HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 49 KEGALAUAN DUA PRIA


__ADS_3

Beberapa pekan ini dokter Yusuf sering kali mendatangi rumah Ilham demi bertemu Yuana, namun Yuana sulit sekali ditemui. Kali ini sengaja datang pagi-pagi, mumpung ia masuk agak siang.


Memarkir mobil beberapa meter dari pintu gerbang rumah Ilham, menanti Ilham pergi ke rumah sakit untuk kontrol rutin baru nanti ia datang bertamu.


Bersandar pada kemudi dengan kedua tangan dipangkukan di atas airbag stir. Diketuk-ketukkan jarinya pada dashboard di depannya.


Apa ini masih terlalu pagi? Kenapa belum ada tanda-tanda kehidupan di rumah ini. Bahkan lampu teras masih menyala.


Apa jangan-jangan Yuana sudah pindah dari sini? Baguslah. Tapi kemarin Mbok Sari hanya bilang sedang keluar. Berarti masih tinggal di sini.


Apa dia benar-benar sibuk, atau sudah mempunyai pekerjaan yang lain? Apa ia sedang berusaha keras mengumpulkan uang untuk mengembalikan uangku? Ah Yuana, kenapa kamu benar-benar tidak mau menerima bantuanku?


Seandainya Yuana menerima menikah denganku, ia tak perlu bersusah payah bekerja seperti ini. Tak perlu mengganti uang tebusan, sertifikat itu pasti kembali padanya tanpa perlu bersusah payah seperti ini.


Apa ia sudah menemukan orang lain pengganti suaminya? Secepat itu? Tapi siapa? Aku yang sejak dulu terang-terangan menyukainya saja tidak ia gubris, bagaimana mungkin secepat itu menemukan orang lain.


"Aaaaargh."


Tiiin


Saking kesalnya, dokter Yusuf memukul setir hingga klakson mobilnya berbunyi hingga ia terkaget sendiri. Gelagapan takut terdengar oleh orang di dalam rumah. Untung saja berbarengan dengan sebuah mobil melintas dan membalas suara klaksonnya, seperti sedang saling menyapa. Jadi tidak begitu kentara kalau ia sedang menunggu.


Beberapa saat kemudian terlihat lampu teras dimatikan lalu Mbok Sari yang berlari-lari membuka pintu gerbang. Benar saja, mobil sedan berwarna hitam milik Ilham terlihat keluar, berhenti sebentar di gerbang saat pengemudi membuka kaca di sampingnya. Mungkin hendak bicara dengan Mbok Sari sebentar. Karena Arief tidak terlihat datang, berarti Ilham mengemudi sendiri.


Namun alangkah terkejutnya dokter Yusuf ketika kaca jendela mobil tersebut terbuka sempurna, ternyata pengemudi sedan tersebut justru seorang perempuan berhijab yang ingin ia temui. Yuana duduk dengan tenang memegang setir dan Ilham yang tampak sedikit melongok dari sampingnya sedang mengatakan sesuatu kepada Mbok Sari.


Dengan cepat ia menyalakan mesin mobil dan melajukannya hendak menghadang mobil Ilham. Ia merasa tidak terima jika Yuana sampai harus menjadi seorang sopir, apalagi sopir seorang Ilham yang di mata dokter Yusuf dinilai tidak bisa menghargai seorang perempuan. Peristiwa Ilham koma dulu sampai kecelakaan terakhir pun ia anggap sebagai karma yang harus diterima Ilham. Jangan sampai Yuana nanti tertindas oleh seorang Ilham.


Namun di luar dugaan dokter Yusuf, ternyata Yuana sudah terlebih dahulu melajukan mobil dengan cepat, bahkan tanpa melihat ke arahnya yang juga melaju mendekat. Bersamaan dengan sebuah mobil lagi keluar dari rumah itu. Rupanya Pak Hadi dan Annisa yang hendak berangkat kerja.


"Dok! Tumben pagi-pagi ke sini," sapa Annisa tanpa turun pada dokter Yusuf yang keluar dari mobilnya dan menghampiri Annisa.


"Tadi aku lihat kayak Yuana yang bawa mobilnya Ilham."


"Emang Yuana, kenapa Dok? Dokter ada perlu dengan Yuana? Balik ntar siang atau sorean aja, Dok."


"Ah, tidak. Titip salam saja pada Yuana, bilang tolong balas chatku. Assalamu'alaikum," dokter Yusuf pun kembali ke mobilnya dan langsung melaju pergi.


Annisa menatap kepergian dokter Yusuf dengan iba. Ia tahu pasti perasaan dokter Yusuf pada Yuana, bahkan sebelum tahu bahwa gadis yang disukai oleh dokter ganteng itu adalah Yuana. Dan perjuangan dokter Yusuf semakin terlihat ketika Yuana berada di rumahnya.


Namun sayang Yuana sama sekali tidak menanggapi sama sekali perasaan dokter Yusuf. Langsung menolak tanpa sedikitpun memberi kesempatan, mungkin hatinya masih setia pada almarhum Amar dan sulit baginya untuk membuka hati kembali. Jodoh memang misteri, yang jauh kita tak tahu yang dekat pun belum tentu.


"Wa alaikum salam wa rohmatullah," jawab lirih Annisa, "semoga Allah segera memberi pasangan terbaik untuk kalian."


Mbok Sari berjalan kembali ke dalam rumah setelah menutup pintu pagar, masih banyak pekerjaan yang harus ia lakukan. Waktu berjalan begitu cepat jika kita mengisinya dengan kegiatan yang kita sukai. Tiada terasa senja sudah menyapa, satu persatu mobil yang tadi pagi keluar, sekarang mengeluarkan bunyi klaksonnya tanda minta dibukakan pintu pagar kembali.


Bu Fatma yang sedang menemani anak-anak bermain merasa lega. Azyan dan Nabila berjingkrak-jingkrak karena Annisa membawakan mainan baru sedangkan Yuana membawa tiga macam rasa bolu lapis kesukaan mereka.


Sedangkan Norish yang baru belajar merangkak tampak menggoyang-goyangkan badan bertumpu pada kedua lengan dan kedua tungkainya, sambil tertawa-tawa menampakkan gusi halusnya hingga air liurnya menetes jatuh ke karpet.

__ADS_1


"Aaah, putri kecil mami sudah ongkong-ongkong," Annisa langsung menghambur ikut merangkak mendekati Norish yang makin semangat menggoyangkan badannya.


"Untung kamu pulang cepat, Nis. Stok ASI buat Norish uda habis barusan, makin banyak dia nyusunya, kamu tadi lupa mompa ya?" Bu Fatma menepuk punggung Annisa yang baru saja mengangkat Norish dan mendudukkan di pangkuannya.


"Iya, Ummah. Kirain masih cukup tadi, ini tadi di kantor uda mompa, bisa buat stok besok."


Annisa lalu berdiri sambil tetap menggendong Norish dan menyerahkan tas penyimpanan ASI ke Rima agar memindahkan botol-botol ASI di dalamnya ke lemari pendingin.


Sementara Yuana berjalan menuju dapur untuk mengambil piring saji dan memindahkan beberapa potong kue bolu dari box ke piring tersebut. Azyan dan Nabila sudah asyik dengan mainan barunya. Sedangkan Ilham dan Pak Hadi menuju ruang kerja di dekat ruang tamu.


"Nduk, barusan Yusuf ke sini, tapi buru-buru pergi karena ada panggilan darurat. Sepertinya dia ada hati sama kamu, Yuana. Beberapa kali ibu lihat dia ke sini nyari kamu, tapi jarang kamu temuin. Kenapa tidak mencoba membuka hati padanya?"


Untung saja Yuana sudah menghabiskan air mineral yang ia minum ketika Bu Fatma menghampiri dan duduk di sebelahnya. Kalau tidak, ia pasti sudah tersedak ketika mendengar pertanyaan Bu Fatma barusan.


"Tidak kenapa-kenapa, Bu. Hanya saja... Yuana tidak berpikiran untuk menjalin hubungan dengan siapapun, Bu."


"Maaf sebelumnya, apakah kamu adalah Yuana yang sama, yang pernah menolak lamaran Yusuf dulu?"


"Iya, ayah saya dulu pernah menolak lamaran dari Kak Jo. Karena ada alasan yang tidak bisa Yuana ceritakan, makanya waktu itu ayah langsung meminta Mas Amar untuk menikahi Yuana. Agar Kak Jo tidak terus berharap untuk mendapatkan Yuana."


"Sekali lagi ibu minta maaf, apakah karena itu sekarang Yuana selalu menghindar setiap Yusuf datang? Apakah untuk saat ini tidak ada sedikit saja kesempatan?" Bu Fatma yang sedikit banyak tahu perihal dokter Yusuf mencoba mencari tahu status hubungan dua orang yang sama-sama sudah ia anggap anak tersebut, apalagi sekarang Yuana sudah menjanda dan tidak mempunyai orang tua.


"Yuana hanya bisa berharap, semoga Kak Jo segera menemukan seseorang yang jauh lebih baik dari Yuana, Bu."


"Kamu bahkan lebih dari kata sangat pantas untuknya, Yuana. Kalau ibu perhatikan, kalian berdua itu serasi lho."


"Tidak, Bu. Kak Jo sudah seharusnya mendapatkan yang jauh lebih baik dari Yuana. Semoga saja dengan sikap Yuana, Kak Jo bisa segera move on dan mau membuka hati untuk gadis yang lain."


"Yuana sama sekali belum terpikirkan itu, Bu."


"Iya, ibu paham. Tapi coba pikirkan Nabila, dia butuh figur seorang bapak, kamu juga masih muda, masa depan masih panjang. Ibu hanya bisa mendoakan saja, semoga suatu hari nanti kamu bisa membuka hatimu kembali."


"Iya, Bu. Terima kasih atas dukungan Ibu selama ini pada Yuana," Yuana yang terharu akan perhatian Bu Fatma menggelayut manja pada lengan beliau seperti pada ibu kandungnya sendiri.


Di saat hati keduanya menghangat dalam keharmonisan ibu dan anak perempuan, ada hati yang terasa teremas-remas mendengar percakapan baru saja. Bagaimana mungkin seorang ibu yang nantinya akan ia mintai restu, malah hendak mendekatkan sang pujaan hati dengan orang lain yang ia akui lebih unggul darinya.


Ilham yang berdiri membeku di gawang pintu ruang makan itu pun lekas berbalik menuju tangga dan pergi ke kamarnya.


Ia akan meminta Mbok Sari untuk mengantarkan makan malam dan air minum ke kamarnya nanti. Akan butuh waktu baginya membesarkan hatinya sendiri untuk berhadapan dengan Yuana jika rasa insecure mendatanginya. Yang jelas ia ingin sendiri saja malam ini.


Dua hari pun berlalu dalam kecanggungan bagi Ilham. Ia merasa sangat kerdil setiap berhadapan Yuana. Ada rasa bersalah yang teramat dalam setiap bertatapan mata dengan Yuana, kenapa ia tidak berani mengungkapkan perasaannya sejak dulu.


Kenapa ia tidak memunculkan dirinya saat ayah Yuana hendak menikahkan Yuana dengan Amar. Bukankah Amar sudah memintanya untuk memperkenalkan dirinya dan langsung melamar Yuana? Ah, sudahlah. Toh semua sudah terlanjur terjadi, kenapa selalu saja ia sesali.


Herannya, di saat dalam keadaan seperti ini, Ilham merasa Yuana lebih cerewet, tidak kalem dan tenang seperti biasanya, padahal ia sama sekali tidak usil bahkan selalu menuruti pengaturan Yuana untuknya.


"Seandainya kamu istriku, pasti menyenangkan mendengar omelanmu setiap hari," gumam Ilham sambil senyum-senyum sendiri.


Tentu saja setelah Yuana keluar dari ruang kerjanya, setelah tadi mendengarkan pesan panjang lebar Yuana soal minum obat dan istirahat dulu.

__ADS_1


Begitu keluar dari ruang kerja Ilham, Yuana mendengar Bu Fatma memanggilnya. Ternyata Bu Fatma sedang duduk di sofa ruang keluarga berbincang dengan Rahmat yang sepertinya baru datang.


"Yuana! Duduk sini dulu, Nduk."


"Baik, Bu. Ah ada Pak Rahmat, baru datang, Pak?" Yuana pun duduk di sebelah Bu Fatma dan menyapa Rahmat yang tersenyum lebar ke arahnya.


"Iya, kebetulan lagi longgar jadi bisa kemari. Kamu, apa kabar? Pasti repot ya, jadi asisten pribadi Ilham."


"Alhamdulillah, Yuana baik, Pak. Insya Allah tidak repot, Pak, Yuana sudah mulai beradaptasi, hehe," berbincang dengan Rahmat sungguh berbeda dari pada berbincang dengan Ilham.


Mungkin karena memang pada dasarnya Rahmat adalah orang yang ramah dan kebetulan pernah jadi mentor magangnya dulu, sehingga Yuana merasa tidak ada beban apapun jika berbincang dengannya.


Sedangkan dengan Ilham, bagaikan naik rolercoaster, kadang tenang dan landai, kadang bikin emosi naik ke ubun-ubun atau tak jarang pula hati menukik ketakutan.


"Katanya mau ngeproject bareng Annisa, sudah mulai?"


"Mohon doa restu dan bimbingannya, Pak. Ini masih nunggu renovasi pabrik selesai baru bisa mulai produksi. Sketsa buat pionir sudah siap, rencana awal kita mau manfaatin bahan-bahan yang ada dulu. Rencana ke depan sih pinginnya kita akan produksi untuk butik saja, tapi lihat prospek ke depannya gimana dulu."


"Untuk tenaga kerja, siap?"


"Saat ini Pak Samuel sedang berusaha memanggil karyawan lama yang kompeten, Pak. Paling tidak masing-masing bagian sudah terlatih dan solid loyalitasnya."


"Bagus-bagus... Waaah Annisa tinggal kebagian enaknya aja nih kayaknya. Hahaha..." Bu Fatma ikut menimpali obrolan Yuana dan Rahmat.


"Ya tentu saja tidak, Bu. Nanti kan Kak Annisa yang harus bertanggungjawab untuk marketingnya, yang tentu saja harus lebih keras usahanya daripada Yuana."


"Ya... Semoga Allah meridloi usaha dan kerjasama kalian, diberi keberhasilan yang membawa berkah untuk semua. Selamat datang di dunia usaha ya, Nduk. Jangan mudah menyerah dan jangan pernah takut untuk gagal."


"Aamiin... Aamiin Yaa Allah. Terima kasih atas doa dan dukungannya, Bu."


"Yuana... Boleh saya lihat sketsa-sketsanya?"


"Boleh, Pak. Sebentar saya ambilkan dulu," jawab Yuana bersemangat, sambil berdiri dan berjalan menuju ruang kerja Ilham di mana ia meletakkan tas yang berisi buku sketsa miliknya.


Yuana menghentikan langkahnya ketika baru saja memasuki pintu ruang kerja, karena ternyata ada Ilham yang menghalangi jalannya dengan tatapan yang tak dapat Yuana artikan.


'Mas Ilham ini apakah sedang marah, kecewa atau sedih? Kok wajahnya seperti itu? Aku tidak sedang melakukan kesalahan kan? Ah, tidak, tidak. Aku tidak melakukan kesalahan apapun kok,' batin Yuana.


"Permisi, Mas. Yuana mau ambil tas Yuana," akhirnya Yuana mencoba mengabaikan kebingungannya atas sikap Ilham dua hari ini. Dan Ilham menggeser sedikit tubuhnya agar Yuana bisa masuk meskipun Yuana harus berjalan dengan memiringkan badannya agar tidak menyenggol badan Ilham.


Setelah mengambil buku sketsa dari dalam tasnya, Yuana bergegas kembali ke ruang keluarga. Namun ternyata Ilham sudah menempati tempat yang ia duduki tadi. Mau tidak mau Yuana pun mengambil duduk di dekat Rahmat.


"Ini Pak, sketsanya. Coba Pak Rahmat lihat-lihat semua, mungkin ada kritik atau saran biar lebih bagus lagi."


"Kamu tidak meminta kritikan dan saran dariku?" tanya Ilham.


Rahmat yang menangkap kemasaman wajah Ilham, tidak mengambil buku sketsa yang disodorkan Yuana padanya. Ia justru menggeser duduknya lebih dekat dengan Ilham sambil menyeringai tipis melirik Ilham.


Membuat Ilham mencebik dan memelengoskan wajah ke arah ibunya. Bu Fatma mengabaikan interaksi Ilham dan Rahmat, lebih tertarik untuk ikut melihat sketsa-sketsa milik Yuana. Ia pun berpindah duduk melewati depan lutut Ilham agar bisa duduk di samping Yuana.

__ADS_1


Akhirnya Ilham pun hanya bisa bersedekap memandang dengan masygul Yuana yang diapit oleh Bu Fatma dan Rahmat.


__ADS_2