
Sehari setelah kepulangan Ilham ke rumah utama. Bu Fatma adalah yang paling antusias menyambutnya. Ia meminta Mbok Sari untuk memasak berbagai masakan kesukaan Ilham, seperti lupa bahwa anak kesayangannya itu harus diet ketat demi pemulihan paska transplantasi hati.
"Hahaha... Ummah, kita ini cuman mau sarapan lho. Kenapa ini sudah seperti meja prasmanan resepsi pernikahan gini?" Ilham menertawakan keribetan ibunya menyajikan semua masakan di meja makan.
"Lho, ini kan dalam rangka menyambut kepulangan anak kesayangan ummah. Ya harus dirayakan dong, ini semua makanan kesukaanmu lho," sahut Bu Fatma sambil merapikan tatanan bakwan jagung.
"Ummah mau menyambut Ilham apa mau menyiksa sih sebenarnya?" sambil merangkul bahu ibunya dan mencomot bakwan jagung yang masih panas itu.
"Hush, kamu ini!" Bu Fatma menepuk tangan Ilham yang berada di bahunya, "pokoknya dalam seminggu ini semua harus sempat sarapan dan makan malam bersama, Arief juga, bilangin kalau bisa sarapan di sini."
"Siap, Yang Mulia. Pangeran Ilham akan melaksanakan semua titah Sang Ratu," ucap Ilham seraya membungkukkan badannya.
"Pangeran... Pangeran kodok!" seru Annisa yang baru bergabung di ruang makan.
"Tunggu saja, sebentar lagi pangeran kodok ini akan jadi pangeran tampan yang akan menyilaukan seantero rumah ini. Karena tuan putri sudah mulai kelihatan bayangannya."
"Bwahahahhaa... Baru klihatan bayangan aja uda sepede ini. Dasar pangeran kodok, haha. Aaaaaa! Ummah, Mas Ilham!" Annisa yang tertawa terbahak-bahak, berteriak kesakitan saat Ilham tiba-tiba memiting badan dan menjewer telinganya.
"Ilham... malu dilihat anak kecil," ujar Bu Fatma seraya melirik ke arah pintu masuk ruang makan.
Ilham pun segera melepas Annisa dan sibuk merapikan dirinya, saat tahu di ambang pintu berdiri dengan tersenyum manis, Yuana yang menggandeng Nabila.
Namun senyuman manis itu langsung lenyap berganti wajah kikuk begitu tahu Ilham menatapnya. Yuana langsung saja berjalan ke arah dapur menghampiri Bu Fatma yang sedang mencicipi masakan Mbok Sari.
Ilham menyadari jika Yuana tentulah masih canggung terhadapnya, juga malu karena dua kejadian kemarin. Tapi melihat ekspresi malu dari Yuana sangatlah menyenangkan bagi Ilham, ada semacam bunga-bunga yang bermekaran dalam hatinya. Ingin menggodanya lagi, tapi ada Annisa yang bisa saja heboh jika mengetahui perasaannya saat ini.
"Nabila, duduk sini sayang," akhirnya Ilham mengalihkan perhatiannya pada Nabila. Bersamaan dengan Azyan yang datang bersama dengan Zein yang menggendong Norish.
"Assalamu'alaikum, Mas," sapa Zein pada kakak iparnya itu.
"Wa 'alaikum salam. Eh, Zein... kamu juga datang?"
"Iya, Mas. Rindu sama anak-anak. Sementara ada dua hari holiday, lusa dah busy lagi untuk presentation."
Annisa mengambil alih memangku Norish setelah menarik kursi untuk ditempati Zein dan Azyan.
"Mas Ilham kapan mulai ngantor? Kemarin permintaan top grain banyak banget lho, Mas. Arief sampai kalang kabut cari mentahannya. Besok juga ada meeting sama orang Ayoni, bahas motif baru katanya."
Sementara Annisa terus bercerita keadaan perusahaan, Ilham hanya diam mendengarkan. Belum terpikirkan baginya kapan akan kembali ke perusahaan. Kondisi tubuhnya paska transplantasi juga belum ia ketahui sudah bisa kembali ke pabrik atau tidak. Ia belum sempat mengkonsultasikan hal itu dengan dokter.
"Ini anak, jangan bahas kerjaan di meja makan kenapa. Masmu juga harus konsultasi dulu dengan dokter, kondisi pabrik kan sangat rentan buat masmu ini, sementara kamu yang handle gak masalah kan?"
"Iya, Ummah. Tapi dua hari ini aku boleh ambil cuti kan. Family time nih," jawab Annisa sambil menyandarkan dirinya ke lengan Zein.
"Ya, terserah kau saja. Yang jelas Ilham jangan ke perusahaan dulu sebelum ada rekomendasi dari dokter. Gimana kalau nanti kita ke dokter, Ham."
__ADS_1
"Iya, Ummah. Ilham juga sekalian waktunya kontrol."
"Baiklah. Ayo... Ayo kita sarapan dulu," Bu Fatma pun mempersilahkan semua untuk sarapan setelah semua masakan sudah tersaji memenuhi meja makan.
Alangkah bahagianya Bu Fatma, melihat anak dan cucu dalam keadaan sehat dan akrab seperti saat ini.
"Yaa Allah, berkahilah mereka semua."
Setelah sarapan, semua bersiap untuk kegiatan masing-masing. Annisa sudah menyusun kegiatan dua hari ini secara penuh untuk mengisi family time kali ini. Ia harus membangun waktu kebersamaan yang berkualitas dengan Zein, terutama bagi anak-anaknya yang terhitung masih dalam usia keemasan.
Yuana yang sebelumnya berencana pergi ke rumah Pak Samuel untuk menanyakan perencanaan renovasi pabrik lalu lanjut bertemu dengan manager bank, diurungkannya. Ia sudah menghubungi customer servis yang kemarin membuatkan janji temu untuk dibatalkan. Ia memutuskan menemani Nabila saja di rumah dua harian ini.
Pagi ini Yuana mengajak Nabila untuk bermain di taman, dengan bantuan Rima, sekalian ia akan merapikan pucuk-pucuk tanaman yang mulai tumbuh liar dan membersihkan dedaunan kering.
Nabila sangat bersemangat berada di tengah-tengah taman yang indah itu. Rupanya ia meniru ibunya yang menyukai bebungaan. Apalagi ketika ia menemukan kupu-kupu, belalang atau capung hinggap di bunga-bunga itu. Ia dengan penuh semangat berlarian mengikuti ke mana saja serangga bersayap itu terbang.
Sesekali Yuana berkacak pinggang ketika Nabila yang berlarian menabraknya, lalu berganti mengejar sampai anak itu menjerit-jerit karena hampir tertangkap. Sesekali pula Yuana berteriak agar Nabila jangan berlarian di dekat pinggir kolam renang yang belum terisi dengan air.
Semua tak luput sedetik pun dari pandangan Ilham di atas balkon kamarnya. Balkon kamar Ilham adalah satu-satunya akses dari dalam rumah utama yang bisa melihat taman secara keseluruhan.
Berdegub hangat dalam dada Ilham menyaksikan Yuana dan Nabila dalam taman itu. Ada senyum tersungging yang tak dapat ia kendalikan dari bibirnya.
Ia teringat libur semester pertama kuliah magisternya. Ia yang waktu itu iseng berbisnis dengan rekanan baru di negara tempat ia belajar, mendapat keuntungan yang sangat besar. Dengan suka cita ia pulang ke rumah yang baru dibeli dan ditinggali oleh abah Haikal di Telaga Golf itu. Dengan keuntungan bisnis isengnya itu, Ilham bisa membeli rumah tepat di sebelah rumah abah Haikal.
Dalam pikirannya membeli rumah itu adalah invest jangka panjang bagi dirinya. Jika kelak menikah, ia bisa membangun rumah di situ, bersebelahan dengan rumah orang tuanya. Bukankah itu sempurna?
Sampai kemudian ia dihubungi oleh Amar, setelah sekian bulan tak ada kabar. Bahwa Amar terpaksa harus menikah dengan Yuana, tanpa penjelasan apapun kenapa dibilang terpaksa. Dan itu membuat Ilham sangat kecewa pada Amar.
Namun kemudian ia berpikir, itu bukan sepenuhnya kesalahan Amar. Bukankah Amar pernah memintanya unyk memperkenalkan diri kepada Yuana atau orang tua Yuana? Dan ia memilih untuk tetap menjadi pengagum rahasia sampai batas waktu yang ia tetapkan. Ia yang lupa akan takdir Allah yang tak dapat ia tawar seenak hatinya.
Ia pun dengan rela melepas Yuana dengan mewanti-wanti supaya Amar bisa membahagiakan Yuana lebih dari yang bisa ia lakukan. Dan ia pun mencoba melupakan Yuana dengan menerima kehadiran Cathrine. Apapun ia lakukan demi bisa membahagiakan Cathrine, berharap Yuana pun akan mendapat kebahagiaan yang sama.
Cathrine yang lemah lembut, yang memiliki kesopanan jauh daripada rekan-rekan sesama modelnya. Yang penuh perhatian dan pandai memasak, membuat Ilham tak berpikir panjang lagi berniat menikahi Cathrine begitu lulus kuliah. Bahkan Cathrine pun katanya rela pindah keyakinan menjelang pernikahan itu, asal Ilham membuatkan taman bunga seperti dalam dunia dongeng kesukaan Cathrine. Dan itu pun langsung diwujudkan oleh Ilham, dengan membangun sebuah taman di tanah yang ia beli sebelumnya itu.
Namun sayang, demi menikahi Cathrine, ia harus berselisih dengan abah Haikal. Yang tidak pernah Ilham ketahui bahwa perselisihan itu menyebabkan ayahnya itu jatuh sakit dan meninggal tak lama kemudian. Karena ia sendiri tak sadarkan diri hingga koma selama kira-kira sebulan tepat di hari seharusnya ia mengucap ijab kabul.
Ah, itu adalah kebodohan terbesar dari sekian kebodohan yang ia lakukan. Bodoh... Bodoh... Bodoh... Hanya itu yang bisa ia katakan pada dirinya sendiri saat ini.
Ilham menegakkan diri setelah sekian lama ia membungkukkan badan berpangku tangan pada pagar balkon. Ia mengusap-usap kasar wajahnya, berharap ia segera bangun dari buaian kebodohannya selama ini.
"Pasrah pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Percayalah, semua yang telah terjadi tidak lepas dari takdir Allah. Jangan terlalu membebani diri dengan penyesalan, fokuslah menatap masa depan. Jalani saja apa yang bisa kau jalani hari ini."
Terngiang nasihat dari Gus Bahtiar, menjelang kepulangannya dari pondok rehabilitasi kemarin. Teringat pula bagaimana ia harus beradaptasi dengan kehidupannya yang sekarang. Ia yang setiap hari harus mengonsumsi obat penekan sistem kekebalan tubuh, mau tidak mau harus menjaga kebersihan dan kesterilan di mana pun tempat ia berada. Bagaimana ketatnya protokol kesehatan yang ia jalani di panti rehabilitasi.
Bagaimana mungkin ia lupa akan hal itu. Kenapa ia sembrono dengan sembarangan memesan taksi online kemarin. Bagaimana kalau ada virus dari penumpang lain yang tertinggal di dalam kabin mobil?
__ADS_1
Bagaimana dengan rumah ini? Apakah sudah terjamin kesterilannya? Maka ia pun segera masuk ke dalam kamar, memeriksa tiap sudutnya. Bersih, bahkan aroma karbol bercampur lavender masih bisa ia cium baunya. Seprai, ia yakin Mbok Sari baru menggantinya kemarin begitu tahu ia pulang. Ah, aman.
Berbaring telentang menatap langit-langit kamar. Mencoba mengingat kembali.
Ia kemarin juga pergi ke mall bersama sambil menggendong Nabila. Ia juga pergi ke makam dan restoran dengan Arief.
Yuana? Bukankah kemarin ketika terjatuh, Yuana baru saja selesai menata rumput sintetis? Bagaimana jika ada banyak kuman yang menempel saat itu? Apakah aku harus bertanya? Ah, nanti ia makin tersinggung. Tapi bukankah tadi ia sehat-sehat saja?
Hampir satu jam Ilham sibuk berpikir di dalam kamar dengan berbagai kekhawatiran berkecamuk dalam pikirannya.
"Jangan stres! Seberapa besar dan banyak permasalahan yang kamu hadapi, jangan sampai stres. Tenangkan dirimu. Fokuuus, selesaikan satu persatu." Pesan dari Dokter Luailik pun terlintas dalam ingatannya.
Oke... Yang telah terjadi kemarin tidak mungkin dapat ia ulang kembali. Ilham menarik bawah kaos singlet yang ia pakai hingga terlihat kulit perutnya.
Ia raba bekas luka jahitan yang memanjang membentuk kurva lengkung di perut bagian kanan atas tersebut. Masih terlihat jelas meskipun tidak ada keloid yang timbul. Tidak terasa nyeri juga, hanya lebih sensitif saja rasanya. Setelah ia perhatikan ternyata ada sedikit kemerahan tipis hampir di sepanjang garis bekas sayatan itu, padahal sebelumnya tidak ada.
Ia harus segera ke dokter untuk konsultasi. Jangan pernah mengabaikan gejala sekecil apapun.
Diraih handphone di atas nakas. Belum sempat tombol panggil tersentuh, panggilan seluler dari Arief masuk.
"Pak, satu jam lagi saya jemput. Saya juga sudah hubungi ibu."
"Tetap yang terbaik kamu, Rief. Terima kasih ya."
"Sudah tugas saya, Pak."
Tepat satu jam berikutnya, Arief sudah duduk di kursi teras menunggu Ilham turun. Bu Fatma tampak sedang memberi instruksi kepada Mbok Sari apabila Pak Hadi datang membawa petugas yang akan mensterilkan rumah dan sekitarnya. Sedangkan Yuana dan Nabila yang diajak serta oleh Bu Fatma tampak baru datang di garasi dari arah belakang.
Ilham yang baru turun dari tangga sedikit heran melihat Yuana dan Nabila melintasi depan pintu samping yang sedikit terbuka. Apakah mereka akan ikut ke rumah sakit? Tapi untuk apa?
Yuana dan Nabila hanya ikut bareng sampai mall depan perumahan saja. Yuana akan mengajak Nabila berjalan-jalan selama rumah masih dalam proses pensterilan.
Dan ternyata semua memang sudah direncanakan dengan rapi oleh Arief, bahkan semua sudah ia susun bersama Bu Fatma jauh-jauh hari begitu mendengar rencana kepulangan Ilham.
Sesampainya di rumah sakit, Ilham dan Bu Fatma langsung masuk ke ruang dokter Bastian yang sudah menunggunya. Sementara Arief langsung pergi ke tempat janji temu meeting.
Dokter Bastian membaca CPPT (Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi) atas nama Ilham Adelio. Lalu meminta asistennya untuk melakukan medical check up kepada Ilham terlebih dahulu.
Sambil menunggu hasil medical check up keluar, Ilham mengkonsultasikan keadaan dirinya saat ini. Untuk memastikan warna kemerahan di hampir sepanjang bekas jahitan, dokter Bastian melakukan USG untuk melihat arteri, vena, ligamen serta kemungkinan kelainan yang dapat menyebabkan komplikasi.
Kemudian datang asisten sang dokter menunjukkan hasil medical check up tadi. Tekanan darah 116/90, kolesterol 4,0 (normal 2,4-5,7), SGOT 21, SGPT 12 (tidak boleh melebihi 42), gula darah 4,8 (normal 3,9-6,1), semua menunjukkan standar kesehatan yang prima.
"Alhamdulillah, semua normal, bekas jahitan juga aman, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Usahakan jangan mengangkat beban yang berat, olahraga ringan dulu saja. Sambungan pembuluh sekitar liver juga sudah menyatu dengan sempurna. Seperti harapan kita semua. Selamat Ilham, kehidupan new normal sudah bisa dimulai. Tapi tetap jaga protokol kesehatannya, AFK jangan sampai telat, minimalisir terinfeksi virus apapun. Tidak ada pantangan makanan, tapi harus dikontrol kalorinya, kurangi lemak. Sepertinya sudah saatnya ada istri yang cerewet di sisinya."
Binar kelegaan tergambar jelas di wajah Ilham, "new normal."
__ADS_1