HATI SUAMIKU

HATI SUAMIKU
part 46 ADAPTASI


__ADS_3

Ilham sudah pasrah mengenai Yuana yang bakal tahu sisi terlemah dalam hidupnya. Jadi ketika Arief meletakkan dan membuka lalu menjelaskan dokumen kerjasama yang berisikan pengangkatan Yuana sebagai asisten pribadi dan segala hal yang berkaitan dengan itu, termasuk penjelasan job deskripsinya, Ilham hanya diam menyaksikan.


Ia hanya mendesah ketika tahu sebegitu mendetailnya uraian job deskripsi yang dibacakan oleh Arief. Soal obat-obatan, masih oke lah. Soal makanan, hah, apakah tidak berlebihan? Dokter saja mengatakan tidak ada pantangan.


Mereka saat ini berada di ruang kerja Ilham yang berada di samping ruang tamu. Ilham duduk di kursi kerjanya dengan kaki diselonjorkan di bawah meja, kaki kiri menumpu di atas kaki kanan. Ia goyang-goyangkan kaki hingga kursi yang ia duduki memutar ke kanan dan ke kiri. Kedua tangan saling terkait di depan dada dengan kedua siku menumpu di sandaran tangan kursi.


Di seberang sana terdapat satu set sofa yang dibatasi jarak sepanjang rak buku. Sebuah sofa single di sebelah rak buku dan sofa panjang tepat berhadapan dengan Ilham duduk sekarang.


Arief duduk di sofa single sedangkan Yuana duduk di tengah sofa panjang. Bu Fatma tidak ikut bergabung kali ini, beralasan lelah dan menyerahkan semua pada Arief. Toh beliau juga sudah membubuhkan tanda tangan di dokumen itu sebagai ketua komisaris. Menandakan bahwa pertanggungjawaban tugas Yuana adalah langsung kepada Bu Fatma bukan kepada Ilham. Yuana menegakkan tubuhnya ketika melihat tanda tangan Bu Fatma tersebut.


Lalu ketika membahas detail protokol kesehatan Ilham jika berada di luar rumah, Yuana menggeser duduknya ke tepi sofa lebih mendekat ke arah Arief. Tujuannya agar bisa ikut membaca dengan detail rinciannya. Tubuh yang sama-sama condong ke depan membuat kedua seperti sangat dekat dan akrab.


Sekonyong-konyong Ilham tak dapat mendengar pembicaraan keduanya, seolah muncul asap panas mengitari tubuhnya. Hanya terdengar gemuruh dari dalam dadanya.


Ilham hanya mampu mencengkeram hingga ujung-ujung jarinya memutih. Tatapannya hanya fokus kepada Yuana yang terlihat serius membaca dan membahas dokumen dengan sesekali tersenyum dan tertawa.


Lalu melihat tangan Yuana yang mengulur indah ke arah Arief, menerima pena dari tangan Arief dan menorehkannya ke kertas dokumen tadi. Ilham sudah tidak tahan lagi.


Brakk!


"Apa kalian sedang pacaran, hah?!"


Tentu saja Yuana dan Arief kaget dengan sikap Ilham, apalagi mendapat tuduhan seperti itu.


"Kenapa diam? Jadi benar, kau sengaja menempatkan Yuana menjadi asisten pribadiku agar selalu dekat dengan kamu," mendapati Arief yang diam tidak menyangkal, membuat Ilham menjadi geram dan berpikiran buruk.


Ilham mengeluarkan handphone dari saku kiri celananya, membuka layar dan menggulir layar notifikasi lalu membacanya.


"Tujuh belas panggilan tak terjawab, dari semalam sampai pagi tadi. Sebegitu kamu merindukan Yuana, Rief?"


Arief yang sama sekali tidak terpikir jika Ilham memegang telepon genggam Yuana yang kemarin hilang, dan terkejut dengan sikap Ilham yang tiba-tiba menuduhnya, membuatnya tak dapat berpikir dengan jernih. Ia terdiam memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Loading.


Namun Yuana yang melihat Ilham membawa telepon genggamnya, spontan saja berdiri dan berlari ke arah Ilham. Berusaha merebut handphone itu dari tangan Ilham.


"Jadi Mas Ilham yang mengambil hapeku. Mana, kembaliin!"


Arief yang mulai menyadari situasi hanya bisa menggelengkan kepala. Ia segera membereskan dokumennya, memasukkan ke dalam tas kerjanya, meninggalkan satu bendel dokumen yang harus dipegang Yuana.


"Maaf... Saya permisi dulu, karena ada meeting yang harus saya hadiri," pamit Arief meninggalkan ruangan tanpa menutup pintunya diiringi tatapan dari Yuana dan Ilham.


"Aduh, kenapa Mas Arief keburu pergi sih. Mana hapeku masih dipegang Mas Ilham," batin Yuana.


"Huh, baru sadar diri Si Arief," Ilham pun merutuk dalam batinnya.


Melihat kepergian Arief membuat Ilham sedikit lengah, handphone yang berada di tangannya berhasil diraih oleh Yuana. Reflek untuk merebut kembali tetapi handphone sudah terpegang sempurna di tangan Yuana, walhasil yang teraih oleh Ilham justru tangan Yuana. Berdegub kencang dalam dada diikuti kedutan halus di ulu hatinya, merasai kulit halus dan lembut tangan itu.


Yuana menemukan sorot mata yang berbeda dari Ilham. Tak ingin terjadi sesuatu dalam hatinya, maka ia segera menarik tangannya lalu kembali ke sofa, diambilnya dokumen yang ditinggalkan Arief untuknya.


"Saya bekerja mulai besok, ini akan saya pelajari dulu," ucap Yuana sambil melambaikan dokumen di tangannya lalu cepat-cepat keluar dari ruang kerja Ilham.


Ilham mengusap-usap wajahnya dengan frustasi, semua kekacauan ini akibat kebodohannya sendiri. Semua yang ia rancang dalam angan-angannya kala remaja ambyar begitu saja. Mimpi indah yang ia rajut sejak bertemu gadis kecil bernama Yuana harus ia kubur karena kebodohannya.

__ADS_1


Dan kini ia bertemu dengan Yuana lagi, apakah ia layak untuk merajut mimpi lagi? Sementara hidupnya sudah tidak sempurna lagi, bahkan untuk sekedar berharap berumur panjang saja ia tidak berani. Setahun, dua tahun, lima tahun, sepuluh tahun?


Dengan lemas Ilham duduk kembali di kursi kerjanya. Merenungi tentang banyak hal yang terjadi pada hidupnya hingga sampai di titik sekarang ini. Ia meraba bekas operasi di perutnya.


Dua kali berada dalam ambang kematian, koma akibat overdosis psikotropika, dan mengalami sirosis hati akibat konsumsi alkohol berlebih. Semua terjadi karena kebodohannya.


"Bodoh, bodoh, bodoh!"


Berkali-kali ia merutuki dirinya sendiri. Namun kemudian ia menyadari, bahwa semua tidak lepas dari takdir Allah. Semua sebab akibat yang ia alami merupakan sunnatullah. Setiap kesalahan pasti ada konsekuensi yang harus ditanggungnya.


"Astaghfirullahal'adziim wa atuubu ilaih, astaghfirullahal'adziim wa atuubu ilaih, astaghfirullahal'adziim wa atuubu ilaih..."


Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung dan aku bertaubat kepada-Nya.


Tak terasa air mata menetes lalu meleleh membasahi pipinya. Ia telungkupkan wajahnya ke meja berbantalkan kedua lengannya. Sambil terus beristighfar memohon ampunan dari Yang Maha Kuasa.


Sementara itu di paviliun.


Yuana yang kembali ke paviliun seorang diri karena Nabila sedang asyik bermain menyusun balok, mendudukkan dirinya di sofa. Lalu ia membuka layar telepon genggam yang akhirnya ia pegang lagi. Ia membuka laman pencarian dan mencari informasi tentang transplantasi hati.


Sebelumnya ia hanya mendengar sepintas lalu tentang kondisi Ilham dan ia sama sekali tidak begitu tertarik untuk mencari tahu lebih jauh. Namun sekarang ketika ia diminta untuk menjadi asisten pribadi untuk Ilham terkait dengan pola hidup yang harus dijalani Ilham, maka mau tidak mau ia harus mempelajarinya dengan seksama.


Banyak hal yang ia dapatkan dari membaca berbagai artikel yang berkaitan dengan transplantasi hati. Mulai dari penyebabnya, prosedur pelaksanaannya, tentang pendonor dan resipiennya, perawatan dan pola hidup paska operasi, serta berbagai testimonial orang-orang yang sukses menjalani operasi transplantasi hati.


Membaca dengan seksama perihal perubahan gaya hidup dan pola makan yang diperlukan paska transplantasi hati lalu menyinkronkan dengan daftar yang telah disusun oleh Arief di dokumen kontrak yang ia pegang sekarang.


"Yaa Allah, kasihan sekali Mas Ilham. Berikanlah kekuatan dan kesabaran padanya. Pantas saja Bu Fatma bersikeras mencarikan asisten pribadi untuk Mas Ilham, ternyata keberlangsungan hidup Mas Ilham kuncinya di kedisiplinannya menjaga pola hidup."


Ia buang jauh-jauh rasa jengkel, kesal, takut dan malu pada Ilham yang ia rasakan kemarin-kemarin.


Tak terasa waktu berlalu, seminggu, dua minggu, masa adaptasi bagi Yuana dan Ilham untuk menyelaraskan kebiasaan barunya. Yuana merasa seperti memiliki anak kedua, yang sangat membutuhkan perhatian dalam hal kedisiplinan.


Anak pertama adalah Nabila yang memang butuh bimbingan selayaknya anak-anak seusianya, sedangkan anak kedua adalah Ilham, yang butuh untuk selalu diingatkan kapan harus minum obat, kapan harus istirahat, makanan apa yang boleh ia makan dan sebagainya.


Dengan beranggapan memiliki dua anak, Yuana merasa bebannya sedikit berkurang. Ketika Ilham gencar menggodanya, atau ketika Ilham merajuk dan merepotkannya, atau juga ketika Ilham justru lempeng jadi anak yang penurut. Semua dijalani Yuana dengan hati yang ringan, sebagaimana ia menghadapi Nabila selama ini.


"Kalau supnya sudah habis, obatnya jangan lupa diminum ya, Pak Ilham," wanti-wanti Yuana sambil meletakkan sebuah tatakan kecil yang terdapat tiga buah tablet obat di atasnya.


"Panggil pak lagi, obatnya ndak saya minum. Bosmu itu Bu Fatma, bukan saya," ucap Ilham datar tapi terdengar sedikit ketus.


"Baik, Mas Ilham, jangan lupa diminum obatnya ya. Istirahat dulu paling tidak setengah jam sebelum melanjutkan pekerjaan lagi, saya permisi," balas Yuana dengan sabar dan diiringi senyuman yang manis.


Atau...


Ketika Ilham hendak mengambil lagi pisang goreng limpang-limpung kesukaannya, piring yang berisi pisang goreng tersebut diambil oleh Yuana dan dijauhkan dari jangkauan Ilham.


"Satu lagi ya, Bunda. Please..." Ilham memasang wajah memelas seraya menangkupkan kedua telapak tangannya, memohon kebaikan hati Yuana, menirukan trik yang digunakan oleh Nabila jika sedang memohon sesuatu.


"Cukup dua aja ya, Nak. Sudah berlebih itu minyaknya," jawab Yuana dengan santainya, karena tadi Ilham sudah berjanji hanya akan mengambil dua saja.


Annisa sampai terbahak-bahak menyaksikan drama pisang goreng tersebut. Bagaimana Yuana menyebut seorang Ilham dengan kata "Nak" tanpa membuat Ilham tersinggung atau marah.

__ADS_1


Awalnya tidak mudah bagi keduanya. Yuana yang tiba-tiba harus mengatur dan mengontrol kehidupan seorang laki-laki dewasa yang baru dikenalnya dan Ilham yang bersusah payah menekan perasaannya pada Yuana yang selalu ada di depan matanya dalam kesehariannya.


Namun seiring waktu semua terasa biasa saja bagi keduanya. Mereka sudah selayaknya kakak beradik yang selalu kompak tak terpisahkan, dengan tetap mengindahkan bahwa mereka bukanlah mahrom. Yuana mendampingi Ilham mulai sarapan sampai makan malam, sambil tetap menjalani kehidupannya sendiri sebagaimana sebelumnya.


Ada kalanya Ilham harus pergi keluar rumah, entah untuk urusan bisnis atau sekedar berjalan-jalan menghilangkan kejenuhan. Maka Yuana dengan sigap selalu memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh Ilham.


Dan ia harus memastikan bahwa Ilham tidak sembarangan menyentuh benda-benda di sekitarnya, atau bersalaman dengan orang lain, rutin mengganti masker medis yang ia pakai dan selalu mencuci tangannya serta memakai hand sanitazer.


Terkadang Yuana juga harus bergantian mengendarai mobil, karena Ilham tak memiliki sopir. Dulu selalu ada Arief yang akan mengantar Ilham kemana saja, sedangkan sekarang harus berbagi tugas, Arief yang fokus pada pengawasan pabrik.


"Kenapa kamu sampai rela menjadi garden keeper bahkan asisten pribadi seperti saat ini, bukankah menjadi designer adalah cita-citamu? Batu loncatan yang sangat gak nyambung," tanya Ilham suatu hari ketika ia sedang mengemudikan mobilnya sepulang menghadiri undangan pembukaan UMKM Expo di ibukota propinsi.


Yuana tidak menyangka Ilham akan menanyakan hal itu.


"Aku tidak tahu kenapa, Mas. Takdir yang membawaku ke sini. Semua terjadi tiba-tiba tanpa aku bisa menghindar," jawab Yuana lirih.


Ilham yang sesekali melirik Yuana menangkap kesedihan dari ekspresi Yuana ketika menjawab pertanyaannya tadi, dan ia menyesal telah bertanya.


"Oh iya, kamu suka mendesain tas ya," Ilham mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Iya, Mas. Kok Mas Ilham tahu?" sahut Yuana dengan berseri.


Ia tidak menyadari jika sepanjang kunjungan mereka tadi, Yuana lah yang paling antusias menyusuri stand demi stand UMKM peserta expo. Yuana pula yang lebih banyak berinteraksi dengan mereka daripada Ilham sebagai terundang.


Sedangkan Ilham justru sibuk memperhatikan Yuana, menangkap binar di mata Yuana setiap melihat produk-produk yang dipamerkan, terutama ketika melihat tas-tas yang modelnya unik dan terbilang baru. Di situ lah Ilham memahami di mana passion Yuana yang sebenarnya.


Yuana mengambil dan membuka sketchbook miliknya ketika Ilham menepikan mobil ke sebuah halaman pertokoan yang tutup. Rencananya memang akan bergantian pengemudi, sesuai perjanjian tidak boleh menyetir lebih dari tiga puluh menit.


"Coba Mas Ilham lihat, hasil sketsaku, bagus tidak?"


Ilham turun dari mobil dan berjalan ke samping kiri, meminta Yuana berpindah ke bangku sopir. Kemudian ia duduk setelah menerima sketchbook yang disodorkan kepadanya.


Ia buka lembar demi lembar kertas bergambar berbagai macam model tas hasil oretan Yuana itu.


"Bagaimana? Bagus tidak?" ulang Yuana ketika ia sudah duduk sempurna di bangku sopir.


"Bagus, kenapa tidak coba diproduksi saja?"


"Emang itu rencana Yuana sama Kak Annisa, Mas. Tapi nunggu renovasi pabrik dulu. Ya walaupun masih skala kecil dulu, tapi kan butuh tempat yang nyaman juga, Mas."


"Kalau gitu, sebelum pulang kita mampir pabrikmu dulu. Siapa tahu saya bisa bantu," ujar Ilham sambil tersenyum menatap Yuana.


"Mas Ilham tidak capek?"


"Nanti kalau sudah sampai, bangunin," ujar Ilham sambil menurunkan posisi sandaran lalu merebahkan punggungnya dan menutup mata dengan lengannya.


"Jangan bengong aja, buruan jalan!" tegas Ilham maaih dengan posisi yang sama.


Yuana hanya bisa mendengus karena tahu jika mode otoriter sudah terpasang artinya tidak dapat dibantah lagi. Ia pun menyalakan starter dan segera melajukan mobil menuju pabrik yang ia perkirakan butuh lebih tiga puluh menit untuk sampai di sana.


Baru beberapa menit kendaraan melaju, terdengar dengkuran halus dari samping Yuana. Ilham sudah benar-benar tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2