
"Dan akhirnya amah tersisihkan?"
"Tidak. Justru Popo Julia sangat menyayangi amahmu, Popo juga sangat sayang sama mamah."
Masing-masing menjeda dengan mengangkat cangkir kopi dan mencicipi rasa, lalu menyeruputnya.
"Hanya saja karena bisnis engkong yang menggurita, kebersamaan engkong dan amah semakin jarang. Engkong dan Popo hampir tidak pernah ada di rumah karena harus mengurus semua bisnisnya. Amah saja yang karena tidak ada kegiatan di rumah... merasa tidak berharga karena tidak bisa melakukan apa-apa. Akhirnya amah membawa putrinya yang baru lulus SMP pergi jauh membuka toko kecil-kecilan. Hidup mandiri tanpa bayang-bayang Tanoewidjaya."
Papah Rudi menghirup aroma kopi dicangkirnya yang tinggal separuh, lalu menyeruputnya sedikit dan mencecapnya.
"Awalnya popo marah dan kecewa dengan keputusan amah meninggalkan rumah besar, tapi lama-lama bisa menerima. Tapi popo kembali marah besar ketika mamah dan papah pacaran, hehe."
"Kenapa harus marah?"
"Ya, waktu itu popo sama engkong sudah berencana menjodohkan mamah sama anak rekan bisnisnya, sedangkan papah bukanlah siapa-siapa, masih kuliah waktu itu. Hehehe," papah Rudi terkekeh mengingat perbuatan nekadnya dulu mempersunting mamah Mei.
Papah Rudi menerawang mengingat bagaimana penolakan popo Julia terhadapnya karena dirinya bukan dari kalangan mereka baik secara status ekonomi maupun keyakinan. Namun seiring waktu setelah menikah hingga akhirnya diketahui bahwa Memei mengidap kegagalan ovarium prematur atau insufisiensi ovarium primer. Di mana tidak ada sama sekali harapan untuk memiliki anak dan dirinya sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Sejak saat itu pandangan popo Julia berubah terhadapnya, popo Julia mulai bisa melihat ketulusannya dalam mencintai Memei.
"Papa kenapa?" dokter Yusuf heran dengan sikap papanya yang tiba-tiba murung setelah terkekeh sesaat tadi. Tentu saja papah Rudi tidak menceritakan apa yang sedang ia ingat itu.
"Selang lima tahun pernikahan papah sama mamah, anak ketiga popo, yakni Jacob menikah dengan Linda, pernikahan bisnis tepatnya."
"Jacob dan Linda," gumam dokter Yusuf.
"Syukurnya mereka kemudian saling jatuh cinta dan memiliki seorang anak, merger konglomerat kedua perusahaan pun dilakukan mengingat Linda adalah anak tunggal." lanjut papah Rudi sambil menelisik reaksi dari anaknya yang sedang menatap dirinya itu.
"Ketika anaknya menginjak usia tiga tahun, tanpa papah tau ada masalah apa, popo marah besar dan mengusir Jacob, bahkan mencoretnya dari daftar keluarga Tanoewidjaya. Ternyata Jacob memilih menjadi seorang mualaf, pukulan yang amat telak bagi seorang popo yang sangat menjaga tradisi keluarga."
"Lalu anak itu?"
"Anak itu tidak mengetahui kejadian pengusiran orang tuanya, karena pagi harinya engkong menyuruh papah dan mamah datang dan mengajak anak itu berjalan-jalan ke wahana wisata."
"Apa benar anak itu, Yusuf?"
Tanpa menjawab pertanyaan dokter Yusuf, papah Rudi meneruskan ceritanya.
"Akibat kehilangan orang tua yang tiba-tiba, tanpa seorang pun yang mau memberikan penjelasan. Ya... memang siapa yang bakal memberi penjelasan pada anak yang masih berusia tiga tahun, semua juga memiliki kesibukan dan berpikiran anak kecil tahu apa? Hingga tidak ada yang menyadari kalau anak itu menderita depresi, mood disorder. Anak kecil yang bahkan tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Yang akhirnya hanya bisa mengurung diri di dalam kamar, berteriak-teriak, menangis dan selalu marah setiap ada yang mendekati."
Dokter Yusuf sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya mengalami hal menyedihkan seperti itu di masa kecilnya, karena tak ada sama sekali kenangan yang bisa ia ingat. Wajah piasnya ingin untuk tidak mempercayai cerita papahnya itu.
"Dia bukan Yusuf kan, Pah?"
Kentara sekali kegelisahan yang dirasakan dokter Yusuf saat ini. Sebenarnya ia tidak peduli, sangat tidak peduli kisah tentang keluarga Tanoewidjaya. Karena baginya selama ini, keluarga Tanoewidjaya adalah sekumpulan orang-orang yang selalu mengatakan pilihannya sebagai dokter adalah kebodohan yang tidak berguna. Dan satu lagi Lina kecil yang selalu mengejarnya dan berusaha menempel serta mengisap darahnya layaknya seekor lintah.
Satu-satu hal yang ingin ia dengar dari papahnya saat ini adalah bahwa ia bukanlah Joseph anak kandung Jacob dan Linda, melainkan anak kandung Papah Rudi dan Mamah Mei. Itu saja.
Namun dari cara papah mengabaikan pertanyaannya, bahkan semakin berbelit-belit dalam bercerita, sepertinya apa yang dikhawatirkan oleh dokter Yusuf benar adanya.
•
Sementara di rumah besar milik orang yang sedang dibicarakan oleh papah Rudi. Sebuah mansion yang berada di sebuah bukit tak jauh dari ibukota negara.
__ADS_1
"Ni bai chi! Er bai wu! Zuo di er ge jihua," seseorang wanita sedang mengumpat kepada lawan bicaranya di sambungan telepon, kemudian memberi perintah untuk menjalankan rencana kedua.
"Membereskan satu orang saja tidak becus!" gerutunya kemudian setelah sambungan telepon ia tutup.
"Ada apa, hm?" seorang lelaki datang dan memeluknya dari belakang.
"Tidak ada apa-apa, bagaimana hasil pertemuan kalian?"
"Kakek tua itu tetap bersikeras mempertahankan saham anak sial itu. Aku heran sama Engkong, Encim Memei saja tidak tertarik dengan saham yang diberikan, kenapa Engkong tetap ngotot tidak akan menjual saham milik Joseph. Dia itu cuman dokter, mana ngerti soal bisnis. Jual saja sahamnya, bikin klinik yang megah di kota kecilnya itu. Beres kan?"
Mereka berdua adalah anak lelaki dan menantu dari Encim Jenny, encim yang sering dipanggil Cik Yen oleh dokter Yusuf.
"Sabar ya, Sayang," ucap sang istri sambil melepas jas yang dipakai oleh suaminya itu.
Ia meminta suaminya bersabar karena ia sudah memiliki rencana untuk membantu keberhasilan suaminya itu mencapai posisi jajaran direksi bahkan menjadi CEO mengganti paman kepercayaan kakek dan neneknya.
Masing-masing anak Engkong Feng mempunyai satu anak laki-laki dan lainnya perempuan, kecuali mamah Mei.
Anak lelaki Suk Jimmy lebih memilih mendirikan perusahaan sendiri yang didirikan oleh ayahnya meskipun masih di bawah bendera Tanoewidjaya. Sehingga anak lelaki Encim Jenny inilah yang merasa dirinya yang paling pantas menjadi CEO perusahaan Tanoewidjaya.
Sayangnya hasil rapat direksi selalu dimenangkan oleh orang kepercayaan Popo Julia, yakni adik bungsu Popo Julia, berdasarkan prosentase kepemilikan saham pendukung minus dua puluh persen saham milik Joseph Tanoewidjaya. Seandainya saja ia berhasil mendapatkan dua puluh persen itu, tentu akan banyak yang berbalik mendukung, pikirnya.
Feng Luo Tian Mansion adalah rumah besar yang dibangun oleh engkong Feng diawal kejayaan bisnisnya. Ketika berhasil membeli sebuah bukit dan membangun perumahan raksasa dengan beberapa tipe kelas di bukit itu, ia sendiri membangun sebuah mansion yang megah tepat di dataran paling tinggi bukit itu. Sementara di puncak bukit dibangun sebuah wahana wisata alam dengan pemandangan sunset dan sunrise sebagai daya tarik utamanya.
Sebuah bangunan rumah yang modern dengan desain arsitektur klasik khas tiongkok, ornamen naga melingkar di setiap pilar dan lampion otomatis yang digantung di ujung kanan dan kiri.
Sebuah tembok tinggi mengelilingi luasan tanah di sekitar rumah itu dengan sebuah gerbang eksotis berbentuk lingkaran dengan daun pintu terbuat dari kayu ulin langka yang didatangkan dari Australia.
Sebuah mobil jeep berhenti di depan pintu gerbang, lalu seorang gadis turun dan berjalan menuju kotak di mana sebuah alat komunikasi terpasang. Sebuah interkom video yang terhubung ke ruang utama.
Popo Julia pun kemudian memencet remote pembuka pintu gerbang agar mobil Lina bisa masuk. Sengaja di mansion atau rumah besar ini tidak ditempatkan satu orang pun penjaga, hanya keluarga besar, para maid dan tukang masak yang tinggal di dalamnya.
Sedangkan para penjaga disebar di tiap cluster perumahan di mana satu unit tiap clusternya sebagai tempat tinggal para penjaga keamanan, dengan penyamaran tentunya.
"Cucu popo makin cantik saja sekarang," sambut Julia pada Lina, anak kedua dari Jenny yang baru masuk ke dalam mansion.
"Mamah sama gege mana, Po?" tanya Lina seraya mencium kedua pipi nenek tersayangnya itu.
"Ada di kamarnya, Sayang. Kami semua juga baru datang dari perusahaan. Gimana kuliahnya? Sudah tinggal wisuda saja kan?"
"Iya, Weipo. Popo mau datang di acara wisuda Lina kah?"
"Nanti kita atur waktunya, ya. Nanti kalau sudah lulus, bantu mamahmu ya?"
"Maksud popo, bantu mamah di perusahaan, begitu?"
"Iya, siapa lagi coba?"
"Tapi Lina kan mau menikah sama Kak Jo, Weipooo?"
"Lina, Lina kan sudah bukan anak kecil lagi, jangan kekanakan ah."
Di antara cucu-cucu keluarga Feng Luo Tian ini, memang Lina lah yang paling manja dan dari kecil memang seperti sudah jatuh cinta kepada Joseph. Demi menghentikan rengekannya meminta dinikahkan dengan Joseph, engkong Feng selalu mengiyakannya, berharap jika nanti menginjak remaja akan berubah dan bisa jatuh cinta kepada pemuda lainnya, tapi sepertinya ucapan engkong Feng dijadikan pegangan oleh Lina untuk selalu mengejar dokter Yusuf.
__ADS_1
Tidak ingin mendapat ceramah dari neneknya, Lina segera pamit untuk menemui orangtuanya di kamar.
Entah dari mana sifat-sifat dari kedua anak Jenny ini, yang laki-laki selalu ingin mendapat hal yang lebih tapi tanpa diikuti dengan usaha yang kuat, sementara yang perempuan yang ada di pikirannya hanya menikah dengan sepupunya sendiri, tak ada yang lebih penting dari itu sepertinya. Kemungkinan menurun dari ayahnya, tapi Jenny sendiri juga terlalu bucin sebagai istri.
"Ah, entahlah," jerit batin Julia melihat sikap cucunya itu.
Mungkin oleh karena itu jajaran direksi sama sekali tidak ada yang mempercayakan jabatan CEO kepada mereka.
Feng Luo Tian alias Ferry Tanoewidjaya keluar dari kamar setelah membersihkan diri, sambil membawa tongkat kesayangannya kemudian duduk di sofa kebesarannya.
Julia duduk mendekat sambil memberikan secangkir mai dong, minuman tradisional kesukaan suaminya itu.
"Apakah sudah ketemu?" tanya Feng kepada Julia.
"Sudah, tapi kita sama sekali belum menemukan bukti autentik. Tak ada satu data pun yang sesuai dengan data temuan kita."
"Tes DNA saja."
"Terlalu kasar, aku khawatir dia akan takut kepada kita."
"Pakai cara sehalus mungkin, kita bisa gunakan Joseph. Bukankah mereka kakak beradik?"
"Sebenarnya menghilang ke mana Jacob? Kenapa dia bahkan harus membuang putri kecilnya. Apakah Jacob tidak mengerti kalau kita sudah mengampuninya, kita sudah menerima keyakinannya?"
Beberapa waktu setelah mengusir Jacob dan Linda dari rumah dan daftar keluarga, Feng dan Julia merasakan penyesalan yang teramat dalam. Apalagi ketika Joseph yang mereka tahan sebagai jaminan agar Jacob kembali justru mengalami depresi mood disorder hingga hampir setahun harus menjalani terapi dari psikiater anak.
Dan ketika mengetahui keberadaan anak dan menantunya itu serta mendengar jika Linda sedang hamil tua, Julia mengerahkan anak buahnya untuk membawa mereka kembali ke rumah besar. Namun justru mereka menghilang kembali bahkan hingga saat ini.
Beberapa bulan yang lalu, Julia baru mendapat informasi mengenai kenyataan pembuatan akta kelahiran anak kedua Jacob yang diberi nama Joanne. Ia seperti merasa kecolongan karena percaya begitu saja ketika dulu anak buahnya mengatakan anak kedua Jacob meninggal ketika baru lahir.
Dengan koneksinya yang luas, Julia mencari informasi data apa saja yang kemungkinan memiliki kesinambungan dengan akta kelahiran Joanne, sayangnya tak satupun ia temukan.
Hingga suatu hari ada seseorang bernama Amar yang berusaha mengorek informasi mengenai Jacob Tanoewidjaya pada salah satu rekanan anak buahnya. Sayangnya ketika Julia akan mencari sosok Amar ini untuk mencari tahu keterkaitan Amar dengan Jacob, diketahui kabar bahwa Amar sudah meninggal dunia.
Tak patah arang, Julia pun menyelidiki latar belakang Amar dan menemukan fakta tentang Yuana Amalia, istri Amar. Apakah Yuana adalah Joanne Tanoewidjaya? Itulah yang sekarang sedang ia cari buktinya, mengingat garis wajah dan postur tubuh Yuana yang mirip dengan Linda namun bentuk hidung, mata dan bibir sama seperti dirinya ketika masih muda.
Ia sangat berharap bisa membawa Joanne masuk ke dalam keluarga Tanoewidjaya sehingga Joseph pun akan dengan sukarela kembali pulang. Dengan adanya Joseph dan Joanne di rumah besar, ia juga berharap Jacob dan Linda ikut muncul dan kembali pulang.
Er xing qianli mu danyou
Ketika anak-anak pergi jauh, setiap ibu pasti khawatir. Tidak peduli sebesar apapun kemarahannya saat itu, pasti ada penyesalan dan kekhawatiran ketika anak-anak benar-benar telah pergi.
Luo ye gui gen
Daun yang jatuh pasti akan kembali ke akarnya. Siapapun yang pergi meninggalkan rumahnya pasti akan kembali.
Jia he wanshi xing
Jika keluarga hidup rukun, semua urusan akan berhasil. Kemarahan yang membuat anaknya pergi jauh, Julia yakini membuat ia kini kesulitan mencari penerus kejayaan perusahaan yang ia bangun, anak pertama memilih fokus pada perusahaannya sendiri dan anak keduanya sama sekali tak bisa ia andalkan.
Ketiga pepatah lama yang ia pegang teguh itulah yang membuatnya ingin menyatukan kembali keluarganya, mengabaikan keputusan anaknya yang memilih keyakinan yang berbeda, selama keluarganya bisa bersatu dan berkumpul kembali.
Kegelisahan seorang ibu di mansion Feng Luo Tian itu juga dirasakan oleh seorang ibu yang lain di sebuah rumah keluarga Haikal.
__ADS_1
Bu Fatma yang mendengar ada kendaraan keluar masuk ke halaman rumahnya, keluar dari kamarnya. Tapi tak menemukan siapa pun masuk ke dalam rumah. Ia melihat ke garasi, sudah ada mobil milik Ilham, tapi ke mana dia? Kenapa pintu pagar juga tidak tertutup? Apakah ia pergi keluar? Atau masuk ke dalam kamar? Tapi apakah secepat itu ia naik dan masuk ke dalam kamar tanpa menuup pagar terlebih dahulu?
Dadanya terasa berat, seakan memiliki firasat yang tidak baik akan anak kesayangannya itu. Hatinya berdebar dipenuhi oleh kegelisahan, apakah Ilham baik-baik saja?