HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 26 PEMAKAMAN AMAR


__ADS_3

"Yuana... bangun Nak. Kamu tidak ikut ke pondok?" Bu Fatma yang baru masuk ke kamar hendak memanggil Annisa, terkejut melihat Yuana tidur di atas sajadahnya. Dengan perlahan beliau mengguncang tubuh Yuana untuk membangunkannya.


"Masya Allah... sudah jam berapa ini Bu?" Yuana pun berusaha untuk mendudukkan dirinya, mengusap pipinya yang basah karena linangan air mata.


"Jam setengah empat, Sayang. Buruan sholat Ashar dan bersiap-siap ya, kita ke pondok sama-sama," jawab Bu Fatma dengan lembut.


Setelah itu, Bu Fatma pergi ke kamar Annisa, karena ternyata Annisa sudah tidak berada di kamar tamu yang ditempati Yuana. Sedangkan Yuana bergegas ke kamar mandi untuk berwudlu, lalu menunaikan sholat ashar dan mempersiapkan diri untuk pergi ke pondok pesantren tempat jenasah Amar akan disemayamkan dan disholati.


Tepat ketika Yuana selesai memakai abaya hitam polos yang sering ia pakai menghadiri majlis taklim, terdengar ketukan pintu yang sangat pelan. Segera diraihnya khimar instan warna hitam di almari dan cepat-cepat dipakainya. Suara halus ketukan pintu terus saja terdengar hingga Yuana membukanya.


"Bunda... tenapa laamma butak pintuna?"


Ternyata Nabila dan Azyan. Mereka berdua tampak serasi layaknya saudara kembar, memakai setelan model Pakistan dengan celana panjang dan atasan sebatas lutut. Sama-sama berwarna coklat tua mengkilap dengan aksen berwarna krem. Hanya saja yang dipakai Azyan lengan pendek dan aksen berupa strip melintang di dada, sedangkan yang dipakai oleh Nabila berlengan panjang dan aksen bordir berbentuk kerang di sepanjang tepian atasannya.


"Waaah... lucunya kalian berdua!" seru Yuana sambil tersenyum dan mencubit lembut pipi keduanya.


"Yang lucu itu hanya Bella, Tante... kalo Ajiyan itu keren," sahut Azyan menanggapi komentar Yuana akan penampilan.


"Jangan kaget Na... anaknya Kak Zein memang senarsis itu," celetuk Annisa ketika melihat Yuana membelalakkan mata mendengar kenarsisan seorang bocah.


"Nih... sama ummah suruh pakai," lanjut Annisa, tangannya mengulur ke arah Yuana, menyerahkan lipatan kain berwarna hitam dalam bungkusan plastik bening.


"Apa ini, Kak?" tanya Yuana saat ia menerima bungkusan plastik itu.


"Itu niqab milik ummah... masih baru kok, belum pernah dipakai," jelas Annisa.


"Niqab?"


"Iya... buka aja dan langsung pakai. Kamu kan lagi iddah, dan di pondok nanti bukan tidak mungkin kan bakal berpapasan sama yang bukan mahrom?"


Yuana pun menganggukkan kepalanya dan masuk ke kamar kembali untuk


mengambil tasnya dan memakai niqab tersebut di depan meja rias. Merapikan penampilannya lalu menatap bayangan dirinya di cermin. Seluruh tubuhnya tertutup kain hitam, meninggalkan kening dan dua bola matanya saja.


Setelah sesaat terhibur melihat kelucuan Nabila dan Azyan karena memakai baju kembaran, melihat mata yang sembab meninggalkan warna kemerahan di sekeliling matanya, mengingatkan kembali akan kepergian Amar.


Rasa sesak kembali hadir di dadanya, detak jantung semakin cepat ia rasakan saat ia meraba dadanya. Meremas kain khimar yang menutupi dadanya itu dan membentuk kepalan ketika ia merasa nafasnya semakin menyesakkan.


"Mas Amar... lihatlah istrimu saat ini. Kau... dulu pernah bilang, akan mengajakku berjalan-jalan keTimur Tengah. Kau bilang... di sana banyak perempuan cantik, tapi tidak ada yang bisa mengalahkanku. Aku bilang karena semua pakai cadar... Bukan, katamu... tapi karena hatimu sudah kau serahkan sepenuhnya untukku. Tapii... kenapa? Kenapa... Mas Amar tega... meninggalkan Yuana sendirian sekarang? Kenapa Mas Amar harus pergi... kenapa Mas... KENAPAAAA!? huu..huuu..." kembali Yuana menangis.


Kedua tangannya menapak di meja rias, menyangga tubuhnya yang mulai melemah. Tubuhnya bergetar menahan tangis yang rasanya ingin meledak saja.


"Tante... buruan... semua... sudah nunggu di depan," suara Azyan terdengar pelan namun tegas.


Yuana tersentak dari isak tangisnya, segera ia menarik nafas dalam dan mengusap pipinya.


"I... iya, Sayang... tante... sudah selesai," dengan gelagapan Yuana menyahut panggilan Azyan namun Azyan sudah berlalu pergi ternyata.

__ADS_1


Ia buka kotak aksesoris di bawah meja rias lalu mengambil sebuah kacamata berlensa lebar dengan gradasi warna coklat. Bukan bertujuan untuk bergaya, melainkan untuk menutupi matanya yang sembab dan untuk menjaga pandangan.


Kemudian Yuana bergegas ke depan rumah, ternyata semua sudah siap di dalam mobil, kecuali Bu Fatma dan Nazril yang menunggunya di kursi teras.


"Sudah siap, Nak?" tanya Bu Fatma yang kemudian bangkit dan mengunci pintu setelah Yuana menganggukkan kepalanya.


"Yang sabar ya, Mbak. Mbak Yuana orang pilihan, pasti bisa kuat dan sabar, kita harus ikhlaskan Mas Amar, biar Mas Amar bisa pergi dengan tenang," ujar Nazril pada Yuana yang berjalan mendekat padanya.


"Iya, Zril... mbak tahu... makasih ya," jawab Yuana pada adik iparnya itu.


"Bunda... sini... buluaaaan," teriak Nabila dari dalam mobil yang Pak Hadi sudah siap di bangku pengemudinya.


"Ayo Yuana... nanti keburu kemaghriban di sana," ajak Bu Fatma pada Yuana untuk masuk mobil terlebih dahulu sebelum beliau masuk.


Yuana pun masuk ke dalam mobil disusul Bu Fatma, sedangkan Nazril berboncengan motor dengan teman pondoknya. Mereka pun langsung berangkat menuju pondok tempat jenazah Amar disemayamkan.


Tidak ada pembicaraan berarti di dalam mobil, semua larut dalam pikiran masing-masing. Apalagi Yuana, tak dapat ia berpikir apapun saat ini, jiwanya serasa kosong.


Tepat pukul lima sore, mobil yang dikemudikan oleh Pak Hadi tersebut memasuki halaman pondok. Tampak dua mobil box dari dua resto ternama terparkir di depan pintu aula pondok, empat orang berseragam khas masing-masing resto menurunkan puluhan kantung plastik besar berisi tumpukan nasi kotak dibantu beberapa santri.


Kyai Marzuqi dan Bu Nyai Rohima menyambut kedatangan Yuana dan yang lain serta mempersilahkan semua untuk masuk ke rumah Ndalem.


"Kita tunggu di dalam saja ya... barusan Yusron mengabari, jenazah sudah di perjalanan... mungkin sebentar lagi datang," ajak Bu Nyai Rohima setelah mengurai pelukannya pada Yuana.


Bu Fatma dan Bu Aminah berjalan di belakang Bu Nyai Rohimah yang sedang merangkul Yuana masuk ke kediaman Kyai Marzuqi. Sedangkan Mbok Sari mengikuti Annisa yang mengejar Azyan dan Nabila. Dua bocah kecil tersebut berlari menuju teras samping yang disitu terdapat kolam ikan dengan air mancur di tengah-tengahnya.


"Kullu nafsin dzaa iqotul maut, tsumma ilaina turja'uun. Setiap kita yang bernyawa, pasti akan merasakan yang namanya maut... yaitu kematian. Hanya kepada Allah Subhaanahu wa Ta'ala kita semua akan kembali. Saya atau sampeyan semua, suatu hari nanti pasti akan mati. Saya atau sampeyan yang duluan itu hanya Allah yang tahu. Kita boleh sedih, kita boleh merasa kehilangan... yang penting jangan berlebihan... jangan berlarut-larut. Masih ada masa depan yang harus kita jalani dengan baik. Apalagi jika kita masih memiliki anak, amanah dari Allah yang harus kita jaga, yang tidak boleh kita telantarkan."


"Tapi saya sangat mencintai dan tidak akan bisa melupakan Mas Amar, Kyai," lirih Yuana menyampaikan perasaannya.


"Yo mesti wae lhoo, Nduuk... wong ditinggal pas sayang-sayange... yo gak bakal iso lali. Kalau orang yang kita cintai, kita sayangi... meninggal dunia... yaa jangan dilupakan, justru harus selalu diingat. Dan setiap kita mengingatnya, doakan... kirimi Fatihah... ngunu lho, Nduk."


Sayup-sayup terdengar sirene yang panjang mendayu dan sedikit lambat berulang. Semua serempak berdiri dan keluar rumah.


Suara sirene terdengar semakin dekat dan jelas, namun kemudian tidak terdengar lagi. Yuana meremas kedua tangannya yang dingin dan berkeringat.


Kemudian sebuah mobil jenazah berwarna hijau dan berlogo gambar bunga dan tulisan 'MAKOBU' di atas tulisan 'MOBIL JENAZAH' terlihat memasuki gerbang pondok.


Bergetar tubuh Yuana dan merebak air matanya saat melihat Yusron dan petugas berseragam batik hijau turun dari pintu belakang mobil jenazah. Beberapa orang santri berlari mendekat untuk membantu menurunkan jenazah dari dalam mobil.


Keranda bertudung kain berwarna hijau dengan renda berumbai warna kuning, ditarik perlahan dari dalam mobil. Bordir yang juga berwarna kuning membentuk tulisan istrija´ dan syahadat tampak di samping kanan dan kiri tudung keranda, saat keranda di gotong ke dalam masjid.


Bu Aminah merangkul pundak Yuana dan mengajaknya menuju masjid.


"Ayo Nduk... mriksani layone Amar sakdurunge disarekake, mumpung durung adzan maghrib."


Yusron dan Kyai Marzuqi tampak berbincang di depan pintu masjid, membicarakan tentang proses pemulasaraan jenazah Amar di rumah sakit tadi, sambil memandang keranda yang sedang dibuka tutupnya oleh Nazril dan seorang santri. Syukurlah semua sudah berjalan sesuai syari'at, bahkan Yusron sendiri selaku kakak kandung ikut dalam prosesnya.

__ADS_1


Kyai Marzuqi melangkah masuk masjid ketika Nazril membuka penutup wajah jenazah. Nampak Yuana dan Bu Aminah menghambur memeluk jenazah sambil menahan isak tangis. Tak ada suara... hening... hanya terlihat bahu kedua wanita itu berguncang.


"Subhaanal hayyil ladzii laa yamuutu. Allahummaghfir lihaadzal mayyiti warhamhu. Allahumma anis fil qobri wahdatahu wa ghurbatahu wannawwir qobrohu," gumam Kyai Marzuqi mendoakan almarhum Amar.


“Maha Suci Allah dzat yang maha hidup yang tidak mati. Ya Allah, berilah ampunan kepada mayit ini, dan belas kasihanilah dia, Ya Allah berikanlah kesenangan kepadanya dalam kubur sendirian dan dalam rantauan serta sinarilah kuburnya”


"Dikuburkan sehabis sholat isya' saja, Yai. Banyak sahabatnya yang sedang dalam perjalanan ke sini untuk mengantar Amar ke kubur," suara Yusron yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya, mengalihkan perhatian Kyai Marzuqi.


Seorang santri berjalan mendekati mihrab, kemudian ia mengumandangkan adzan maghrib. Yuana dan Bu Aminah dengan berat hati harus meninggalkan jenazah Amar dan bergegas keluar dari masjid untuk mengambil wudlu.


Ketika masuk ke tempat jamaah wanita, tampak masjid sudah hampir dipenuhi jamaah yang mayoritas adalah para santri dan santriwati pondok pesantren tersebut. Ada juga sebagian warga di sekitar lingkungan pondok.


Suara iqomah terdengar ketika Kyai Marzuqi sudah siap berdiri di dalam mihrab. Semua pun segera menunaikan sholat maghrib berjamaah dilanjutkan sholat jenazah setelah melaksanakan sholat sunnah bakdiyah maghrib. Setelah sholat jenazah, dilanjutkan dengan membacakan Surat Yaa Siin dan tahlil.


Kyai Marzuqi memberikan taklim dengan tema "Hakikat Kehidupan dan Kematian" sambil menunggu waktu isya'. Beberapa alumni pondok mulai berdatangan, mereka mengetahui kabar meninggalnya Amar dari grup alumni di aplikasi perpesanan dan sosial media. Jamaah masjid di lingkungan tempat Amar pernah mengisi taklim juga turut hadir.


Lingkungan pondok menjadi ramai dan penuh orang. Hanya motor yang diijinkan parkir di halaman sedangkan mobil tamu harus parkir di sepanjang pinggir jalan. Jamaah sholat Isya sampai meluber ke luar masjid, bersambung hingga ke teras-teras kobong atau kamar pondok.


Setelah sholat isya', diadakan kembali sholat jenazah bagi yang belum mengikuti sholat jenazah sebelumnya. Setelah itu dilakukanlah prosesi upacara pemberangkatan jenazah, dimana ustadz Aziz, sahabat dan senior Amar, sebagai pembawa acara sekaligus membacakan riwayat hidup almarhum, dilanjutkan dengan sambutan keluarga oleh Yusron selaku kakak kandung jenazah.


Yuana tampak beberapa kali terkulai sambil menangis di teras masjid, yang akhirnya dipapah oleh Bu Aminah dan di dudukkan di teras rumah Kyai Marzuqi sehingga tetap bisa menyaksikan prosesi pemberangkatan jenazah.


Beberapa santriwati ikut menemani Yuana, ada yang memijit kaki Yuana sambil ikut terisak. Rupanya ia salah satu santriwati yang mengagumi sosok Amar, karena pernah mengisi taklim di kelasnya.


Lantunan kalimat tahlil mengiringi diangkatnya keranda jenazah dari dalam masjid menuju mobil jenazah. Setelah pintu belakang mobil jenazah ditutup, pengiring jenazah bergegas menuju kendaraan masing-masing, sebagian santri ada yang ikut dengan naik mobil pengiring.


Bangkit Yuana dari duduknya ketika ia melihat mobil jenazah mulai bergerak meninggalkan halaman pondok. Seakan tak rela ditinggal pergi, ia hendak berlari mengejar mobil jenazah itu. Bu Aminah segera mencegahnya, dipeluknya tubuh Yuana, berharap bisa meredam kesedihan Yuana. Namun ketika mobil jenazah mulai tak terlihat terhalang oleh kendaraan lain yang turut mengiringi mobil jenazah, Yuana meronta dari pelukan ibu mertuanya itu dan berlari mengejar hingga ke jalan raya.


"MAS AMAAAAAR... JANGAN PERGI MAAAAAS!"


Ia terus berlari dan berteriak memanggil nama suaminya itu, hingga ia jatuh bersimpuh. Ditatapnya dengan nanar iring-iringan kendaraan sampai tak terlihat lagi setelah melewati tanjakan di ujung jalan sana.


"MAS AMAAAARR!" berteriak sekencang-kencangnya, berharap Amar bisa mendengar dan berjalan kembali ke arahnya. Setengah menelungkupkan badannya, bertumpu pada tangan kiri hingga sikunya menapak ke jalan. Meraung-raung sambil memukul-mukulkan kepalan tangan kanannya ke aspal jalan.


"Ini hanya mimpi kan, Mas? Mas... segera bangunkan aku, Mas. Aku ini mimpi kan Mas... MAAAAS! Bangunkan aku dari mimpi buruk ini Maaaas..." Yuana terus saja menangis meraung-raung.


"Yuana... bangunlah Nak... jangan begini, sayang... kasian suamimu, dia tidak akan bisa tenang nanti," suara lembut Bu Fatma menyadarkan Yuana. Ia segera menegakkan duduknya.


Tiba-tiba nyala terang lampu menyorot dari arah belakang dan sebuah mobil berhenti tepat di belakang mereka. Sang pengemudi turun dari mobilnya dan berjalan mendekat.


"Ayo Yuana... kita menepi yaa... bahaya jika di sini terus," bujuk Bu Fatma agar Yuana segera bangkit dari simpuhnya. Yuana pun menurut, ia berusaha bangkit dari duduknya, namun tiba-tiba...


"Aduh! Aaaargh..." Yuana mengadu sambil meremas perutnya yang tiba-tiba merasa sangat kaku dan nyeri.


Bu Fatma pun menjadi cemas dan panik melihat Yuana yang tiba-tiba mengerang kesakitan. Dipegang tangan Yuana yang sangat dingin dan dituntunnya ke tepi jalan. Namun tubuh Yuana semakin berat dan terasa limbung.


Beruntung pengemudi mobil yang berjalan mendekat tadi menangkap tepat di saat tubuh Yuana terkulai jatuh pingsan.

__ADS_1


"Yuana!" serunya saat menangkap tubuh Yuana.


__ADS_2