HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 31 MEMBUKA LUKA


__ADS_3

Tiga minggu sudah operasi transplantasi hati yang dijalani oleh Ilham. Masih berada di ruang rawat, dengan keadaan fisik yang semakin membaik.


Warna pucat yang dalam beberapa waktu mendominasi wajahnya, kini sudah berganti cerah merona, terutama usai berjemur di pagi hari. Pipinya yang semula tirus, kini mulai sedikit berisi.


Rahangnya juga mulus terawat, dengan telaten Bu Fatma membantu mencukurnya dua hari sekali. Rambut yang belum sempat dipotong, terpaksa harus diikat setengah bagian atasnya membentuk ikatan man bun. Karena bu Fatma paling tidak menyukai anak-anaknya berpenampilan berantakan.


"Kenapa jadi mirip Takeshi Kaneshiro begini... eh bukan... ini sih Antonio Banderas deh kayaknya," seloroh bu Fatma saat berhasil menyelesaikan ikatan rambut Ilham.


Niatnya menggoda anaknya itu agar mau bersuara barang sedikit saja. Karena selama ini Ilham hanya menghabiskan waktunya untuk tidur saja, gejala somnolensi atau hipersomnia yang ia derita akhir-akhir ini belum juga hilang. Kalaupun bisa dibangunkan, yang dilakukan hanya diam dan melamun saja. Tak ada seri sedikitpun pada aura wajahnya.


"Tua amat mirip mereka!" tiba-tiba Ilham bersuara dengan senyum miring.


Berbinar bu Fatma bisa mendengar suara Ilham lagi. Bagai melihat secercah sinar mentari di musim penghujan serta setetes embun di musim kemarau.


Teringat beliau akan perbincangan dengan dokter Luailik, Sp.KJ tempo hari bahwa jika Ilham sudah bisa diajak berkomunikasi maka psikoterapi bisa mulai dilaksanakan. Karena untuk melakukan psikoterapi harus ada komitmen dari penderita, agar proses yang akan dijalani tidak menjadi sia-sia.


Sesaat bu Fatma bingung mesti bagaimana bersikap menanggapi selorohan balik dari Ilham itu. Antara senang akhirnya Ilham mulai ada respon juga bingung bagaimana harus menyampaikan soal psikoterapi tanpa harus membuat anaknya tersinggung.


"Ummah... Ilham boleh ke tempat Gus Tiar?" pinta Ilham setelah menangkap binar di mata ibunya itu.


Gus Tiar adalah panggilan tenar bagi ustadz Bahtiar Hamzah, ustadz yang mendirikan pondok rehabilitasi mental bagi penderita gangguan kejiwaan dan pencandu narkoba di kabupaten terdekat.


"Ilham yakin pingin ke sana? Kenapa?" tanya bu Fatma sekedar memastikan keinginan anaknya tersebut.


"Maafkan Ilham, Ummah. Ilham ingin menenangkan diri dulu... selain itu... Ilham ingin lepas dari omben," ujarnya seraya menundukkan kepala. Rasa sesal dan malu pada sang ibu mendominasi pikirannya.


"Kita konsul ke dokter dulu ya," bu Fatma akhirnya bisa bernafas lega, tanpa takut salah bicara yang mengakibatkan Ilham tersinggung, malah Ilham sendiri yang meminta menjalani terapi untuk dirinya sendiri.


Kemarin bu Fatma sempat mengajukan rawat jalan untuk anaknya itu, namun dokter Yusuf dan tim dokter yang lain tidak mengizinkan sebab penyebab utama penyakit yang dialami Ilham belum teratasi dengan baik, yakni gangguan psikologis akibat patah hati atas kegagalan pernikahannya dulu.


Jadi masalah utama Ilham ternyata bukan hanya sirosis hati yang ia derita, melainkan gangguan mental yang dialaminya.


Setelah pemulihan fisik paska operasi transplantasi hati menunjukkan hasil yang signifikan, dalam seminggu ini Ilham menjalani pemeriksaan medis kejiwaan yang melibatkan orang-orang yang dekat dengan Ilham.


Diagnosa dokter menunjukkan bahwa Ilham mengalami depresi, lebih tepatnya gangguan depresi mayor (major depressive disorder/ MDD). Melihat dari gejala yang dialami oleh Ilham diantaranya, berat badan turun drastis, mengalami somnolensia yaitu tidur terus menerus, sulit konsentrasi, merasa bersalah dan tiada guna serta kehilangan minat terhadap hal-hal yang disukai.


Ditambah dengan kasus overdosis psikotropika hingga koma yang ia alami dulu kemudian konsumsi alkohol berlebih akhir-akhir ini. Meskipun sebenarnya Ilham bukanlah pemakai narkotika atau pun peminum.


Kasus overdosis psikotropika yang ia alami sesaat sebelum pernikahan justru ia sendiri tidak mengetahui. Pasalnya ketika menunggu penghulu datang, ia hanya minum sari jeruk yang diberi oleh calon istrinya, setelah itu ia merasa kantuk yang teramat sangat dan ketika sadar ia telah berada di ruang ICU sebulan kemudian.


Setelah keluar dari ICU, waktunya ia habiskan untuk fokus pada perusahaan dan selalu pulang larut malam. Karena setiap ia berada di rumah dan melihat taman impian yang hanya terlihat dari balkon kamarnya, membuat hatinya merasa teramat nelangsa.


Taman bunga dengan landscape modern yang ia bangun guna memenuhi permintaan Cathrine, perempuan yang sangat ia damba, sebagai hadiah pernikahan. Namun alih-alih memberikan pada istrinya, jejak perempuan cantik itu pun hilang nyaris tak tersentuh, bahkan oleh pihak kepolisian yang menyelidiki kasus overdosisnya.


Dalam hatinya ia ingin bisa segera menemukan kembali calon istrinya dan membuktikan bahwa calon istrinya itu pun adalah korban seperti halnya dengan dirinya.

__ADS_1


Namun kekecewaan mendalam ia dapati tatkala ia mengantar ibunya pergi ke Singapura untuk menemani Annisa melahirkan anak keduanya.


Saat itu ia duduk di rooftop salah satu restoran di Changi menanti kedatangan Zein, adik iparnya. Mereka janjian bertemu untuk ngopi bareng. Sembari menunggu, ia mencoba menikmati pemandangan kota.


Ketika minuman yang telah dipesan sebelumnya datang, ia merasa getaran yang berasal dari handphone di sakunya. Dari bar notifikasi ia tahu Zein mengirim pesan sedikit terlambat karena ada barang baru masuk di outletnya. Memasukkan kembali ke dalam saku saat terdengar dua perempuan tertawa mendekat kemudian duduk di meja di belakangnya.


Lalu kedua perempuan itu berbincang menggunakan bahasa yang sangat asing bagi telinga Ilham. Diselingi salah satu perempuan itu menterjemahkan percakapan mereka dalam bahasa Inggris, yang intinya perempuan satunya turut bahagia atas kabar pernikahannya dan memuja kebersamaan mereka tiga tahun ini.


Tentang bagaimana kesetiaan dan perjuangan mereka berdua selama bertunangan tiga tahun itu dan akhirnya bisa menikah.


Rupanya ada seorang lelaki yang duduk bersama dengan perempuan yang duduk tepat membelakanginya. Dan mereka baru saja menikah dan berbulan madu ke beberapa negara. Dan Singapura adalah negara ketiga kunjungan mereka, masih ada tiga negara lagi yang akan menjadi destinasi bulan madu mereka.


Bukan isi percakapan yang membuat Ilham terhenyak, melainkan suara renyah namun merdu dari perempuan yang menterjemahkan dalam bahasa Inggris tadi. Suara yang begitu menyiratkan kebahagiaan dan kebanggaan.


Sangat familier... sangat ia rindukan. Cathrine.


Buncah hati hendak berdiri menghampiri lalu memeluknya erat, tak melepas hingga ia bawa pulang. Namun percakapan tentang pertunangan dan pernikahan serta rangkaian tour bulan madu, sangat cukup sebagai alasan ia menahan diri.


Dipakainya kacamata hitam yang ia letakkan di meja tadi, menutup kepala dengan hoodie yang menggantung di belakang lehernya, lalu sedikit menggeser tubuhnya.


Berpura-pura mengambil swafoto dalam beberapa angle, mengambil sudut pandang yang sekiranya bisa menangkap keberadaan dua orang di belakangnya itu. Lalu mengecek hasilnya di galeri handphonenya.


Plash...


Seakan berdiri di atas karang di tepi pantai, lalu ombak besar menghantam ke dadanya. Terhuyung lalu terhempas.


Alih-alih menuju pintu keluar, ia malah masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup luas. Ruangan dengan interior bernuansa vintage dengan beberapa meja yang dikelilingi empat sampai enam kursi tanpa sandaran tangan berbahan dasar kayu. Lalu sebuah meja bar panjang berada di ujung ruangan dengan beberapa barstool berwarna merah dan hitam berselang-seling.


"Give me your best shots," lirihnya sambil memejamkan mata pada seorang bartender di depannya. Ia tidak tahu apa yang ia pesan. Ia hanya menirukan teman-temannya dulu, ketika ia hang out akhir pekan semasa kuliah, di mana ia selalu memesan soda atau air mineral saja.


Tidak sampai dua menit, bartender itu menyodorkan sebuah gelas kecil berisi sekitar empat sampai lima tegukan ke hadapannya. Cairan berwarna kuning sedikit coklat keemasan memenuhi isi gelas itu. Harum... wangi... sedikit ada manisnya dan sedikit aroma jeruk.


Sedikit demi sedikit ia cicipi rasa itu, dan benar saja, lima tegukan sudah kosong saja. Namun ia masih penasaran dengan rasa yang baru saja ia temui itu.


"Give me one more, please!" ucapnya sambil menunjukkan gelas yang telah kosong itu. Habis gelas kedua, ia semakin penasaran. Rasa sesak akibat hempasan ombak tadi berangsur memudar menjadi ringan dan hangat.


"Give me one more, please!" makin diminum, makin ia penasaran.


"Give me more..." ini adalah permintaan yang ke enam setelah ia menghabiskan lima gelas minuman yang sama. Tersenyum lebar saat ia melihat adik ipar yang ia tunggu-tunggu datang mendekat.


Kenapa wajah Zein yang biasanya selalu tampil keren tiba-tiba jadi sangat kusam dan buram? Tapi aku sedang bahagia, tak apalah punya ipar sedikit buram...


Dengan tertawa ia mengajak Zein untuk bersenang-senang, "ayo Zein... kita menyanyi dan bergoyang!"


Tak tahu apa yang terjadi selanjutnya, yang jelas saat ini kepalanya terasa sangat berat dan sakit. Masih teringat jelas aroma floral yang khas dari bantal yang ia gunakan untuk tidur, bantal hotel yang ia tempati selama berkunjung ke Singapura dulu. Namun entah bagaimana tiba-tiba aroma bunga tersebut berganti menjadi aroma karbol khas rumah sakit.

__ADS_1


Segera ia buka mata, senyuman lembut sang ibu menyambutnya. Sebuah usapan lembut menyusuri belakang kepalanya, "Ilham kenapa? Sudah mengantuk lagi? Istirahatlah dulu... nanti sore kita temui dokter Luailik ya?"


"Ummah... maaf," sesal Ilham mengingat kejadian demi kejadian yang ia alami, mengingat bahwa ia telah membuang waktu begitu lama, mengingat betapa mengecewakannya dirinya.


"Ssssst... sudah, lupakan semua. Yang penting anak ummah ini sekarang mau bangkit dan memulai semua dari awal lagi. Buktikan bahwa mendiang Abah tidak salah telah berharap besar pada Ilham, oke?!"


"Ilham rindu Abah, Ummah," Ilham memejamkan mata sambil menengadahkannya demi menahan runtuhnya air mata penyesalan.


Seketika bu Fatma mendekat dan memeluk Ilham dengan erat. Beliau sadar selama ini tidak pernah menyinggung tentang Abah Haikal kepada Ilham. Mengingat hubungan terakhir Ilham dan Abah Haikal yang masing-masing dalam keadaan emosi. Ilham yang merasa hidupnya terlalu diatur oleh Abah.


Malam itu, dua hari kepulangan Ilham dari menempuh pendidikan di luar negeri, Ilham meminta izin lebih tepatnya memberi tahu akan menikah dengan Cathrine esok hari di sebuah hotel.


Abah Haikal yang terkejut dengan kabar mendadak itu tentu saja tidak menyetujuinya. Selain karena terlalu mendadak, juga belum tahu dengan siapa Ilham akan menikah. Siapa orang tuanya, bagaimana agama dan akhlaknya.


"Dari kecil Ilham selalu menurut sama Abah. Tolong kali ini biarkan Ilham memilih sendiri pendamping Ilham. Ini Ilham yang menjalani... BUKAN ABAH!" protes Ilham sebelum akhirnya ia meninggalkan rumah setelah membanting pintu. Sungguh akalnya telah dibutakan oleh yang namanya jatuh cinta untuk pertama kalinya.


Abah yang memang sebelumnya memiliki riwayat aritmia yaitu gangguan detak jantung, melihat Ilham membantah untuk pertama kali, tiba-tiba merasa nyeri yang teramat sangat di dada kirinya, lalu sesak nafas dan akhirnya pingsan.


Rahmat yang baru saja turun dari lantai atas terkejut melihat abahnya terkulai lemas di sofa sedangkan ummah menangis di sampingnya.


"Bawa abah ke rumah sakit!" seru bu Fatma begitu melihat Rahmat turun.


Setelah mendapat penanganan yang tepat di rumah sakit, akhirnya kondisi abah Haikal perlahan mulai membaik kembali. Rahmat dan bu Fatma duduk di ruang tunggu guna memberi kesempatan abah Haikal untuk beristirahat.


"Rahmat... besok jam sepuluh, Ilham akan menikah di hotel. Tolong... cegahlah! Sepertinya ia bukan perempuan baik. Jangan sampai Ilham terjerumus terlalu jauh."


Keesokan harinya, dengan dibantu oleh Arief, akhirnya Rahmat bisa menemukan hotel tempat Ilham akan melakukan pernikahan. Untung saja Arief sangat kenal dengan Yongky, general manager hotel tersebut sehingga bisa meminta nomor kamar yang dibooking oleh Ilham.


Ada tiga kamar dengan nomor berurutan dan sebuah meeting room yang didekor menjadi sebuah ruang akad nikah, dibooking atas nama Ilham. Namun setelah didatangi ternyata dua kamar pertama telah dalam keadaan kosong.


Dan ketika membuka pintu kamar ketiga, barulah mereka menemukan Ilham. Sendiri. Tidur lelap dengan memakai tuksedo lengkap dengan sepatunya. Ada yang aneh.


Perlahan Rahmat masuk menghampiri Ilham. "ILHAAAAM...!!" teriaknya begitu mengetahui kondisi Ilham yang sebenarnya.


Mata terpejam erat, rahang mengeras namun mulut sedikit terbuka dengan sedikit busa di ujungnya.


Yongky yang mengantar Rahmat dan Arief pun segera menyisir sekeliling ruangan dalam kamar tersebut, namun tak menemukan jejak apapun yang bisa diduga sebagai penyebab kondisi Ilham saat ini. Dugaan awal keracunan. Namun sama sekali tidak ada bekas makanan atau minuman di ruang ini. Bersih.


"Masih hidup... Ilham masih hidup!" seru Arief setelah memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Ilham.


Spontan Yongky menghubungi salah satu stafnya menggunakan sip-dect phone yang tersedia di nakas, untuk menyiapkan ambulans. Untung saja hotel tersebut memiliki sebuah ambulans sebagai salah satu fasilitasnya.


Setelah Ilham dievakuasi, Yongki segera mengunci kamar dan menghubungi pihak berwajib untuk menyelidiki kasus Ilham ini.


Beruntung Ilham dapat ditolong tepat waktu, terlambat sekian menit saja kemungkinan ia sudah tiada. Dari hasil pemeriksaan tanda vital dan fisik secara menyeluruh, dinyatakan Ilham bukanlah mengalami keracunan makanan atau minuman, melainkan overdosis psikotropika.

__ADS_1


Zat psikotropik masuk melalui minuman dan suntikan yang ditemukan beberapa titik di lengan dan betis. Dan itu tidak mungkin dilakukan oleh dirinya sendiri, melainkan dilakukan secara paksa atau tidak disadari oleh Ilham dalam artian dibuat tidak sadar terlebih dahulu. Sungguh biadab. Dan Ilham sama sekali tidak mengetahui hal ini sampai saat ini.


Dengan berlinang air mata, bu Fatma mempererat pelukannya. Sudah saatnya ia membuka luka lama, sudah saatnya Ilham mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya saat itu.


__ADS_2