HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 6 MENGENASKAN


__ADS_3

"Sari... ini ada bingka bakar sama layer cake, tolong dipindah ke piring ya," instruksi Bu Fatma pada Mbok Sari, pembantu yang sudah sejak lama ia pekerjakan, sejak hamil anak pertamanya. Bahkan sudah dianggap keluarga sendiri di rumah itu.


"Baik Bu. Ini pasti dari Ning Anisa ya Bu," jawab Mbok Sari.


"Iya... kau hafal betul kebiasaan Anisa, Sar. Sekalian bikinkan teh 3 cangkir ya, ada tamu di depan. Oh iya... Ilham mana?"


"Mas Ilham langsung ke atas habis sarapan tadi Bu," jawab Mbok Sari sambil memotong bingka bakar dan menyusunnya ke piring saji.


"Apa selalu begitu? Ndak turun sama sekali? Turun jam berapa biasanya?" cecar Bu Fatma


"Akhir-akhir ini iya, sehabis sarapan pasti langsung ke atas... kadang sore atau kadang malam baru turun. Setelah makan malam juga langsung masuk kamar. Sebenarnya saya khawatir Bu dengan keadaan Mas Ilham sekarang. Sudah hampir dua minggu, Mas Ilham seperti ini, seperti tidak ada gairah hidup. Bahkan sudah lima hari tidak keluar rumah, hanya di kamar saja."


"Ya sudah... saya ke atas dulu. Tolong kue dan tehnya antar ke depan," ucap Bu Fatma pelan lalu beranjak menuju tangga untuk menemui anak yang beliau sayangi tersebut.


Sementara Mbok Sari mengantarkan teh dan kue yang dibawa menggunakan nampan ke ruang tamu, di mana Amar duduk menunggu Ilham.


*


Setelah membaca chat balasan dari Yuana, Amar memasukkan handphonenya dalam tas selempangnya.


"Lho Mas Amar ta tamune, tambah ganteng ae. Luama ndak pernah ke sini ya Mas."


"Hehe... Mbok Sari bisa aja," sahut Amar. "Mbok... "


Ketika hendak melanjutkan obrolan, tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam.


"TOLOOOONG... HADIII... AMAAAAR... TOLOOOONG..."


Seketika Amar berlari ke dalam mencari keberadaan Bu Fatma, namun tidak kelihatan. Lalu datang Pak Hadi yang langsung mengajak Amar naik ke lantai tiga.


Begitu melihat pintu ruangan satu-satunya di lantai tersebut terbuka, mereka langsung masuk. Keduanya terkejut melihat kondisi Ilham yang terkulai lemas di pangkuan Bu Fatma dalam keadaan janggut dan pakaian bagian depan penuh bersimbah darah.


"ILHAAM!!!" pekik keduanya bersamaan ketika melihat kondisi Ilham begitu mengenaskan.

__ADS_1


"Tolong bawa ke rumah sakit secepatnya," seru Bu Fatma pelik.


"Biar saya yang antar! Ke Raya Husada saja. Pak Hadi tolong menyusul bersama Mbok Sari, bawa dokumen yang diperlukan dan kebutuhan Bu Fatma."


Dengan cekatan Amar dan Pak Hadi menggotong Ilham.


Untung tangga setengah melingkar yang menghubungkan lantai dua dan lantai tiga serta tangga yang menghubungkan lantai dua dan lantai dasar cukup landai dan lebar, sehingga memudahkan mengevakuasi tubuh Ilham.


Pak Hadi membaringkan tubuh Ilham di bangku belakang dengan Bu Fatma memangku kepala Ilham. Kaki Ilham harus sedikit menekuk dan bersandar di belakang bangku sopir. Setelah yakin posisi Ilham sudah tepat, Pak Hadi menutup pintu dan berlari menuju mobil di garasi menunggu Mbok Sari yang sedang mengambil dokumen dan keperluan lain yang dibutuhkan nanti di rumah sakit.


Sedangkan Amar langsung masuk ke bangku sopir dan mengemudikan mobilnya dengan cepat.


"Cepat Mar!" tak sabar Bu Fatma ingin Ilham segera mendapat penanganan medis.


Tak berapa lama sampailah di depan gerbang IGD Raya Husada.


Malang tak dapat dielak, ketika hendak masuk pintu gerbang, tiba-tiba dari arah berlawanan datang mobil yang berbelok menukik hendak masuk ke gerbang IGD juga.


Sama-sama urgent, sama-sama kurang fokus.


"ALLAHU AKBAR!!" teriak Bu Fatma dan Amar bersamaan.


BRAAKKK...TIN...TIN...TIN...TIN...TIN...TIN...


Suara benturan yang keras diikuti suara alarm salah satu kendaraan, mendapat perhatian penuh dari semua orang di sekitarnya. Dan dalam hitungan detik, petugas IGD tampak sibuk mengevakuasi semua korban dalam dua mobil tersebut.


Ruang Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit Raya Husada menampakkan kesibukan akibat kejadian di pintu gerbang tadi.


Seorang dokter jaga dibantu dua orang residen dan empat orang koass serta beberapa perawat. Dengan cekatan mereka menangani kelima pasien korban tabrakan mobil tersebut.


Bu Fatma yang kondisinya paling baik, ditangani seorang koass dan seorang perawat. Beliau hanya mengalami sedikit syok dan memar di lengan sebelah kiri.


"Apa masih ada yang dikeluhkan Bu?" tanya dokter jaga yang kebetulan sedang memeriksa Ilham di brankar sebelah Bu Fatma ditangani.

__ADS_1


"Alhamdulillah, sudah tidak ada Dok. Hanya terkejut saja, jadi masih ada sedikit pusing. Yang penting justru anak saya, Ilham dan juga Amar, Dok,"


Ilham memang mendapat perhatian serius, ditangani langsung oleh dokter jaga dan seorang residen. Pemeriksaan dilakukan secara cermat dengan sesekali menggali informasi kepada Bu Fatma mengenai kondisi Ilham sebelumnya. Karena darah yang membasahi pakaian Ilham yang ternyata bukanlah akibat kecelakaan tadi, melainkan karena muntah darah sebelumnya.


Sedangkan akibat kecelakaan tersebut menyebabkan Ilham mengalami dislokasi pada lutut sebelah kiri. Setelah mendapat informasi secukupnya dari Bu Fatma, Ilham menjalani pemeriksaan lanjutan.


Bu Fatma diminta menunggu di ruang tunggu IGD. Kemudian Bu Fatma berjalan keluar sambil memandang ke arah Ilham dan Amar bergantian.


Sementara Amar nampak tak kalah mengenaskan, tampak darah mengalir dari hidung, luka pada pelipis, fraktur leher femur atau patah pangkal tulang paha sebelah kanan dan tidak sadarkan diri.


Kemungkinan besar juga mengalami TBI (traumatic Brain Injury) atau biasa disebut gegar otak. Diputuskan perlu tindakan lanjutan secara khusus, sehingga harus segera dirujuk ke ICU.


Sedangkan dua korban lain yang berasal dari mobil penabrak adalah sepasang suami istri, dimana sang istri dalam kondisi hendak melahirkan anak pertama. Kesakitan ketika mengalami pembukaan persalinan membuat sang suami panik dan berharap bisa secepatnya membawa istrinya ke IGD.


Beruntung bagi keduanya, karena kondisi paska tabrakan tidak begitu parah. Airbag yang ada pada dashboard mobil mewahnya cukup mengurangi resiko cedera. Airbag mengembang cukup sempurna ketika bodi mobil mengalami benturan keras. Tangan kiri sang suami yang menghantam dashboard dengan keras mengakibatkan sedikit keretakan pada tulang hastanya sehingga harus digips.


Namun trauma yang dialami sang istri menyebabkan ia mengalami kontraksi hebat sehingga pecah ketuban dan langsung dirujuk ke ruang bersalin.


Pak Hadi dan Mbok Sari yang menyusul ke Rumah Sakit sangat terkejut mengetahui kenyataan yang ada di ruang IGD tersebut.


Setelah bertemu dengan Bu Fatma, Pak Hadi segera mengurus administrasi Rumah Sakit untuk ketiganya dan menghubungi Arief, asisten Ilham, untuk mengurus urusan dengan pihak kepolisian terkait kejadian kecelakaan tersebut.


Sedangkan Mbok Sari menemani Bu Fatma duduk di depan ruang IGD. Mereka menanti kejelasan dari dokter tentang kondisi Ilham yang saat ini masih menjalani pemeriksaan lanjutan.


"Kenapa bisa begini Bu?" tanya Mbok Sari pada Bu Fatma.


"Ntahlah Mbok... Namanya juga musibah, bisa datang kapan saja. Sebenarnya Ilham kenapa Mbok, bukankah dia sudah baik-baik saja waktu saya tinggal kemarin?"


Menghela nafas panjang, lalu dengan menunduk takut, Mbok Sari menjawab. "Saya juga kurang tau Bu... sudah sekitar dua mingguan Bu, Mas Ilham selalu mengurung diri. Sepertinya juga sering mabuk, beberapa kali bawa omben sendiri ke atas. Terkadang juga berteriak-teriak seperti marah-marah gitu Bu."


"Kenapa tidak ngasih tahu dari awal Mbok?"


"Ngapunten Bu... Maaf..."

__ADS_1


Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi antara mereka berdua. Bu Fatma seakan berada di dunianya sendiri dengan tatapan kosongnya.


__ADS_2