
"Sampai kapan Kak Jo menyerah dan mau membuka hati untuk orang lain?"
Setelah kemarin dokter Yusuf terpaksa pulang karena ada panggilan darurat, hari ini dokter Yusuf mendatangi Yuana lagi. Duduk di sebuah bangku panjang di samping rumah menghadap kebun sayuran.
"Entahlah, Yuana. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku menyayangimu, apapun yang terjadi, aku gak ingin kehilangan kamu lagi. Meskipun kamu sangat membenciku, aku akan tetap sayang sama kamu."
"Yuana sama sekali tidak membenci Kak Jo. Yuana mengerti perasaan Kak Jo. Hanya saja... entah kenapa hati Yuana mengatakan tidak bisa, Kak. Dan Yuana tidak bisa..."
Ucapan Yuana terpotong saat dokter Yusuf tiba-tiba berlutut di depan Yuana dan meraih kedua tangan Yuana dan menggenggamnya erat.
"Ayolah, Yuana, menikahlah denganku. Kamu hanya cukup bilang iya. Bukankah seorang perempuan bisa menikah dan bahagia walaupun tanpa cinta di hatinya. Buktinya kamu bisa menikah dengan Amar dan bahagia, walaupun kalian tidak saling mencintai, iya kan? Amar, ayah, ibu... semua sudah tidak ada. Sekarang hanya ada aku, Yuana... Dan aku mencintaimu. Kurang apalagi?"
Semakin Yuana berusaha melepaskan tangannya, semakin erat dokter Yusuf menggenggam tangan itu.
"Kak... Siapa bilang Yuana dan Mas Amar tidak saling mencintai? Ya memang sebelum menikah, kami tidak saling mencintai, tapi setelah menikah, Allah yang menganugerahi kami rasa saling mencintai itu. Sedangkan cinta yang Kak Jo rasakan saat ini, itu hanyalah nafsu yang harus bisa Kak Jo kendalikan."
Tak diduga, dokter Yusuf menunduk dan menempelkan keningnya pada punggung tangan Yuana yang ia pegang erat. Sesenggukan hingga bahunya berguncang.
Air mata Yuana pun ikut luruh menyaksikan dokter Yusuf yang menangis berlutut di depannya. Bukannya ia tak memahami perasaan dokter Yusuf, bahkan lebih dari memahami. Yuana tahu persis apa yang dirasakan oleh dokter Yusuf kepadanya, karena ia pun merasakan hal yang sama kepada pemuda di hadapannya ini.
Yuana tahu bahwa dokter Yusuf salah memahami perasaannya sendiri, bahwa itu bukanlah perasaan sayang seorang lelaki kepada seorang perempuan. Tapi Yuana tidak bisa mengungkapkan sebuah kenyataan tentang mereka berdua yang diam-diam telah ia ketahui sehari sebelum pernikahannya dengan Amar.
Sebuah alasan yang akhirnya bisa ia terima ketika terpaksa harus menikah dengan Amar di saat ia ingin menggapai cita-citanya menjadi seorang desainer. Demi keselamatan dirinya dan kedua orangtuanya.
Membuat seorang Yuana benar-benar pasrah akan takdir kehidupan yang menimpa dirinya. Sebuah takdir yang membuatnya bersyukur telah dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih sayang. Sekaligus sebuah takdir yang mengharuskannya bersabar atas segala sesuatu yang akan ia hadapi di kehidupannya.
Melihat dokter Yusuf yang masih menunduk di lututnya, Yuana merasa iba. Hatinya pun terasa nyeri, seandainya saja ia bisa mengatakan yang sebenarnya.
"Kak... bangunlah, jangan seperti ini. Yuana sedih melihat Kak Jo seperti ini."
Tatapan keduanya bersirobok tatkala dokter Yusuf mendongakkan kepalanya. Seperti ada letupan-letupan halus memenuhi rongga dada Yuana lalu menyekat tenggorokannya. Satu tetes air mata jatuh lagi mengalir di pipi. Tak dapat menghapusnya karena kedua tangan masih digenggam oleh dokter Yusuf.
Dokter Yusuf bangkit dari berlututnya dan duduk di samping Yuana.
Dilepaskan kedua tangan Yuana lalu menghapus air mata di pipi gadis yang sangat ia sayangi itu.
"Maafkan aku, Yuana. Aku... Aku tidak akan memaksamu lagi. Tapi, tolong... bisakah kamu jangan menghindar lagi."
Biarkan aku menyayangimu dengan caraku, Yuana.
Yuana menganggukkan kepalanya perlahan, memang tidak selamanya ia bisa menghindar. Paling tidak dengan begini, ia tidak sampai harus mengungkapkan rahasia masa lalu mereka demi menolak permintaan menikah dari dokter Yusuf. Ia kemudian mengusap-usap wajah membersihkan sisa-sisa air mata sambil berusaha mengulas senyum lega.
"Nduuk..." Bu Aminah memanggil Yuana dari pintu belakang rumah, "ada Mas Ilham di depan."
Dokter Yusuf dan Yuana saling berpandangan sebelum akhirnya berpisah setelah dokter Yusuf berpamitan. Ia tidak ingin Ilham salah paham dan berpikiran buruk terhadap Yuana, bagaimana pun Ilham adalah atasan sekaligus orang yang menolong Yuana dalam masa sulitnya.
Dokter Yusuf kemudian pergi tidak melalui pagar depan, melainkan melalui jalan setapak berundak yang langsung turun ke jalan terdekat mobilnya terparkir. Sedangkan Yuana masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang bersama dengan Bu Aminah.
"Nduk, sepurane, opo awakmu ngerti amplop coklat ono taline abang? Jare Ilham diutus Kyai jupuk amplop iku," tanya Bu Aminah hati-hati, karena ia mempunyai firasat akan terungkapnya masa lalu Yuana.
"Ada, Bu. Nanti Yuana ambilkan," Yuana bertanya-tanya dalam hati, apa sebenarnya isi amplop itu, kenapa kemarin ia tidak mencoba mengintipnya sebentar. Kenapa Kyai Marzuki sampai mengutus Mas Ilham mengambilnya? Tapi bagaimana jika itu barang penting yang ia tidak berhak tahu?
'Ah, biarin sajalah, toh itu berarti memang bukan urusanku,' batinnya.
Yuana mengambil nampan berisi dua cangkir teh panas yang telah disiapkan oleh Bu Aminah di meja dapur. Mungkin Bu Aminah sekalian membuatkan dokter Yusuf, pikir Yuana.
__ADS_1
Di ruang tamu, Ilham sudah duduk dengan memangku Nabila berhadap-hadapan dengan Yusron. Rupanya Ilham pergi ke rumah Yusron terlebih dahulu sebelum ke rumah Bu Aminah.
"Diminum tehnya, Mas, mumpung masih hangat," ujar Yuana menawarkan minuman yang baru disajikannya. Hawa pegunungan yang dingin membuat teh yang masih panas tadi cepat menjadi hangat saat disajikan. Kalau tidak segera diminum pasti akan menjadi dingin.
Ilham tersenyum sambil mengambil cangkir teh tersebut dan segera meminumnya hingga habis.
"Manis," ucap Ilham sambil menyengir kepada Yuana, karena teh yang ia minum jauh lebih manis dari yang biasa Yuana buatkan.
"Dispensasi, Mas, tapi nanti jangan makan atau minum yang manis lagi."
"Maaf, Yuana. Ada yang ingin Mas Yus bicarakan sama kamu, mungkin apa yang akan kita bicarakan ini akan membuat kamu terkejut atau sedih atau marah, Mas Yus tidak tahu. Jadi mas harap kamu bisa menyiapkan hati kamu."
"Tentang apa ya, Mas?" tanya Yuana yang hatinya tiba-tiba berkebat-kebit, takdir apalagi yang akan ia temui kali ini.
"Kalau begitu saya keluar dulu, ayo Bel..." Ilham yang merasa Yuana tidak nyaman jika ia ikut mendengar pembicaraan mereka, hendak mengajak Nabila untuk berjalan-jalan sebentar.
Namun Yusron menahannya, "jangan! Bukankah kamu calon suami Yuana, jadi kamu juga harus tahu."
"Calon suami?" Yuana berharap jika Yusron salah bicara.
"Tidak perlu malu-malu begitu, ini kabar gembira, kenapa kalian diam-diam saja? Sampai mas harus dengar dari Kyai Marzuki dulu," Yusron menahan tawa melihat wajah Yuana dan Ilham yang memerah.
"Kyai Marzuki?" Yuana sampai bingung harus bersikap bagaimana, kenapa hal ini bisa sampai terdengar oleh Kyai Marzuki, apakah Ilham yang mengatakan? Bukankah ia bilang iu hanya untuk mengelabui Ratna saja?
Tapi Ilham hanya menggedikkan bahu, membuka kedua tangannya sambil menggeleng-gelengkan kepala saat Yuana melirik tajam kepadanya.
"Yuana, sekarang Amar sudah tidak ada, Pak Bram dan ibu juga sudah tiada. Jadi mau tidak mau, saya merasa memiliki tanggung jawab atas dirimu, karena ada Nabila, jadi masih ada keterikatan di antara kita ini. Dan saya harus memberitahukan suatu masalah yang dulu orang tua kamu tidak bisa mengatakan langsung kepadamu. Apakah kamu keberatan?"
"Justru Yuana terima kasih, Mas. Mas Yus dan ibu masih menganggap Yuana bagian dari keluarga ini."
Yuana sudah was-was saja, khawatir ada kenyataan baru lagi yang belum ia ketahui dan... menyakitkan.
Sementara Ilham memilih diam menyimak sambil memperhatikan bagaimana reaksi Yuana nantinya.
"Apakah dulu kamu tidak bertanya-tanya, kenapa pernikahanmu hanya akad nikah sederhana dan Pak Bram tidak mengizinkan kamu untuk duduk bersama waktu akad nikah?"
"Waktu itu Yuana hanya pasrah saja, Mas. Karena Yuana menyadari semua keputusan ayah adalah yang terbaik untuk Yuana."
"Apa kamu juga tahu kenapa Pak Bram menolak lamaran dari Joseph dan lebih memilih menikahkan kamu dengan Amar?"
"Yuana tidak sengaja mengetahuinya, Mas. Tapi ayah dan ibu tidak tahu kalau Yuana sudah tahu. Tapi Yuana tidak berani bertanya, takut nanti hanya akan membuka aib orang tua."
"Jadi kamu sudah tahu kalau..."
"Yuana dan Kak Jo saudara kandung."
Ilham dan Yusron saling berpandangan, mereka bahkan terkejut dengan fakta baru yang mereka dengar dari Yuana. Karena yang mereka tahu bahwa Yuana bukanlah anak kandung Pak Bram sehingga akad nikahnya dulu menggunakan wali hakim, yakni Kyai Marzuki.
"Kamu yakin, kamu dan Yusuf saudara kandung?"
"Sangat yakin, karena waktu itu Yuana sempat mendengar jika kami saudara kandung, jadi tidak boleh sampai menikah. Tapi jangan sampai Kak Jo atau keluarga besarnya tahu kalau Yuana adalah adik kandung Kak Jo."
"Tidak! Tidak mungkin! Aku anak tunggal, aku tidak mungkin punya adik! Kamu bukan adikku!"
Dokter Yusuf telah berdiri di ambang pintu, ia kembali karena cluth bagnya tertinggal di bangku samping rumah Bu Aminah. Setelah mengambil clutch bag dan hendak kembali, ia mendengar Yusron menyebut namanya karena suara Yusron memang sedikit meninggi. Ia khawatir jika Yuana dimarahi tersebab kedatangannya.
__ADS_1
"Kak Jo?" Yuana terperanjat berdiri.
Dokter Yusuf melangkah mendekati Yuana, "Jangan menggunakan cara seperti ini untuk menghindar dariku lagi, Yuana!" hardiknya sambil mengguncang kedua bahu Yuana.
"Tapi kita memang saudara, Kak," Yuana meringis karena cengkeraman tangan kakaknya terlalu kuat dibahunya.
"Suf! Tenanglah, kamu menyakiti Yuana," Yusron maju dan berusaha mengurai cengkeraman dokter Yusuf yang nyatanya memang menyakiti Yuana.
Dokter Yusuf tersadar dari kemarahannya, ia pun terhuyung dan dipandu Yusron untuk duduk.
"Kita bicarakan semua dengan kepala dingin, oke?"
Setelah semua duduk kembali, suasana menjadi hening, karena semua tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Bahkan Nabila pun yang biasanya selalu berceloteh terdiam memeluk Ilham erat, ia pasti merasa ketakutan saat ini.
Hanya sesekali terdengar helaan nafas dalam dari orang-orang yang duduk di ruangan berukuran sedang itu.
Bu Aminah bangkit menuju ke belakang, hendak membuatkan minuman hangat lagi untuk para tamu di rumahnya itu. Terlihat dengan jelas tangannya yang gemetar ketika mengisi air ke dalam ketel untuk dijerang. Suara gemelitik cangkir yang bertemu dengan tatakannya juga terdengar nyaring di telinganya.
"Yaa Allah... Iki sing diwedeni Amar, kulo kedah yoknopo Gusti? Paringi kekuatan anak-anakku kabeh Yaa Allah," Bu Aminah sangat mengkhawatirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Duduk menanti air mendidih sambil mengurut dada berharap mengurangi
ketegangan di dalamnya.
Di ruang tamu.
Yuana sesekali melirik ke dokter Yusuf yang justru sedang menatapnya tajam. Ia tidak tahu harus merasa senang, lega atau justru takut dan merasa bersalah karena tanpa sengaja membuka apa yang selama ini dirahasiakan oleh orang tua mereka.
Sementara Ilham bergantian menatap Yuana, dokter Yusuf, dan Yusron. Ia sendiri bingung harus memposisikan dirinya bagaimana menyikapi kenyataan yang ada di depan matanya.
Sedangkan Yusron menatap meja sambil mempertemukan ujung jari jemari kedua tangannya, memikirkan bagaimana memulai kembali mengurai simpul masa lalu Yuana dan juga dokter Yusuf.
"Yuana... Kyai Marzuki bilang ada petunjuk yang disimpan Amar dalam amplop coklat. Apa Yuana tahu tentang itu?" akhirnya Yusron mengingat tujuan awal ia mengantar Ilham datang ke rumah ibunya ini.
"Ada, Mas Yus. Baru kemarin Yuana menemukannya, tapi belum sempat untuk membukanya."
"Bisa minta tolong diambilkan?"
"Baik, Mas."
Yuana pun berdiri menuju kamarnya untuk mengambil amplop coklat bersimpul benang merah yang kemarin sempat ia timbang-timbang untuk membukanya. Ia pun masih menyempatkan untuk memegang album bersampul kulit, merabanya dan mengira-kira apakah ada hal mengejutkan lagi di album itu. Kenapa Mas Amar tidak pernah menunjukkannya atau sekedsr bercerita kepadanya?
Yuana menghela nafas dalam-dalam, kenapa orang tua bahkan suaminya tega merahasiakan hal sebesar ini kepadanya. Memangnya bahaya apa yang akan mengintainya jika mengetahui? Bahkan ia diam-diam sudah mengetahui, tapi ia baik-baik saja bukan? Bahkan mereka yang merahasiakan yang saat ini justru berpulang terlebih dahulu.
Mudah-mudahan dengan dibukanya amplop ini, Yuana bisa mengetahui tabir apa yang dibentangkan untuknya. Berkecamuk dalam pikirannya, siapa sebenarnya Linda, selain sebagai sekretaris ayah Bram. Apakah ia selingkuhan ayah? Lalu apa hubungannya dengan Om Rudi? Kenapa aku bisa bersaudara dengan Kak Jo? Apakah kami sama-sama anak Linda? Atau Kak Jo anak ayah? Atau aku yang anak Om Rudi?
Dengan berbesar hati akhirnya Yuana membawa amplop coklat itu dan menyerahkannya kepada Yusron.
"Bismillahirrohmaanirrohiim... Allahummah dinaa wa saddidnaa wadzkur bilhuda hidaayatakat thoriyqo wassadaadi sadaadas sahmi," dengan membaca doa, memohon agar diberikan petunjuk dalam menangani persoalan Yuana ini dengan petunjuk yang lurus, seluruh arah anak panah, Yusron membuka tali simpul amplop itu.
Ilham tergemap menatap benda-benda yang dikeluarkan oleh Yusron dari dalam amplop itu.
Beberapa lembar kartu ucapan yang sangat Ilham kenali dan pernak-pernik kecil yang sengaja ia kirim dari luar negeri untuk diberikan kepada Yuana.
Lalu sebuah map plastik berisi sebuah surat usang dan selembar akta lahir yang juga berwarna kusam namun terlaminasi dengan baik. Sepertinya memang baru dilaminasi oleh Amar. Mungkin ia ingin melindungi surat berharga itu dengan baik meskipun selama ini ia tidak bisa menyampaikannya kepada Yuana.
Ilham mengabaikan sementara barang-barang yang ia kenali tadi ketika Yusron menyerahkan surat usang itu kepada dirinya.
__ADS_1
Ia menerima surat itu namun dengan pandangan penuh tanya, kenapa diberikan kepadaku?