HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 25 RAPUH


__ADS_3

"Pada dasarnya saya tidak berselisih tentang hukum donor kadaver, saya lebih melihat pada kemaslahatan. Apalagi jika Amar sendiri yang mewasiatkan seperti itu, saya sebagai saudara kandungnya tidak akan keberatan. Kalau Yuana sendiri bagaimana? Walau bagaimana pun, dia kan ahli warisnya," Yusron, kakak kandung Amar mengutarakan pendapatnya ketika dijelaskan tentang wasiat Amar untuk mendonorkan hatinya baik donor hidup ataupun kadaver.


Saat ini Rahmat dan Yusron serta dokter Yusuf berada di ruangan dokter Bastian membicarakan tentang pendonoran hati Amar untuk mengganti hati Ilham yang telah rusak.


"Itu juga masalahnya, Mas Yus... Amar juga berpesan, Yuana jangan sampai tahu tentang hal ini. Ia tidak mau Yuana berpikiran buruk tentang Ilham nantinya," ucap Rahmat yang merasa dilema bagaimana cara menyampaikan hal ini kepada Yuana, sementara Amar sendiri melarang untuk memberitahukan.


"Aku yakin... seandainya Yuana tahu, ia pun pasti tidak akan keberatan, aku tahu siapa Yuana," tukas dokter Yusuf, "aku yang akan menyampaikannya."


"Jangan! Maaf... maksud saya, jangan dokter Yusuf yang berbicara pada Yuana. Biar nanti saya dan ibu yang membicarakan ini padanya. Tapi biar wasiat Amar terlaksana, saya tidak akan mengatakan untuk siapa," sahut Yusron tepat saat dokter Bastian masuk sambil membawa rekam medis milik Ilham dan Amar.


Sementara di kediaman Bu Fatma...


"Nduk... engko Amar dimakomne ning kene opo ning ndeso wae yo, Nduk?" tanya Bu Aminah, ibu mertua Yuana, saat menemani Yuana yang baru saja menidurkan Nabila di kamar.


"Di sini saja Bu... di kavlingan ayah saja di Makobu Hills, daripada kosongan gitu," jawab Yuana dengan datar.


Air mata yang sudah mengering meninggalkan sedikit bengkak memerah pada lingkaran mata Yuana. Pandangan sayu dan wajah kusut menampakkan kesedihan yang tidak dapat ia tutupi. Bersandar pada headboard ranjang, ia mengelus-elus rambut Nabila yang terburai di atas bantal.


"Yo wes, Nduk... mariki ben diurus Yusron wae," ucap Bu Aminah sambil memijat lembut kaki Yuana.


Sebenarnya beliau pun dalam kesedihan yang mendalam karena kepergian anak keduanya itu, hanya saja beliau berusaha tampak tegar di hadapan Yuana. Beliau sangat memahami bahwa hati Yuana jauh lebih rapuh daripada dirinya.


Setelah kehilangan kedua orang tua yang tidak dapat dilihat jasadnya, Yuana harus kehilangan pabrik peninggalan orangtuanya. Tidak hanya itu, rumah yang baru saja selesai direnovasi harus diserahkan pada bank karena hutang perusahaan yang tidak dapat dilanjutkan angsurannya. Dan kini, ia harus kehilangan suami, satu-satunya orang tempat ia bergantung selama ini.


"Diminum dulu Bu Aminah," kata Bu Fatma yang masuk ke kamar Yuana sambil membawa dua cangkir minuman hangat. Menyerahkan satu cangkir ke Bu Aminah dan satu cangkir ke Yuana.


"Bu Aminah menginap di sini saja ya sampai tujuh harinya Amar, menemani Yuana di sini. Bu Aminah tidak perlu khawatir soal Yuana dan Nabila, mereka tanggung jawab kami sekarang. Selain karena musibah yang menimpa Amar disebabkan anak saya, juga karena saya jatuh hati pada Yuana dan Nabila. Entah kenapa... melihat Yuana, seperti melihat anak sendiri rasanya."

__ADS_1


Mendengar ucapan Bu Fatma membuat hati Bu Aminah semakin terenyuh, ia merasa sangat terharu karena ternyata masih ada orang yang menyayangi menantu dan cucunya itu seperti anak dan cucu sendiri.


Sebenarnya Bu Aminah merasa sungkan, tapi beliau menyadari, membawa Yuana dan Nabila ke rumahnya pun sepertinya tidak mungkin. Selain rumahnya yang kecil sederhana itu berada di desa, ada Yusron dan istrinya yang tinggal bersamanya selama ini menemaninya.


"Alhamdulillah... matur nuwun sanget Bu Fatma, pun purun nganggep Nduk Yuana niki putri piyambak. Mangke kulo nyipeng sewengi mawon, kulo mboten kerso ngrepoti panjenengan. Kulo nggih hajat nyodaqohi Amar ngantos pitung dinane ten ndeso," balas Bu Aminah atas tawaran dari Bu Fatma.


"Gak popo yo, Nduk... awakmu sesuk tak tinggal bali ning ndeso. Suk mben mari pitung dinane, ibu mrene maneh," lanjutnya kali ini pada menantunya yang terlihat berkaca-kaca mendengar percakapan dua orang ibu itu.


"Bu Fatma... Ibu... Yuana, sangaaaat beruntung, ada Ibu... dan Bu Fatma... di saat Yuana sudah tidak punya siapa-siapa lagi... Mas Amar... hk... hks... aku tidak tahu apa masih bisa menjalani hidupku nantinya... hk... hks..." Yuana tergugu menahan rasa sedih sekaligus terharu.


"Ssssshh... Nak Yuana jangan bilang begitu. Diikhlaskan ya Naaak... biar suamimu bisa pergi dengan tenang. Ingatlah sayang... masih ada Nabila, dia akan rapuh jika ibunya tidak tegar. Masih ada kita semua yang menyayangimu," hibur Bu Fatma sambil memeluk Yuana dengan kasih.


tok... tok...


Annisa masuk kamar Yuana setelah mengetuk pintu dengan pelan.


"Yuana... ada utusan dari pondok, Nazril namanya... emm... mau menemui?" tanyanya dengan hati-hati. Pasalnya dia tidak mengenal Nazril dan ia tahu bahwa Yuana sedang masuk masa iddah jadi tidak bisa sembarang menemui lelaki yang bukan mahromnya.


"Siapa Nazril, Na? Kok utusan dari pondok," tanya Annisa.


"Adiknya Mas Amar, Kak... Mas Amar tiga bersaudara lelaki semua. Mas Yus, Mas Amar dan Nazril itu. Mereka semua mondok di pesantrennya Kyai Marzuqi, sekarang tinggal Nazril yang masih di pondok," jelas Yuana sambil menerawang mengingat kebersamaan mereka bertiga ketika berkumpul di rumah mertuanya.


Yuana tersenyum ketika mengingat suaminya yang selalu mengusili Nazril dan Mas Yus yang akan menjewer telinga Amar agar menghentikan keusilannya. Dan Yuana, Bu Aminah serta Halimah, istrinya Yusron, yang pada akhirnya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah mereka bertiga.


Sungguh beruntung Bu Aminah, memiliki tiga anak lelaki, yang meskipun sudah dewasa semua, tapi masih memiliki rasa kebersamaan yang sama sejak masih kecil.


Melihat senyum yang terbit di wajah Yuana, Annisa jadi merasa tenang, ia yakin bahwa Yuana benar-benar wanita yang tegar. Seperti halnya Bu Fatma, Annisa pun seakan merasakan kedekatan yang lebih dengan Yuana. Bukan sekedar teman satu sekolah dan satu organisasi belaka, melainkan sudah seperti dengan saudara kandung sendiri. Baru kali ini ia bisa merasa punya saudara perempuan.

__ADS_1


"Ummah... Ummah ke dapur dulu gih... tuh tadi Mbok Sari nanya harus belanja apa aja buat tahlilan nanti, aku kan gak ngerti soal gituan. Biar Yuana aku yang nemenin," pinta Annisa pada ibunya yang sedari tadi duduk di kursi meja rias dan hanya melihatnya.


"Ngusir ummah nih ceritanyaa... lagian tahlilannya nanti di pondok, kita borong aja makanan di resto-resto terdekat. Kalau mau masak ya gak nutut dong waktunya."


"Bukannya ngusir Ummaaaah... intinya sekarang, Ummah keluar dulu, giliran Annisa yang bertugas menghibur adiknya ini," sengir Annisa pada ibunya itu. Lalu ia merangkak ke atas kasur dan berbaring di sisi Nabila, sedangkan Bu Fatma menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum pada Yuana.


"Ibu keluar dulu ya Nak... kalian istirahat dulu. Nanti setelah ada kabar dari rumah sakit, kita bersiap-siap berangkat ke pondok. Insya Allah jenazah Amar akan langsung disemayamkan dan disholatkan di sana."


"Jadi ndak dibawa ke sini dulu, Ummah?" tanya Annisa dengan bingung.


"Tempat pemakamannya kan lebih dekat dengan pondok, kalau harus mampir ke sini dulu, terlalu jauh nanti, kasian jenazahnya. Bukankah semakin cepat dimakamkan semakin baik, ya kan Nak Yuana?"


"Iya Bu... Yuana ngikut saja, jika itu yang terbaik untuk Mas Amar," suara sendu Yuana sungguh menyiratkan kegetiran yang ia rasakan dalam hatinya.


Setelah Bu Fatma berlalu keluar kamar, Yuana berpaling ke arah Annisa yang katanya akan menghiburnya saat ini. Namun kenyataannya, Annisa malah sudah memejamkan mata, tertidur sambil memeluk Nabila.


Dilihatnya jam berbentuk bulat yang tertempel di dinding bercat putih gading polos di hadapannya. Jarum pendek menunjuk sedikit di atas angka dua, sedangkan jarum panjang menunjuk ke angka tujuh.


"Astaghfirullah! Aku belum sholat dhuhur."


Akhirnya Yuana pun bergegas ke kamar mandi untuk cepat-cepat membersihkan diri dan berwudlu. Kemudian ia melaksanakan sholat dhuhur di dalam kamar. Dalam simpuhnya ia curahkan seluruh kesedihan yang sedari tadi ia simpan dalam hatinya.


Jika ia sekuat tenaga berusaha menutupinya dengan ketegaran di depan orang lain terutama buah hatinya, maka ketika sedang menghadap Robb-nya, ia hanyalah makhluk kecil yang sangat rapuh dan mudah hancur.


Dalam cucuran air mata, dalam isakan yang tiada jeda, ia adukan segala kegundahan, kesedihan, kelemahan dan kerapuhannya.


Allahumma rahmataka arjuu falaa takilnii ilaa nafsii tharfata ainin, wa ashlih lii sya' nii kullahu, lailaha illa anta."

__ADS_1


“Ya Allah, rahmat-Mu aku harapkan, janganlah Engkau serahkan (segala urusanku) kepada diriku walau sekejap mata, perbaikilah segala urusanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau“.


Sampai tak terasa ia pun tertidur telungkup di atas sajadahnya.


__ADS_2