
Ketika seorang lelaki meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak yatim maka tanggung jawab nafkah terhadap anak tersebut beralih kepada keluarga mendiang almarhum, yaitu ahli waris atau kerabatnya. Sedangkan nafkah untuk jandanya akan kembali kepada pihak ayah kandungnya.
"Yuana niku pun sebatangkara. Kakek-kakek e niku sami-sami tiyang perantauan, sami-sami gadah anak tunggal. Nggih ayah ibune Yuana niku."
Setengah berkaca-kaca Bu Aminah menceritakan tentang Yuana sambil memandangi Nabila yang bersandar di dada Ilham. Bahwa saat ini Yuana hidup sebatangkara. Kakek dari ayahnya dan ibunya, sama-sama orang perantauan, sama-sama hanya memiliki anak tunggal.
"Jadi, pabrik yang kebakaran itu satu-satunya peninggalan mereka?" Bu Fatma hanya ingin memastikan, karena ia pernah mendengar sepintas lalu dari Yuana sendiri.
"Nggih, leres," sambil mengusap kedua mata menggunakan sapu tangan yng selalu beliau bawa, "jalaran kebakaran niku,Yuana kedah kelangan sedaya peninggalan tiyang sepah e, nggih termasuk griyane. Amar bidal enjing wangsul dalu, berjuang damel nebus griya ingkang disita bank, ngantos sakniki dereng ketebus, eh Kersane Allah Amar kapundut, ninggal Yuana kalian Nabila."
Air mata Bu Aminah semakin deras mengalir, mengingat tanggung jawab anak kesayangannya itu, belum terselesaikan di akhir hayatnya.
"Saestu kulo niki mboten tego ningali Yuana kedah kelangan sedaya tinggalanipun tiyang sepahe. Tapi kulo niki nggih namung tiyang dusun, pucuk gunung, mboten saget mbantu nopo-nopo."
Bu Fatma dan Ilham hanya bisa saling berpandangan mendengar semua penuturan Bu Aminah. Walau bagaimanapun, memang hanya keluarga Bu Aminah lah yang dimiliki Yuana saat ini. Bu Fatma menjadi merasa egois jika memaksa Yuana untuk tinggal di paviliun selamanya, namun melepas Yuana tentu juga enggan.
"Bu Aminah jangan berkecil hati, kami juga menyayangi Yuana seperti keluarga sendiri. Saya sudah menganggap Yuana sebagai putri saya sendiri. Doakan kami bisa membantu Yuana..."
"Tapi kulo kuwatos, kawontenane Yuana ten mriki malah dados beban kagem keluarga njenengan, malah nekakaken fitnah damel keluarga mriki."
Ilham yang sedari tadi diam mendengarkan, sebenarnya ingin sekali mengutarakan pengharapannya atas Yuana. Tapi ia bingung harus bagaimana memulainya, karena yang terjadi hari ini tidak sesuai dengan skenario yang ia rancang dalam angannya.
Ilham berencana mengajak Yuana mampir ke rumah Bu Aminah setelah menghadiri acara reuni, karena tempatnya tidak begitu jauh. Tetapi justru Bu Aminah yang datang ke paviliun di saat Yuana dalam keadaan yang seperti ini.
Bagaimana mungkin ia meminta restu untuk melamar Yuana di saat ia justru membuktikan ketidakmampuannya menjaga Yuana.
Helaan nafas kasarnya membuat Nabila sedikit berjengit. Gadis kecil itu pasti juga merasa tidak nyaman dengan situasi sedih saat ini.
"Ayah, Bila mau sama bunda."
Bu Fatmah dan Bu Aminah menatap masygul pada Nabila yang memanggil seolah Ilham adalah benar-benar ayahnya.
"Nabila melu mbah wae yo?" tawar Bu Aminah yang dijawab gelengan kepala oleh cucunya itu.
Nabila memang kurang begitu dekat dengan Bu Aminah, mungkin karena kesulitan mereka dalam berkomunikasi serta jarangnya berinteraksi. Bu Aminah yang tidak bisa berbahasa Indonesia, meskipun memahami jika orang lain yang berbicara. Sedangkan Nabila hanya sedikit memahami bahasa neneknya itu.
"Ayaaah, Bila mau sama bunda," Nabila semakin merajuk.
"Nabila sama ayah saja ya, Sayang. Bunda sedang istirahat, kita main sama Azyan saja yuk," bujuk Ilham.
"Bila mau sama bunda," Nabila semakin merengek, bahkan sudah menyebik hendak menangis.
Bu Fatma yang kebetulan juga belum melihat kondisi Yuana pun akhirnya berdiri dan mengulurkan tangan untuk menggendong Nabila.
"Ya sudah, lihat bundanya sama buti saja ya. Tapi kalau bunda bubuk, Nabila jangan ganggu ya."
Nabila mengangguk sambil tersenyum, menyambut uluran tangan Bu Fatma sambil melompat turun. Lalu menyeret tangan Bu Fatma dengan semangat menuju kamar Yuana.
Sementara Ilham yang ditinggal berdua dengan Bu Aminah tentu saja merasa canggung. Hati dan pikirannya kini bergelut antara maju atau mundur untuk segera mengutarakan niatnya pada Bu Aminah.
Diliriknya Bu Aminah yang sedang mengusap wajahnya. Guratan halus terlihat jauh lebih banyak daripada dulu ketika ia dan Amar masih sering bersama.
"Mas Yus apakabar, Bu?" akhirnya Ilham memutuskan untuk berbasa basi dulu dengan menanyakan kabar Yusron, kakaknya Amar.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Yusron sehat Nak Ilham."
Hanya begitu saja. Dan kemudian keduanya terdiam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Bu Aminah berandai jika saja Ilham adalah orang yang tepat untuk menggantikan Amar membahagiakan Yuana, tentu saja ia akan sangat senang dan tenang. Tapi apa mungkin? Yuana hanyalah seorang janda dari seorang Amar, yang jauh kedudukannya dibanding Ilham. Bahkan kedekatan Amar dan Ilham dulu merupakan anugerah bagi keluarganya, seorang Ilham anak dari sebuah dusun di puncak gunung bisa mengabdi pada tuan muda dari seorang bindara yang dihormati.
Ilham yang begitu sempurna di mata Bu Aminah sudah seharusnya mendapatkan seorang gadis yang sepadan dengannya. Seandainya saja dulu, Ilham lah yang menikah dengan Yuana, tentu akan menjadi pasangan yang sangat serasi. Namun, Yuana kini hanyalah seoarang janda beranak satu yang bahkan sudah tidak memiliki apa-apa lagi.
Tapi, bukankah Yuana juga berhak bahagia? Yuana yang sangat tabah dalam menghadapi ujian kehidupan, bukankah juga layak mendapat yang terbaik?
Sedangkan Ilham merasakan kelu di lidahnya. Ingin bicara tapi bingung bagaimana memulainya. Duduk tak tenang, berulang kali mengangkat dan memperbaiki posisi duduknya. Meraba tengkuk, sesekali menggaruknya. Melirik sekilas pada Bu Aminah, lalu memperbaiki duduknya lagi. Lalu mengetuk-ketukkan ujung-ujung jari di atas lututnya.
Bagaimana kalau Bu Aminah menolak permintaannya mentah-mentah pikirnya.
Menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya sedikit kuat lalu berdehem dan akhirnya memberanikan diri membuka suara lagi.
"Bu Aminah... Maaf sebelumnya, saya tidak tahu ini waktu yang tepat atau tidak. Tapi saya harus membicarakan ini dengan Ibu."
Meskipun sudah terbiasa melakukan presentasi atau negosiasi dengan berbagai kalangan, tapi menghadapi Bu Aminah kali ini tidak bisa menghilangkan atau menutupi rasa gugup di hatinya.
Tak kalah cemasnya Bu Aminah menatap dengan sungkan pada Ilham, ada kekhawatiran dalam hatinya tentang apa yang akan Ilham bicarakan dengannya. Apa tentang keberatan Ilham dengan keberadaan Yuana di rumah ini? Kalau iu yang terjadi, ia dengan sukarela akan mengajak Yuana tinggal bersamanya di desa, asalkan Yuana bersedia saja.
Atau tentang Amar yang dulu sudah menikung Ilham dengan menikahi Yuana. Ia ingat betul bagaimana Amar menangis di pangkuannya ketika mengatakan harus menikahi Yuana dan menghianati kepercayaan Ilham.
"Saya minta izin dan mohon restu dari Bu Aminah, untuk menggantikan Amar, sebagai ayah dari Nabila."
Melihat Bu Aminah yang diam termangu menatapnya, sedikit membuat Ilham gugup kembali, namun semua ditepisnya dengan mengulangi ucapannya tadi.
"Maksude dospundi nggih, Nak Ilham?"
"ehm..." berdehem menghilangkan rasa gugupnya, "saya ingin melamar Yuana, Bu Aminah. Bukankah saat ini hanya Bu Aminah lah, orang tua dari Yuana?"
Tiba-tiba saja Bu Aminah menangis sesengukan, perasaannya berkecamuk dalam hatinya. Apa yang baru saja ia pikirkan, yang ia harapkan sekaligus ia takutkan, terjawab dengan satu permintaan Ilham. Ada rasa haru, syukur, senang sekaligus khawatir dan takut, berbaur menjadi satu.
Bu Aminah merasa sangat terharu karena merasa Ilham menghargainya dengan menganggapnya sebagai orang tua dari Yuana. Beliau bersyukur dan senang karena Ilhamlah orang yang bersedia menggantikan tanggung jawab Amar atas Yuana dan Nabila. Namun beliau juga khawatir, apakah Ilham benar-benar akan menyayangi Yuana dan Nabila dengan tulus dan takut jika semua yang ia dengar hanyalah ilusinya saja.
"Bu Aminah... Maaf, maafkan saya jika ada salah kata," tentu saja Ilham yang melihat Bu Aminah menangis sesenggukan menjadi panik dan merasa bersalah. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuknya membicarakan keinginannya. Ah, kenapa tidak bisa membaca situasi sih.
"Tidak, Nak, jangan..."
Lunglai sudah, ketika Ilham mendengar kata 'tidak' dari Bu Aminah. Ia merasa sudah kalah di awal. Merasa memang ia sangat tidak pantas untuk Yuana, bagaimana ia yang pengecut bisa terlalu berharap mendapatkan seseorang seistimewa Yuana.
"Nopo Nak Ilham saestu ta?" tanya Bu Aminah setelah ia mengusap air matanya. Ia butuh kepastian apakah Ilham bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Yuana niku namung rondo, pun gadah yugo, mboten gadah nopo-nopo, Yuana wangsul mawon kale kulo ten ndeso, kersane mboten dados beban damel Nak Ilham sekeluarga," tutur Bu Aminah merasa bahwa permintaan Ilham tersebut hanyalah karena merasa kasihan kepada Yuana sehingga ingin membantu dengan melamarnya.
Bu Aminah yang sudah paham betul dengan kebiasaan keluarga ini kalau selalu totalitas dalam menolong orang lain yang membutuhkan. Ia mengira bahwa sikap Ilham saat ini hanyalah karena kesalahannya tadi menceriterakan tentang kisah hidup Yuana yang menyedihkan.
Ia yang tadi berandai-andai jika Ilham menggantikan Amar menjadi pendamping Yuana kini merasa sangat tidak pantas ketika Ilham benar-benar melamar Yuana. Ia juga merasa tidak memiliki kewenangan untuk memberikan jawaban atas permintaan Ilham itu.
Sementara Ilham beranggapan bahwa Bu Aminah menilai dirinyalah yang tidak pantas untuk Yuana, dirinya tidak akan mampu menopang kehidupan Yuana karena kepribadiannya yang memang terbukti tidak becus menjaga Yuana.
Namun karena ia tidak ingin kehilangan Yuana lagi, maka Ilham pun merendahkan dirinya berlutut di hadapan Bu Aminah.
__ADS_1
"Saya mohon, Bu... Izinkan saya untuk menikahi Yuana. Maafkan saya yang tidak bisa menjaga Yuana. Namun, tolong... berikanlah kesempatan kepada saya untuk memperbaikinya. Saya berjanji akan menjaga Yuana dan Nabila, saya berjanji akan membahagiakan mereka berdua dengan segenap jiwa raga saya. Saya mohon, izinkan... Izinkanlah."
Bu Aminah terperangah melihat apa yang dilakukan Ilham, sampai tak bisa berkata-kata, sampai Ilham menyelesaikan kata-katanya dan menundukkan kepalanya kepada Bu Aminah.
"Nak Ilham! Pun kados ngaten!" seru Bu Aminah sambil dirinya sendiri juga ikut bersimpuh di hadapan Ilham. Meraih kedua lengan Ilham meminta Ilham untuk segera berdiri.
"Saya mohon, Bu... Izinkanlah saya melamar Yuana."
Bergeming Ilham menanti jawaban pasti dari Bu Aminah, memaksa Bu Aminah untuk mengizinkannya.
Setengah frustasi, Bu Aminah yang ingin menjelaskan alasannya namun kesulitan untuk berbahasa Indonesia agar Ilham tidak menyalahpahami maksudnya, "aduuh, yaknopo niki."
Beberapa saat mereka bergeming dalam posisinya, Ilham yang berlutut dan Bu Aminah yang bersimpuh di hadapan Ilham. Hingga terdengar suara dari dalam kamar Yuana.
"Nak Ilham lenggah riyen nggih," ucap Bu Aminah menepuk sofa di sebelahnya meminta Ilham untuk duduk di sofa tersebut. Dan bernafas lega ketika Ilham menurutinya untuk segera duduk di sofa.
Tak berapa lama, terdengar pintu kamar dibuka. Bu Fatma keluar terlebih dahulu diikuti oleh Nabila dan Yuana yang menyeret sebuah koper.
Bu Aminah dan Ilham yang terpekur menyelami pikiran masing-masing, menoleh secara bersamaan ke arah Yuana datang.
"Yuana," ucap Ilham sambil berdiri hendak mendekati Yuana namun dicekal oleh Bu Fatma.
Melihat Yuana membawa sebuah koper tentu membuat hati Ilham menjadi ketar-ketir. Ilham gelisah dan takut, apakah Yuana mendengar pembicaraannya dengan Bu Fatma tadi? Apakah Yuana berniat pergi meninggalkannya karena tidak menerima niatan Ilham?
"Maaf, Mas Ilham. Yuana mau pamit, Yuana mau ikut ibu ke desa," pamit Yuana menunduk tanpa memandang ke arah Ilham.
"Kumohon, jangan pergi dari sini, Yuana," Ilham mengiba layaknya anak kecil yang akan ditinggal oleh ibunya.
"Maaf, Mas... Yuana tetap harus pergi."
"Yuana, aku minta maaf karena tidak bisa menjagamu tadi. Aku... Aku janji tidak akan terulang lagi. Please... Jangan pergi ya?"
Tapi Yuana tetap pada pendiriannya untuk pergi, berniat meneruskan langkah keluar memilih menunggu kedatangan Nazriel di depan rumah saja.
Baru selangkah ia maju, terasa tangannya ditarik oleh Ilham. Sentuhan telapak tangan Ilham seolah mengalirkan listrik yang langsung menembus jantung dan dengan cepat menyebar ke seluruh tubuhnya. Rupanya efek obat dalam jus tadi masih bekerja dalam tubuh Yuana.
Yuana menegakkan tubuhnya, menengadahkan kepala sambil menghembuskan nafas. Berjuang meredakan gejolak yang muncul dalam tubuhnya akibat sentuhan kecil telapak tangan Ilham yang secara refleks sudah ia hempaskan tadi.
"Yuana mohon, Mas. Kali ini saja, izinkan Yuana pergi."
Permohonan Yuana untuk pergi setelah menepis tangannya, membuat Ilham terhuyung terduduk di sofa kembali. Melihat wajah Yuana yang memerah, Ilham yakin pasti Yuana sedang marah kepadanya, pada ketidakbecusannya menjaga Yuana dan pada kelancangannya karena memberanikan diri melamar Yuana pada Bu Aminah.
Bu Fatma menepuk dan mengusap pundak Ilham, "izinkan Yuana pergi, Ham. Ummah sudah memberikan cuti seminggu pada Yuana. Biarkan dia menenangkan dirinya terlebih dahulu, jangan buat dia merasa tertekan berada di sini."
"Ayah... Bila mau ke rumah nenek sama bunda. Nanti ayah yang jemput ya?" Nabila mendekati Ilham untuk berpamitan dan dijawab dengan anggukan dan sedikit pelukan. Lidah Ilham terlalu keluh bahkan hanya untuk menjawab 'iya' pada Nabila.
"Assalamu'alaikum."
Nazriel tiba-tiba sudah muncul saja di depan pintu paviliun.
"Wa 'alaikum salam, nah itu Nazriel sudah datang. Sini Le, tolong bawain koper mbakmu ke mobil," Bu Fatma langsung meminta bantuan Nazriel agar Yuana bisa segera berangkat dan beristirahat di rumah Bu Aminah.
"Mbak ikut ke desa?" tanya Nazriel seraya menyeret koper ke luar dari paviliun, diikuti semua kecuali Ilham yang tetap duduk dan menatap nanar kepergian Yuana.
__ADS_1