menyimpan barang-barang pribadi karyawan yang bekerja. Lalu sebuah ruangan los yang sangat luas, yang hampir semua dindingnya berwarna hitam legam. Mesin-mesin rusak yang berwarna hitam bertumpuk di salah satu sisi. Atap bagian belakang sebagian terbuka karena ikut terbakar. Lantainya pun tampak sangat kotor.
"Di belakang situ gudang barang jadi dan bahan baku, yang awalnya terbakar trus merembet ke sini. Bagian depan yang tadi kita lihat itu yang selamat. Tapi ya gak ada apa-apanya selain yang Mas Ilham lihat tadi."
"Ada korban jiwa?"
"Syukurnya di situ, Mas. Alhamdulillah gak ada korban jiwa, kejadiannya beberapa saat saja dari jam tutup pabrik."
Hampir satu jam Ilham dan Yuana berada di tempat itu. Sesekali Yuana mengusap air matanya, pabrik yang sudah seperti rumah kedua baginya, di mana para karyawan sudah seperti keluarga sendiri. Semua tak luput dari perhatian Ilham.
Lalu mereka berjalan keluar gedung ketika adzan Ashar terdengar. Sambil menunggu Yuana mengunci kembali pintu pabrik, Ilham berjalan ke sebelah kanan bangunan. Rupanya ada akses jalan kendaraan menuju gudang.
"Hmm, lumayan luas juga," gumamnya sambil berjalan keluar menuju mobilnya tadi diparkir. Sambil berkacak pinggang di depan mobil mengamati lingkungan sekitar pabrik. Sepertinya tidak terlalu jauh dari pabriknya sendiri. Sekitar lima belasan menit menggunakan mobil jika lalu lintas lancar. Kemudian manggut-manggut dan senyum-senyum sendiri.
"Kesambet, Pak," tegur Yuana yang sudah berdiri di sampingnya sambil menyodorkan kunci mobil lalu berjalan ke samping kiri mobil, "buruan buka."
Ilham semakin melebarkan senyumnya, ia senang sekarang Yuana lebih terbuka dan berani padanya. Teringat di awal-awal, Yuana yang selalu takut, malu-malu dan canggung.
Menekan tombol remote kunci mobil sambil mengedipkan mata kiri pada Yuana yang menatapnya.
Seketika Yuana menggedikkan bahu, cepat-cepat membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di rumah, Ilham membebaskan Yuana dari tugasnya. Ia sendiri akan beristirahat di kamarnya dan baru akan turun makan malam saja. Tentu saja Yuana merasa senang, karena sore ini bisa ia habiskan waktunya bersama Nabila.
"Itu kenapa belum diisi air, Nduk? Biar anak-anak bisa berenang," Bu Fatma menghampiri Yuana yang sedang menemani Nabila bermain ayunan di taman.
__ADS_1
"Belum, Bu. Kemarin mau diisi, Mas Ilham minta ganti filter yang satu mikron katanya. Tapi instalatirnya baru bisa datang lusa."
Bu Fatma tersenyum sambil mengangguk. Beliau kemudian duduk di kursi taman tak jauh dari tempat ayunan. Begitu tahu Bu Fatma duduk di situ, Nabila turun dari ayunan lalu menghampiri Bu Fatma. Yuana pun mengikuti duduk di sebelah Bu Fatma.
"Buti, sekarrang Bila ngajinya sudah sampai rro'. Rro'... Rrro'... Bisa kan. Bila pinter kan Buti?" Nabila yang antusias karena bisa melafalkan huruf R, selalu mengulang-ulang dan memamerkannya pada setiap orang yang ia jumpai.
"Wah iya, Nabila sekarang makin pinter ya. Coba tiruin buti. Ular di atas rel. Ayo caba... Ular di atas rel."
"Urrarr di atas rrerrr," saking semangatnya sampai tidak bisa membedakan huruf R dan L.
"Hahahaha," spontan Yuana dan Bu Fatma tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
"Urraaarr di atas lerrr. Eh gimana, uurraal di atas rrel. Eh salah... Ulaarr di atas rrrel. Yeeay bisa... Bisa," Nabila bersorak sambil melompat-lompat saking senangnya.
"Terima kasih ya, Nduk," tiba-tiba Bu Fatma meraih tangan Yuana dan menggenggamnya erat.
"Eh iya,Bu. Kenapa?"
"Terima kasih sudah bersedia tinggal di sini. Bu Fatma senang, rumah jadi terasa hidup lagi. Ilham juga sudah jadi manusia lagi."
"Eh, maksudnya?" Yuana masih bingung dengan arah pembicaraan Bu Fatma.
"Dulu Ilham pernah sangat bersemangat dalam hidupnya, ingin mewujudkan kehidupan yang bahagia dengan gadis pujaannya. Tapi kemudian gadis itu ternyata menikah dengan orang lain. Semenjak itu Ilham berubah, ia hidup seperti robot. Apa yang dilakukan sebatas apa yang memang harus dilakukan. Ia bahkan lupa cita-citanya untuk membesarkan usaha abahnya. Ilham tak peduli pada orang lain. Lalu tiba-tiba saja sepulang dari luar negeri ia minta ijin menikah dengan orang yang sama sekali tidak kami kenal. Tapi..." Bu Fatma menghela nafas, menengadah untuk menghentikan air mata yang hendak keluar.
Yuana pun ikut merasakan kesedihan Bu Fatma. Ia membalas mengeratkan genggaman tangannya mencoba memberikan kekuatan kepada Bu Fatma.
"Tapi... Keadaan semakin memburuk, Ilham ditemukan koma dan perempuan itu melarikan diri dan abah... abah terkena serangan jantung. Abah sangat menyayangi Ilham, sangat berharap pada Ilham. Abah..." Bu Fatma sudah tidak sanggup meneruskan pembicaraannya. Ia menunduk dan menangis sesenggukan.
Yuana meraih pundak Bu Fatma lalu memeluknya erat, ia tak tahu harus berkata apa. Yuana tahu pasti apa yang dirasakan oleh Bu Fatma saat ini. Karena ia sendiri juga merasakan. Kehilangan suami bukanlah sesuatu yang mudah. Tak ada kata-kata yang bisa menghiburnya. Dan akhirnya iapun ikut terisak dalam pelukan tersebut.
"Ah tidak, Sayang. Bunda tidak nangis kok," lekas Yuana menghapus jejak air mata seraya tersenyum pada Nabila.
"Tadi ini buti sakit banget, trus dipijat sama bunda jadi sembuh deh," Bu Fatma mencari alasan sambil memijat bahu yang diusap-usap Yuana tadi.
"Iya, Buti, Bila kalau sakit juga dipijit sama Bunda. Bila juga mau pijitin Buti biar cepat sembuh, biar Buti ndak nangis lagi," ucap Nabila yang kini memijat lutut Bu Fatma.
Keesokan harinya, saat jam makan siang. Sambil menunggu Mbok Sari menyiapkan makan siang, Bu Fatma melakukan panggilan video dengan Rahmat. Kebetulan Rahmat sedang mengunjungi Tiara di pesantren, ada Ratna juga di sampingnya. Melihat senyum Ratna yang sumringah, Bu Fatma bersyukur rumah tangga anak sulungnya itu baik-baik saja.
"Om Ilham! Ara kangeeeen!" teriak Tiara melihat wajah Ilham yang ikut mengintip ke layar handphone Bu Fatma. Tapi Ilham hanya membalas dengan membuat mimik wajah yang dibuat jelek, "weeek jeleknya Om, haha."
Tanpa sengaja jari Ilham menyenggol tombol balik layar ketika berusaha mendekatkan handphone ke wajahnya, dan tampak Yuana sedang menyuapi Nabila yang duduk di sampingnya.
"Kamu ini," Bu Fatma menampik tangan Ilham dan menekan tombol balik layar kembali. Tak ada yang menyadari perubahan raut wajah Ratna ketika melihat Yuana di layar handphone.
Seusai makan siang Ilham meminta Yuana mengikutinya ke ruang kerja, ternyata sudah ada Arief duduk menunggu di sofa.
"Assalamu'alaikum, Pak," sapa Arief seraya berdiri dari duduknya lalu berjalan mengikuti Ilham yang menuju kursi kerjanya.
"Hmm, wa alaikum salam. Kamu duduk dulu," jawab Ilham pada Arief sambil tangannya menyuruh Yuana duduk dulu di sofa.
Yuana pun segera duduk dan ia langsung mengambil buku sketsanya. Pasti akan sangat membosankan jika harus menunggu tanpa melakukan apa-apa karena butuh waktu yang tidak sebentar jika Arief memberikan laporan pekerjaan kepada Ilham.
Yuana membuat sketsa kasar meniru model-model tas baru yang ia lihat di pameran kemarin. Ada sekitar lima model baru yang ia ingat dalam memorinya. Sambil sesekali melihat ke arah Ilham dan Arief sedang berdiskusi.
__ADS_1
Ruangan yang luas dan suasana yang sepi, hanya terdengar suara Ilham dan Arief yang kadang terdengar jelas kadang samar. Terkadang sayup-sayup terdengar celotehan Nabila dan Azyan, atau ringikan Norish dari pintu tidak tertutup dengan sempurna.
"Kalau gitu kita harus cari lokasi yang strategis, Pak," ujar Arief yang sedang membereskan berkas-berkas laporannya.
"Aku sudah menemukan lokasi yang pas. Tidak terlalu jauh dari pabrik, mudah terjangkau dari arah mana saja," jawab Ilham dengan yakin sambil menatap Yuana.
Ilham memang membutuhkan kantor baru, karena ia tidak diizinkan untuk berkantor di pabrik yang penuh dengan obat-obatan kimia dan bahan baku kulit mentah yang rentan untuk kesehatannya. Sedangkan berkantor di rumah, juga sangat merepotkan. Karena klien yang akan berkunjung menjadi kesulitan untuk masuk ke lingkungan perumahan tempat tinggal Ilham itu.
"Kemarilah," perintah Ilham pada Yuana yang saat itu sedang menunduk menggambar tetapi melirik ke arahnya.
Yuana pun segera menutup buku sketsanya dan berjalan mendekat lalu duduk di kursi sebelah Arief. Menggeser sedikit agar tak terlalu dekat dengan Arief, mengingat amarah Ilham ketika pertama kali ia memasuki ruang kerja ini.
"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Yuana bersikeras memanggil Pak jika ada orang lain selama jam kerja. Ia tidak mau ada yang salah paham pada dirinya.
"Kapan rencana kamu merenovasi pabrik?"
"Eh, itu... Mmm, Bapak mau jadi investor?"
"Sudah ada proposalnya?"
"Belum, Pak,"
"Segera bikin. Untuk menggaet investor, kamu harus membuat proposal yang meyakinkan. Tapi saya mau bikin kesepakatan sama kamu. Bukan sebagai investor."
"Kesepakatan?"
"Saya akan membantu kamu merenovasi pabrik, tapi tidak gratis..."
"Kalau begitu lain kali saja, Pak. Karena saya masih harus mengumpulkan dananya," potong Yuana cepat tidak ingin ada ikatan mengejutkan lagi antara dirinya dengan Ilham. Bukankah menjadi garden sekaligus asisten pribadi sudah cukup merepotkan?
"Eh, belum selesai ngomong udah main potong saja."
"Eh, maaf, iya Pak."
"Untuk renovasi, sepenuhnya saya yang mendanai sampai jadi dan siap operasi. Sebagai gantinya, saya hanya minta ruangan bagian depan saja, bagaimana?"
"Hah?! Untuk apa, Pak?" Yuana heran, apa maksud Ilham meminta ruangan bagian depan. Tuh kan, pasti ada maksud tersembunyi.
"Saya butuh tempat untuk kantor baru. Di situ lumayan strategis, sesuai yang saya butuhkan. Kamu pikirkan dulu baik-baik, kalau perlu diskusikan dengan Annisa, bukankah kalian akan bekerja sama?"
"Baik, Pak, akan saya pertimbangkan."
"Baik, saya tunggu jawaban pastinya nanti pas makan malam."
"Ah... eh..." sedikit gelagapan, karena waktu yang diberikan terlalu singkat untuknya.
"Sudah kamu istirahat saja, saya mau keluar sama Arief."
"Tapi, Pak..." protes Yuana karena tidak diajak, padahal biasanya Yuana harus mendampingi kemana pun Ilham pergi.
"Saya cuma mau ke barbershop, tempatnya bersih, dan khusus laki-laki. Kamu mau ikut?"
"Saya istirahat saja, Pak. Permisi," pamit Yuana dan buru-buru keluar dari ruangan itu, karena merasa mode usil Ilham mulai terpasang.
__ADS_1
"Pak Ilham serius?" Arief sama sekali tidak pernah menyangka alur pikiran Ilham. Baru saja tadi ia mengusulkan tentang kantor baru, eh bosnya itu sudah menemukan tempat yang strategis bahkan bernegosiasi dengan pemiliknya langsung.
"Ada peluang, kenapa tidak diambil?"