
Permintaan Ilham untuk menikah dengannya, tidak serta merta diterima oleh Yuana. Yuana masih tidak yakin akan keseriusan Ilham, lagi pula ia pun sama sekali tidak terpikirkan untuk menikah lagi.
Tak lama mereka pun pergi meninggalkan hotel dengan Ilham yang mengemudikan mobilnya. Tanggal merah di tengah bulan, jalanan tidak begitu padat, hingga kendaraan bisa melaju dengan tenang dan lancar.
Di tempat tujuan berikutnya Ilham harus bertemu dengan banyak orang, jadi Bu Fatma meminta Yuana untuk selalu siaga memperhatikan interaksi Ilham dengan orang-orang tersebut termasuk makanan dan minuman yang dikonsumsi Ilham selama acara.
"Kumohon nanti jangan banyak ngemil ya, tadi kan sudah satu cup lebih gelato masuk di perut Mas Ilham. Yuana belum makan separoh uda Mas Ilham ambil aja. Sudah terlalu banyak kalori yang masuk pagi ini."
"Iya... Iya. Nanti aku minum air mineral saja di sana, jatah snackku kamu yang makan, okey?"
"Kira-kira acaranya sampai jam berapa, Mas? Butuh bawa obat atau tidak?" tanya Yuana sambil memangku kotak obat yang selalu tersedia di laci dashboard mobil.
"Tidak usah bawa obat, kita pamit sebelum acara selesai. Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat."
"Kemana lagi, Mas?"
"Nanti kamu tahu," jawab Ilham seraya mematikan mesin mobil karena mereka telah sampai di tempat acara yang akan dihadiri Ilham tersebut.
Pelataran parkir sudah dipenuhi kendaraan, rupanya memang banyak yang hadir di sana. Mereka berdua harus berjalan lumayan jauh untuk sampai di tempat acara.
Suara pembawa acara yang renyah bersautan diiringi dentingan elekton terdengar ketika Ilham dan Yuana menapaki undakan berbatu, akses tercepat menuju hall atau aula besar tempat berlangsungnya acara.
Spanduk besar bertuliskan REUNI AKBAR SMANDA terbentang melatarbelakangi sebuah panggung yang cukup megah menyambut kedatangan para tamu.
"Jadi ini acara reuni sekolah Mas Ilham," gumam Yuana.
"Ingat, jangan pernah jauh-jauh dariku," Yuana hanya bisa memutar bola mata mendengar peringatan dari Ilham, "pastikan bahwa aku hanya minum air mineral saja di selama di dalam."
Melihat keseriusan wajah Ilham saat ini membuat Yuana sedikit merasa khawatir. Memang apa yang akan terjadi di dalam acara tersebut?
Ketika sampai di depan pintu masuk aula, Yuana bisa melihat banyaknya undangan yang hadir. Sebagian menyadari kehadiran Ilham, menoleh dan tersenyum lebar ke arah Ilham. Sepertinya Ilham cukup populer dan dinantikan kehadirannya.
Namun Ilham hanya bergeming di depan pintu yang terbuka lebar itu, lalu pandangannya menelisir ke seluruh penjuru aula.
Digamitnya lengan Yuana, bukan masuk ke aula, melainkan berjalan menyisiri samping luar aula. Dari dinding kaca aula tersebut, Yuana dapat melihat beberapa pasang mata menatap mereka berdua.
"Mas Ilham, kenapa tidak masuk lewat depan tadi saja?"
Bukannya menjawab, Ilham malah berbelok ke sebuah lorong. Tentu saja Yuana menjadi sedikit ketakutan dan memperlambat langkah.
"Ayo, bukankah sudah kubilang jangan jauh-jauh dariku," ucapan Ilham membuat Yuana sedikit menambah kecepatan langkahnya.
"Mas Ilham mau ngapain?" tanya Yuana sambil memegang erat tali tas yang berada di depan dadanya.
Thuk
"Mikirnya jangan kejauhan," Ilham menyentil kening Yuana lalu kembali berjalan.
Kemudian mereka masuk ke sebuah ruangan yang ternyata ada beberapa orang berkumpul di situ. Rupanya ini adalah ruangan khusus di belakang panggung.
"Woi... Big bos sudah datang rupanya, waras a bro?" salah seorang menyambut kedatangan Ilham.
"Maaf," Yuana memberikan sebuah masker kepada Ilham, yang dengan cekatan langsung memakai menutup mulut dan hidungnya. Bahkan Ilham juga meminta Yuana untuk memberikan handsanitizer kepada orang yang menyambutnya tadi.
"Sorry Ed, harus ikut protokol kesehatan sekarang," ucap Ilham menyambut uluran tangan Edi untuk bersalaman setelah memastikan Edi memakai handsanitizer.
__ADS_1
Semua sampai tercengang mendengar ucapan Ilham, mungkin mereka berpikir Ilham bersikap berlebihan atau sombong. Namun melihat Edi, sang ketua panitia mengikuti permintaan Ilham, akhirnya mereka pun berebut meminta handsanitizer juga pada Yuana sebelum bersalaman dengan Ilham.
"Kalian pada ngapain sih? Ed! MC uda manggil dari tadi tuh," suara teriakan seorang perempuan cukup membuyarkan orang-orang yang mengerumuni Ilham.
"Ayo-ayo... kembali ke depan!" seru Edi, lirikan dan senyuman tipis nan sinis pada Ilham tertangkap dengan jelas oleh Yuana.
Membuat Yuana sedikit waspada, ada apa sebenarnya? Apakah ada permasalahan yang belum terselesaikan antara mereka? Atau memang karakter orang itu seperti itu?
Kemudian terlihat Edi berbisik-bisik dengan orang yang memanggilnya tadi dan Yuana merasa seperti pernah melihat pakaian yang dipakai oleh orang tersebut.
Bu Ratna!
"Kenapa Bu Ratna ada di sini?" bisik Yuana pada Ilham, perasaannya kini menjadi tidak nyaman.
"Karena dia panitia acara ini, kenapa? Tidak nyaman?"
"Tidak, Mas."
Yuana hendak menyapa Ratna, namun ia urungkan karena mendengar gumaman Ratna yang sepertinya sengaja dibesarkan suaranya agar terdengar olehnya, "sudah tahu acara reuni, pake ajak si janda, emang bisa laku di sini?"
"Eh, siapa yang janda?" tanya Edi, si Juan Genji, perpaduan sempurna dari Don Juan dan Takiya Genji, tentu saja langsung penasaran.
"Jangan kepo... buruan! Dah waktunya sambutan ketua panitia tuh," Ratna mendorong Edi untuk segera naik ke atas panggung, sementara dirinya menghampiri pembawa acara yang baru saja mempersilahkan sang ketua pelaksana untuk memberi sambutan.
Sedangkan Ilham mengajak Yuana untuk duduk di meja paling depan yang masih kosong, karena kebanyakan hadirin memilih duduk di meja yang terletak di belakang, tengah atau samping.
Acara berlangsung dengan sangat meriah dan ramai, setiap sesi perwakilan kelas selalu berjalan dengan gemuruh gelak tawa. Sepertinya Edi dan tim panitia berhasil mengemas acara reuni kali ini dengan sangat baik.
Memasuki sesi berikutnya, yakni ramah tamah. Hadirin dipersilahkan untuk menikmati sajian prasmanan yang sudah tertata rapi di bagian samping. Sambil di atas panggung di adakan dialog interaktif dengan dua sesi.
Sesi kedua diisi oleh seorang peserta yang berprofesi sebagai dokter yang kebetulan tahu bahwa Ilham adalah seorang penyintas kanker hati, walaupun Ilham merupakan penderita sirosis yang beresiko menjadi kanker. Walaupun mendadak dan tanpa persiapan apapun, Ilham bersedia untuk naik ke panggung memberikan testimoninya, tanpa malu-malu menceriterakan garis besar kenapa ia sampai menderita sirosis. Lalu harus menjalani transplantasi hati dan sekarang harus hidup dengan protokol kesehatan yang ketat.
Yuana masih duduk di depan panggung menyimak diskusi yang ternyata cukup menarik, tidak berniat untuk mengambil konsumsi seperti yang lainnya. Hingga ada seorang pramusaji yang mengantarkan snack dan dua gelas jus jeruk untuknya dan Ilham.
Yuana tersenyum melihat keramahan Ilham sepanjang diskusi, Ilham bisa dengan luwes menjawab pertanyaan dari dokter tersebut atau dari audien. Mungkin karena semua dianggap sebagai teman dan sahabat oleh Ilham.
Kipas angin yang terpasang di beberapa titik plafon aula tersebut sepertinya cukup membuat Yuana menjadi masuk angin. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing, punggungnya terasa berat dan kaku, dada terasa panas namun kaki dan tangan berkeringat. Mungkin juga karena ia berdiri terlalu lama di teras penthouse tadi, angin di ketinggian lantai sepuluh juga tidak baik untuk tubuh kan?
Yuana menengok ke sudut belakang, di mana tulisan toilet terpasang di salah satu dindingnya. Namun antriannya lumayan panjang sepertinya. Ia pun teringat ketika masuk lewat belakang panggung tadi, di koridor ada toilet room juga. Sebaiknya ia ke sana, pasti tidak antri.
Ia merasa harus mengoleskan minyak kayu putih di sekitar punggung dan leher untuk mengurangi rasa tidak nyamannya saat ini.
Akhirnya Yuana pun pergi ke toliet di belakang panggung setelah memberi kode kepada Ilham dan dijawab anggukan.
Berjalan cepat karena ketika mencoba berdiri, kakinya sedikit terasa lemas, dan benar saja ketika berada di koridor ia harus berjalan dengan sedikit terhuyung.
Ketika berada di dalam toilet, ia tiba-tiba merasa ingin buang air kecil. Ia pun menuntaskan hajatnya itu terlebih dahulu. Setelahnya ia membuka pasmina yang ia pakai agar memudahkannya mengoleskan minyak ke area leher, kepala dan punggung.
Bukannya berkurang rasa tidak nyamannya, rasa terbakar di dada justru menjalar hingga ke area perut, kulitnya memerah dan terasa sangat sensitif. Gatal ringan juga terasa di sekujur tubuh diiringi bulu kuduk yang merinding tiba-tiba.
"Aku kenapa? Apa ada makhluk yang usil padaku?" gumamnya, mengingat saat ini ia berada di toilet di koridor yang sepi. Ia pun bergegas ingin segera keluar dari toilet tersebut.
Dengan cepat ia pakai dan rapikan pasmina yang ia buka tadi. Dengan sakit kepala yang masih terasa berdenyut, ia coba masuk ke ruangan di belakang panggung, mungkin ia bisa beristirahat sejenak di sofa yang ada.
Baru dua langkah, ia dihadang oleh seseorang. Dari baju yang dipakai orang itu, ia tahu bahwa itu adalah salah satu teman dari Ilham tadi. Tapi ia tak sanggup melihat wajah orang yang lebih tinggi dari Ilham itu karena sakit di kepalanya membuat pandangan juga semakin kabur.
__ADS_1
"Maaf," Yuana mencoba pengertian orang tersebut untuk memberinya jalan, karena ia rasanya sudah tidak sanggup untuk berdiri lama.
Bukannya menghindar, orang tersebut justru memegang kedua lengan Yuana dan memapahnya masuk. Kenapa lengan yang dipegang orang itu terasa nyaman, padahal ketika ia mengoleskan minyak, kulitnya terasa sedikit tidak nyaman.
Karena sadar bahwa orang tersebut bukan mahrom, sekuat tenaga Yuana mencoba menghindar. Ia berusaha untuk berjalan sendiri ke arah sofa, namun pegangan tangan orang itu terlalu kuat bagi Yuana yang merasa semakin lemas. Orang itu justru setengah memeluk Yuana dan membawa Yuana masuk ke sebuah ruangan, yang sepertinya ruang kesehatan, karena ada sebuah ranjang berukuran single, sebuah meja dan kursi serta sebuah rak obat.
Yuana yang merasa semakin tak berdaya namun nyaman itu masih berusaha untuk menolak diajak masuk. Ini tidak benar, tidak boleh, harus menolak.
Orang tersebutpun sepertinya sudah tidak sabar dengan penolakan Yuana, ia menggendong paksa Yuana dan melemparkannya ke kasur setelah menutup pintu dengan kasar menggunakan kakinya.
Yuana yang ketakutan segera meringkuk memeluk satu-satunya bantal yang ada dengan erat di dadanya. Berusaha mencari perlindungan terbaik yang ia bisa sekaligus untuk meredam rasa panas dan sensasi aneh dalam tubuhnya.
"Aku akan menolongmu, bekerjasamalah dengan baik jika ingin cepat selesai," suara berat khas lelaki meliuk indah ke dalam telinga Yuana, namun ia semakin mempererat pelukannya pada bantal yang coba ditarik oleh lelaki itu.
"Tidak... Tolong pergi... Jangan ganggu saya..."
"Aku tahu kamu istri Amar yang sok suci itu, kan? Kenapa memilih jadi janda? Tidak tahan dengan sifatnya? Atau dia kurang perkasa?" orang itu mencoba membuat Yuana lengah saat ia berusaha meluruskan kaki Yuana yang meringkuk.
Sekuat tenaga Yuana mencoba bertahan, menarik tubuhnya duduk meringkuk ke sudut dengan tetap memeluk erat bantal tadi.
Menangis ketakutan melihat lelaki tadi justru ikut naik ke kasur dan mendekatinya.
Sementara Ilham yang sedang menjelaskan kegiatan yang ia lakukan selama rehabilitasi menjadi tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya pecah pada Yuana yang lama tidak kembali serta melihat Edi yang sebelumnya berkeliling bersama Ratna menyapa teman-teman yang berdiri di area konsumsi diam-diam meninggalkan Ratna pergi ke belakang panggung.
Dengan dalih ingin ke belakang, Ilham pamit kepada temannya yang dokter tadi untuk menyudahi bagiannya. Setelah sang dokter mengijinkan, tanpa menunggu lama Ilham berlari ke belakang panggung.
Tak ada siapa pun di ruangan itu, ia pun keluar menuju koridor tempat toilet berada, namun kosong. Di saat ia keluar dari toilet, berpapasan dengan Rahmat yang datang hendak menjemput Ratna.
"Mas! Berpapasan dengan Yuana tidak?"
"Tidak. Kenapa? Ada masalah?"
"Tadi ia pamit ke toilet, tapi belum kembali sampai sekarang. Aku juga lihat Edi ke sini tadi."
"Edi?" tanpa menunggu jawaban Ilham, Rahmat berlari masuk ruangan, melihat sekeliling dan menemukan sebuah pintu yang tertutup, "di situ!"
Keduanya pun mendekat ke pintu tersebut, hingga sayup-sayup terdengar suara Yuana, "pergi... tolong... pergi..." sebuah teriakan yang hampir tidak terdengar karena kalah dengan suara kemeriahan acara di dalam aula.
Ilham pun segera membuka pintu tersebut dan menjadi sangat murka melihat Edi yang berlutut hendak membuka pakaiannya di atas Yuana yang meringkuk ketakutan.
Ditariknya tubuh Edi dengan kasar hingga jatuh terjengkang ke lantai, lalu menyambutnya dengan tinjuan bertubi-tubi.
BUG! BUG! BUG!
Beruntung bagi Ilham, Edi yang bertubuh kekar itu tak mampu melawan Ilham yang seperti sedang kesetanan.
Karena Edi yang sedikit berada di bawah pengaruh alkohol serta berada dalam puncak b*r*h*, menjadi lengah dan kurang waspada.
Sementara Rahmat melihat kondisi Yuana, memastikan bahwa pakaian yang dipakai Yuana masih utuh, namun wajahnya yang harusnya pucat saat ketakutan justru tampak merona merah dengan nafas yang cepat tidak beraturan. Sepertinya ia tahu apa yang terjadi pada Yuana.
"Ham! Cepat bawa Yuana pulang! Biar aku yang urus bajingan ini," seru Rahmat begitu mengetahui keadaan Yuana.
Ilham segera sadar dari kalapnya, ia berdiri meninggalkan Edi yang wajahnya sudah babak belur itu.
"Yuana, sudah aman, kita pulang saja," Ilham yang mengira Yuana hanya sedang ketakutan mencoba untuk menenangkan dan mengajak pulang, namun, "Yuana!"
__ADS_1