HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 39 AAAAH


__ADS_3

"Aku gak nyangka, Jo... Jo. Kamu, pria paling realistis di lingkaran kita, bisa terobsesi pada seorang perempuan sampai sedemikian rupa. Kalau aku tidak kenal kamu, gak bakal aku serahkan sertifikat ini, karirku taruhannya, Jo."


Seorang manager bank bernama Yogi sedang menemui seorang klien yang merupakan salah satu teman yang pernah satu jemaat dengannya. Berempat dengan yang lain, setiap pulang dari gereja selalu berkumpul di salah satu tempat kongkou di pusat kotanya dulu. Namun sejak temannya itu berpindah keyakinan, ia jarang bertemu sampai ketika ia dipindahtugaskan ke kota yang sama di mana temannya itu mengabdikan dirinya sebagai dokter anestesi.


"Aku ini tipe pria setia, sekali mencintai perempuan, tak akan berpaling," ucap dokter Yusuf sambil meraih map yang disodorkan oleh Yogi tadi.


"Buahahaha, mencintai katamu. Belajar bercinta dulu baru bicara mencintai," Thomas, teman sekaligus sepupu dari Yogi, sang casanova, ikut datang dan duduk di sebelah Yogi tak dapat menahan tawanya.


"Diam kamu! Kayak uda tokcer aja pistonmu," ketus dokter Yusuf karena sebal dengan ucapan Thomas.


Yogi, Thomas dan dokter Yusuf sama-sama belum menikah, berbeda dengan Bram, satu teman lagi yang kali ini tidak bisa datang berkumpul karena tinggal di luar negeri, sudah menikah dan baru dikaruniai seorang putri.


Yogi yang sudah enam tahun berpacaran masih enggan untuk menikah karena merasa belum mapan.


"Apa tindakanmu ini tidak berlebihan, Jo?" Yogi menatap serius kepada dokter Yusuf, tersirat kekhawatiran jika temannya yang ia anggap paling lurus ini akan merasakan kekecewaan.


Sementara Thomas yang masih betah berpetualang, dan pernah mengatakan akan berhenti jika salah satu dari lawan bermainnya itu berhasil ia tiani ini, hanya memicingkan mata menunggu jawaban dari dokter Yusuf.


Sedangkan dokter Yusuf yang semula enggan dekat dengan makhluk bernama perempuan tapi justru terobsesi dengan gadis bernama Yuana, yang pernah menolak lamarannya, menikah dengan orang lain, dan sekarang sudah menjanda.


"Aku sudah berusaha dengan segala macam cara dan alasan untuk sekedar menemuinya, tapi... sulit sekali. Kuharap, ini akan membuatnya sudi untuk sedikit memandangku. Jadi kalian harus mendukungku."


"Ya... Ya... Walaupun karirku taruhannya." Yogi hanya bisa pasrah jika dokter Yusuf yang meminta, karena hanya dokter Yusuf yang selalu ada setiap ia butuh pertolongan.


"Tenang saja, tugas Thomas untuk mengamankanmu."


"Emang residivis... diamankan," sungut Yogi.


"Haha... aman, aman. Tenang saja, selama tidak merugikan perusahaan. Kondisikan saja anak-anak, Yog, jangan sampai terdengar si Susan. Kalo sampai bocor ke direksi, habis kau. Sewaktu-waktu si bidadari bisa datang ke kantor, bisa panjang urusan kalo ndak kau kondisikan."


"Yuana. Yuana namanya," jelas dokter Yusuf, merasa tidak terima sang casanova menyebut si bidadari, jangan sampai Thomas bertemu Yuana, pikirnya.


Ting


Suara pesan masuk terdengar dari handphone Yogi, begitu membacanya ia langsung menegakkan tubuhnya.


"Yuana!"


Dokter Yusuf dan Thomas serta merta membelalakkan mata ke arah Yogi.


"Yuana baru saja dari kantor, bentar... bentar, aku telpon Desi dulu," jelas Yogi sambil bangkit dari duduknya berjalan menjauh. Terlihat berbicara serius dan sesekali mengangguk-angguk, lalu menutup telepon dan berjalan kembali ke tempat duduk asalnya.


Dokter Yusuf berpura-pura sibuk meminum 'grand caramel macchiato'nya sedikit demi sedikit, namun tetap fokus untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh Yogi. Sedangkan Thomas duduk bersandar sambil melipat kedua tangan, menoleh ke samping memandang ke ke luar jendela kaca dengan stiker logo kafe bergambar Siren, sang putri duyung mitologi Yunani, seolah-olah tidak peduli.


"Yuana sudah ke kantor barusan, dia sudah tahu kalau personal loannya sudah lunas. Desi membuatkan janji temu besok jam satu siang. Bagaimana? Aku temui Yuana atau kamu yang langsung gerak aja?"


"Nanti aku langsung temui Yuana. Mumpung masih cuti, keburu Ilham datang makin sulit nanti."


Thomas menepuk-tepuk pundak dokter Yusuf, "berjuanglah, kuharap kau bisa mengalahkanku untuk urusan yang ini. Kalau kau gagal, mungkin kau bisa mengikuti jejakku, hahaha."


"F*ck you very much! Cepatlah bertobat, Thom."


"Hahahaha... Dapat hidayah kok setengah-setengah, Jo... Jo."

__ADS_1


Dan akhirnya pertemuan yang makin jarang terjadi antara ketiga pemuda berumur itu pun berjalan penuh gelak tawa. Dan dokter Yusuflah yang menjadi topik bulan-bulanan mereka kali ini.


Tak lama mereka pun berpisah, Yogi dan Thomas kembali ke tempat mereka bekerja, sedangkan dokter Yusuf pulang ke rumahnya untuk mempersiapkan dirinya menemui Yuana.


Namun di tengah jalan ia merasa ada sebuah mobil yang mengikutinya. Mobil Jimny berwarna hitam yang sudah dimodifikasi, terlihat sangar dan mengintimidasi.


Dokter Yusuf menepikan mobilnya di pelataran rumah kosong. Tempat yang cocok untuk membicarakan sesuatu yang pribadi namun tetap dalam koridor yang aman karena suasana jalanan yang terbilang cukup ramai kendaraan. Sedikit jauh juga terdapat beberapa pedagang kaki lima.


Dokter Yusuf turun dan berjalan ke trotoar, berdiri dengan tegak dengan memperkirakan orang-orang di sekitarnya dapat melihatnya dengan jelas jika terjadi sesuatu, memasukkan kedua tangan ke saku celana dan menatap tajam ke arah mobil jimny tadi.


Dan benar saja, mobil yang sedari tadi mengikuti, juga ikut menepi dan berhenti di depan mobilnya. Dokter Yusuf mempersiapkan dirinya dalam siaga penuh. Meskipun ia hanyalah seorang dokter anestesi dan semasa mudanya terkenal kutu buku, soal bela diri ia cukup percaya diri. Ia adalah seorang taekwondoin sabuk hitam bahkan sejak belum bergelar dokter.


Karakter pemilik mobil jenis jimny yang termodifikasi sangat apik dengan kaca jendela yang gelap tersebut tentulah bukan orang biasa. Dan dokter Yusuf pun merasa sedikit terintimidasi. Ia bahkan dapat mendengar deguban jantungnya saat pemilik mobil tersebut membuka pintunya.


Namun perasaan tersebut berganti menjadi sebuah decakan kesal begitu mengetahui bahwa yang turun dari mobil tersebut justru seorang gadis yang sangat ia kenal namun paling ingin ia hindari sepanjang hidupnya. Lina.


"Selamat siang, Koh... Akhirnya Kokoh mau menemui Lina," sapa Lina dengan sumringah.


"Ada perlu apalagi?" sahut dokter Yusuf pelan tapi sinis.


"Koh, Lina datang jauh-jauh lho buat ketemu Kokoh, mbok ya yang enakan dikit sambutane itu."


"Kalau gak ada yang penting, maaf, saya sibuk!"


"Aku baru ketemu Yuana."


"Kamu jangan macam-macam!"


"Bukane aku sudah pernah bilang sama Kokoh, kita itu uda jodoh dari kecil, aku sedikit kasih peringatan sama de'e."


"Salah sendiri dia ganggu jodoh Lin," ujar Lina dengan santainya sambil menopang siku di dada dan menjentik-jentikkan kukunya.


"Siapa bilang kita jodoh, jangan halu kamu."


"Sedari kecil engkong sama amah selalu mengingatkan Lin soal perjodohan kita, jadi mana mungkin Lin halu."


Dokter Yusuf sudah sangat geram, kesal dan jengkel dengan


pendirian Lina tentang perjodohan meskipun sudah ia tolak secara terang-terangan.


"Dengar baik-baik ya, mama dan papa tidak pernah menerima ide perjodohan dari akung dan apoh, apalagi aku. Lupakan omong kosong ini. Aku masih bisa menghargaimu karena memandang Cik Yen. Kalau sudah tidak ada yang penting lagi, pulanglah, aku masih banyak urusan."


Dokter Yusuf pun berjalan menuju mobilnya, tanpa menoleh sedikit pun kepada Lina ia masuk ke dalam mobil dan melajukannya. Namun ia tidak jadi menuju rumahnya, melainkan menuju rumah sakit. Karena ia masih khawatir jika Lina akan terus mengikuti dan mengetahui di mana ia tinggal selama ini.


"Koh... Lin belum selesai bicara! Koh... Koh Jo!"


Melihat mobil dokter Yusuf pergi begitu saja membuat Lina merasa sangat kesal. Bagaimana pun sikap dokter Yusuf padanya, ia sudah terbiasa dan tidak akan pernah menyerah memperjuangkan perjodohannya dengan dokter Yusuf.


Dengan kesal Lina kembali ke mobilnya, ia pukulkan genggaman tangannya di kap mobil tak ketinggalan ia tendang-tendangkan kakinya ke ban mobil. Kesalnya semakin menjadi sebab tangan dan kakinya menjadi kesakitan.


"Aaah... Sial... Siaaaal!"


Hari ini terasa sangat panjang dan melelahkan bagi Yuana. Setelah kabar baik sekaligus kurang baik dari bank, proses pengerjaan penataan rumput sintesis di taman dan berakhir dengan tragedi yang menakutkan dan memalukan setelahnya.

__ADS_1


Mencoba mengistirahatkan badannya sejenak dengan tidur siang bersama Nabila, sang buah hati. Tidak perlu lama, yang penting berkualitas. Dua puluh sampai tiga puluh menit sudahlah cukup untuk menambah energi dan kinerja otak. Dan ia sangat butuh tidur siang untuk mengembalikan energi yang terkuras tadi.


Menutup tirai dan pintu, mematikan lampu dan menurunkan suhu ruangan cukup untuk mendapatkan tidur berkualitas dengan cepat. Baru beberapa menit meninabobokkan Nabila dengan senandung sholawat, mereka berdua sudah terlelap.


Tepat tiga puluh menit kemudian, Yuana terbangun oleh panggilan alam. Pelan-pelan ia bangun agar tidak membangunkan Nabila, lalu beranjak ke kamar mandi.


Lalu ia pergi ke area laundry room untuk mencuci pakaian lalu mengambil jemuran yang sudah kering dan langsung menyetrikanya di ruangan yang sama.


Paviliun taman memang tertata dengan apik dan efisien. Ruang laundry sengaja dibuat tidak dibawah sinar matahari langsung. Terdapat atap yang setengah bagian terbuat dari spandek transparan, membuat cahaya matahari masuk dengan sempurna tetapi terlindung dari paparan sinar UV. Dan lubang ventilasi cukup lebar yang terhubung dengan teras paviliun belakang rumah utama, cukup membawa angin segar masuk melewati area jemuran.


Lalu tempat menyetrika yang sejajar dengan tempat mesin cuci, dibuat dengan sangat nyaman. Bahkan sengaja diletakkan sebuah layar televisi berukuran kecil, untuk mengurangi kebosanan. Yuana menyalakan televisi tersebut, mencari saluran internasional yang menayangkan siaran tentang fesyen, saluran televisi Perancis milik Michel Adam Lisowski. Untuk mengetahui tren fesyen yang sedang berkembang, sebagai bahan inspirasi desain tasnya.


Saking asyiknya ia menyetrika dan menonton parade peragaan busana musim semi sekaligus launching tas branded salah satu designer terkemuka, ia tidak mendengar Nabila yang memanggil-manggil mencarinya.


Sesekali ia tampak fokus ketika peraga sedang menunjukkan model tas keluaran terbaru dengan berbagai gaya. Apalagi saat kamera menyorot detail model tas tersebut. Buru-buru mengecilkan suhu setrika dan mengambil notes kecil di bawah meja, dan menggoreskan sketsa detail tas yang ia ingat.


Kegiatan menyetrika selesai. Yuana mematikan setrika dan televisi, lalu membawa pakaian yang telah tersusun rapi ke kamar untuk diletakkan ke dalam almari. Tidak memperhatikan jika Nabila sudah tidak berada di atas kasur. Suasana sepi dan lengang seperti saat ia tinggal tadi.


Lanjut ia mengambil sapu dan kemoceng, membersihkan setiap ruangan dari sudut ke sudut, lalu mengepel lantainya.


Ternyata benar, tidur siangnya tadi mengembalikan energinya. Ia mengerjakan pekerjaan rumah dengan penuh semangat. Sesaat melupakan masalah yang sedang ia hadapi.


Tak terasa waktu berlalu jika kita melakukan sesuatu yang kita suka. Jarum jam menunjukkan pukul empat sore lebih sepuluh menit. Bergegas ia ke area taman. Menyalakan penyiram taman otomatis dan mengambil selang untuk ia gunakan menyiram tanaman yang tidak terjangkau oleh penyiram otomatis tersebut. Sebentar saja, tidak perlu terlalu basah.


Setengah berlari ia masuk ke dalam paviliun. Ia belum sholat ashar. Cepat-cepat ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudlu. Badan dan rambut yang terasa lengket karena keringat, membuatnya tak sengaja menyalakan rain showe**r.


Ah, padahal niatnya hanya membersihkan diri dan mengambil air wudlu untuk mengejar sholat awal waktu.


Air dari shower yang langsung menghujani tubuhnya, membuat pakaian dan rambutnya basah kuyub. Ia pun terpaksa mandi dan mencuci rambutnya, walaupun dilakukan dengan secepat kilat.


Selesai aktifitas di kamar mandi, ia meraih handuk yang ia gantung di sudut. 'Lah... kenapa hanya ada handuk ini saja?'


Celingukan ia mencari handuk kimono yang biasanya ada di rak kecil tempat handuk, agar handuk yang tadi bisa ia pakai untuk membebat rambutnya yang basah. Namun yang ia temukan hanya handuk kecil saja.


"Aduh, kenapa handuknya aku masukin almari semua sih tadi."


Akhirnya ia tetap memakai handuk yang ia bebatkan di tubuhnya, yang hanya cukup menutup area dada hingga atas lutut saja. Sementara handuk kecil ia gunakan untuk mengusap-usap rambutnya agar tidak ada air yang menetes di lantai menuju kamar.


Ketika ia keluar dari kamar mandi, terdengar suara siulan asap ketel air. Rupanya tadi ia sempat menjerang air untuk membuat teh dan sisanya diisikan ke dalam termos.


Sambil tetap mengusap-usap rambut dengan handuk kecil, ia menuju dapur untuk mematikan air dan menuangnya ke dalam teko teh dan dalam termos.


Melirik jam dinding, sudah menunjukkan waktu pukul setengah lima.


"Astaghfirullah," desisnya


Yuana pun cepat-cepat berbalik hendak menuju kamar agar bisa bergegas melaksanakan sholat ashar yang waktunya sangat terlambat dari kebiasaannya.


"Aaaah," Yuana menjerit karena ia terkejut dan syok.


Di depannya ada seorang pria sedang menatapnya tanpa berkedip dan mulut setengah terbuka. Sepertinya sama-sama terkejut.


Dalam keadaan hanya memakai bebatan handuk, tanpa memakai pakaian yang menutup aurat. Handuk kecil yang ia gunakan untuk mengusap rambut sampai terjatuh ke lantai karena ia reflek kedua tangannya menutup area dada dan paha yang terbuka.

__ADS_1


Hendak memaki tapi tertahan di ujung lidah, karena orang itu sedang menggendong Nabila. Nabila memeluk erat orang tersebut dengan mata yang basah karena menangis.


__ADS_2