HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 11 AWAL KEHIDUPAN YANG BARU


__ADS_3

Pukul 03.00 WIB, Yuana terbangun dari tidurnya. Awalnya ia bingung, terbangun bukan di dalam kamarnya, ruangan ini terlalu luas dibanding kamar yang biasa ia tempati bersama Amar. Ia merasa seperti terbangun di kamarnya dulu, ketika masih menempati rumah lamanya. Tapi bukankah itu sudah tidak mungkin?


Senyum langsung terbit di wajahnya, ketika ia menolah ke sampingnya, dimana ia menemukan rambut curly yang menutupi sebagian wajah putri kesayangannya dan sebuah tangan yang sedang memeluk putrinya tersebut. Yuana melihat Bu Fatma sedang memeluk Nabila, seperti melihat ibundanya yang sering menemani Nabila tidur.


"Terima kasih Bu," gumam Yuana sambil tersenyum, tak terasa air mata haru ikut menggenang di pelupuk matanya. Ia mengingat percakapannya dengan Bu Fatma menjelang tidur tadi. Banyak hal yang dibicarakan, mulai dari kronologi kecelakaan kemarin hingga kisah persahabatan Amar dan Ilham. Yuana merasa pertemuannya dengan Bu Fatma adalah pengobat kerinduannya pada sosok ibundanya. Seorang yang tegas namun penuh kasih sayang.


Pelan-pelan Yuana turun dari ranjang, beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudlu. Kemudian menggelar sajadah sudut kamar guna mendirikan sholat tahajud. Empat rakaat dua salam ia tunaikan.


Setelah menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri sembari mengucapkan salam lalu berdzikir, Yuana melangitkan do´a dan harapan untuk suaminya, untuk anaknya, untuk dirinya.


Tak henti-henti air mengalir dari pelupuk matanya, menunjukkan betapa lemah dan rapuh dirinya ketika menghadapkan dirinya pada Sang Pencipta. Bibirnya yang bergetar tak henti-henti memohonkan kesembuhan bagi Amar, suaminya.


Diusap perlahan wajahnya yang setengah basah ketika ia merasakan usapan lembut di bahunya. Yuana menoleh pada Bu Fatma yang sedang tersenyum padanya. Bu Fatma yang mengenakan mukena terusan yang disingkap ke pundak tersebut mengajak untuk sholat subuh berjamaah di musholla rumah yang berada di samping dapur kering.


"Ayo berjama´ah... Pak Hadi sama Mbok Sari sudah menunggu di musholla," kata Bu Fatma. Yuana pun menganggukkan kepala dan segera berdiri dan mengikuti Bu Fatma ke musholla rumah yang tidak jauh dari kamar yang ia tempati semalam.


Yuana yang tidak mendengar suara adzan melirik jam dinding yang sempat ia lewati. Jarum jam yang panjang menunjuk angka tiga sedangkan yang pendek mengarah ke angka empat. "Astaghfirullah... kenapa aku tidak mendengar suara adzan?" gumam Yuana.


"Di sini jauh dari masjid, jadi tidak terdengar adzan. Kalau dari luar atau lantai atas baru bisa terdengar... tapi sayup-sayup," jelas Bu Fatma yang mendengar gumaman Yuana. "Nanti juga terbiasa," lanjutnya.


Begitu sampai di musholla, Yuana segera menggelar sajadah di samping sajadah Bu Fatma. Terlihat Pak Hadi sudah berdiri, bersiap untuk mengimami sholat subuh berjamaah. Sholat berjamaah dilakukan dengan hikmat, dilanjutkan dengan berdzikir dan berdoa. Diakhiri dengan doa yang dikhususkan untuk Ilham dan Amar.


"Setelah ini bersiap-siap ya, kita berangkat awal saja. Ke rumah Nak Yuana dulu baru kita sarapan dekat Raya Husada," ucap Bu Fatma saat melipat mukena yang baru saja beliau pakai.


"Baik Bu... oh ya, nanti Mbak Annisa jadi datang kan?" jawab Pak Hadi.

__ADS_1


"Iya... mungkin pesawatnya landing jam sembilanan. Kau langsung jemput saja setelah nurunin kami di rumah sakit. Sar... kau siapkan kamarnya Nisa ya. Masak seperti biasa saja... kemungkinan kita tidak makan di rumah," Bu Fatma menjawab pertanyaan Pak Hadi dan melanjutkan memberi tugas pada Mbok Sari.


Ketika Yuana kembali ke kamar, ternyata Nabila sudah bangun. Yuana segera memandikan Nabila dan membuatkannya sebotol susu. Setelah bersiap, segera Yuana membawa Nabila duduk di sofa ruang keluarga yang berada persis di depan kamar tamu.


Tak lama Bu Fatma tampak turun dari lantai atas, berjalan perlahan menghampiri Yuana dan Nabila. "Waaah Nabila sudah cantik... sudah mandi ya sayang?" sapa Bu Fatma pada Nabila.


"Sudah Buti... Bila sudah mandi, sudah mik susu," jawab Nabila dengan polosnya. Bu Fatma duduk di sebelah Yuana, tersenyum sambil mengelus rambut Nabila.


"Sejak dulu saya suka anak-anak... makanya sejak perusahaan saya limpahkan ke Ilham, saya lebih sering menemani Annisa... menemani cucu lebih tepatnya, hehe. Seandainya Ilham jadi menikah waktu itu, mungkin ia sudah punya bayi sekarang."


"Mobil sudah siap Bu," ucap Pak Hadi begitu masuk ruangan.


"Baik... ayo Yuana, kita berangkat."


Bu Fatma yang sedang membuka pintu mobil, melihat Yuana memerhatikan tas yang ia bawa.


"Ada apa? Bagus kan modelnya... ini limited edition lhooo. Sebelum ibu pulang, Zein membelikan kemarin di butik dekat outletnya," kata Bu Fatma sambil menunjukkan tas yang ia pegang pada Yuana.


"Starla Collection?" tanya Yuana memastikan.


"Eh... kok Nak Yuana tahu?" sahut Bu Fatma sambil menutup pintu ketika keduanya sudah duduk di kabin mobil. Sedangkan Nabila yang tak bersuara dari tadi ternyata tertidur lagi sambil menggelendot di gendongan Yuana.


"Itu hasil desain saya Bu," jawab Yuana dengan tersipu. Ia senang jika hasil desainnya ada yang menyukai.


"Waaah kereeeen.... hmm Nak Yuana harus kenalan sama Annisa adiknya Ilham nih. Mungkin nanti kalian bisa bekerja sama. Pasti dia seneng," ucap Bu Fatma dengan antusias. Yuana yang mendengar hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Pak Hadi yang sedang mengendarai mobil tampak sesekali melirik ke kaca spion kecil di depannya demi melihat interaksi Bu Fatma dengan perempuan yang baru sehari dikenalnya.


Tidak biasanya majikannya tersebut mudah seakrab itu dengan orang yang baru ia kenal, seakan Yuana seperti anak atau keponakan saja. Biasanya Bu Fatma tidak akan banyak bicara dan terkesan menjaga wibawanya, tapi tidak kepada Yuana dan Nabila.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Yuana, Bu Fatma banyak bercerita tentang perjuangan membangun perusahaan dengan suaminya sambil membesarkan ketiga anaknya. Sedangkan Yuana tidak terlalu banyak bicara, hanya sesekali menyatakan kekaguman pada Bu Fatma atau menjawab pertanyaan dari beliau.


"Sudah sampai Bu," ucap Pak Hadi memotong pembicaraan yang didominasi oleh majikannya tersebut.


"Ah... di sini? Baiklah, ayo kita turun. Ambil seperlunya saja dulu ya, Nak Yuana, biar kita ndak kesiangan ke rumah sakit."


"Baik Bu... mari silahkan masuk. Maaf rumahnya sederhana dan harus duduk di bawah," jawab Yuana dan mempersilahkan Bu Fatma untuk masuk ke rumahnya.


"Tidak masalah Nak Yuana... ibu jadi inget masa-masa perjuangan dengan almarhum dulu, ibu juga masih ngontrak sebelum melahirkan Ilham. Rahmat seusia Nabila juga," tersenyum Bu Fatma mengenang masa lalunya.


Yuana yang telah meletakkan Nabila ke kamar, bergegas membuatkan minuman hangat untuk Bu Fatma dan Pak Hadi. Lalu Yuana membuka koper dan mengisinya dengan beberapa pakaian dan beberapa dokumen yang diperlukan, lalu membawa koper itu ke depan rumah. Kemudian ia bergegas menggendong Nabila kembali dan bergegas keluar, ternyata Bu Fatma dan Pak Hadi sudah menunggu di dalam mobil.


Setelah mengunci pintu, Yuana melihat Bu Marta berdiri di depan pagar rumahnya. Kebetulan sekali, sehingga Yuana bisa berpamitan kepada pemilik rumah yang ia tempati selama ini tersebut.


"Selamat pagi Bu Marta, maaf untuk beberapa hari mungkin saya tidak pulang. Titip rumah dulu ya Bu," pamit Yuana.


"Iya Yuana... jaga diri ya, dan semoga Amar segera sembuh," jawab Bu Marta sambil mengelus lengan Yuana.


"Terima kasih Bu, saya pamit dulu."


Bergegas Yuana masuk ke dalam mobil. Dipandanginya rumah yang beberapa bulan ini ia tempati bersama Amar dan buah hati mereka. Terlihat juga beberapa tanaman bunga yang ia rawat selama ini, sebagian besar sudah berkembang bunganya. Yuana tidak tahu bahwa ini adalah hari terakhirnya melihat rumah itu dan menjadi awal kehidupannya yang baru.

__ADS_1


__ADS_2