HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 61 SURAT DARI LINDA


__ADS_3

Dua puluh tiga tahun yang lalu.


"Kira-kira anak Linda laki-laki atau perempuan ya, Mas Bram?" tanya Suci kepada suaminya, Bramantio yang biasa dipanggil Bram.


"Ya mana mas tahu, Dik. Pilihkan saja warna netral, ini kuning lucu, atau yang hijau saja, ini juga lucu."


Bram dan Suci, sepasang suami istri yang sedang berada di babyshop, sebuah outlet perlengkapan bayi dan anak-anak di pusat kota. Mereka sedang berbelanja beberapa item barang untuk dijadikan sebagai kado kelahiran anak dari Linda, sekretaris Bram.


Setelah selesai memilih, mereka membawa barang-barang itu ke meja kasir dan meminta untuk sekalian dibungkus dengan kertas kado.


Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit tempat Linda melahirkan, Bram dan Suci berbincang. Sambil mengendalikan kemudi minibus berpintu geser, Bram menanggapi setiap ucapan Suci dengan tenang.


"Takdir itu kadang aneh ya, Mas. Kita yang sudah bertahun-tahun menikah dan sudah mampu tapi belum Allah karuniai seorang anak. Sementara Linda dan Jacob yang hidupnya bagaikan pelarian malah sudah mempunyai dua anak."


"Butuh keimanan, Dik, untuk melihat keadilan Allah itu. Mungkin di penilaian kita, kita ini sudah mampu, tapi Allah masih menilai kita ini belum layak. Sedangkan untuk Jacob, ini mungkin bentuk ujian sekaligus anugerah semenjak Jacob memutuskan untuk menjadi mualaf. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka dan anak-anaknya."


"Linda itu termasuk perempuan yang tabah ya, Mas. Mereka sama-sama dari keluarga berada di ibukota, sejak Jacob diusir dari keluarganya, Linda dengan setia mengikuti Jacob kemana pun ia pergi."


"Dan akhirnya bertemu kita di kota ini, membantu kita merintis usaha garment. Mungkin memang Allah mengirim mereka kepada kita dengan cara seperti ini. Kalau tidak mungkin kita masih jadi sales kelilingan dagangan orang tua kita kayak dulu, hehe."


"Kalau ndak nyales, ya kita gak bakalan ketemu, Mas."


"Alhamdulillah. Kita juga harus berterima kasih pada Jacob dengan cara saling mendukung seperti sekarang ini, Dik."


"Ya, jasa Jacob dan Linda pada kita sungguh besar ya, Mas."


Hingga mereka tiba di sebuah rumah sakit khusus ibu dan anak, tempat Linda melahirkan anak keduanya.


Bram dan Linda sempat dibuat heran dengan keberadaan beberapa orang berpakaian formal berwarna hitam-hitam yang hilir mudik keluar masuk rumah sakit tersebut.


"Tamen bu cunzai!"


"Rang women qu."


Sekilas terdengar dua dari orang-orang tersebut berbicara menggunakan bahasa mereka. Kemudian diikuti oleh temannya yang lain pergi meninggalkan rumah sakit.


Setelah bertanya kepada resepsionis, Bram dan Suci berjalan menuju ke ruang rawat yang ditunjukkan oleh resepsionis tadi. Ternyata mereka menuju ke lorong di mana orang-orang berbaju hitam tadi sempat berkerumun. Dan sampailah mereka di depan pintu kamar yang dimaksud.


Bram dan Suci sempat kaget, mengira mereka salah kamar, namun melihat kamar kosong dengan satu orang berbaju hitam berdiri menyambut kedatangan mereka.


"Selamat siang Tuan, Nyonya."


"Selamat siang. Maaf sepertinya kami salah masuk kamar."


"Apakah anda keluarga Nyonya Linda?"


"Maaf, kami atasannya, Linda hanya karyawan kami. Bapak siapa? Mana Linda?" Bram sudah memiliki firasat tidak enak, ia yakin mereka pasti utusan dari salah satu pihak, entah keluarga Jacob atau keluarga Linda.


"Sepertinya mereka melarikan diri lagi. Linda memiliki hutang yang besar kepada kami."


"Jadi kalian debt collector? Maaf ini rumah sakit, jangan mengganggu ketenangan pasien kami," kebetulan ada seorang bruder atau perawat laki-laki yang lewat dan mengetahui sedikit kehebohan kedatangan beberapa pria berbaju hitam tadi.


"Maafkan kami, saya permisi," pria berbaju hitam tadi akhirnya pergi setelah berpamitan dengan sopan.


Bram segera menanyakan keberadaan Linda kepada perawat tadi.


"Pasien atas nama Linda sudah keluar tadi pagi."


"Bagaimana mungkin, baru semalam melahirkan, kenapa bisa pagi ini sudah pulang?"


"Ya, tadi subuh suaminya mengajukan pulang paksa, karena ada suster yang menyertai jadi diizinkan oleh dokter."


"Untuk lebih jelasnya mungkin Bapak Ibu bisa menemui dokter kami?"


Hampir sebulan dari kejadian itu, Linda belum menampakkan diri karena masa cutinya memang masih dua minggu lagi. Namun anehnya Jacob pun tidak pernah muncul, padahal ia hanya ijin satu minggu saja.


Lewat dini hari, ketika Suci bangun hendak melaksanakan sholat tahajud, terdengar suara ketukan di pintu samping. Biasanya hanya orang dekat saja yang bertamu lewat pintu samping.


Awalnya ia tidak menghiraukan suara itu karena tidak terdengar suara orang mengucap salam atau memanggil. Namun karena terulang sebanyak tiga kali, akhirnya Suci membangunkan Bram untuk melihat siapa yang mengetuk pintu di pagi buta.


Ketika Bram mencoba membuka kunci pintu, terdengar suara orang berlari dan pergi mengendarai motor. Bram keluar untuk melihat situasi, karena di depan pintu sama sekali tidak ada orang.


Sementara Suci masih di dalam, mengangkat telepon yang tiba-tiba berdering. Ternyata Linda.


"Maaf, Bu Suci. Saya titip Joanne, tolong rawat ia dengan baik. Mereka mengejar kami lagi, tidak mungkin kami membawa Joanne. Kami pasti akan kembali."

__ADS_1


Suara Linda terdengar seperti sedang menangis ketakutan. Suci tidak sempat menjawab karena telepon sudah ditutup. Sepertinya Linda menelpon dari telepon umum.


Bram masuk ke dalam rumah sambil menyeret sebuah kardus besar yang tidak tertutup rapat bagian atasnya. Ia curiga jika dalam kardus tersebut adalah bayi yang dibuang dan pencahayaan teras samping terlalu gelap untuk melihatnya.


Alangkah terkejutnya ia ketika membuka kardus itu. Sebuah box bayi kecil terbuat dari kayu rotan dengan kelambu nyamuk yang tertutup rapat. Dengan hati-hati, Bram mengeluarkan box bayi yang ternyata lumayan beratnya dan meletakkannya di atas meja.


Suci yang bisa menduga ada bayi di dalamnya sangat antusias menanti Bram membuka kelambu box bayi tersebut.


Sesosok bayi mungil yang sedang terlelap sambil mengisap empeng berada di dalam box tersebut.


"Cantik, seperti Linda," gumam Suci melihat bayi mungil berkulit putih itu.


Bram yang mendengar gumaman Suci pun menghela nafas dalam. Ia tadi sempat menduga bahwa pengetuk pintu tadi adalah Jacob, jadi tidak heran lagi ketika Suci menggumamkan nama Linda.


Bram mengecek kembali isi di dalam kardus. Terdapat dua buah tas besar berisi pakaian, susu dan perlengkapan bayi, di bawah box bayi tadi.


Ketika Suci hendak menggendong bayi itu, tersembul secarik kertas yang terselip dari lipatan kain bedong.


Suci pun menarik surat itu dan menyerahkannya pada Bram yang langsung membuka dan membaca surat itu.


📃


Kepada


Pak Bram dan Ibu Suci


Yang kami hormati


Assalamu'alaikum wr. Wb.,


Sebelumnya kami mohon beribu-ribu maaf, karena kami selalu merepotkan Pak Bram dan Ibu Suci.


Kami yakin kali ini Bapak dan Ibu tidak akan keberatan untuk membantu kami sekali lagi.


Kami saat ini sudah tidak bisa berada di kota ini lagi.


Kami sudah mengorbankan putra kami, Joseph, semoga kelak Allah memberikan hidayah untuknya, agar kami bisa berkumpul di jannahNya.


Cukup Joseph saja...


Dengan segenap kerendahan hati kami, kami mohon kiranya Bapak dan Ibu sudi menerima putri kami sebagai putri Bapak dan Ibu demi keselamatan putri kami. Tolong sembunyikan identitasnya, karena sementara ini kami menyatakan pada mereka bahwah putri kami sudah meninggal, kami percayakan putri kami pada Bapak dan Ibu sepenuhnya.


Insya Allah kami pasti kembali.


Wassalamu'alaikum,


Linda


Yuana menangis sesenggukan mendengar Ilham membacakan surat dari orang tua kandung yang sama sekali tidak Yuana kenal. Sementara dokter Yusuf masih tidak bisa menerima kenyataan yang sangat membuatnya terpukul itu.


"Di situ hanya tertulis Joseph, belum tentu itu aku!"


Ilham menyerahkan surat tersebut kepada Yuana yang diterima dengan tangan gemetar. Bu Aminah mendekat dan duduk di samping Yuana. Mengusap punggung Yuana kemudian meraup dalam rangkulannya.


"Ayah, tenapa bunda nangis?"


"Nabila mau peluk bunda?"


Nabila mengangguk kemudian turun dari pangkuan Ilham dan berjalan dengan pelan takut-takut.


Bu Aminah meraih Nabila dan memasukkannya dalam pelukan sayang, berharap gadis kecil itu memaklumi perhatian ibunya yang tidak terpusat padanya.


Ketika tangan mungil Nabila terangkat dan mengusap pipi Yuana yang basah, barulah Yuana mengalihkan pandangannya kepada putri kesayangannya.


Yuana membayangkan jika apa yang dialami oleh Linda, ibu kandungnya, apakah ia akan melakukan hal yang sama terhadap Nabila. Akankah ia menitipkan Nabila kepada orang lain atau justru membawa Nabila dalam pelarian yang tidak terjamin keamanannya?


Yuana yang tidak bisa membayangkan dirinya harus berpisah dari Nabila pun sontak memeluk erat putri kecilnya itu.


Untuk beberapa saat, masing-masing terdiam tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Yusron dan Ilham saling melirik tatkala tangan Yusron perlahan mengeluarkan selembar kertas berlaminasi satu lagi dari stopmap. Sebuah akta lahir.


Di atas kertas itu tercetak dengan jelas nama anak dan orangtuanya.


📄

__ADS_1


^^^***** ***** ***** telah lahir^^^


...-- JOANNE TANOEWIDJAYA --...


anak ke DUA DARI AYAH JACOB TANOEWIDJAYA DAN IBU LINDA HAPSARI


______


"Yuana, dari mana kamu tahu kalau kamu dan Yusuf bersaudara?" tanya Yusron memecah keheningan beberapa saat tadi.


"Sehari sebelum pernikahan, Yuana tidak sengaja mendengar perdebatan ayah dan ibu. Ayah yang bilang kalau Yuana dan Kak Jo saudara kandung, anak kandung dari sekretaris ayah. Bahkan ibu menyarankan ayah untuk menjelaskan semua pada Kak Jo, tapi ayah bilang kalau keluarga Kak Jo tahu siapa Yuana, ayah ibu pasti akan kehilangan Yuana," jawab Yuana dengan setengah terisak.


"Memang kenapa dengan keluargaku? Papa justru mendukungku untuk melamarmu, Yuana. Bahkan kamu tahu sendiri Mamah juga sayang sama kamu. Kamu jangan mengada-ada!"


"Kalem, Bro," Ilham yang tidak terima Yuana dibentak mencoba menenangkan dokter Yusuf.


"Ckk," dibalas dengan decakan kesal.


"Adakah yang bisa menjelaskan yang sebenarnya terjadi? Ibu mungkin ngertos?"


Namun Bu Aminah hanya menggelengkan kepala.


Hah, sekarang harus menanyakan kepada siapa coba? Pak Bram dan Bu Suci serta Amar yang mengetahui rahasia masa lalu Yuana sudah tidak ada semua.


"Coba kita lihat dari akta kelahiran ini saja dulu. Di sini tertulis ayah Jacob Tanoewidjaya dan ibu Linda Hapsari. Kita selidiki itu saja dulu, bagaimana?"


"Jacob Tanoewidjaya?" tanya dokter Yusuf.


"Ya, Jacob Tanoewidjaya," Yusron menyodorkan akta kelahiran Yuana pada dokter Yusuf agar bisa membacanya sendiri.


"Jacob... Jacob...," dokter Yusuf bergumam mengingat-ingat nama Jacob. Kalau keluarga Tanoewidjaya ia sangat kenal, itu adalah marga keluarga besar mama, tapi belum tentu keluarga yang sama bukan? Kalau itu keluarga yang sama, bisa dipastikan Jacob adalah hanyalah saudara sepupu bahkan sepupu jauh Mamah Mei karena kalau saudara kandung mama, semua ia kenal. Beberapa sepupu mama, juga ia kenal.


"Apakah itu Tanoewidjaya salah satu dari sembilan naga?" Ilham pun mencoba mengira-ngira.


Tidak ada jawaban dari pertanyaan Ilham itu, rupanya memang tidak ada yang tahu menahu.


Iseng-iseng, Ilham mengetik di laman pencarian dalam handphonenya. Mengetikkan nama Jacob Tanoewidjaya.


Muncul beberapa artikel mengenai beberapa bisnis keluarga Tanoewidjaya yang menggurita di tanah air. Kemudian Ilham menyentuh menu gambar, dan muncullah beberapa gambar terkait artikel-artikel tersebut. Setelah menggulir beberapa saat, terlihat sebuah gambar yang berisi pengumuman sepertinya.


Ilham pun membuka gambar tersebut, dan ternyata memang sebuah pengumuman resmi dari grup Tanoewidjaya. Yang menyatakan bahwa pertanggal yang tertera, yang bernama Jacob Tanoewidjaya bukan lagi termasuk bagian grup Tanoewidjaya manapun. Segala hal yang terkait dengan nama Jacob Tanoewidjaya sudah tidak ada hubungan apapun dengan grup Tanoewidjaya.


Ilham curiga, Yuana memang ada hubungannya dengan keluarga tersebut. Namun ia tidak berani menyimpulkan sebelum mengetahui situasi yang sebenarnya.


Ilham segera meminta surat dari Linda yang dipegang Yuana dan akta kelahiran yang dipegang oleh dokter Yusuf. Menyimpan kembali kedua surat penting itu ke dalam stopmap yang sepertinya berisi dokumen lain. Tak peduli semua menatap heran padanya.


Ia merasa kejutan hari ini sudah terlalu banyak dan berat, terutama bagi Yuana dan dokter Yusuf. Maka ia pun ingin menyudahi untuk hari ini dan ingin semua menenangkan diri terlebih dahulu, agar bisa memikirkan langkah apa yang harus diambil berikutnya.


Ah, sepertinya waktu untuk melamar Yuana dengan benar masih membutuhkan waktu yang lama. Ya, ia memang harus bersabar dan berjuang lebih keras.


"Ya, sebaiknya hari ini kita cukupkan sampai di sini saja. Kenyataan yang kita temukan hari ini sangat berat untuk kita semua, terutama untuk Yuana dan kamu, Suf. Sudah... Sekarang jangan membahas apapun untuk urusan ini. Sekarang sudah hampir sore, saya yakin semua belum makan siang," Yusron yang tanggap pun akhirnya menutup pembicaraan mereka.


Bu Aminah yang sedari tadi ingin segera lepas dari suasana menegangkan pun dengan bergas bangkit dan berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan siang. Tak lama kemudian Yuana menyusul unuk membantunya.


Menghangatkan sayur lodeh tewel atau nangka muda, menggoreng bacem tahu tempe dan pindang rabuk. Tidak lupa menaruh setoples kerupuk yang bercampur dengan rempeyek dan semangkuk kecil sambal khas buatan Bu Aminah.


Ilham pun menuju ke ruang makan sambil menggendong Nabila, sedangkan Yusron masih membujuk dokter Yusuf untuk mau ikut makan siang bersama.


BRAKKK!


PYAARRR


TINN TINN TINN....


Suara benturan, kaca pecah, alarm mobil dan...


Bugh... Bugh... Suara orang saling memukul.


"HEI! OJO MLAYU!"


Yusron dan dokter Yusuf langsung melihat keluar melihat apa yang sedang terjadi.


"Sopo, Riel?!" tanya Yusron begitu melihat Nazriel naik undakan masuk ke halaman.


"Gak ngerti, Mas. Wong loro gae ireng-ireng ngrusak mobil putih iku," jawab Nazriel sambil kemudian membuka lebar-lebar rahangnya, yang sempat terkena pukulan orang misterius tadi.

__ADS_1


Sedangkan dokter Yusuf lekas mematikan alarm dan melihat keadaan mobilnya.


__ADS_2