
"Alhamdulillah Yaa Allah... anak nakal... suka bikin ummah khawatir saja!" seru Bu Fatma sambil mendekat lalu memeluk Ilham.
"Maaf Ummah... Ilham gak guna... bisanya nyakitin hati Abah sama Ummah saja," lirih Ilham dengan penuh penyesalan.
"Ssshh... bukan seperti itu... ummah mengerti betuuul kenapa kamu jadi seperti ini. Sudah yaa... lupakan semua. Allah masih memberi kesempatan buat Ilham memperbaiki diri. Setelah kamu sudah sehat nanti... tata semua dari awal lagi yaa?! Ummah akan selalu mendukung kamu... okey?"
Ilham hanya mengangguk dan mempererat pelukannya. Sedangkan Rahmat dan dokter Yusuf hanya bisa saling memandang dan tersenyum menahan tawa melihat tingkah manja Ilham pada ibunya itu.
Sementara, di balik gorden yang memisahkan dua brankar di VIP ICU itu, Amar yang berbaring dengan tenang dalam pengaruh obat yang disuntikkan melalui jarum infus oleh dokter Yusuf tadi ternyata belum sepenuhnya terlelap. Meskipun percakapan tiga lelaki tersebut tidak begitu keras suaranya, namun masih dapat terdengar dengan baik oleh Amar.
Niatnya untuk mendonorkan hatinya untuk Ilham semakin kuat. Ini adalah kesempatan terbaiknya untuk membalas jasa-jasa Abah Haikal, ayahnya Ilham, yang selama ini secara diam-diam banyak membantunya. Apalagi ia merasa bahwa waktunya tidak akan lama lagi.
Lagi pula, Ilham bukanlah orang lain bagi Amar, ia bukan sekedar teman satu angkatan di SMU dulu, ia juga adik dari Rahmat, ketua kamarnya dulu waktu nyantri di pesantren. Amar yang selalu diperlakukan seperti adiknya sendiri oleh Rahmat itu pun menganggap Rahmat dan Ilham sebagai saudara.
Sayangnya komunikasi di antara mereka terputus sejak Rahmat menikah dan memutuskan membuka usaha di ibukota, Ilham melanjutkan pendidikan ke luar negeri dan keluarga Haikal pindah ke rumah yang sekarang ditempati Ilham.
Sampai saat taksi online yang dikemudikan oleh Amar mendapat orderan dari Bu Fatma, mempertemukannya dengan keluarga ini lagi dan kemudian membuatnya berada dalam ruangan yang sama dengan Ilham sebagai pasien di ruang ICU VIP rumah sakit Raya Husada.
Kehadiran Rahmat membuat Amar terbangun dari koma, entah kebetulan atau tidak. Yang jelas ketika Rahmat menyapanya, Amar mampu mendengar dan membuka matanya.
Hingga ketika Amar mendengar Bu Fatma menyebut nama Yuana dan Nabila, muncul kerinduan yang teramat dalam pada buah hatinya tersebut. Namun pengaruh dari obat yang mulai merasuk dalam tubuhnya, membuatnya terlelap dan tidak mengetahui bahwa Yuana sedang menghampirinya untuk berpamitan.
"Mas Amar... maafkan Yuana yang tidak penurut tadi. Yuana takut, Mas... Yuana..." Yuana menghela nafas dan tidak melanjutkan kalimatnya karena ia ingat pesan dari dokter Sinta tadi untuk membiarkan Amar istirahat dulu.
Yuana sedikit membungkukkan badannya untuk bisa mencium kening Amar. Kemudian meriah tangan Amar dan mencium punggung tangan itu.
"Allahumma Rabbannaasi Adzhibil Ba'sa Wasy Fihu, Wa Antas Syaafi, Laa Syifaa-a Illa Syifaauka, Syifaan Laa Yughaadiru Saqaama. Yuana pamit dulu ya Mas... Mas istirahat dulu, besok pagi Yuana ke sini lagi. Assalamu´alaikum Mas."
__ADS_1
Dokter Yusuf yang mengetahui bahwa Yuana sedang berada di tempat Amar segera pamit keluar untuk kembali ke ruangannya. Sebesar apapun keinginannya untuk menyapa Yuana, sekuat itu pula ia menahan diri. Karena selama ini ia tidak pernah berusaha menghilangkan nama Yuana dari dalam hatinya. Baginya, hanya Yuana seorang yang memenuhi segala kriteria wanita idamanya.
Rahmat merasa aneh dengan gelagat dokter Yusuf yang setengah berbisik ketika pamit dan terkesan sedikit gugup dan terburu-buru. Tapi karena ia merasa sangat lelah, maka ia tidak menghiraukannya. Ia pun segera berpamitan pada ibu yang masih memeluk Ilham tersebut.
"Pak Hadi sudah jalan ke sini kah, Ummah?" tanya Rahmat sambil menguap.
"Tidak... Hadi tadi sedang nganter Annisa sama anak-anak ke arena bermain. Nanti malam saja dia ke sini jemput ummah. Kamu kan bareng Yuana, tadi Yuana bawa si pinky," jawab Bu Fatma tanpa melepas pelukannya pada Ilham.
"Tapi Rahmat capek dan ngantuk banget, Ummah," sahut Rahmat dengan lesu.
"Ndak papa, Pak... biar saya saja yang bawa mobilnya. Pak Rahmat nanti istirahat saja di bangku belakang."
Terjingkat Rahmat yang terkejut karena tiba-tiba Yuana menimpali dari belakang punggungnya.
Ilham yang melihat kakaknya terjingkat, menyembunyikan wajahnya yang tertawa di dada ibunya dan kakaknya itu hanya tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
Melihat Bu Fatma yang tidak melepas pelukan pada putranya, Yuana yang sebelumnya hendak mengulurkan tangan berniat menyalami Bu Fatma, mengurungkan niatnya. Ia hanya menunduk dan sedikit membungkukkan badan kemudian mengucap salam dan berlalu keluar ruangan diikuti oleh Rahmat.
Setibanya di rumah...
"Bundaaaa... Bila tanen bunda. Buya mana? tok ndak pulang baleng bunda?"
Nabila yang melihat Yuana turun dari mobil, menyambut ibunya itu dengan girang. Kebetulan saat itu ia baru saja selesai makan bersama Azyan dengan disuapi oleh Annisa di teras samping yang terhubung dengan garasi bagian dalam.
"Assalamu´alaikum Nabila sayaaang... uuuuh bunda juga kangen sama Bila. Tapi bunda mandi dulu ya sayang, banyak kuman nih badan bunda."
Yuana mengepalkan kedua tangan dan meletakkannya di pipi kiri dan kanannya, memasang ekspresi wajah gemas, serta sedikit menggoyang-goyangkan kepala.
__ADS_1
"Ote bunda... buluan yaa mandina, bial tumanna hilang telus bisa main deh sama Bila sama Asiyan dugak"
"Waah... ini ya yang namanya Nabila. Cantiknyaa... rambutnya mirip Amar ya," sapa Rahmat pada gadis kecil yang baru saja menyambut Yuana itu. Dipegangnya rambut Nabila yang menggulung menggantung di bagian ujungnya itu.
"Emangnya mirip ya sama rambutnya mas Amar? Kok Pak Rahmat tahu? Kan rambut mas Amar selalu pendek," tanya Yuana yang tahunya Amar selalu berambut pendek jadi penasaran.
"Dulu sewaktu di pondok pernah dipanjangin, pinginnya kayak Antonio Banderas gitu, bisa dikuncrit. Tapi... belum sebahu udah keluar curlynya... haha... bukannya makin keren malah jadi kliatan cantik, dicepak lagi akhirnya... hahaha," ungkap Rahmat sambil tertawa karena mengingat Amar yang jadi terlihat cantik gara-gara memanjangkan rambutnya.
Yuana yang mendengar cerita Rahmat tersebut akhirnya tersenyum lebar karena ikut membayangkan suaminya pernah memiliki rambut curly seperti anaknya.
"Bella! Ayo sini... bunda Bella biar mandi dulu," Azyan memanggil Nabila untuk meneruskan aktifitas bermain mereka tadi.
Waktu pun berlalu, hingga tiba waktu makan malam setelah kepulangan Bu Fatma dari rumah sakit. Mereka pun makan bersama di ruang makan, kecuali anak-anak yang sudah tidur terlebih dahulu.
Bu Fatma mengabarkan bahwa saat ini Amar dan Ilham dalam kondisi stabil, jadi tidak perlu ada yang menjaga, apalagi dokter Sinta yang kedapatan jadwal jaga malam berjanji akan segera mengabari jika terjadi sesuatu. Dokter Yusuf pun meyakinkan bahwa mereka berdua dalam kondisi tenang, tidur beristirahat malam ini.
Mendengar nama dokter Yusuf disebut, membuat jiwa penasaran Annisa jadi bangkit. Rasa penasaran untuk mengetahui hal yang membuat dokter Yusuf memilih menyendiri hingga saat ini adalah patah hati dan belum bisa melupakan wanita idamannya. Yang ia ketahui bernama Yuana. Apakah ini Yuana yang sama?
Ia tidak tahan lagi untuk bertanya, "Yuana... apa kau pernah ada hubungan dengan dokter Yusuf?"
"Joseph Wijaya"
Celetukan tiba-tiba dari arah pintu samping yang terbuka membuat seluruh orang yang duduk di meja makan sontak menoleh.
Yuana membeliakkan matanya dan menjatuhkan sendok yang ia pegang ke atas piring yang hampir habis isinya.
"Kak Joseph!" seru Yuana sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
__ADS_1