HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 18 AMAR SADAR


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Tiap hari Yuana datang ke rumah sakit untuk menjaga suaminya, berangkat pagi setelah sarapan dan pulang di sore hari agar Nabila tetap mendapat sentuhan kasih sayang dari ibunya. Sedangkan Bu Fatma dan Annisa bergantian menjaga Ilham setiap harinya bersama dengan Yuana.


Sedangkan untuk malam hari bergantian Pak Hadi dan Mbok Sari yang berjaga walaupun tidak sampai menginap, jam sepuluh biasanya sudah pulang ke rumah.


Tak ketinggalan pula peran Arif yang semakin dibutuhkan oleh Bu Fatma untuk mengurus semua urusan perusahaan Ilham, ia sering mondar-mandir antara kantor, rumah Ilham ataupun ke rumah sakit.


Sudah seminggu belum ada perubahan berarti pada kondisi Amar dan Ilham. Walaupun ada beberapa kali respon atau gerakan kecil pada jemari tangan dan bola mata serta angka pada monitor pendeteksi tanda vitalnya semakin mendekati normal, namun Amar belum sadarkan diri dari komanya.


Yuana juga mulai menerima takdir yang harus ia jalani, tak ada lagi air mata yang mengalir ketika ia mendampingi suaminya. Ia meyakini bahwa jika Amar tahu ia kuat maka Amar pasti juga mau berjuang untuk kembali pada istri dan anaknya.


Sering kali Yuana memanggil nama suaminya, sesekali saja nampak sedikit gerakan pada bola mata yang terpejam itu. Tapi menurut dokter Sinta itu hanyalah gerakan reflek saja, bukan respon pada rangsangan yang ia terima.


Segala usaha terbaik telah dilakukan oleh tim dokter di rumah sakit tersebut demi kesembuhan Amar. Lantunan doa serta sholawat yang selalu membasahi bibir Yuana. Tak henti-henti ia membaca sholawat syifa', atau yang sering disebut sholawat thibbiyah atau thibbil qulub, untuk kesembuhan suaminya.


Allahumma sholli 'alaa Sayyidinaa Muhammadin thibbil qulubi wa dawaa iha


wa 'aafiyatil abdaani wa syifaa ihaa wa nuuril abshoori wa dliyaa iha wa ’alaa aalihi wa shohbihi wa barik wa sallim.


Ya Allah limpahkanlah kesejahteraan atas baginda kami Nabi Muhammad yang merupakan obat dan penyembuhan hati kami, penyehat dan penyelamat badan, yang merupakan cahaya dan sinar penglihatan dan yang merupakan penjamin kesehatan jasmani dan rohani akan kebutuhan makanan dan juga tumpahkan kesejahteraan itu atas keluarga dan sahabat-sahabatnya dan berilah keselamatan.


Dengan bacaan sholawat tersebut, Yuana berharap Allah Subhaanahu wa Ta'ala segera memberikan kesembuhan kepada suaminya dan ketenangan di dalam hatinya.


Sementara Ilham kondisinya tidak semakin membaik, meskipun ia sudah lebih sering merespon panggilan bahkan sesekali menjawab pertanyaan baik dari dokter ataupun Annisa dan Bu Fatma. Perutnya mulai terasa mengeras dan sedikit membesar.


"Apa tidak ada cara lain untuk menyembuhkannya?" tanya Rahmat pada profesor Diyono.

__ADS_1


Baru hari ini ia bisa datang menjenguk Ilham dan Amar, keduanya merupakan adik yang ia sayangi. Ilham adalah adik kandungnya, sedangkan Amar adalah teman sekamarnya waktu menjadi santri di pondok milik Kyai Marzuqi dan sudah ia anggap adiknya sendiri.


"Sirosis itu tidak bisa disembuhkan, kita hanya bisa mengobati agar tidak lebih parah saja. Dan adikmu ini sudah parah kalau tidak segera dilakukan transplantasi, saya pastikan waktu yang dia punya tidak akan lama. Kalaupun nanti ia bisa menjaga kondisi tubuhnya, kemungkinan untuk menjadi kanker sangat besar dan akan menjalar ke mana-mana. Jadi satu-satunya jalan untuk menyelamatkannya ya harus transplantasi," jawab profesor Diyono dengan lugas.


"Ya sudah kalau itu jalan yang terbaik untuk Ilham, lakukan saja Prof... Apa sebaiknya dibawa ke Singapura saja, Prof.," ujar Rahmat.


"Sebenarnya di sini juga sudah bisa dilakukan operasi transplantasi, baik tim maupun peralatan semua kita sudah siap. Untuk Ilham, kita hanya menunggu persetujuan pasien dan menemukan pendonor yang tepat saja. Di Singapura juga bisa, kemarin saya sudah kirimkan hasil biopsi hati Ilham ke Dr. Tan Kai, sayangnya belum ada donor kadaver yang cocok untuk Ilham."


"Trus sebaiknya bagaimana Prof.... saya ingin Ilham bisa segera tertangani," gusar Rahmat.


"Sebaiknya sekarang cari dulu saja, anggota keluarga yang bisa menjadi pendonor. Semakin cepat semakin baik agar bisa segera diperiksa kecocokannya."


"Baiklah... kalau begitu, saya akan diskusikan ini dulu dengan Ilham juga keluarga. Saya permisi dulu Prof, selamat siang," pamit Rahmat.


"Assalamu'alaikum Yuana... apa kabar?" sapanya.


"Wa 'alaikumussalam wa rohmatullah... Pak Rahmat?!" jawab Yuana. Yuana yang terkejut dengan kehadiran Rahmat, segera berdiri sambil memasukkan tasbih yang ia pegang ke dalam saku sebelah kanan gamisnya. "Alhamdulillah saya baik Pak," lanjutnya.


"Bagaimana Amar?"


"Secara fisik, kondisi Mas Amar alhamdulillah membaik Pak, tapi masih koma, karena mengalami gegar otak berat."


"Maaf ya... gara-gara harus mengantar Ilham, Amar jadi mengalami kecelakaan," ucap Rahmat penuh penyesalan.


"Pak Rahmat kenal Mas Ilham?"

__ADS_1


"Kamu ini bagaimana sih... apa Amar tidak pernah cerita soal Ilham?!" seru Rahmat sambil mengambil duduk di bangku yang berhadapan dengan Yuana duduk tadi.


"Tidak pernah Pak. Memangnya Mas Ilham siapanya Pak Rahmat?" Yuana balik bertanya sambil duduk kembali ke tempat semula ia duduk.


"Ilham itu adikku. Dulu memang ia tidak ikut mondok, tapi sering tabarukan ke Kyai Marzuqi, makanya jadi akrab dengan Amar. Mungkin Amar kira Ilham masih di luar negeri."


"Masya Allah... jadi Pak Rahmat kakaknya kak Annisa juga?"


"Lhaaa... kamu malah kenal Annisa."


"Iya, kak Annisa dulu kakak kelas Yuana di SMK. Bener kata kak Anisa... sempitnya dunia, hehe," seloroh Yuana mengingat ucapan Annisa saat pertama kali mereka bertemu di tempat ia duduk sekarang.


"Ya sudah, kalau begitu saya masuk melihat Ilham dan Amar dulu ya," Rahmat bangkit dari duduknya dan pamit untuk menuju ruang ICU.


Yuana melihat jam yang tertempel di dinding ruang tunggu itu, waktu menunjukkan pukul setengah dua belas siang.


'Sebentar lagi dhuhur,' pikirnya, ia pun bangkit berniat untuk pergi ke kantin terlebih dahulu sambil menunggu datang waktu dhuhur. Ketika berjalan menuju kantin, ia berpapasan dengan dokter Yusuf, hanya saja karena berjalan menunduk, ia tidak melihatnya. Sedangkan dokter Yusuf yang baru menyadari telah berpapasan dengan Yuana menghentikan langkahnya. Hanya bisa menatap sambil meraba detak jantungnya. Bibirnya terasa keluh bahkan hanya untuk sekedar menyapa.


Siang ini Yuana mengisi perutnya dengan seporsi bakso dan segelas jus alpukat. Saat hendak menyendok bakso tiba-tiba airmatanya mengalir. Ia tidak sadar kalau tadi ternyata ia mengambil 'gorengan mekar' kesukaan suaminya, padahal kesukaannya sendiri adalah 'gorengan bulat'. Hal itu mengingatkan dirinya pada Amar ketika mereka makan bakso bersama.


"Mas..." lirih Yuana memanggil suaminya. Ia tutup mulutnya, sesenggukan berusaha menahan tangis. Setelah hatinya sedikit tenang, perlahan ia berusaha menghabiskan makanannya. Kemudian Yuana pergi ke musholla rumah sakit untuk menunaikan sholat dhuhur.


Dengan sentuhan air wudlu dan kekhusyukan sholat, hati Yuana terasa lebih tenang, dan ia pun berjalan kembali ke ruangan tempat suaminya dirawat. Ketika hendak masuk ke dalam ruangan, tiba-tiba Bu Fatma yang baru keluar ruangan memeluk Yuana.


"Yuanaaa... Yuana...Amar... Amar sadaaar," seru Bu Fatma dengan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2