HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 34 SELEPAS IDDAH


__ADS_3

Kesibukan demi kesibukan dan kebersamaan dengan keluarga Bu Fatma yang notabene adalah keluarga baru bagi Yuana, membuat waktu berjalan tiada terasa.


Yuana sangat bersyukur karena menyadari bahwa kesibukan-kesibukannya yang sebagian besar memang seperti telah diatur oleh Bu Fatma untuknya membuat ia merasa keslimur.


Keslimur dalam artian pikirannya teralihkan dari kesedihan yang sebenarnya ia rasakan di dasar hatinya. Perasaan sebelumnya bahwa ia telah benar-benar sendirian setelah kematian kedua orang tua disusul pula oleh suaminya. Ia bahkan tidak berani membayangkan bagaimana keadaannya jika tidak dirangkul masuk ke dalam keluarga Bu Fatma.


Hari ini tepat sehari lepas masa iddah. Bu Fatma dan Annisa telah berjanji hendak mengantarkan Yuana ke makam almarhum Amar.


Butuh waktu yang cukup lama bagi Yuana untuk sekedar berganti pakaian, sesekali mengatur nafas panjang demi menguatkan hatinya. Berulang-ulang menyisir deretan pakaian yang tergantung di lemari, tanpa bisa memutuskan hendak memakai baju yang mana.


Menatap wajah di cermin seolah ingin melihat bagaimana ia akan menjalani kehidupan berikutnya tanpa seorang suami, hingga tak sadar spon bedak yang dari tadi ia pegang belum tersapu sama sekali di wajahnya.


"Bunda, ditunduin Buti sama mamina Asiyan di depan," suara Nabila yang tiba-tiba masuk kamar menyadarkannya.


Lekas ia sapukan tipis-tipis spon bedak tadi di wajahnya, memulas sedikit lipbalm beraroma strawberi di bibir dan segera memakai khimar ceruti berwarna kuning gading yang cukup menutupi bagian atas gamis rempel susun berwarna hijau botol yang akhirnya ia pakai.


"Iya, Sayang. Bunda juga sudah siap. Kita mau berziarah ke makam buya, Nabila mau ikut kan?" jawab Yuana sambil memasukkan sebungkus kecil tisu ke dalam tas selempang yang akan ia bawa. Mencabut handphone dari charger dan memasukkan ke dalam tas tadi.


Membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit bagi Yuana untuk mengemudikan city car berwarna pink yang sering disebut si Pinky itu menuju area pemakaman Makobu Hills.


Yuana masih mendengar celotehan Nabila yang selalu ditanggapi oleh Bu Fatma seolah mereka adalah sepasang nenek dan cucu yang sangat kompak ketika ia memundurkan mobil di tempat parkir yang tidak jauh dari blok makam Amar. Sedangkan Annisa masih asyik berbalas pesan dengan Zein, suaminya. Sementara ia harus menarik nafas dalam-dalam demi mengurangi sesak di dada. Dan memutuskan turun terlebih dahulu setelah merasakan tepukan tangan Bu Fatma di pundaknya.


Walaupun ini pertama kalinya Yuana berziarah ke makam Amar, ia langsung tahu di mana letaknya, karena jenazah Amar dimakamkan tepat di tempat ayahnya seharusnya dimakamkan. Makam kosong karena jasad orang tua Yuana yang sebenarnya tidak pernah ditemukan bersama pesawat yang jatuh di tengah Samudera Hindia.


"Assalamu'alaikum Mas, maaf Yuana baru datang sekarang. Jujur, aku tidak tahu bagaimana cara mengikhlaskanmu. Bukankah perjalanan kita masih panjang? Tapi kenapa Mas Amar harus pergi secepat ini."


Seberapa keras ia berusaha menahan tangis, tetap saja air mata terus mengalir tanpa terbendung. Selama dalam perjalanan, banyak kalimat yang ia coba susun untuk diucapkan saat berziarah. Namun kenyataannya, ia bahkan tidak tahu harus berkata apa lagi.


Bu Fatma dan Annisa yang menyusul turun, kemudian duduk di sebuah bangku marmer yang ada di depan blok makam Amar. Dibiarkan Nabila berjalan sendiri mendekati Yuana yang sepertinya sudah sedikit tenang.


"Bunda, ini numah banu buya ya? Tatana buya di numah Allah, tok di dalam sini. Tasian nanti genap, ndak ada teman. Tenapa butan di masdid, tan numah Allah itu di masdid," ucap Nabila begitu ia sampai di samping Yuana yang sedang meratakan taburan bunga melati dan mawar putih di atas makam Amar.


Meski usia Nabila hampir menginjak tiga tahun dan mulai banyak bicara, banyak kosakata baru yang ia pahami. Namun kesulitannya pada pengucapan huruf-huruf tertentu masih belum hilang. Huruf R dan L, selalu keluar dari mulutnya menjadi huruf N; dan huruf K di awal suku kata selalu menjadi huruf T.


Cepat-cepat ia ambil tisu di dalam tas, lalu menyeka air mata yang membasahi pipinya itu. Untung saja ia memakai kacamata berlensa gelap, sehingga Nabila tidak menyadari kalau ibunya tadi sedang menangis. Bagaimanapun ia harus selalu terlihat tegar di mata anak kecil yang belum mengerti arti kehilangan tersebut.


"Iya, Sayang. Buya sekarang ada di alam kubur, di sini hanya dimakamkan jasad atau badannya saja. Doakan selalu buya, ya... agar dilapangkan dan diterangkan kuburnya. Doa-doa dari Nabila nanti yang akan selalu menemani buya, jadi buya ndak bakal kesepian."


"Iya, Bunda. Bina nanti tiap hani baca doa buat buya. Padi, siang, sone, manem... baca doa tenus buat buya."


"Anak pinter, terima kasih ya, anak sholihahnya buya," sahut Yuana seraya merengkuh Nabila dalam pelukannya. Diciuminya kepala buah hatinya itu seraya berusaha menghapus air mata yang keluar lagi.


Sementara Annisa yang melihat Bu Fatma terbawa kesedihan melihat Yuana dan Nabila, mengalihkan fokus ibunya itu dengan membicarakan tentang rencana kepulangan Ilham.

__ADS_1


"Nisa sempat dengar waktu dokter Yusuf ngobrol sama mas Rahmat, sepertinya minggu-minggu ini mas Ilham akan pulang."


"Syukurlah kalau begitu, masmu itu harapan satu-satunya abah untuk meneruskan perusahaan. Semua seakan berjalan dengan lancar, sampai Ilham memutuskan pergi ke luar negeri meskipun sangat ditentang oleh abah. Waktu itu ummah yang membujuk abah agar mengizinkan Ilham, hanya melanjutkan kuliah, bukan berpindah. Hanya karena ummah bisa merasakan kesedihan masmu karena perempuan yang ia idam-idamkan justru menikah dengan sahabatnya sendiri. Ternyata, sikap ummah salah. Masmu di sana justru jatuh cinta pada perempuan yang salah, yang menyebabkan jadi seperti sekarang ini. Seandainya ummah mendukung sikap abah, mungkin sekarang Ilham sudah punya anak sepantaran Nabila, ya kan?"


Annisa yang niatnya ingin mengalihkan kesedihan ibunya, malah mendapati Bu Fatma menampakkan kesedihan yang sebenarnya. Kesedihan dan rasa penyesalan akan liku hidup anak lelaki kesayangan keluarga Haikal.


"Tak ada yang harus disesali, Ummah. Pelangi akan selalu ada setelah badai, bukan? Anggap saja kejadian kemarin-kemarin itu adalah badai, dan nanti akan muncul pelangi di langit yang cerah. Dan Mas Ilham pasti akan kembali bersinar layaknya mentari. Itu yang sering Nisa dengar dulu, ketika abah menanggapi keluhan-keluhan mas Ilham soal kesulitan-kesulitan di perusahaan."


"Dan kamu yang selalu mengolok-olok masmu kan?"


"Yaaa... dan itulah keuntungan jadi anak perempuan satu-satunya abah dan Ummah, hehe."


Lalu keduanya terdiam untuk beberapa saat sambil memandang Yuana yang menuntun Nabila untuk membersihkan sedikit rumput liar yang tumbuh di atas makam Amar.


"Ummah, bagaimana nanti Yuana jika mas Ilham sudah pulang? Kasian jika harus menghadapi kemarahan mas Ilham soal taman dan paviliun," tiba-tiba saja Annisa kepikiran tentang sikap Ilham jika mengetahui Yuana menempati paviliun bahkan mengubah konsep taman secara keseluruhan. Ia bahkan mengetahui sendiri kemarahan Ilham waktu pak Hadi mencoba memangkas tanaman yang tumbuhnya sudah tidak teratur bahkan banyak yang sudah mengering waktu itu.


"Kamu tenang saja, dampingi Yuana. Biar ummah yang urus mas Ilham. Ummah yang akan menjelaskan langsung begitu masmu tiba di rumah," ujar Bu Fatma seraya mengajak Annisa berdiri begitu melihat Yuana sudah mulai beranjak meninggalkan makam.


Mereka pun meninggalkan area pemakaman, keadaan dalam mobil begitu hening, sangat kontras dengan keadaan di luar yang mulai hiruk pikuk dengan kemacetan. Masing-masing seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri-sendiri.


Keceriwisan Nabila pun seolah hilang entah ke mana. Sepertinya gadis kecil itu mulai merasakan arti kehilangan. Pandangan sedikit kosong, bibir yang sebentar-sebentar berkedut dan tangan yang meremat-remat ujung rok selututnya.


Melihat kondisi Nabila, membuat Bu Fatma spontan mengambil telepon genggam dari dalam tasnya dan melakukan panggilan.


"Yuana, ibu tidak jadi ikut melihat pabrikmu ya... turunin depan MATRANS aja. Nabila, nanti ikut buti aja ya, kita jalan-jalan sama Azyan, mau kan?"


Mendengar ucapan Bu Fatma, seketika Annisa dan Yuana saling berpandangan dan saling mengangguk memahami tujuan Bu Fatma. Sedangkan Nabila yang tadinya nampak sedih langsung melonjak-lonjak dengan girang.


Setelah menurunkan Bu Fatma dan Nabila di depan pintu lobi mall sesuai permintaan Bu Fatma, Yuana segera melajukan si Pinky menuju ke kediaman pak Samuel. Karena pak Samuel lah pemegang kunci dan penanggungjawab pabrik, beliau juga yang selama ini menangani segala proses yang berkaitan dengan hukum dan penyidikan perihal kebakaran pabrik tersebut.


Ketika mobil yang mereka naiki tersebut berhenti tepat di depan sebuah rumah, Annisa terkejut melihat tangan Yuana yang memegang setir tampak bergetar.


"Kamu kenapa?" tanya Annisa begitu mengetahui Yuana memandangi rumah di sebelah kiri dengan berlinangan airmata.


"Itu tempat tinggal kami sebelumnya, Kak. Kami menyewa ke Pak Samuel," jawab Yuana setelah ia bisa mengendalikan dirinya.


"Kamu... tidak apa-apa? Pingin melihat ke dalam?" tanya Annisa dengan hati-hati sambil memegang lembut bahu Yuana.


"Tidak perlu, Kak. Kita langsung ke Pak Samuel saja."


Ketika mereka turun dari mobil, tampak Bu Martha sedang membuka pagar rumahnya.


"Eh, Yuana sudah datang. Ayo masuk... masuk, bapak sudah nungguin dari tadi," sambut Bu Martha setelah menerima jabatan tangan dari Yuana dan Annisa.

__ADS_1


Dan benar saja, di ruang tamu sudah terlihat Pak Samuel sedang duduk sambil menyeruput teh lalu meletakkan cangkir teh ke atas meja. Dengan senyumnya yang lebar, Pak Samuel mempersilahkan Yuana dan Annisa untuk duduk. Sementara Bu Martha menuangkan teh dari teko yang rupanya sudah beliau siapkan sebelumnya.


"Silahkan diminum tehnya dulu, mumpung masih hangat."


Setelah sedikit berbasa-basi, Pak Samuel menjelaskan secara garis besar keadaan pabrik dan perkembangan kasusnya. Pelaku pelempar molotov, pemicu kebakaran, sudah tertangkap dan divonis.


Pelaku yang terdiri dari dua orang itu mengaku sedang mabuk dan kecewa atas kekalahan klub bola kesayangan mereka. Dan molotov tersebut memang sudah mereka siapkan untuk berjaga-jaga jika ada tawuran dari suporter


kedua klub sepakbola yang sedang bertanding. Dan ketika perjalanan pulang, mereka terpisah dari rombongan.


Dalam keadaan setengah tidak sadar karena pengaruh alkohol, mereka merasa dibuntuti oleh suporter lawan dan mereka menyalakan sumbu molotov untuk menakut-nakuti lawan. Namun ternyata semua hanya halusinasi karena tidak ada siapapun di belakang motor mereka, jalanan justru sedang sunyi.


Dan karena sudah terlanjur menyala maka mereka melempar molotov ke samping. Namun ternyata lemparannya terlalu kuat hingga melampaui tembok pagar pembatas bagian belakang pabrik dan masuk melalui ventilasi gudang penyimpanan.


Tidak adanya bukti-bukti yang mengacu pada hal yang lain, maka pengakuan mereka sudah dianggap cukup oleh pengadilan dan kuasa hukum pabrik pun tidak bisa mengajukan banding.


Karena waktu yang memang sudah beranjak malam, jalanan yang sepi dan satpam yang sedang bertugas di pos depan juga tidak mendengar suara apapun maka kebakaran baru diketahui ketika api sudah melahap hampir separoh bagian pabrik yang meliputi seluruh gudang penyimpanan bahan baku dan gudang produksi serta sebagian ruang produksi.


Untung saja ruang kantor dan sebagian besar ruang produksi masih terselamatkan. Dan tujuan mereka saat ini adalah untuk mengecek apakah pabrik dan mesin-mesin produksi masih bisa digunakan atau tidak.


Tidak butuh waktu yang lama bagi mereka untuk tiba di pabrik. Karena jalanan sedang lancar, hanya berselang sepuluh menit perjalanan dari rumah Pak Samuel.


Harus berbesar hati bagi Yuana untuk memasuki area pabrik, begitu Pak Samuel membuka pintu satu persatu hingga mereka tiba di ruang produksi. Kenangan demi kenangan seakan tergambar jelas di depan mata Yuana. Satu persatu karyawan menyapanya dengan senyum penuh kehangatan dan sambutan sekuntum mawar merah yang terikat sebuah kartu ucapan kecil di tangkainya dari asisten baru ayahandanya cukup menambah keriuhan mereka.


"Astaga!"


Suara Pak Samuel cukup mengejutkan dan membuyarkan lamunan Yuana. Ia pun terkesiap dan segera menyadarkan diri lalu berjalan menyusul Annisa yang sudah berdiri di samping Pak Samuel.


Wajah yang penuh dengan bercak oli mesin ditambah senyum kecut dari Pak Samuel membuat Yuana tidak bisa menahan tawa, sampai-sampai Annisa harus memukul punggungnya untuk menghentikan tawanya.


"Maaf... maaf, Pak," ucap Yuana yang merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, hehe... bapak rela jadi badut seperti ini selama bisa melihat nona besar bisa tertawa seperti ini lagi, hehe..." Pak Samuel malah tertawa melihat reaksi Yuana.


"Terima kasih... sekali lagi Yuana ucapkan terima kasih atas kebaikan Pak Samuel pada keluarga kami," Yuana pun menjadi terharu.


"Ah iya... ini syukur lah, mesin-mesinnya sepeetinya masih bisa digunakan. Yaa mungkin butuh sedikit waktu untuk dibersihkan dan diservis. Kita serahkan pada Pak Hadi aja gimana?" Annisa berusaha mengalihkan perhatian Yuana agar tidak bersedih kembali.


"Pak Hadi? Apa tidak apa-apa?"


"Kalau sama Pak Hadi, semua urusan dijamin beres deh," jawab Annisa seraya menyatukan ujung ibu jari dan jari telunjuknya.


"Waaah... boleh-boleh, baguslah kalau sudah ada solusi. Bapak sudah tidak sabar menjabat manager produksi lagi, hehe..." kelakar Pas Samuel penuh semangat.

__ADS_1


"Pasti, Pak... pasti. Kami pasti butuh bantuan Bapak ke depannya," sahut Yuana dengan semangat.


__ADS_2