HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 28 ALHAMDULILLAH


__ADS_3

"Mulai sekarang, kau adalah putriku... Yuana," ucap bu Fatma sesenggukan.


Pak Hadi tersenyum mendengar ucapan bu Fatma, ia sudah menduga keputusan apa yang akan diambil oleh bu Fatma pada Yuana. Ia merasa dejavu, seperti melihat keadaan yang sama dengan tiga puluh enam tahun yang lalu.


Waktu itu ia harus menjaga bu Fatma yang harus dirawat di rumah sakit karena hampir keguguran saat hamil muda anak pertamanya.


Bu Fatma yang tidak tahu kehamilannya merasakan nyeri hebat dalam perutnya setelah beberapa kali pingsan karena mendengar kabar orang tuanya meninggal dunia akibat kecelakaan. Sedangkan Abah Haikal waktu itu sedang menempuh perjalanan mengirim kulit sapi yang sudah disamak ke luar kota.


Beruntung pak Hadi tidak terlambat membawa bu Fatma ke rumah sakit, sehingga kehamilannya dapat terselamatkan.


"Kau kenapa senyam-senyum gitu Had!... kau senang ya, lihat aku nangis," seru bu Fatma ketika sudah merasa tenang dan melihat pak Hadi tersenyum.


"Bukan begitu, Bu... hanya saja saya jadi ingat Bu Fatma tiga puluh enam tahun yang lalu," sahut Pak Hadi dengan tetap tersenyum, "hanya saja.. sekarang Mbak Yuana yang mengalami," lanjutnya.


"Ya... kau benar, Had," bu Fatma menghela napas lalu bangkit berdiri, "kau jagalah di sini, aku lihat Yuana dulu."


Pak Hadi pun mengangguk menyetujuinya.


"Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku," ucap bu Fatma sambil melirik lampu bulat yang menyala merah di atas pintu ruang operasi dan berlalu menuju lift yang memudahkannya untuk pergi menuju tempat di mana Yuana dirawat.


Ruang rawat inap Lavender, sebenarnya tidak berada jauh dari ruang operasi, hanya saja beda lantai. Di koridor antara ruang operasi dan deretan ruang dokter, terdapat dua buah lift yang biasa digunakan untuk evakuasi pasien dan mobilitas petugas medis.


Keluarga dan penjenguk pasien sebenarnya juga tidak masalah menggunakan lift itu, hanya saja karena tidak ada petunjuk, jadi tidak banyak yang tahu keberadaan lift tersebut. Kebanyakan mereka melewati jalan biasa mengikuti petunjuk arah ruangan yang terpasang di tiap tikungan, pertigaan atau perempatan koridor.


Setelah sampai di depan pintu kamar berplakat tulisan "Lavender", bu Fatma mencoba menata hati sebelum akhirnya beliau membuka pintu tersebut dan melangkah masuk. Bertanya pada perawat jaga di mana pasien bernama Yuana dirawat.


Memasuki sebuah kamar yang ditunjukkan oleh perawat tadi, seperti melihat sebuah tayangan layar lebar, yang menampilkan sepenggal perjalanan hidupnya saat ia seusia perempuan yang tertidur di hadapannya itu. Seorang perempuan muda dengan hair cap medis yang membungkus kepalanya dan baju pasien lengan panjang sewarna dengan hair capnya. Sebuah selimut menutup rapi kaki hingga area perut dan jarum infus tertancap di salah satu punggung tangannya.


Didekatinya perempuan muda itu, dipandangnya wajah pucat yang sedang terpejam matanya namun dengan alis yang sedikit mengerut. Terlihat pergerakan pada bola mata di balik kelopak yang tertutup, sepertinya ia sedang gelisah dalam tidurnya.


"Mas... Maaas... jangan pergi, Maas..." tiba-tiba ia mengingau dan keningnya mengeluarkan keringat dingin serta nafas sedikit tersengal.


"Yuana... Yuana..." panggil bu Fatma pada Yuana dengan lembut. Meraih tangan kanan Yuana, menggenggamnya dengan lembut serta mengusap punggung tangan itu dengan ibu jari. Berharap semoga Yuana bisa tidur kembali dengan tenang.


Benar saja, raut wajah Yuana berangsur kembali tenang dan nafasnya berangsur mulai teratur.


"Sabar ya Nak..." lirih bu Fatma kemudian mencium kening Yuana.


Kemudian beliau menuju sofa panjang yang berada pada jarak dua meter dari brankar tempat Yuana berbaring. Meletakkan tas Yuana di atas meja kecil di samping sofa. Mendudukkan diri di tengah sofa lalu mengambil telepon genggam di dalam tasnya. Mengirim pesan kepada Annisa agar esok pagi membawakan pakaian ganti untuk Yuana dan dirinya. Setelah itu beliau berbaring berbantalkan tepian sofa dan berusaha memejamkan mata.


**


Annisa merasakan pergerakan di ranjang super king size tempat ia berbaring, sepertinya ada seseorang yang ikut berbaring di belakangnya. Meski terasa berat, ia mencoba membuka matanya.


Tampak di depannya Azyan dan Nabila tidur dengan posisi yang tidak beraturan, sementara Norish tidur pulas berada dalam pelukannya dengan posisi menyusu.


Perlahan ia jauhkan dadanya dari putri mungilnya itu sambil merapikan bajunya yang tersingkap dan tiba-tiba sebuah tangan kekar menyusup meraba perutnya naik ke atas dan kemudian dengan posesif memeluk tubuhnya.


Hampir saja ia berteriak ketika hembusan nafas hangat dan suara lelaki yang ia rindukan terdengar setengah berbisik di telinganya.


"Assalamu'alaikum wifey," ucap lelaki itu.


"Kak Zein!" pekik Annisa membelalakkan mata kemudian beringsut menelentangkan badan menghadap lelaki yang ternyata adalah suaminya.


"Sssssst... salam tu dijawab," ucap Zein seraya menyerosohkan wajahnya ke ceruk leher Annisa membuat Annisa mendesah merasakan sensasi yang diciptakan oleh suaminya itu.


"Wa 'alaikum salam suamiku sayang..." jawab Annisa akhirnya sambil sedikit mendorong tubuh Zein agar melepas pelukannya.

__ADS_1


Zeinpun mengangkat kepalanya setelah mencium sekilas pipi Annisa lalu menyanggahnya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya tetap berada di atas perut istrinya itu.


"Kak Zein kok ada di sini? Kapan datengnya? Emang ada penerbangan malam?"


"Kemarin siang, honey... tapi karena di rumah tak ada sorang pun jadi kak Zein pergi rehat di hotel. Mau telpon pun baterai kat habis."


"Iya... semua pergi ke pemakaman mas Amar, sedangkan mas Rahmat jagain mas Ilham di rumah sakit, ntah gimana keadaan mas Ilham sekarang. Tadi pagi muntah darah parah dia."


"Mas Ilham sedang dioperasi sekarang, bila lancar, saat ini pasti sudah selesai."


"Kok Kak Zein tahu? Kak Zein mampir ke rumah sakit?"


"Taaak... tadi kak Zein ada ngobrol sebentar dengan mas Rahmat. Tadi saat mau baring, kak Zein tengok hp... eh, mas Rahmat online, kak Zein sapa, ternyata dalam perjalanan pulang. Jadi kak Zein langsung berkemas pulang juga."


"Eh... jam berapa sekarang? Berarti Kak Zein belum tidur sama sekali?"


"Yaa tidur lah... tak ada kerja apapun selain tidur dari tadi. Lagipun sekarang dah masanya bangun, tahajud sayang. Bangun gih!" seru Zein ketika melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Masih jam tiga kurang, Kak... ntar aja dipasin jam tiga," tawar Annisa sambil memamerkan deretan gigi putihnya, "Oh ya Kak... gimana tesnya kemarin?" lanjutnya sambil memiringkan tubuhnya menghadap suaminya.


"Alhamdulillah... kak Zein diterima program magister di NUS. Emmm... Kak Zein ambil yang purnawaktu two years... Are you oke?" ucap Zein hati-hati.


"Cuma dua tahun kan? Masalahnya di mana?" tanya Annisa santai, tidak sesuai bayangan Zein kalau istrinya akan merajuk karena bakal ditinggal sibuk selama dua tahun.


"Yaaa... kak Zein kan bakal sibuk kuliah, belum pula musti pantau outlet kita di sana. Sepertinya takkan ada masa yang cukup untuk menemani anak dan istri kak Zein di sini..."


"Kak... bukankah kita uda discuss kemarin. Selama Ummah ngurus mas Ilham, Annisa bakal stay di sini. Bukankah itu lebih baik, dari pada Annisa harus sendirian di apartement mengurus anak-anak. Yang penting luangkan waktu tiap hari buat vc biar anak-anak tak lupa siapa bapaknya, juga tiap libur semester, Kak Zein harus pulang ke sini."


"Whaat! Tiap libur semester? No... no... no..." protes Zein karena diminta pulang tiap libur semester, yang membuat Annisa mengernyitkan dahi tak memahami protes dari suaminya tersebut.


"Tega kali istri akak ni... mana tahan kak Zein disuruh puasa satu semester, Diiiik... pokoknya kak Zein usahakan tiap bulan harus bisa datang... ehh... dua pekan sekali," tukas lelaki berdarah campuran antara Arab-Batak dari mamanya dan Cina-Jawa dari papanya tersebut.


"Iiiiih... Kak Zein mesuuuum!"


"Kalau kak Zein tak mesum, mana bisa ada Azyan dan Norish," balas Zein tersenyum sambil menaikturunkan kedua alisnya.


"Uda ah... yuk bangun... katanya mau tahajud," elak Annisa ketika Zein hendak memulai aksinya.


Duh, bisa berabe kalo dapat serangan fajar, mana ummah minta dikirim baju ganti pagi-pagi.


Zein pun tersenyum melihat tingkah Annisa yang belingsatan sendiri, baginya ada kepuasan sendiri tatkala berhasil membuat istrinya itu merona malu.


"Nanti lepas sholat subuh, buatkan sarapan nasi ya," pintanya mencoba menetralisir suasana. Annisa yang baru saja turun dari ranjang, menoleh dan mengernyit heran, tak biasanya suaminya itu sarapan nasi.


"Lapar sangat suamimu ini, dari siang tak ada masuk apapun," jelas Zein melihat keheranan perempuan yang ia sayangi itu.


**


Tepat pukul 03.20 WIB, lampu di atas pintu ruang operasi berhenti menyala. Padamnya lampu itu diikuti bergesernya pintu ruang operasi dan tampak di dalamnya empat orang berpakaian seragam berwarna hijau keluar dari ruangan sebelah kanan menuju ruang loker di sebelah kiri. Sementara tampak keluar dokter Yusuf sebelum pintu tersebut bergeser menutup kembali.


Pak Hadi yang sedari tadi duduk di ruang tunggu tak jauh dari pintu ruang operasi tersebut, serta merta berdiri mendekat pada dokter yang berjalan mendekat.


"Bagaimana operasinya, Dok?"


"Alhamdulillah, berjalan lancar, Pak Hadi."


"Alhamdulillah Yaa Allah..."

__ADS_1


"Maaf... saya permisi dulu, Pak," pamit dokter Yusuf sambil berlalu menuju ruang kerjanya. Rasa kantuk dan lelah yang sangat begitu terasa seusai menyelesaikan tugasnya di ruang operasi.


"Baik, Dok... silahkan."


Pak Hadi pun segera menghubungi bu Fatma dengan menelponnya. Setelah bertelepon dengan majikannya itu, pak Hadi beranjak menuju musholla rumah sakit.


Bu Fatma yang baru saja terbangun dan mendapat kabar tentang kelancaran operasi anaknya, merasa sangat bersyukur. Beliau kemudian beringsut bangun dari sofa, dan berjalan mendekati Yuana.


Dilihatnya Yuana sedang tidur dengan tenang, wajahnya sudah tidak sepucat tadi. Kemudian mendongak ke arah kantung darah dan infus yang tergantung, masing-masing tinggal seperempatnya saja.


"Yuana, ibu tinggal ke musholla dulu ya, sebentar lagi subuh. Kamu baik-baik saja ya," pamitnya bermonolog. Kemudian bu Fatma keluar ruangan dan berpamitan pada perawat yang bertugas di ruang jaga Lavender.


Di musholla, bu Fatma menumpahkan semua yang beliau rasakan saat ini, antara kesedihan dan rasa syukur bercampur aduk menjadi satu. Memperpanjang sujud terakhir dalam sholat sunnah merupakan cara terbaik menurut beliau untuk melangitkan segala harapannya, untuk anak-anaknya dan juga Yuana.


Selepas sholat subuh berjamaah dengan beberapa orang di musholla tersebut, bu Fatma bertemu dengan pak Hadi dan dokter Yusuf. Mereka bertiga berbincang sesaat di teras musholla.


Bu Fatma sangat bersyukur mendengar penuturan dokter Yusuf tentang kelancaran operasi Ilham, untuk beberapa waktu Ilham akan dirawat di ruang ICU kembali untuk observasi paska operasi sebelum dirawat di ruang rawat.


Sedangkan dokter Yusuf terkejut mendengar bahwa Yuana sekarang sedang dirawat di ruang Lavender karena baru saja mengalami keguguran.


Rasanya ingin saat itu juga ia berlari menghampiri Yuana, tapi ia menahan diri untuk melakukannya. Karena selain ia merasa sangat lelah dan mengantuk, ia juga memahami bahwa Yuana sedang dalam masa iddah, tidak bisa bertemu dengan orang yang bukan mahrom tanpa unsur darurat.


**


Setelah sarapan di awal waktu, Annisa, Zein dan Rahmat pergi ke rumah sakit. Sebenarnya Zein tidak berniat ikut, tapi karena Rahmat ada janji dengan Arief untuk melakukan pengecekan di perusahaan Ilham, sehingga mau tidak mau ia didapuk sebagai sopir kali ini.


Sedangkan anak-anak dipercayakan kepada Mbok Sari dan Rima. Berbagai ragam permainan edukatif telah disiapkan untuk Azyan dan Nabila, beberapa botol ASI perah untuk Norish juga tersedia di kulkas.


Annisa memang membiasakan diri menyediakan ASI perah sejak awal kelahiran Norish, karena rencananya setelah lepas masa ASI eksklusif, ia akan meneruskan kuliahnya.


Namun karena keadaan Ilham yang tidak terduga dan suaminya mendapat penawaran beasiswa tak penuh untuk program magister of science di NUS, maka ia memutuskan untuk menunda meneruskan kuliah..


Setiba di rumah sakit, mereka langsung menemui bu Fatma di ruang tunggu dekat ICU. Ilham kembali dirawat di ruang ICU setelah hampir satu jam berada di ruang transisi paska operasi.


Zein yang baru bertemu dengan bu Fatma segera mencium dengan takzim seraya membolak-balikkan tangan ibu mertuanya tersebut. Tentu saja disambut dengan senyum merekah dari bu Fatma, "Kamu datang, Zein?"


"Iya, Ummah... sudah rindu berat dengan putri Ummah ini," sahut Zein melirik Annisa yang berdiri di sampingnya.


Annisa yang paham dengan maksud terselubung suaminya itu hanya mencebik, kemudian menyerahkan sebuah kantung tas berisi baju ganti bu Fatma dan Yuana, "gimana operasi mas Ilham, Ummah?" alihnya.


"Alhamdulillah operasinya lancar, Nis. Anak-anak gimana?"


"Anak-anak aman, Ummah. Nisa heran... Bella kok sama sekali belum nanyain ayah ibunya ya?"


"Itu berarti dia merasa nyaman di rumah kita. Syukurlah kalau begitu. Oh ya... kalian di sini dulu ya... ummah ke ruangan Yuana dulu, sekalian mandi di sana."


"Ummah... Rahmat juga sekalian pamit. Arief sudah dalam perjalanan ke mari, biar Rahmat tunggu di depan saja," sela Rahmat sebelum bu Fatma beranjak pergi.


"Baik, Mat... tolongin adikmu ya, mudah-mudahan ndak ada masalah serius di perusahaan," balas Bu Fatma kemudian keduanya berlalu meninggalkan Annisa dan Zein berdua saja di ruang tunggu.


Sepeninggal ibu dan kakak sulungnya, Annisa duduk di bangku ruang tunggu tersebut diikuti suaminya yang duduk dengan mepetnya. Zein mengangkat tangannya kemudian meletakkannya di atas bahu istrinya dan berbisik.


"Sayang... boleh yaaa."


Annisa kaget dengan permintaan suaminya yang tidak tahu tempat itu, ia pun sontak menoleh.


cup

__ADS_1


"Alhamdulillah..."


__ADS_2